In Time: The New Neighbor – by Pramudiaah

The New Neighbor

by pramudiaah

.

Cast: Park Yoojin (OC), Kim Hanbin (iKON), Kim Jongin (EXO), Park Chanyeol (EXO)

Genre: Drama, Romance, Family, etc

.

YAA!! PARK CHANYEOL!!”

Park Yoojin memekik dari lantai dua kediaman keluarga Park. Matanya terbelalak, dan wajahnya memerah menahan amarah mendapati barang-barang di atas meja belajarnya sudah berserakan.

Semua berawal ketika beberapa saat sebelumnya dia mendengar suara Chanyeol mengetuk pintu kamarnya, mengingatkan bahwa Ibu, Ayah, serta Minji sudah menunggu di bawah untuk makan malam. Ketika itu Yoojin sedang berada di kamar mandi dan berteriak mengatakan bahwa mereka bisa memulai makan malam tanpa dirinya.

Beberapa saat setelahnya, Yoojin pun keluar dari kamar mandi dan mendapati bahwa meja belajarnya sudah sangat berantakan. Yoojin pun menyadari bahwa sesuatu menghilang dari sana. Sebuah benda yang sangat berharga baginya; sesuatu menyangkut hidup dan matinya; separuh jiwanya; tempat dia mencurahkan segala kisah hidupnya selama beberapa tahun terakhir.

Buku diary kesayangannya.

“Park Chanyeol!!” Dan Yoojin berpikir untuk membunuh Chanyeol saat itu juga.

Gadis itu melesat menuruni anak tangga dengan kedua tangan terkepal. Dia tidak akan mengampuni Chanyeol kalau sampai laki-laki itu berani membuka diary-nya selembar saja. Kali ini, Yoojin tidak akan membiarkan kakaknya itu lolos begitu saja.

Yoojin langsung menuju ke ruang makan. Namun, dia hanya menemukan ibu dan adiknya, Minji, sedang mencuci piring usai makan malam.

Ibu memandang Yoojin heran, sementara Minji tampak tidak begitu peduli.

“Kau tidak mau makan malam?” tanya Ibu kemudian.

Unnie kan sedang diet,” sahut Minji asal.

Eomma, di mana Park Chanyeol?” balas Yoojin tanpa menjawab pertanyaan ibunya.

Ibu pun mengedarkan netranya, kemudian pandangannya terhenti di ruang tv. “Tadi dia sedang tertawa terbahak-bahak di situ, ibu kira acara tv-nya sangat seru. Apa sekarang dia sudah mematikannya?” Ibu heran melihat tv mereka sudah mati, dan tidak menemukan Chanyeol di sana. Hanya ada Ayah yang sedang sibuk berkutat dengan laptop.

“Ah, siall!” Yoojin mendesis kesal, mengacak rambut sebahunya dengan frustasi. Dia sangat yakin kalau Chanyeol tidak hanya membuka diary-nya, tapi bahkan sudah membacanya.

“Aku tadi lihat oppa membawa sebuah buku warna biru,” sambar Minji kemudian. “Eh, bukannya itu diary-mu?” lanjutnya terkejut.

“PARK CHANYEOL! Aku akan membunuhmu!” teriak Yoojin murka. Dia pun melesat ke kamar Chanyeol.

Minji buru-buru menyusul langkah Yoojin, raut wajahnya tampak tertarik. “Kau menulis banyak rahasia di buku itu, ya?”

Yoojin langsung melotot tajam pada Minji. “Diam atau aku akan membunuhmu juga!” sembur Yoojin pada gadis yang dua tahun lebih muda darinya itu.

Minji langsung cemberut. Namun hanya sebentar, karena sesaat kemudian dia kembali menggoda Yoojin, “Kau itu berumur 22 atau 12, sih? Kenapa masih suka menulis diary? Kekanakan sekali, tahu!”

Brak!!

Mengabaikan Minji, Yoojin membuka pintu kamar Chanyeol dengan kasar. Dia langsung bisa menemukan Chanyeol sedang terkikik di atas kasur.

Chanyeol menghentikan tawanya untuk menilik Yoojin barang sebentar, sebelum kemudian dia menyemburkan tawa lebih dari sebelumnya. “Haha, ternyata..,” Chanyeol kesulitan menghentikan tawanya. “..kau pernah menyukai Baekhyun waktu SMP, Huahahaha..,” napas Chanyeol sampai terengah-engah karena tertawa. “..dan waktu SMA, kau menyukai Oh Sehun. Yoojin-ah, kenapa tidak satu pun dari cintamu itu terbalaskan? HAHAHA…”

Wajah Yoojin makin merah padam. Dia siap meledak sebentar lagi.

Minji menatap Yoojin ngeri. Dia kemudian mengasihani Chanyeol yang mungkin akan benar-benar diterkam hidup-hidup oleh Yoojin. Minji berdecak sembari menggelengkan kepala memandang Chanyeol, pemuda dua puluh lima tahun itu sungguh berada dalam masalah besar.

“..dan sekarang, kau menyukai Kim Jongin? Hahaha..,” Chanyeol melanjutkan sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.

Yoojin langsung menghampiri Chanyeol di atas kasur. Chanyeol pun buru-buru melarikan diri. Namun dengan cepat Yoojin menarik lengan hoodie kakaknya itu kuat-kuat, sampai Chanyeol jatuh tergelepar di atas kasur.

“Yoojin-ah, tunggu sebentar!” Chanyeol mengelak tangan Yoojin yang berusaha mencekiknya.

“Kim Jongin juga menyukaiku, asal kau tahu, Park Chanyeol!” Yoojin benar-benar mencekik Chanyeol seperti orang kesetanan. “Beraninya kau mengambil diary-ku!” Kali ini, Yoojin menjambak rambut Chanyeol tanpa ampun.

Yaa! Yaa! Park Yoojin, hentikan!!” Chanyeol berusaha menyingkirkan tangan Yoojin dari kepalanya. Dia kemudian memandang Minji di muka pintu. “Minji, tolong hentikan Yoojin!” teriaknya kewalahan.

Minji memutar bola matanya. “Oppa atasi saja sendiri,” balasnya cuek, lalu berlalu dari kamar itu.

Yaa!” Chanyeol tidak terima melihat Minji meninggalkannya tanpa membantu sedikit pun.

“Rasakan ini, Park Chanyeol!” Yoojin menyeringai, serupa monster di film-film fantasi yang sering Chanyeol tonton.

Yoojin duduk di sofa dengan tangan terlipat di depan dada, raut mukanya tidak bersahabat sama sekali. Sementara di sebelahnya, Chanyeol duduk dengan memegangi rambutnya yang mencuat kemana-mana. Pemuda itu mengeluhkan kulit kepalanya yang panas karena ulah Yoojin.

Di hadapan mereka, ada Ibu dan Ayah yang tidak habis pikir dengan kelakuan kedua anaknya. Sementara Minji, putri bungsu mereka, terlihat menikmati es krim tanpa beban sama sekali.

“Park Chanyeol, kapan kau akan dewasa? Kapan kau akan berhenti mengganggu adik-adikmu? Kau itu sudah dua puluh lima tahun,” ujar Ayah memulai. Meski dia tidak sedang marah, dia tetap harus tegas kepada anak-anaknya. Lalu, Ayah pun beralih pada Yoojin. “Kau juga, Yoojin, kenapa kau menganiaya kakakmu sampai seperti itu?”

“Park Chanyeol sudah mengambil barangku tanpa izin, Appa,” rajuk Yoojin pada ayahnya.

“Aku kan hanya iseng—”

“Kapan sih, kau akan berhenti iseng?” potong Yoojin sebal.

Chanyeol mendengus. “Memang tidak boleh oppa-mu ini tahu siapa yang sedang kau sukai? Aku kan penasaran. Kenapa tidak pernah bilang kalau kau menyukai Baekhyun atau Sehun? Mereka itu kan sahabatku, aku bisa saja membuat kalian dekat.”

Yoojin terbelalak memandang Chanyeol. Dia tidak habis pikir bahwa pemuda itu malah membocorkan rahasianya di depan Ibu dan Ayah. “Kau mau dipukul lagi, ya?!”

Chanyeol sudah sigap menyilangkan tangan di depan kepala, berpikir Yoojin akan menjambaknya lagi.

Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi bel di rumah mereka. Hal itu berhasil mengalihkan perhatian Yoojin yang hendak kembali memukul Chanyeol.

“Siapa sih yang datang bertamu malam-malam begini?” Ibu bangkit dari duduknya, berniat untuk membukakan pintu.

Namun, Ayah langsung menahan tangan Ibu. “Biar Yoojin saja,” ujarnya.

Yoojin menatap Ayah tidak percaya. Sementara Ayah hanya mengangguk dengan raut wajah teduhnya.

Yoojin menghela napas. Meski suasana hatinya sedang tidak baik, dia tidak akan membantah perintah Ayah. Dia pun mengesampingkan segala egonya dan berjalan menuju pintu utama rumah mereka. Walau sebenarnya, di dalam hati dia tetap merutuki Chanyeol dan seseorang yang kini bertamu ke rumahnya.

“Hallo.”

Yoojin mengernyit mendapati seorang pemuda berdiri di depan pintu rumahnya dengan menenteng rantang makanan.

“Cari… siapa?” tanya Yoojin ragu.

“Apa mungkin kau..,” Pemuda itu memerhatikan Yoojin dari atas sampai bawah, lalu kembali ke atas. “..Park Yoojin?”

“Bagaimana kau tahu?” Yoojin tersentak kaget. “Kau ini—”

Kalimat Yoojin terhenti karena pemuda itu langsung memeluknya, erat sekali.

Yaa! Kau ini siapa?!” Yoojin panik dan berusaha melepaskan diri dari pemuda yang kini memeluknya. “Appa! Park Chanyeol! Ada laki-laki aneh!”

Chanyeol berhambur menghampiri Yoojin dengan panik “Kenapa? Ada apa—YAA! Apa yang kau lakukan pada adikku?!”. Dia langsung menarik Yoojin menjauh dari pemuda aneh itu, dan siap melayangkan tinjunya kalau saja pemuda itu tidak bersuara.

“Ini aku, hyung! Kim Hanbin.”

“Apa katamu?” Chanyeol mengerjap. Tangannya sudah berada di kerah jaket pemuda yang mengaku bernama Kim Hanbin itu.

Sementara Yoojin hanya mengerutkan kening, tidak berhasil mengenali nama itu.

“Wah, daebak!” Minji takjub melihat pemuda yang kini duduk di ruang tv keluarga mereka. “Kau benar-benar Hanbin yang pendek itu—yang dulu tinggal di seberang rumah kami?”

“Hei, dulu aku tidak sependek itu, tahu! Lagipula sekarang aku lebih tinggi darimu,” balas Hanbin tidak terima.

“Kau tidak tahu kalau sepuluh tahun lalu kau sependek ini?” Minji memeragakan tinggi badan Hanbin kecil dengan tangannya.

Yaa! Park Minji, kau tidak berubah sama sekali,” ujar Hanbin dengan nada mengejek.

“Sudah, sudah,” sahut Ibu, lalu mengalihkan fokus pada Hanbin. “Jadi, keluarga kalian memutuskan untuk kembali tinggal di sini?”

Hanbin mengangguk. “Ayah harus mengontrol langsung perusahaan yang ada di Korea. Jadi yah, aku juga memutuskan untuk melanjutkann studiku di sini saja.”

“Jadi sebelumnya kau kuliah di New York?” sambar Chanyeol penasaran.

“Kanada, hyung.” Hanbin mengoreksi dan tersenyum.

“Ah, begitu.” Chanyeol mengangguk-angguk. “Karena sepuluh tahun lalu keluarga kalian pindah dengan tiba-tiba, aku jadi tidak begitu ingat kemana kalian pindah.”

Hanbin hanya tersenyum menanggapi.

“Lalu bagaimana dengan perusahaan ayahmu di Kanada?” Kali ini Ayah ikut menimpali.

“Ayah juga akan sering-sering kesana untuk mengecek. Tapi untuk saat ini, kami akan menetap di Korea,” balas Hanbin menjelaskan.

Ayah mengangguk mengerti. “Aku akan menemuinya di lain waktu.”

“Oh iya, Nak Hanbin,” sahut Ibu kemudian. “Bagaimana kabar ibumu?”

“Ah itu..,” Hanbin membenarkan posisi duduknya, raut wajahnya tiba-tiba berubah. Pemuda itu tampak ragu ketika menjawab, “Ibu meninggal lima tahun lalu. Kecelakaan pesawat.”

Ayah dan Ibu tercengang, begitu juga Yoojin dan Minji.

“Maaf, Nak Hanbin, aku tidak bermaksud..,” Ibu merasa bersalah karena sudah menanyai perihal itu.

“Tidak apa-apa, Omoni. Itu sudah sangat lama,” balas Hanbin seraya tersenyum, sama sekali tidak merasa tersinggung atau semacamnya. Lalu, pandangannya pun tertuju pada Yoojin yang sejak tadi terdiam. Tidak seperti yang lain, Yoojin justru tidak bersuara sama sekali.

Yaa, Park Yoojin! Kau tidak penasaran sama sekali tentangku? Apa kau tidak merindukanku?” tanya Hanbin separuh bergurau.

“Berhenti memanggilku hanya dengan nama, Kim Hanbin. Kau lupa ya, kalau aku lebih tua darimu dua tahun?” balas Yoojin ketus.

“Kau juga tidak pernah memanggilku oppa.” Chanyeol menyahut sinis.

Yoojin mendelik memandang Chanyeol yang duduk di sebelahnya, seketika membuat pemuda itu bungkam.

Hanbin terkekeh. “Karena sejak awal aku tidak memanggilmu dengan embel-embel noona, jadi sekarang aku tidak nyaman jika harus memanggilmu begitu.”

Yoojin menegakkan duduknya dan melipat tangan di depan dada. “Mulai sekarang, kau harus membiasakan diri memanggilku noona, oke? Atau kalau tidak orang-orang akan mengira kita seumuran,” ujar Yoojin penuh penekanan.

“Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan?” balas Hanbin menggoda.

Yaa! Kau tidak boleh seperti itu pada orang yang lebih tua!” sembur Yoojin tidak terima.

“Rasakan apa yang selama ini kurasakan.” Chanyeol bergumam di sebelah Yoojin.

Ibu dan Ayah hanya geleng-geleng kepala melihat hal itu.

“Oh iya, kau akan kuliah di mana, Kim Hanbin?” Minji tiba-tiba membuka topik baru.

Semua orang tampak penasaran dengan jawaban Hanbin, sementara pemuda itu hanya tersenyum penuh misteri.

Ibu dan Yoojin sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Ayah sudah berada di meja makan sedari tadi, sementara Chanyeol dan Minji tampak baru saja turun dari kamarnya.

Park Chanyeol sudah siap dengan setelan kantornya; celana kain, kemeja, serta dasi. Satu tahun belakangan Chanyeol memang bekerja di perusahaan keluarga Park dengan status karyawan magang. Ayah sengaja menempatkan Chanyeol di posisi itu agar pemuda itu berhenti bermain-main dan mulai bekerja keras untuk bisa mendapatkan posisi tertinggi. Karena toh, dirinyalah yang akan mewarisi perusahaan itu menggantikan posisinya Ayah.

Sementara Minji hanya mengenakan pakaian rumah sehingga membuat Ibu sedikit heran dan bertanya, “Tidak kuliah?”

Minji menggeleng. “Tidak pagi ini. Tapi nanti sore,” balasnya seraya menarik kursi dan duduk.

Ibu mengangguk paham, lalu beralih pada Yoojin. “Kuliah, kan?”

Yoojin mengangguk ragu. “Kenapa eomma seperti khawatir aku tidak ke kampus pagi ini?” tanyanya curiga.

“Bukan apa-apa,” jawab Ibu sambil menaruh gelas susu di atas meja makan. “Hanya saja seseorang mengatakan akan pergi ke kampus bersama kalian. Ibu khawatir kalau dia akan pergi sendirian.”

“Siapa?” tanya Yoojin heran. Minji juga memandang Ibu penasaran.

“Kalian akan tahu sebentar lagi.”

Yoojin mengernyit, menatap Ibu yang mendadak menjadi sok misterius.

“Selamat pagi!”

Hanbin tersenyum cerah menyambut Yoojin yang baru saja keluar rumah. Pemuda itu kemudian bersedekap dan bersender di mobil Mercy miliknya. Netranya sibuk mengamati penampilan kasual Yoojin pagi ini. Sepatu kets, celana jeans, kaos longgar berwarna putih, tas selempang, rambut hitam sebahu dengan poni lucu; hal-hal yang mampu membuat Kim Hanbin terpaku untuk beberapa saat.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yoojin heran.

Hanbin tersenyum simpul, seolah sudah memprediksi pertanyaan itu akan keluar dari mulut Yoojin. “Bukankah kau mau pergi ke kampus Hanyang?” Hanbin balas melempar pertanyaan.

Yoojin mengerutkan kening. “Lalu?”

“Aku dengar kalian selalu naik bus selama ini,” ujar Hanbin kemudian. “Karena aku juga kuliah di sana, jadi kita bisa pergi bersama-sama mulai sekarang. Bukankah itu ide yang bagus?” lanjutnya, lau menggerling.

“Apa?” Yoojin tampak terkejut.

Yap, aku juniormu, Park Yoojin! Aku berada di tahun yang sama dengan Minji,” Hanbin menjawab tatapan bertanya-tanya Yoojin. “Jadi, bisakah kita pergi sekarang?” lanjutnya mulai tak sabar.

Yoojin pun berjalan menghampiri Hanbin. “Barusan kau bilang.. kita satu kampus?” Sekali lagi Yoojin memastikan.

Hanbin mendengus jengah, lalu mengangguk.

“Aku tidak bisa pergi denganmu,” ujar Yoojin kemudian, di luar dugaan Hanbin.

Sontak Hanbin memandang Yoojin bingung. “Kenapa?”

Yoojin tampak menghela napas dan memejamkan mata sejenak. “Aku sudah punya pacar, Hanbin. Pacarku tidak akan senang melihatku pergi dengan laki-laki lain.”

“Oh, ayolah, Park Yoojin. Aku ini tetanggamu, Kim Hanbin, bukan orang asing,” balas Hanbin tidak habis pikir.

“Kau tidak mengenal pacarku, Hanbin. Dia tidak peduli meski kau tetangga atau bahkan sahabatku!” Yoojin mengerang frustasi.

Raut muka Hanbin tiba-tiba berubah. Rahangnya mengeras. “Aku lebih tidak peduli,” balasnya dingin. Dia lalu menarik tangan Yoojin dan memaksa gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Mengabaikan penolakan Yoojin, Hanbin bahkan memasangkan sabuk pengaman di tubuh gadis itu. Kemudian dia sendiri buru-buru masuk ke kursi kemudi dan menyalakan mesin mobil, serta merta membuat pintu mobil terkunci secara otomatis.

Yaa! Kim Hanbin!” teriak Yoojin kesal.

Kali ini, Hanbin tidak bisa mengabaikannya. Pemuda itu menghela napas. “Sampai di kampus akan kujelaskan padanya, oke?” ujarnya menenangkan.

“Kalau kau tetanggaku?” Yoojin memastikan.

Hanbin mendengus. “Iya, seperti yang kau mau.”

***

Oh, hai!

Udah lama nggak ngepost di sini, hehe.. Ada yang masih inget aku?

Aku dateng bawa cerita baru, mwehehe.

Oiya, kalo part selanjutnya aku posting di sini, kira-kira ada yang tertarik nggak ya?

Advertisements

2 responses to “In Time: The New Neighbor – by Pramudiaah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s