In Time: Confession – by Pramudiaah

Confession

by Pramudiaah

previous: The New Neighbor || Strange Feeling

.

cast: Park Yoojin (OC), Kim Hanbin (iKON), Kim Jongin (EXO), Park Chanyeol (EXO)

genre: Drama, Romance, Family, etc

.

Yoojin menghela napas. Sesekali dia melempar pandang pada Kim Jongin yang tengah fokus menyetir. Pemuda itu tampak kacau dalam setelan formalnya; dengan mimik muka kusut dan dasi yang dilonggarkan asal. Yoojin kemudian menoleh ke belakang, dan  tercenung menemukan sebuah jas terlipat asal di kursi penumpang.

Yoojin mengernyit untuk membaca situasi. “Kau ada acara sebelum menjemputku?’ tebaknya.

Jongin tidak langsung menjawab. Yoojin pun langsung tahu kalau pacarnya itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik.

“Ya, pertemuan keluarga yang selalu kubenci.”

Yoojin lantas terhenyak. Sekarang dia tahu alasan di balik raut masam Jongin. “Kenapa tidak bilang kalau ada acara keluarga? Seharusnya kita tidak pergi saat kau sendiri punya acara penting,” ujar Yoojin cemas. Dia hanya tidak ingin Jongin lebih mementingkan dirinya dibanding keluarga sendiri.

“Yoojin,” desis Jongin dingin. “Seharusnya kau paling tahu kalau aku tidak suka menjadi bagian dari acara itu.”

Yoojin menatap Jongin tidak mengerti, lalu menghela napas pada akhirnya. “Oke, oke. Aku tidak akan berkomentar lagi soal pertemuan keluarga,” ujarnya lembut, mencoba mengembalikan mood Jongin. “Jadi, sekarang kita mau kemana?” Yoojin berusaha terlihat ceria.

Jongin tampak menghela napas berat, lalu mengembuskannya perlahan. Dia kemudian menatap Yoojin sekilas selagi tersenyum lamat-lamat. “Sebuah tempat yang akan membuatmu senang.”

Alih-alih merespons, Yoojin justru menatap lama figur Jongin dari samping. Dia merasa ada yang sedang pemuda itu sembunyikan darinya, entah apa itu. Meski begitu, Yoojin tersenyum lebar untuk menutupi kegundahannya. “Awas saja kalau aku tidak senang,” ujarnya pura-pura mengancam.

Jongin hanya terkekeh.

Yoojin mengernyit, lantas memandang Jongin dengan tatapan membunuh. Sementara yang ditatap hanya menampilkan raut muka datar seraya berujar, “Kau tidak senang?”

Yoojin memutar bola matanya. Bagaimana tidak? Tempat menyenangkan yang Jongin maksud adalah pinggiran sungai Han yang mungkin sudah Yoojin kunjungi sebanyak puluhan—atau bahkan ratusan kali, dan selama itu Yoojin tidak merasa ada yang menarik dari tempat itu. Juga, masalah selanjutnya adalah, gaun serta high heels yang dia kenakan sama sekali tidak cocok dengan tempat itu.

Well, kalau saja Jongin mengatakan lebih awal kemana mereka akan pergi, mungkin Yoojin akan memilih outfit yang lebih tepat; seperti jeans dan hoodie misalnya. Sehingga dia tidak akan merasa salah kostum seperti sekarang.

“Apa kau tidak lihat gaun dan tatatan rambutku, Kim Jongin-ssi?” Yoojin bersedekap dengan wajah memberengut. “Bahkan high heels-ku—oh ya ampun!” gerutunya.

“Aku melihatnya,” Jongin manggut-manggut selagi menghujani Yoojin dengan tatapan menilai. “Kau cantik.”

“Bukan itu maksudku, Tuan Kim!” sungut Yoojin, memandang Jongin sebal. “Ah, sudahlah!” tandasnya lalu membuka pintu mobil.

Jongin pun segera menyambar jas di kursi belakang, sebelum kemudian beranjak keluar dari mobil. “Yaa, Park Yoojin!” panggilnya pada Yoojin yang sudah berjalan menjauhi mobil.

Yoojin lantas menghentikan langkah dan berbalik, masih dengan tatapan sebalnya pada Jongin. “Apa?”

“Apa sebelumnya kau pernah menghabiskan malam di atas kap mobil?”

Yoojin mengerutkan kening. Sesaat kemudian, dia berdigik menerjemahkan maksud ucapan Jongin. Dia melotot membayangkan hal yang tidak-tidak.

Yaa! Bukan yang seperti itu maksudku!” balas Jongin jengah, seolah tahu persis apa yang kini bersarang di dalam pikiran kekasihnya.

“Jadi apa?”

Jongin tersenyum simpul.

.

Dan, seperti yang Jongin katakan sebelumnya; mereka berakhir duduk bersebelahan di atas kap mobil.

Setelah harus melepas high heels dan bersusah payah—serta dengan bantuan Jongin, akhirnya Yoojin bisa bernapas lega setelah mendudukkan dirinya di atas kap mobil Jongin. Well, menurutnya itu tidak buruk. Dia dan Jongin jadi bisa menikmati kencan mereka dengan cara yang berbeda.

Yoojin menengadah, lalu menggumam takjub melihat banyaknya bintang di langit. Dengan iseng dia mencari yang paling terang dan menunjukannya pada Jongin, “Jongin, coba liat itu!” ujarnya seraya menarik-narik lengan Jongin agar mengikuti arah pandangnya.

Sementara itu, Jongin menaruh jasnya di atas pangkuan Yoojin untuk menghalau angin yang meniup gaun gadis itu, sebelum kemudian dia melihat ke arah bintang yang Yoojin tunjukkan. “Dia bersinar paling terang,” komentarnya.

“Iya, kan?” Yoojin sependapat dan tersenyum penuh antusias.

Jongin mengangguk membenarkan.

“Bagaimana kau bisa tahu tempat indah ini, hm?” Yoojin menatap Jongin penuh minat, separuh penasaran.

Jongin mengedikkan bahu. “Aku hanya menebak-nebak.”

“Benarkah?” Yoojin memincingkan mata, menatap Jongin curiga. “Bukan karena kau pernah mengajak mantan pacarmu kesini, kan?” tukasnya.

“Aku tidak punya waktu untuk pacaran, kau tahu,” balas Jongin. “Kalau kau tidak mengungkapkan perasaanmu lebih dulu mungkin aku tidak akan pernah punya pacar.” Jongin pun terkekeh.

Yaa! Kau membahasnya lagi!” rengek Yoojin malu. Dia segera menutupi semburat merah di pipinya dengan kedua tangan.

Memang benar, pada awalnya Yoojin adalah yang pertama jatuh cinta. Dia menaruh puisi cinta di loker Jongin setiap hari, tanpa sedikit pun merasa lelah dan bosan. Sampai kemudian, tiba-tiba seniornya itu meninggalkan sebuah balasan di lokernya; Jongin ingin menemui Yojin. Berawal dari situ, mereka akhirnya bertemu dan mulai sering menghabiskan waktu berdua, entah ketika di kampus maupun di luar kampus. Perasaan di hati Yoojin pun semakin besar dan hampir membuncah. Sementara, orang lain melihat mereka hanya sebatas teman dekat, sehingga Yoojin hanya mampu mencurahkan segelanya di buku diary miliknya.

Lalu, sampai pada titik di mana Yoojin merasa muak karena Jongin tidak juga berkata jujur soal perasaannya. Akhirnya, Yoojin pun memutuskan untuk mengutarakan segalanya; dia meminta Jongin untuk menjadi kekasihnya. Yoojin mengakui dirinya sedang tidak waras saat itu, dan tidak keberatan apabila Jongin menolaknya.

Namun di luar dugaan, Jongin justru mencium bibirnya. Dan itu adalah awal dimulainya hubungan mereka.

“Bukannya menjawab, kau malah menciumku waktu itu,” ujar Yoojin lagi, dengan nada mencibir.

“Itu kan jawabanku,” balas Jongin membela diri.

Yoojin memandang Jongin sekilas, lalu mengalihkannya ke depan. “Tapi kau tidak pernah bilang kalau kau mencintaiku,” ujarnya.

“Kalau aku tidak menyukaimu, aku tidak mungkin cemburu melihat kau bersama teman-teman priamu.”

Yoojin pun menatap Jongin, lalu terdiam. Meski tidak puas dengan jawaban Jongin, dia pun membenarkan kalau kecemburuan pacarnya itu berada di level paling atas. Bukankah itu artinya Jongin mencintainya?

“Aku mencintaimu.”

Yoojin serta merta menoleh, menatap Jongin tidak percaya. Dia mendapati Jongin sedang menatapnya dalam-dalam; tidak ada kebohongan dari ucapannya barusan.

Yoojin pun menyunggingkan senyum, merasa lega. “Aku juga,” ujarnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Jongin.

Jongin tampak tersenyum lamat-lamat, lantas menarik Yoojin untuk lebih dalam bersandar di bahunya.

Selanjutnya tidak ada yang bersuara. Yoojin sudah tenggelam dalam aroma mint yang menguar dari tubuh Jongin, yang seolah akan membuatnya tersesat semakin jauh dan jatuh lebih dalam. Begitu juga Jongin yang tampak ingin memaknai setiap detik kebersamaannya dengan Yoojin.

Tapi sesaat kemudian, raut Jongin berubah; seperti ada momok yang kembali menghantuinya. “Apa kau tahu, Park Yoojin..,” ujarnya memulai. “Orang tuaku menikah bukan lantaran mereka saling mencintai..,” Rahang Jongin mengeras.

“Apa maksudmu, Jongin?” Yoojin masih terjebak dalam aroma tubuh Jongin.

“Mereka menikah karena dijodohkan.”

Yoojin segera mengangkat kepalanya, menegakkan tubuhnya. “Apa yang kau bicarakan?” tanyanya tidak mengerti.

Jongin mengalihkan tatapannya dari Yoojin. “Yah, aku hanya ingin bilang..,” Jongin ingin melanjutkan, tapi lidahnya terasa sangat kelu. “…kalau orang yang tidak saling mencintai bisa saja menikah dan punya keturunan, sedangkan orang yang saling mencintai belum tentu—”

Yoojin menarik lengan Jongin agar pemuda itu balas menatapnya. “Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan, Kim Jongin?” tanyanya tajam.

Jongin menghela napas. Dia menyentuh kepala Yoojin, mengusap rambutnya lembut. “Bukan apa-apa. Udaranya makin dingin, kita pulang saja.”

Yoojin masih menatap Jongin penuh tanya. Tiba-tiba dia merasa cemas; jelas-jelas ada yang sedang ditutup-tutupi oleh pemuda itu.

Baik Yoojin maupun Jongin tidak ada yang berbicara selama perjalanan. Yoojin masih berkutat dengan kemungkinan-kemungkinan buruk di dalam benaknya. Sementara Jongin juga tak jauh berbeda. Pemuda itu tampak fokus pada jalanan di depannya seraya menghela napas berkali-kali.

Yoojin pun menyadari apa yang sedang Jongin lakukan. Beberapa kali Yoojin ingin membuka suara, tapi diurungkannya lagi. Di sisi lain, Jongin tampak mencuri pandang ke arah Yoojin, namun tak kunjung bersuara juga.

“Turunkan aku di minimarket depan saja,” ujar Yoojin tanpa memandang Jongin.

Jongin menoleh sekilas. “Aku akan mengantarmu sampai di depan rumah.”

“Tidak, Jongin.” Yoojin memandang Jongin tajam. “Appa dan Eomma tidak akan suka melihatmu,” lanjutnya sebelum kembali membuang pandangan ke luar jendela mobil.

Jongin menghela napas berat. “Baiklah.”

Mobil Jongin pun bergerak menepi. Yoojin sudah siap beranjak membuka pintu, namun Jongin menahan tangannya. “Ada yang ingin kusampaikan,” ujar Jongin serius.

“Apa?” Yoojin menjawab dengan ketus.

“Aku akan ke pergi Jepang untuk seminggu.”

Mata Yoojin membulat, rautnya pun berubah mendung. “Untuk apa kau kesana?”

“Urusan bisnis, Yoonji.”

“Kenapa kau yang harus kesana?” tiba-tiba Yoojin menjadi emosional. “Biasanya ayahmu yang akan melakukannya, tapi kenapa sekarang kau?” mata Yoojin sudah berkaca-kaca. Sikap Jongin sebelumnya saja sudah membuatnya cemas, apalagi jika pemuda itu harus meninggalkannya untuk beberapa hari. “Kenapa harus sekarang?”

Jongin mengusap rambut Yoojin seraya tersenyum. “Cuma seminggu, kok.”

Yoonji menurunkan tangan Jongin dari kepalanya, lalu mengangguk. “Jaga dirimu baik-baik,” ujarnya sebelum beranjak membuka pintu mobil.

Yaa! Park Yoojin!”

Yoojin tidak mengindahkan panggilan Jongin. Dia terus melanjutkan langkahnya menjauhi mobil pemuda itu. Dia merasakan jauh di dalam dadanya terasa sesak. Tapi anehnya, air mata yang tadi sangat mendesak, kini enggan untuk keluar. Dan itu membuat hatinya semakin sakit.

Yoojin meneguk botol sojunya yang kedua. Dia tidak peduli pada para pejalan kaki yang kini menghujaninya dengan tatapan aneh. Dia merasa bahwa dirinya tidak sedang melakukan kejahatan—well, sebenarnya dia hanya minum-minum di bangku—di depan minimarket.

Awalnya Yoojin mampir ke minimarket hanya untuk membeli obat pereda nyeri datang bulan. Tapi pikirannya sedang kacau sehingga dia seperti kehilangan akal sehat untuk sesaat, dan justru membawa tiga botol soju ke meja kasir.

Saat Yoojin akan meneguk sojunya lagi, tiba-tiba seseorang merebut botol itu dari tangannya. Yoojin pun terkejut. Tapi tidak lama, karena setelah itu dia langsung mengernyit bingung mendapati seseorang di hadapannya.

“Kim Hanbin?” Meski separuh sadar, namun Yoojin masih mengenali pemuda di hadapannya dengan benar.

Yaa! Park Yoojin! Apa yang kau lakukan di sini?”

“Apa ini?” Yoojin menunjuk hidung Hanbin, yang langsung ditepis oleh sang pemuda. “Bukankah aku menelpon Park Minji, kenapa kau yang datang?” cerca Yoojin.

“Apa kau tidak tahu kalau wanita yang sedang datang bulan tidak boleh mengonsumsi alkohol?” tanya Hanbin kemudian, tidak habis pikir. Dia merasa kesal dan cemas di waktu yang bersamaan. “Perutmu akan semakin sakit, bodoh!”

“Bagaimana kau tahu?” Yoojin tampak takjub. Matanya membuka dan menutup, separuh sadar. “Tapi siapa yang peduli? Lagipula aku akan tertidur sebentar lagi. Aku akan melupakan rasa sakitku,” rancu Yoojin seraya menepuk-nepuk dadanya. Setelahnya dia merosot di sandaran kursi, tidak sadarkan diri.

Hanbin menghela napas. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Yoojin hingga membuat gadis itu tampak uring-uringan. “Tapi aku peduli, Park Yoojin. Aku peduli,” gumam Hanbin. Dia pun hendak mengangkat tubuh Yoojin, berniat menggendongnya. Namun gadis itu tiba-tiba membuka mata, dan mendorong tubuh Hanbin hingga terjungkal ke belakang.

“Aku tidak mau pulang!” teriak gadis itu, masih setengah sadar.

Yaa!” Hanbin memandang Yoojin tak percaya.

Dia berusaha menarik tubuh Yoojin agar gadis itu berdiri, tapi lagi-lagi Yoojin mendorongnya. Hanbin kemudian mencoba untuk langsung membopong tubuh Yoojin, namun gadis itu menggeliat tak karuan, tidak mau digendong.

Hanbin kelelahan dan kehabisan akal, napasnya terdengar putus-putus. Dia pun memutuskan untuk duduk di sebelah Yoojin. Dia kemudian melirik tas selempang Yoojin yang kini menggantung di lehernya, dan beralih memandang Yoojin yang kini matanya kembali terpejam. Hanbin menghela napas sekali lagi. Sepertinya dia harus membuat Yoojin sadarkan diri terlebih dulu, baru bisa membawa gadis itu pulang.

Setelah melepas jaket dan memasangkannya di bahu Yoojin, Hanbin pun beranjak ke minimarket.

Hanbin menilik jam tangannya. Sudah hampir tengah malam. Itu artinya dia sudah menunggu Yoojin selama hampir satu jam.

Tak selang berapa lama, Yoojin tampak mengerjap.

Hanbin langsung mencengkeram bahu Yoojin dan mengguncangkannya pelan. “Kau sudah sadar, Park Yoojin?

“Kim Hanbin?”

“Demi Tuhan! Akhirnya kau sadar juga!” Hanbin berseru berlebihan.

Yoojin menegakkan punggungnya dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Kepalanya terasa sangat berat.

Well, kita pulang sekarang.” Hanbin bangkit dari duduknya, lalu berjongkok di hadapan Yoojin.

Yoojin mengernyit, lantas mendengus. “Aku bisa jalan sendiri, tahu.” Yoojin pun bangkit dari bangku, namun langsung merasakan nyeri di pergelangan kakinya. Dia memejamkan matanya. Seharusnya tadi dia tidak memaksakan diri untuk memakai high heels.

Mendapati hal itu, Hanbin terkekeh puas. “Kau bilang kau bisa jalan sendiri kan, Nona Park?” ujarnya separuh mengejek. “Ya sudah kalau begitu.” Dia lantas berdiri dan hendak berjalan.

Yaa!” rengek Yoojin, menarik ujung kaos Hanbin.

Hanbin berbalik dan tersenyum puas. Dia pun mendekati Yoojin, berdiri tepat di hadapan gadis itu. Tatapannya mengunci pergerakan netra sang gadis, seraya wajahnya yang perlahan mendekat. “Lain kali, jangan terlalu keras kepala di hadapanku,” bisiknya.

Yoojin serta merta mendorong tubuh Hanbin, lantaran wajah mereka terlalu dekat. Meski Hanbin bukan siapa-siapa baginya, namun perlakuan pemuda itu barusan mampu menciptakan getaran kecil di dalam dirinya.

Hanbin terkekeh sebentar mendapati respons Yoojin. Dia pun menuntun Yoojin untuk kembali duduk, untuk kemudian melepas high heels yang gadis itu kenakan. Setelah itu, dia kembali berjongkok di hadapan Yoojin dengan menenteng high heels sang gadis. Jangan lupakan tas selempang yang kini menggantung di lehernya.

Yoojin bergerak ragu untuk naik ke atas punggung Hanbin. Dia pun sedikit tersentak ketika Hanbin bangkit berdiri dengan menggendongnya.

“Aku berat, ya?” gumam Yoojin khawatir.

“Iya, sangat berat.”

Yaa!” seru Yoojin tidak terima. Dia mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Hanbin, berniat mencekiknya.

Y-yaa! Kau tidak berniat membunuh orang yang menggendongmu, kan?” sergah Hanbin.

Yoojin memberengut. Tapi kemudian, dia mengingat sesatu. “Aku tadi kan menelpon Minji, tapi kenapa kau yang datang?”

Hanbin tidak langsung menjawab, dia hanya tetap berjalan.

“Kim Hanbin! Kau tidur, ya?”

Hanbin mendengus. “Mana bisa orang tidur menggendongmu?”

“Jadi kenapa?” tanya Yoojin belum menyerah. Bukan apa-apa, dia hanya tidak percaya bahwa Minji melimpahkan—tugas untuk menjemputnya—pada orang lain. Padahal biasanya, adiknya itu bukan tipikal seperti itu.

“Dia bilang dia ada ujian besok,” balas Hanbin akhirnya. “Karena tadi kerjaanku cuma bermain P.S dengan Chanyeol hyung, jadi ya sudah aku menawarkan diri untuk menjemputmu. Lagipula Minji bilang kau mabuk. Mana bisa gadis sekecil dirinya menggendongmu pulang, huh?”

Tiba-tiba Yoojin tersentak. “Chanyeol, appa, dan eomma tidak tahu masalah ini, kan?” ujarnya khawatir.

“Aku tidak menjamin soal itu.”

Yoojin mendesah keras. Kalau sampai ketiga orang itu tahu perihal dirinya yang mabuk disebabkan oleh Jongin, dia sungguh dalam masalah besar.

“Apa kau sedang menjalani back street dengan pacarmu yang bernama Jongin itu?”

“Huh?” Yoojin memandang figur Hanbin dari samping. “Ya, begitulah,” jawabnya kemudian.

“Dia itu laki-laki macam apa, sih? Bisa-bisanya dia meninggalkanmu mabuk sendirian di depan minimarket?” ujar Hanbin menggebu-gebu.

“Dia tidak bermaksud seperti itu, tahu,” balas Yojin membela Jongin. Lalu dia teringat kembali ketika Jongin mengatakan akan pergi ke Jepang. Tiba-tiba hatinya menjadi sakit lagi.

 “Tapi tetap saja—” Hanbin menghentikan ucapannya saat merasakan punggungnya mulai basah—disertai suara isakan kecil. “Kau menangis?”

“Aku ingin sekali menangis. Tapi air mataku tidak mau keluar dari tadi,” balas Yoojin terisak. Dia lalu membenamkan wajahnya di bahu Hanbin.

“Sekarang kau sedang menangis, bodoh.”

“Baiklah, aku meminjam bahumu sebentar kalau begitu.” Suara gadis itu teredam kaos Hanbin.

“Kau harus membayarnya besok.”

Yoojin lantas mengangkat kepalanya. “Kau pelit sekali!” sungutnya

“Aku hanya tidak akan pelit terhadap gadis yang kusukai.”

Yoojin mendengus. “Tapi kau pelit kepadaku! Jahat!”

“Aku hanya akan menggendong gadis yang kusukai, dan meminjamkan bahuku untuk dia menangis sepuasnya. Gratis.”

“Dan kau akan meminta bayaran padaku?”

Hanbin lantas tertawa. Dia merasa kalau Yoojin benar-benar bodoh. Apa gadis itu masih di bawah pengaruh alkohol?

Syukurlah kalau begitu, Hanbin membatin.

***

a/n: Entah kenapa lagi gereget aja sama kisah yang kayak gini.

Advertisements

5 responses to “In Time: Confession – by Pramudiaah

  1. Wow couple baru, dasar kim hanbin.. Hihihi.. Yoojin emng kelewat mabuk ya, ngak sadar sm ucapannya hanbin.. Semoga sukses thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s