Cupid vs Cerberus ~Part IV~ by Neez

picsart_04-09-12559783467.jpg

Cupid vs Cerberus

Nadine (OC) || Im Jaebum (GOT7 JB) || Mark Tuan (GOT7 Mark) || Shin Jihyo (OC)

Alternative Universe, Fantasy, Romance, Comedy

PG || Chapter

Index & Prolog || Part I || Part II || Part III

© Neez

Jaebum masih tidak habis pikir. Sejak kecil, sebagai Cerberus, yang tinggal di Thanatos, tanah terluar dari Nirwana, ia selalu diajarkan bahwa Kaum Malaikat, mengucilkan kaumnya sendiri. Kaum Malaikat, yang notabene salah satu kaum yang juga dibela oleh Lucifer ketika menentang Tuhan, memilih untuk membela kaum manusia, bahkan memindahkan para Cerberus, keturunan Lucifer ke Thanatos, sebagai penjaga Tartarus. Cerberus pun tidak bisa memiliki tubuh indah dan terlihat mulia seperti Kaum Malaikat, melainkan harus menerima bentuk tubuh mereka sebagai anjing berkepala tiga.

Sejak awal Jaebum diturunkan ke Bumi, ia sudah berniat, jika berhasil menggagalkan misi Cupid si malaikat muda, maka ia akan langsung menghabisi Cupid itu. Ia tidak mau langsung membunuh si Cupid, karena tentunya, dimana keasyikannya jika langsung membunuh? Namun, setelah si Cupid menjebaknya untuk mengikatkan benang merah antara Mark dan Jihyo, kesabaran Jaebum benar-benar habis. Ia nyaris membunuh Cupid, namun Michaella datang.

Cerberus harus mengakui bahwa ia masih jauh dibawah si Malaikat Agung. Ia pun harus menerima hukuman kejam dari Lucifer, hingga tubuhnya betul-betul lemah sekembalinya ia ke bumi. Dalam masa istirahatnya, ia mengingat-ingat kembali rasa bencinya pada si Cupid. Ia tidak peduli, segera setelah ia pulih, ia harus segera memutuskan benang merah tersebut dan menghabisi Cupid sialan itu.

Namun sekarang, kejadian yang tak pernah ia sangka terjadi. Dalam kondisi tubuhnya yang lemah, dan ia sama sekali tidak dapat merasakan kehadiran magis Cupid. Ia mendapati bahwa tenaganya terisi. Tubuhnya yang menggigil karena efek hukuman dari Cerberus, kembali menghangat. Dan begitu Jaebum membuka matanya, ia mendapati Cupid bernama Nadine itu kini tengah mengucurkan kekuatannya.

Untuk memulihkan dirinya, si Cerberus. Musuh Cupid!

Apa yang terjadi?!

Jaebum yang awalnya tidak bisa merasakan kehadiran magis, perlahan mulai bisa merasakan kembali. Dan tubuhnya yang tadinya dingin, kini menghangat. Kepalanya yang awalnya nyeri hebat, kini mendadak segar. Dan yang jelas Jaebum kini bisa mengangkat tubuhnya dari atas tempat tidur pasiennya.

Terakhir, ia bisa merasakan bahwa Cupid di hadapannya bisa saja mati karena mengeluarkan semua kekuatannya.

”Stop!” seru Jaebum tepat waktu. Refleks. Ia tidak tahu apa yang menguasai kepalanya, yang jelas ia bisa merasakan jika ia membiarkan Nadine untuk terus memulihkan kekuatannya, maka Cupid itu akan benar-benar mati.

Cupid itu membuka matanya. Dengan kekuatannya yang sudah terisi, Jaebum bisa melihat bahwa kini ganti Nadine yang lemah sepertinya, bahkan jauh lebih lemah. Namun Cupid perempuan itu justru tersenyum melihatnya. Bahkan mengucap syukur.

Sebelum si Cupid merosot, Jaebum berhasil menahan tubuhnya yang benar-benar dingin. Kepanikan melandanya. Jika manusia memiliki nadi, maka Cupid dan Cerberus tidak memilikinya. ”Cupid! Cupid!” seru Jaebum sambil menggendong tubuh ringan Cupid tersebut dan ganti membaringkannya di tempatnya berbaring barusan.

”Apa yang terjadi? Oh, Murid Im, kau sudah baikkan?” Guru Min, yang merupakan patron ruang kesehatan sudah kembali, setelah mencarikannya termometer tadi.

Jaebum mengangguk, berhasil menutupi kepanikan yang melandanya. ”Aku sudah baik-baik saja, Guru Min. Ini… dia… pingsan?” Pingsan. Bisa dibilang yang terjadi pada Nadine jika di kaum manusia disebut pingsan, bukan?

”Disini?” Guru Min terlihat terkejut, dan menggeser posisi Jaebum untuk memeriksa tubuh Nadine.

Percuma. Batin Jaebum. Sakitnya Cupid ini bukan hal yang bisa disembuhkan oleh manusia begitu saja.

”Astaga, demamnya tinggi sekali. Tolong ambilkan aku stetoskop.”

Jaebum dengan kaku beralih ke meja jaga dan mengambilkan sesuatu yang disebut stetoskop. Mengangkat alisnya memperhatikan Guru Min mulai memeriksa setiap inci dari tubuh Nadine.

”Astaga, kenapa selemah ini ia masih sekolah?” Guru Min mendongak pada Jaebum. ”Aku akan segera ke kelasnya untuk mengabarkan bahwa ia sakit. Kau tunggu disini sebentar ya.”

Dan Jaebum hanya dapat mengangguk kaku, karena ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam posisi ini. Cupid itu tidak membuka matanya sama sekali, tidak pula menggigil. Jika manusia mati dan rohnya akan kembali ke Nirwana, atau bahkan Taman Firdaus jika berbuat kebaikan, berbeda dengan Malaikat, Cupid, maupun Cerberus.

Jika mati, maka mereka akan menghilang. Betul-betul menghilang tanpa ada jejak di baik di dunia, maupun alam baka. Jaebum memejamkan matanya, berusaha mendeteksi apa yang terjadi pada malaikat muda yang terbaring di hadapannya kini. Yang ia lihat adalah Nadine benar-benar nyaris kehilangan nyawanya sendiri!!! Jaebum menarik kembali pikirannya, bernapas memburu.

Ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Malaikat mengorbankan diri demi menyelamatkan Cerberus?!

Guru Min kembali sudah mendapatkan surat izin dari kelas Nadine, atau Cha Sera—nama manusianya. Jaebum berdeham, entah darimana pikiran bodohnya ini, yang jelas ia memutuskan mengaku sebagai tetangga Sera, dan menawarkan diri untuk membawa gadis itu pulang.

Dan melihat keseriusan Jaebum, Guru Min mempercayainya. Beliau mempersilakan Jaebum membawa Nadine pulang diantarkan oleh taksi yang dipanggil ke sekolah.

* * *

”Hai, Jihyo ada?”

Wajah Jihyo kini semerah tomat. Bagaimana tidak? Kini teman-teman sekelasnya semua menoleh kepadanya. Pria-pria menatapnya usil, sementara para wanita terlihat marah dan sedikit tidak terima. Karena Mark Tuan datang ke kelas mereka dengan senyum manisnya.

”Dibelakang sini, Sunbae.”

Si pengkhianat Na Jaemin berteriak dari belakang kursi Jihyo, dan menunjuk-nunjuk Jihyo dengan penuh semangat.

”Terima kasih, Jaemin-ah.” Desis Jihyo berapi-api.

”Terima kasih kembali, Jihyo-ya.” Sahut Jaemin santai. ”Kalian tahu tidak kalau kemarin Jihyo dijemput Mark Sunbae?”

”Diam!!!”

Meski jam istirahat, nampaknya di kelas Jihyo kini tak ada satu pun murid yang berminat untuk keluar. Mark tersenyum simpul, dan bahkan permisi pada murid-murid lainnya sebelum menghampiri meja Jihyo.

”Hai, kau sudah sarapan?” tanyanya kasual, kelihatan sekali sama sekali tidak terpengaruh dengan puluhan pasangan mata yang memperhatikan mereka berdua. ”Aku membawakanmu sandwich.”

Jihyo, dengan wajah merah, tidak bisa berkata apa-apa selain, ”Terima kasih banyak, Sunbae.”

Untungnya saat itu juga seseorang menyadarkan dengan bersorak waktu istirahat hanya tinggal dua puluh menit, dan sepertinya murid-murid lainnya lebih tertarik untuk mengisi perut mereka dibandingkan harus makan hati dan angin melihat pasangan fenomenal ini.

Mark hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa geli ketika akhirnya hanya beberapa murid saja yang tetap berada di kelas.

”Apa mereka selalu seperti ini?” tanyanya penasaran pada Jihyo.

Jihyo menggelengkan kepalanya. Tentu saja mereka begini karena seorang Mark Tuan mau-maunya datang ke kelas sebelas, dan membawakan sandwich untuk murid biasa macam Shin Jihyo.

”Lucu.” Gumam Mark sambil membuka plastik pembungkus sandwich-nya, ”Memang di kelasmu tidak ada yang berkencan saat jam istirahat?”

”Eh??” Jihyo tercengang mendengar pertanyaan Mark. Wajah tomatnya kembali merona-rona. Apa maksud pertanyaan Mark barusan? Secara tidak langsung pria itu seolah menyatakan mereka tengah berkencan, bukan?

Mark mendongak, dan terkekeh geli melihat wajah merah Jihyo, dan kini wajahnya jadi ikut memerah sendiri, meski tidak separah Jihyo tentunya. Pertanyaan dalam benak Mark hanya satu, kenapa ia mudah tersipu jika melihat Jihyo tersipu-sipu.

”Yah, ini makanlah.” Mark berusaha mengendalikan detak jantungnya, dan untunglah ia jauh lebih berhasil daripada Jihyo. Untuk ukuran playboy made in Los Angeles macam Mark, menjadi lemah karena gadis adalah suatu aib. Tapi toh nyatanya, ia tidak merasa buruk.

Jihyo tersenyum dan menerima sandwich dari tangan Mark, dan dengan malu-malu menggigitnya, lalu mengunyahnya. Sampai ia merasakan sesuatu di dalam kunyahan tersebut.

Sunbae,”

”Hmm?” Mark mendongak dengan tatapan mata lembut selalu bisa menggetarkan hati dan melemaskan lutut Jihyo.

Meski begitu Jihyo tetap meneruskan pertanyaannya, ”Apa… ini buatanmu sendiri?”

Kedua mata Mark melebar, ngeri. ”Oh? I-iya,” jawabnya gugup. ”Kenapa? Apa yang terjadi? Apakah tidak enak?”

Jihyo terkekeh, untuk pertama kalinya melihat Mark kehilangan kendali atas dirinya sendiri. ”Tidak. Enak kok, cuma ada kulit telur,” dengan polosnya Jihyo menjulurkan lidahnya dan menunjukkan kulit telurnya. ”Berarti pasti sandwich ini buatanmu, Sunbae. Karena kalau buatan ibumu, atau mungkin pelayanmu, tidak mungkin ada kulit telurnya, bukan?”

Oh, Shin Jihyo! Kau tidak tahu betapa polosnya apa yang kau lakukan saat ini. Karena Mark sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak mencium gadis yang baru ia kenal selama beberapa hari itu hanya karena menjulurkan lidahnya kepadanya dengan amat sangat polos.

Mark buru-buru memalingkan wajahnya, untung saja kancing teratas kemeja sekolahnya sudah ia lepaskan. Berdeham-deham, suara kikikan kecil Jihyo terdengar merdu di telinganya. Dan ia biarkan saja Jihyo berpikir ia nampak salah tingkah hanya karena malu ada kulit telur.

”Tapi…” Jihyo mengunyah sandwich-nya lagi dengan penuh semangat. ”Enak kok rasanya, Sunbae. Terima kasih sudah mau membuatkanku sandwich. Hmm,” Jihyo menimbang-nimbang.”

Akhirnya Mark tersenyum malu-malu.

”Besok… kalau aku yang buatkan bekal, apa Sunbae mau menerimanya?”

Mark bahkan nyaris tidak mempercayai apa yang ia dengar. Jihyo mau membuatkannya bekal? Mengerjap-ngerjap, Mark menatap Jihyo dalam-dalam dan lama-lama.

”Kau serius?”

Ditatap begitu, Jihyo kembali memerah dan ikut salah tingkah.

”I-itu jika Sunbae mau,”

”Tentu aku mau!” seru Mark cepat-cepat, takut gadis itu berubah pikiran. Tentu saja ia tidak mau melewatkan bekal buatan Jihyo.

Jihyo menggaruk kepalanya, ”Ta-tapi, aku tidak tahu, Sunbae suka makan apa…” lanjutnya kecil.

”Aku pemakan segala,” sahut Mark santai. Termasuk kau, Tapi Mark tidak mengatakannya. Ia tahu reputasinya buruk, dan ia tidak mau Jihyo takut kepadanya saat ia benar-benar merasa serius dengan gadis pilihannya saat ini, meski ia sendiri bertanya-tanya darimana keseriusan itu berasal.

”Ka-kalau begitu, aku akan memasak apa yang biasanya kumasak. Semoga Sunbae suka.”

”Aku sudah suka sekarang,” Mark menjawab sambil mengerlingkan matanya pada Jihyo. Sama sekali tidak ada unsur rayuan, seperti yang biasa ia lakukan pada daftar hitam wanita sebelum Jihyo. Untuk alasan apa, Mark juga tidak tahu. Tapi yang jelas ia sudah menyukai Jihyo sekarang.

Jihyo tersenyum kecut, dan kembali menggigit sandwich-nya.

Saat Mark kembali ke kelasnya, dan duduk di kursinya, Jackson langsung menghampirinya. Ia hampir bisa menebak bahwa kabar ia menyambangi kelas Jihyo pasti kembali membuat ribut sekolah, namun ternyata ia salah.

Bro, kau tahu? Jaebum mengantarkan pulang seorang gadis. Adik kelas. Anak baru.”

Mark mengangkat alisnya, heran. ”Benarkah?”

”Oh,” Jackson mengangguk-angguk penuh semangat. ”Bahkan gadis itu digendong olehnya. Anak-anak heboh, para gadis patah hati.” Ia mengangkat kedua tangannya sok merasa heran dengan situasi ini. ”Untuk apa merebutkan Im Jaebum jika ada Wang Jackson dan Mark Tuan disini.”

Mark hanya geleng-geleng kepala dan mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan pada Jihyo bahwa ia sudah kembali ke kelas dengan selamat, yang dibalas dengan emoticon tertawa. Mark jadi gemas sendiri. Shin Jihyo semakin lama semakin membuatnya jatuh cinta.

”Huft,” Jackson berdecak melihat ekspresi Mark yang sedang senyum-senyum sendiri sambil melihat ponsel. ”Baiklah, Mark Tuan dan Im Jaebum sold out saudara-saudara.”

* * *

Butuh waktu lebih dari dua belas jam, hingga Jaebum menemukan tanda-tanda kehidupan pada Cupid yang terbaring di tempat tidurnya. Nadine si Cupid menggerakkan sedikit tangannya tepat pukul sepuluh malam setelah sejak pagi tadi Jaebum membawanya pulang. Cerberus itu tidak tahu dimana rumah manusia Nadine, maka ia membawa Cupid itu ke rumah manusianya. Beberapa jam sekali, Jaebum menggunakan kekuatannya untuk melihat ke dalam raga manusia Nadine, memastikan malaikat muda itu masih hidup, dan mengumpulkan kembali kekuatannya yang disumbangkan.

Setelah lewat tengah malam, barulah Nadine dapat membuka kedua matanya. Meski tubuhnya masih terasa lemah, dan Jaebum langsung merasakan bahwa Cupid yang tengah berbaring di tempat tidurnya terbangun. Ia yang berdiri di menatap ke jendela kamar apartemennya langsung berbalik dan menghampiri tempat tidurnya sendiri.

Deg!

Jaebum bisa merasakan tenaga Nadine terlalu utuh, lemah. Ia mengepalkan tangannya, memperhatikan dan mencoba merasakan energi si Cupid lagi. Tetap tidak ada bandingannya dengan kekuatannya.

”Dimana ini?” gumam Nadine dengan pelan, ia memperhatikan setiap inci bagian kamar yang dapat ia masukkan ke dalam kepalanya, meski energinya tidak dapat menangkap apa pun. Ia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya, dan merasakan lelah yang luar biasa.

”Kau dirumahku,”

Andai Nadine sanggup berteriak, maka ia akan berteriak pada saat itu juga. Namun anehnya, ia tidak begitu terkejut. Hanya sedikit heran. Ia kira dalam keadaan lemah, Cerberus akan mengambil kesempatan dan langsung menghabisi nyawanya saat itu juga. Nadine tidak memiliki penyesalan, yang terpenting ia sudah berusaha membayar dosa-dosanya, Putra Adam dan Putri Hawa sudah terikat benang merahnya meski belum mengucapkan ikrar. Satu-satunya yang ia pikirkan jika ia musnah dari dunia untuk selamanya adalah Bunda dan keempat kakak perempuannya yang belum sempat ia ucapkan kata perpisahan.

Nyatanya, Cerberus itu tidak langsung membunuhnya, dan justru membawanya ke tempat yang Nadine kira adalah rumah manusia si Cerberus.

”Kenapa kau membawaku kesini?” tanya Nadine dengan nada lemah.

”Sebetulnya aku mau langsung membawamu ke Tartarus,” Jaebum muncul dari balik pintu kamarnya, setelah tadi hanya menjawab dengan suara. Cerberus bertubuh tinggi itu, berdiri bersandar di pintu kamar, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantung training-nya dan dua mata dinginnya menatap lurus ke Nadine. ”Tapi, aku bukan pengecut yang akan menghabisi Cupid dalam keadaan lemah. Apalagi lemahnya karena mengisi ulang tenagaku.”

Nadine terkekeh, menutupi kepalanya yang masih terasa berpusing hebat. Ia sedikit tercengang juga dengan pilihan si Cerberus menunggunya untuk menjadi lawan yang seimbang.

”Itu bayaran atas yang kulakukan kemarin.”

”Apa yang kau lakukan kemarin?” tanya Jaebum.

Nadine membuka kedua matanya, ”Kau lupa? Kau dihukum oleh Lucifer karena telah mengikat benang merah Putra Adam dan Putri Hawa, yang sebetulnya adalah kerjaanku.”

Jaebum menyeringai. ”Ah, jadi kau mengisi tenagaku karena itu?”

”Kau nyaris mati karenaku, Cerberus.” Nadine tidak bertenaga untuk mendebat si Cerberus, namun ia sendiri gemas. Bagaimana mungkin Cerberus ini tidak paham apa yang ia lakukan. Jika bukan karena berhutang, mana mungkin Nadine mau mengisi tenaga dia bukan??

Jaebum mengangkat sebelah alisnya. ”Mati? Aku? Kau bercanda. Lucifer takkan pernah membunuhku.” Kekehnya dengan suara dingin dan mengerikannya. ”Ternyata benar kata mereka, Cupid memang terlihat mulia, tapi bodoh. Pantas saja kalian membela manusia.”

”Diamlah, Cerberus,” Nadine benar-benar tidak bertenaga. ”Kau tahu aku tidak punya tenaga untuk mendebatmu saat ini.”

Jaebum terkekeh kembali. ”Cepatlah pulih.”

”Kenapa? Mau langsung membunuhku?”

”Tentu saja, tidak akan seru jika kau terbaring dan aku memutuskan tali antara Mark dan Jihyo, bukan?”

Nadine berusaha bangun dari baringnya, namun kepalanya berpusing dan kembali menjatuhkan tubuhnya ke bantal. Jaebum mengerutkan dahinya, masih merasa heran mengapa si malaikat muda tidak dengan mudahnya mengumpulkan kembali kekuatannya.

”Astaga, kau masih lemah sekali.” Gumam Jaebum sambil berjalan mendekat ke tempat tidur.

”Mau apa kau?” tanya Nadine mulai merasakan aura Cerberus itu mendekat, namun tetap tidak dapat melakukan apa-apa dalam kondisinya yang seperti ini. ”Kalau kau mau tertawa, silakan. Sebelum aku kembali dalam kekuatan primaku.”

Jaebum duduk di tepi tempat tidurnya dan memperhatikan Nadine lekat-lekat, ”Apa memang Cupid selama ini mengembalikan kekuatan? Ini sudah dua belas jam lebih.”

”Mana aku tahu,” desah Nadine kesal. ”Aku tidak pernah memberikan kekuatanku pada siapa pun sebelumnya.”

”Ha ha,” Jaebum tertawa garing. ”Lalu aku harus merasa tersentuh bahwa kau memberikan kekuatanmu padaku? Dengar, Cupid Bodoh, kau nyaris musnah tadi. Kau tidak belajar cara mengontrol kekuatanmu, kah??”

Nadine hanya bisa mengembuskan napasnya kesal. ”Yah, kalian ini kaum Cerberus ini memang tidak pernah diajarkan untuk berterima kasih, bukan?”

”Untuk apa?” sahut Jaebum sambil bersedekap. ”Kau melakukannya karena kau berhutang kepadaku. Itu sudah sepatutnya kau lakukan.”

”Iya, iya…” Nadine menyerah dan memutuskan memiringkan tubuhnya, malas melihat Cerberus berwajah dingin dan datar, sedatar layar televisi di rumah manusianya.

Dan untuk pertamakalinya, Jaebum terkekeh karena benar-benar geli dengan tingkah laku Cupid. Selain bodoh, kaum Cupid juga polos. Pantas saja mereka dengan mudahnya membela kaum manusia.

* * *

Jihyo membelalakkan kedua matanya saat melihat sebuah sedan hitam mewah terparkir di depan rumahnya. Dan saat ia mendekat, pintu sedan itu terbuka, dan muncullah Mark Tuan dengan wajah jengkel.

Sunbae,” kata Jihyo sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya nyaris tidak mempercayai apa yang ia lihat. Hari ini Jihyo buru-buru pulang karena takut disidang oleh kawanan Kim Doyeon. Mereka terang-terangan seharian ini melempar sorot pandang mengerikan sepanjang jam pelajaran, dan mereka tidak bisa menyidang Jihyo saat jam istirahat, karena Mark selalu muncul seolah-olah menyelamatkan Jihyo.

Mark mengeluarkan ponselnya, ”Kau kemana?! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku? Aku mengirimimu pesan tidak kau baca. Aku menghubungimu juga tidak kau jawab! Teman sekelasmu bilang kau terburu-buru dan kelihatan panik.”

Jihyo hanya bisa melongo. Ia belum pernah sekalipun melihat seorang Mark Tuan bisa merepet macam ibu-ibu yang menawar harga di pasar. Mark terlihat benar-benar panik, dan omelan yang keluar dari mulutnya justru membuat pria itu terlihat lucu di mata Jihyo.

”Kau tertawa?!” seru Mark melihat ekspresi Jihyo yang menahan senyum. ”Kau benar-benar tidak tahu aku khawatir ya??!”

Jihyo buru-buru menahan tawanya, namun tidak bisa. Ia menutupi mulutnya dan tertawa geli, namun diselingi dengan permintaan maaf. ”Maaf, Sunbae, maaf… aku hanya berpikir…” lalu ia terkikik geli lagi, ”Aku hanya tidak berpikir bahwa kau akan mencariku sepulang sekolah.”

Mark memutar kedua matanya jengkel. ”Bagaimana mungkin aku tidak mencarimu pulang sekolah? Kau kira kau hanya temanku dalam lingkungan sekolah atau apa? Lalu apa artinya kencan kita kemarin di restoran ramen?”

Wajah Jihyo kembali memerah. Kencan?

”Jihyo,” untuk pertamakalinya Mark menyebut namanya, dengan ekspresi serius, dua tangan pada bahunya. ”Jangan pulang tanpa kabar lagi seperti hari ini. Janji?!”

Jihyo menganggukkan kepalanya, tersenyum. ”Iya, aku berjanji.”

”Kenapa kau buru-buru pulang? Temanmu yang kemarin bilang kau bahkan tidak berpamitan pada siapa pun di kelas. Tepat ketika bel kau langsung berlari pulang keluar.”

”Bukan begitu,” Jihyo menggaruk kepalanya lagi, wajahnya juga semakin merah padam. ”Doyeon dan kawanannya nampaknya ingin menyudutkanku hari ini. Jadi aku buru-buru kabur.”

”Kenapa? Apa yang mereka lakukan? Kau diancam?”

Jihyo buru-buru mengangkat kedua tangannya, ”Bukan, bukan, bukan begitu, Sunbae. Mereka tidak melakukan apa pun… hanya saja, mereka penasaran… uh, pada… uh, kita berdua.” Lanjutnya salah tingkah.

Pemahaman muncul begitu saja di kepala Mark, mengingat ia memiliki sahabat dekat super ingin tahu seperti Jackson. Lalu wajahnya menyeringai jail menggoda ke arah Jihyo lagi.

”Ah,” Mark mengangguk pelan, terkekeh. ”Jadi, mereka penasaran dengan hubungan kita.”

”Oh,” Jihyo mengangguk.

”Lalu kenapa tidak kau jawab saja? Kenapa harus lari?” tanpa sadar, Mark meraih ujung rambut Jihyo dan memainkannya sambil menatap wajah Jihyo lekat-lekat, menunggu jawaban gadis itu, dan puas sekali melihat Jihyo benar-benar salah tingkah.

”Justru karena aku bingung menjawabnya, Sunbae, makanya aku lari.” Sahut Jihyo jujur, dan lirih.

Mark tersenyum, melepaskan jarinya dari rambut Jihyo. ”Kenapa harus bingung? Jawab saja aku menyukaimu.”

”Eh?!” Jihyo melongo, dan menatap Mark tidak percaya.

”Tidak percaya?” tanya Mark, wajahnya tersipu, tapi ia mencoba tetap tegar dengan segala tingkah cool-nya.

Jihyo menggeleng.

”Bagaimana cara membuatmu percaya kalau begitu?” tanya Mark sambil menatap Jihyo lekat-lekat.

Jihyo meringis. ”Bukankah kita baru kenal beberapa hari ini, Sunbae?” Iya, Jihyo harus mengakui bahwa jantungnya berdenyut jauh lebih kencang daripada biasanya jika bersama Mark, tapi bukankah mereka baru saling kenal? Karena insiden ponsel kemarin.

”Menyukai seseorang bisa datang begitu saja, dan bisa terjadi setelah terbiasa, bukan?” Mark mengangkat bahunya. ”Apa itu berarti kau tidak menyukaiku?”

”Bu…bukan begitu,” sahut Jihyo buru-buru.

Mark tersenyum nakal, mencubit pipi tembam Jihyo. ”I know,” bisiknya. ”Wajahmu selalu memerah jika aku menatapmu seperti ini.” Dan Mark betul-betul menatap Jihyo tetap di manik matanya.

Oh Tuhan.

”Kalau kau masih ragu, tak apa, aku mengerti.” Mark menjauhkan tubuhnya dari Jihyo sedikit. ”Aku akan membuatmu berkata ya juga kok pada akhirnya,” sahutnya percaya diri.

Sunbae,” rengek Jihyo malu.

”Hei, aku suka kau. Kau juga suka padaku,” Jihyo tidak bisa membantah pernyataan Mark, ”Lalu apa yang salah? Kau hanya butuh waktu, dan aku bisa membuatmu jatuh cinta selama waktu yang kau perlukan. Benar, kan?”

Menyerah, Jihyo manggut-manggut. ”Iya, terserah kau saja, Sunbae. Atur saja.”

”Kau lucu,” Mark tergelak dan kembali mencubit pipi Jihyo, ke kanan dan kiri dengan kedua tangannya. Kemudian ia menggembungkan kedua pipi Jihyo hingga bibir gadis itu menjadi maju seperti bebek. ”Kau tahu,” bisiknya sambil menyandarkan dahinya pada dahi Jihyo. ”Aku sudah ingin sekali menciummu, karena kau begitu menggemaskan. Tapi karena kau masih butuh waktu. Aku bersedia menunggu.”

-TBC-

 

Advertisements

2 responses to “Cupid vs Cerberus ~Part IV~ by Neez

  1. Wkwkwk….. Cerberus sama Nadine bkin geregetan… plus Mark dan Jihyo.. si couple malu2 lucu… 😂😂😂 aku sayang kalian semua…. 😍😍😍😍😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s