[TWELVEBLOSSOM] Dear Husband: My Eyes On You

20180222_131409_0001

Twelveblossom (Twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Nara, Liv, dan Chanyeol | Romance, Marriage Life & Friendship | Wattpad: twelveblossom | Line@ @NYC8880L

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel – The Way I Love YouI’m Okay Even It’s Hurt – If You Were Me – When You and I Become Us – Dealing With You

” I loved you and I was loved. So that’s good enough for me.”  ―Love Scenario, iKon

Sehun mendiamkan Nara. Kejadian di mobil tadi membuat Nara terlalu emosional lantas Sehun pun menunjukkan kekesalannya dengan bungkam. Pria itu langsung mengambil spasi yang lebar antara dirinya dan sang istri ketika Nara mengatakan permintaannya untuk tidak lagi melakukan sesi terapi. Si pria juga melangkah terlebih dahulu ke dalam gedung, Nara mengekoriperangaiannya tampak lesu.

Sehun disambut oleh tiga asisten saat memasuki pintu utama bangunan megah tersebut. Ia berada di lift  khusus yang akan membawa mereka ke lantai sepuluhruang rapat pemegang saham. Sementara Nara melangkah pelan tidak bertenaga. Meskipun Sehun marah dia tetap memberikan isyarat pada asistennya untuk menunggu. Sehun dan Nara pun berdiri berdampingan di kubik besi itu. Namun, tak ada yang memulai pembicaraan.

Pintu lift terbuka. Sehun langsung keluar, sedangkan Nara sengaja berlama-lama. Ia memersilahkan asisten suaminya untuk beranjak terlebih dahulu. Setelah semuanya pergi, gadis itu baru mulai berjalan ke arah Sehun bergerak. Nara menghela napas berat. Ia merasa kali ini Sehun terlampau jauh untuk dijangkau oleh dirinya. Memang jaraknya hanya beberapa meter, tetapi seolah sang suami membangun dinding yang teramat tinggi agar Nara tak sanggup melewatinya. Nara sadar apabila permintaannya tadi sulit dipenuhi. Apalagi Nara tahu benar Sehun sangat ingin mengungkapkan fakta mengenai sebab trauma Nara pada ketinggiankarena tanpa diduga Ahra muncul dalam kenangan yang terhapus itu.

Nara melamun ketika melangkah. Hingga ia tidak menyadari apa yang ada di depannya. Ada seorang karyawan yang tengah membawa dokumen sangat banyak hingga menutupi wajah. Karyawan tersebut berjalan tergesa sebab dokumen yang dibawanya akan digunakan untuk bahan rapat.

“Aduh!” keluh Nara saat ia menabrak si karyawan laki-laki. Gadis itu jatuh terdudukkertas-kertas berhamburan di sekitarnya. Nara merasakan perih di telapak tangan yang ia gunakan untuk menyanggah tubuh.

Si karyawan tersebut kaget. Bukannya minta maaf atau berusaha menolong Nara yang jatuh, ia malah meluapkan kemarahan pada Nara. “Kau seharusnya lebih berhati-hati,” Ia berkacak pinggang. “Kau tahu betapa pentingnya dokumen ini,” lanjutnya.

“Kau tahu betapa pentingnya gadis ini. Dia istri CEO kalian,” vokal Daniel yang kini sudah berada di sana. Pria itu memakai jas lengkap dengan dasi serta celana kain hitamtak jauh dengan apa yang dikenakan Sehun tadi. Raut Daniel datar. Ia sedang murka jika didengar dari nada suaranya.

Daniel pun cekatan membantu Nara. “Kau bisa kehilangan pekerjaan,” sambungnya. Daniel meraih tangan Nara lalu membantu si gadis berdiri.

Karyawan tersebut membungkuk sangat dalam. “Maafkan saya Direktur Kang. Saya tidak tahu

Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi di kantor ini. Bereskan semua barangmu, kemudian pergi,” potong Daniel tanpa belas kasihan.

Nara memegang lengan Daniel. “Jangan memecat dia. Aku baik-baik saja,” bujuk Nara.

Daniel menatap gadis yang berada di sampingnya sekilas, memastikan tidak terjadi sesuatu pada Nara. Ia mengatur napasnya agar bisa menenangkan diri. “Asisten Kim, pindahkan orang ini ke kantor cabang kita. Aku tidak ingin melihatnya lagi di sini,” putus Daniel akhirnya. Ia menggenggam tangan Nara, setelahnya pergi dari lokasi tersebut menuju ruang rapat.

Nara mengikuti Daniel. Ia berusaha melepaskan tangannya yang ada di kungkungan si pemuda. “Daniel, sakit,” ucap Nara.

Daniel berhenti. “Apa yang sakit, Noona?” tanyanya. Ia melepaskan si gadis setelah Nara memberikan kode. “Kita harus mengobatinya dulu. Seharusnya, kalian mengumumkan pernikahan secara benar-bukan malah menyembunyikannya. Karyawan di sini jadi tidak tahu siapa dirimu,” omel Daniel. Rautnya sangat berbeda dari yang tadi. Ekspresi Daniel yang kaku serta murka digantikan dengan kekhawatiran.

Nara tersenyum. “Kau sangat menakutkan tadi. Aku seperti melihat Sehun dalam versi yang lebih muda,” kata Nara tanpa membalas argumen lawan bicaranya.

Daniel memberengut. “Hanya hyung yang kau pikirkan,” timpal sang pemuda jangkung itu.

Nara kembali tersenyum, bedanya ada semburat merah muda di pipinya.

Entah keberanian dari mana. Jari Daniel menyentuh pipi yang menyemburatkan rona tersebut. Pria itu menyukai Nara yang bersikap demikian. Daniel memiliki keinginan besaragar Nara merona karena dirinya.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” seseorang menginterupsi mereka.

Daniel menurukan tanganya, ia tahu benar pemilik dari vokal itu. Meskipun netranya masih enggan lepas dari Nara.

Nara pun merespon lebih cepat. Ia menoleh ke arah Sehun yang berada di depan pintu ruang rapat. “Kami akan masuk sebentar lagi,” jawab Nara.

“Kau terlambat Kang Daniel,” ucap Sehun tanpa memedulikan perkataan istrinya. Sehun memberikan tatapan tajam pada sepupunya. Seolah Daniel melakukan kesalahan yang besar.

Nara berjalan untuk lebih dekat dengan Sehun. “Bukan salah Daniel. Dia terlambat karena menolongku.” Sang gadis memerlihatkan telapak tangannya yang terluka.

Alis Sehun naik satu. Ia meraih tangan Nara. Bukannya mereda, kemarahan Sehun malah semakin menjadi-jadi. “Kenapa kau bisa terluka, Nara?” tanya Sehun suaranya tinggi. Ia tidak berhenti di sana. “Kapan kau dapat menjaga diri?”

Nara mundur. Ia berusaha melepaskan diri dari Sehun. Nara sedang lemah hari ini, tapi Sehun terus saja membentaknya.

Daniel memutar bola mata melihat kejadian di depannya. “Seharusnya hyung berada di sana untuk melindungi gadis muda yang ceroboh ini.” Ia melangkahkan kaki semakin mendekati sepupunya, lalu menepuk bahu Sehun. “Kemana hyung saat dia membutuhkanmu? Kau tidak bisa hanya marah-marah padahal datang terlambat,” lanjutnya kemudian pergi dari sana meninggalkan sepasang suami-istri itu.

Sehun tersenyum kecut. Ia meraih ponselnya untuk menelepon seseorang. “Tunda rapat hari ini,” ucapnya, setelah itu memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban dari orang yang dihubunginya.

Sehun meraih tangan Nara yang tidak terluka. Ia membawa si gadis pulang ke apartemen tanpa membuka mulut sedikit pun dalam perjalanan.

“Daniel menyukaimu,” kata Sehun, setelah sekian lama bungkam.

Mereka sedang berada di apartemen. Sehun dan Nara duduk di sofa ruang keluarga. Tangan Sehun terampil mengobati luka goresan yang ada di tangan si gadis. Sementara Nara hanya duduk diam, menerka apakah suaminya masih marah atau tidak.

Nara menarik ujung bibir, bagaima pun ia harus bersikap lebih positif. Ia tersenyum simpul. “Aku tahu,” jawabnya.

“Daniel memberikan tatapan ingin memelikimu setiap kali kalian hanya berdua,” timpal Sehun, nadanya datar. Ia melepaskan telapak tangan Nara yang sudah selesai diobati.

“Bukan begitu, kami besar bersama. Aku melihatnya tumbuh. Dia mungkin begitu karena ingin mejagaku. Daniel mengetahui diriku setelah operasibagaimana menderitanya aku setiap harimenangis karena mencari ibuku yang tak kunjung datang,” Nara menjelaskan. Ia memberikan seluruh atensi pada Sehun yang kini bersandar di sofa. “Jangan pernah salah paham atas hubungan kami,” sambungnya.

Sehun menghembuskan napas. “Sebaiknya kau istirahat. Aku yakin hari ini melelahkan bagi tubuhmu.”

“Kalau tahu aku sangat capek. Kenapa kau tidak membiarkan diriku berhenti?” sergah Nara. Ia menunduk, merutuki mulutnya yang kembali membahas permasalahan sensitif itu.

Lantaran marah, Sehun justru menyentuh dagu Nara pelanmembuat pupil mereka bertemu. “Aku ingin kau terbebas dari masa lalumu, Nara. Jika aku memang betul-betul ingin mengetahui masalah kematian Jung Ahraaku akan mencari tahu dengan seluruh uang yang kumiliki. Kenyataannya tak sesederhana itu.”

Sehun memberikan jeda beberapa saat rautnya tampak sangat tersiksa. “Dulu aku memang ingin menghukumu karena ibumu mengorbankan Ahra yang mati otak untuk menyelamatkanmu. Keinginan itu surut ketika aku semakin mengenalmu. Kau perwujudan nyata dari gadis yang sering Ahra ceritakan dulu. Kata Ahra, ia ingin bertemu denganmu, menyayangimu, dan merindukanmu. Dia bilang kau sangat rupawan. Ahra bercerita tanpa rasa iri sedikit pun. Itu jauh sebelum ibumu datang padanya. Ibumu memohon agar Ahra bersedia menyumbangkan organnya saat dia meninggal. Ahra mulai depresi. Ia terlalu menyanyangimu. Ahra ingin saudarinya hidup agar keluarganya dapat berkumpul kembali. Hingga dirinya datang padamu dan ….” Sehun meraup muka. “Kecelakaan itu terjadi,” lanjutnya.

“Kau mulai peduli padaku karena Ahra menyayangiku,” bisik Nara.

Sehun menggeleng. “Aku peduli padamu karena diriku mulai memahami alasan Ahra sangat menyayangimu. Kau gadis yang mudah menarik perhatian seseorangkau gadis yang mudah dicintai.” Ia lagi-lagi menekan diafragma agar dapat bercerita jauh lebih tenang. Sehun menekan seluruh keegoisannya. Dia ingin memeberikan kekuatan agar Nara bersedia melanjutkan terapinya. “Dua alasan itu yang menyebabkan diriku terdorong untuk melindungimu,” lanjutnya.

“Kau melihatku begitu karena ada bayangan Ahra.” Jari-jari Nara menyentuh rahang Sehun. “Aku tahu diriku tidak dapat menggantikannya. Aku tahu, meskipun kenyataannya Ahra berniat membunuhku di masa laluaku tidak akan dapat membenci kakak kandungku. Aku tahu pada akhirnya pernikahan kita hanya sekedar perjanjian dan akan berakhir dalam satu tahun. Semua yang kutahu, tidak membuat keinginanku untuk memilikimu berkurang sedikitpun, Sehum,” kata Nara. Gadis itu mengusap ujung bibir Sehun. “Walaupun hanya aku yang jatuh cinta

Siapa bilang hanya kau yang jatuh cinta?” potong Sehun.

Pria itu membungkam Nara dengan mengecup kening sang istri. “Kau selalu menduga tanpa menanyakannya terlebih dahulu,” ujarnya. Ia beralih mencium sepasang kelopak mata Nara yang terpejam. Sehun memberikan jarak sebentar pada paras mereka agar dapat menatap Nara yang sudah membuka mata. Sehun tersenyum simpul. “Bukankah salah satu buku favoritmu berjudul ‘The Host’, Nara?”

Si gadis mengangguk.

Sehun kemudian mengecup pipi Nara, lalu berbisik. “Apa kau bisa mengatakan petikan favoritmu dari cerita itu?”

Nara diam sebentar. “It’s not the face, but the expressions on it. It’s not the voice, but what you say. It’s not what you look in that body, but the thing you do with it,” jawab Nara.

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, ragamu memang menyerupai Nara. Tapi, kalian berbeda. Aku telah menyadari bahwa kalian dua orang yang tak sama. Jangan pernah menyamakan dirimu dengan Ahra,” Sehun mengusap pipi Nara. Ia meraih tengkuk si gadis kemudian menyatukan bibir mereka.

Nara sempat membolakan mata beberapa sekon, meskipun begitu si gadis lekas membalas lumatan suaminya dan menyengkram kemeja Sehun.

Nara merasa jika tautan mereka kali ini berbeda dari sebelumnya sebab Sehun lebih menuntut.

“Aku senang kau ada di sini,” celetuk Nara pada sang suami yang kini sedang berbaring di ranjang bersamanya.

Sehun mengambil posisi terlentang. Pria itu akhirnya bersedia tidur bersama Nara dengan rayuan si gadisalasannya Nara sering mimpi buruk sekarang.

“Cepat tidur Nara. Setelah menidurkanmu aku harus mengecek beberapa dokumen,” balas Sehun tak acuh sikap romantisnya tadi sore seolah lenyap ditelan bumi.

Nara cemberut ia mengubah posisi menjadi menghadap suaminya yang mengenakan piama lucu bergambar beruangtentu saja pilihan sang gadis muda. “Ini kan jam sepuluh malam waktunya istirahat. Kau tidak boleh kerja berlebihan Sehun-uangmu sudah banyak,” omel Nara.

Sehun meraih pinggang istrinya agar mereka bisa lebih dekat. “Aku bekerja untuk memenuhi tanggung jawabku,” katanya. Ia merapikan poni Nara yang sudah tidak teratur.

“Kau harus bersenang-senang,” timpal Nara. Ia memainkan jari Sehun yang bebas. “Misalnya pergi ke klub,” sambung sang istri.

Sehun tertawa. “Aku sudah sering melakukannya.”

“Kapan?”

“Dulu waktu masih seusiamu,” jawabnya. Ia berpindah posisipasrah berada di bawah wanitanya saat Nara bergerak menidih. Sehun membiarkan gadis yang membalut tubuh dengan gaun tidur hitam itu memonopoli dirinya.

“Apa bersama kakakku?” tanya Nara.

“Hanya Chanyeol, Ahra tidak suka ke tempat seperti itu.”

Mata Nara berbinar. “Ayo ke klub. Aku belum pernah ke sana karena takut mabuk. Kau tahu betapa payahnya aku kan sewaktu hang over,” kelakar Nara.

“Jangan pernah berpikir untuk pergi ke sana sendirian,” ancam Sehun datar.

Nara mennyentuh lembut kerutan yang ada di kening suaminya yang kerap muncul saat pria itu marah. “Tenang saja, Nara ini anak baik-baik kok. Nara bakal menuruti perkataan si suamimeskipun pria itu menyebalkan dan pemarah. Tapi, aku ingin pergi ke sanatemani aku ya?” rajuk si gadis.

“Tidak,” jawab Sehun singkat dan padat.

Nara memberengut gadis itu kembali terlentangmenjauhkan diri dari Sehun. “Dasar pelit,” ejek Nara.

Sehun hanya mendengus. Bukanya merayu istrinya yang sedang kesal Sehun malah membalik badan membelakangi Nara. Pria itu memejamkan mata untuk tidur karena menurutnya Nara sangat berisik.

Lima menit berlalu.

Sehun tetap enggan bergerak.

Nara jadi cemas.

“Sehun jangan marah,” kali ini Nara yang mengalah. Gadis itu memeluk pria itu dari belakang. “Kalau kau tak mau juga tidak apa-apa. Aku sudah biasa kok ditolak olehmu,” ucapnya sedih.

Sehun menghela napas. Ia menghadap Nara lagi, memberikan isyarat pada lawan bicaranya agar masuk ke dalam dekapannya. “Kau selalu mempermainkan pikiranku, Jung Nara. Membuat benakku sering berdebat karena adanya dua hal yang bertentangan,” keluh Sehun. “Baiklah, kita pergi besok setelah pulang kantor,” Sehun menyetujuinya bertepatan dengan Nara yang tertawasuara kebahagian si gadis pun teredam karena Nara menyembunyikan parasnya di dada bidang suaminya.

“Kau akan pergi ke klub mana, Nara?” tanya Livkakak ipar Nara dengan nada sangat antusias sebab adik iparnya tersebut tak pernah menunjukkan ketertarikan pada hal menyenangkanseperti dunia malam. Olivia Park berpendapat jika kemajuan Nara menjadi makhluk sosial yang pandai bergaul teramat pesat.

Nara tersenyum. “The A Club,” jawab Nara sembari memoles lagi riasan. Ia mematut diri sekali lagi di depan toilet kantornya sebelum Sehun menjemput. “Apa itu sesuatu yang menakjubkan sampai kau berseru?” Nara menanggapi pekikan heboh Liv.

“Tentu saja! Itu salah satu klub favoritku dan Chanyeol. Sudah hampir dua bulan aku tidak pernah ke sana. Bahkan aku tidak boleh minum alkohol akhir-akhir ini,” vokal si cantik Liv.

“Kalau begitu, ikut saja. Kita bersenang-senang

Tidak mau,” sela Liv. Ia mengusap perutnya yang datar sambil menjungkitkan ujung bibir penuh arti kepada Nara.

“Kenapa? Apa si tengik Chanyeol melarangmu? Aku yang akan meneleponnya

Jangan Nara,” giliran Liv yang memotong perkataan lawan mengobrolnya saat Nara sudah memegang ponsel bersiap menghubungi Chanyeol. “Bukan salah suamiku, tapi aku sendiri yang ingin menghindari alkohol karena …. Aku hamil,” ungkap Liv sontak membuat Nara berjingkrak-jingkrak.

“Astaga, benarkah? Aku akan punya keponakan!” seru Nara heboh. Gadis itu memeluk Liv erat. “Perutmu masih belum seberapa gendut, Liv.”

Liv tertawa. Ia membalas dekapan adik iparnya. “Terima kasih, tentu saja belum besarusianya masih satu bulan. Aku belum memberitahu Chanyeol.”

“Kenapa?”

“Aku takut Chanyeol tidak suka,” Liv menunduk senyumnya lenyap. “Kau tahu sendiri dia tak seberapa menyukai anak-anak.”

“Jangan konyol, aku yakin Chanyeol akan sangat senang karena ini anaknyaterlebih lagi kau menjadi ibu dari bayinya. Dia sangat mencintaimu,” jelas Nara. Ia menepuk beberapa kali punggung kakak iparnya. “Setahuku seorang Liv bukanlah wanita yang penakut,” lanjutnya yang lantas membuat Liv tersenyum simpul.

“Terima kasih, Nara. Kau selalu mendukungku,” kata Liv. Ia menyentuh perut Nara. “Katanya orang mengandung itu menular. Aku berdoa, semoga kau juga merasakan kebahagian yang sama sepertiku. Pasti lucu melihat bayi yang wajahnya mirip Sehun dan dirimu,” lanjut Liv.

Nara menggigit bibir. Ia hanya mengangguk. Gadis itu memaklumi perkataan Liv tersebut sebab kakak iparnya tidak mengetahui keadaan Nara sebenarnya. “Ya, tentu saja. Aku juga wanita yang ingin memiliki bayi dari laki-laki yang kucintai,” balas Nara.

Nara memutar gelas kaca yang berisi jus jeruk. Bibir gadis itu mengerucut. Ia kesal karena Sehun menyamakan dirinya seperti balita. Bagaimana tidak? Mereka sedang berada di klub malam tapi si pria tak mengijinkan Nara menyentuh alkohol sama sekali. Pakaian yang sudah disiapkan Nara pun tampaknya sia-sia sebab Sehun langsung memakaikan mantel pada tubuh istrinya yang terekspos. Hebatnya, Sehun melakukan semua itu dengan paras datar. Pria itu bahkan tak mengindahkan dengusan Nara yang terdengar beberapa kali.

Sehun sengaja menyewa ruang VIP di klub itu, letaknya di lantai dua. Area tersebut memiliki dinding kaca yang membuat pengunjungnya dapat melihat langsung platform dansa di lantai satu. Pria itu juga membeli beberapa hidangan untuk makan malam istrinya. Namun, itikad baiknya justru disambut tak ramah oleh Nara.

“Kita bahkan tak menari,” keluh Nara tanpa menutupi kekesalannya. Ia melipat tangan di depan dada. Nara membolakan mata ke arah suaminya yang dengan santainya duduk di sofa sembari memakan sushi. “Asal kau tahu, Oh Sehun kita tidak sedang berada di restoran Jepang. Ini klub malam. Kau malah memakan sushi dengan santai,” ucap Nara lagi.

Sehun bergumam menyetujui argumen Nara.

“Kita seharusnya menari.”

“Kalau aku membiarkanmu menari pasti besok aku yang kesusahan karena harus mendengarkan keluhan mengenai pinggangmu yang linu,” timpal Sehun.

Uh, menyebalkan.” Nara memutar bola matanya. “Padahal kau kan sudah janji mengajakku ke klub!” seru si gadis.

“Aku sudah memenuhi janjiku. Aku mengajakmu ke The A, tapi aku tak pernah mengatakan akan membiarkanmu minum alkohol atau menari.” Sehun melejitkan bahu cuek. Ia mengambil sumpit Nara. Sehun meminta Nara membuka mulut agar ia dapat menyuapi istrinya.

“Seharusnya aku mengajak Liv atau Daniel,” oceh Nara sambil mengunyah sushinya. Jujur saja Nara sangat lapar dia menelan makanannya dengan cepat lalu minta disuapi lagi.

“Daniel sedang sibuk dengan proyek barunya. Livjangan mengajaknya ke klub atau minum soju,” jawab Sehun.

Nara menghela napas kecewa. “Well, dua sahabat baikku sibuk. Apalagi, Liv akan punya bayi pasti dia tidak bisa menemaniku kemana-mana lagi.”

Oh, apa Liv hamil?”

Nara menutup mulutnya. Ia kan tadi sudah berjanji untuk merahasiakan hal tersebut. “Astaga, kenapa aku mengatakannya padamu?”

Sehun tersenyum menyadari sifat Nara yang ceroboh.

“Jangan memberitahu Chanyeol mengenai kehamilan Liv, ya?” Nara bersuara lagi sebab Sehun menyeringai padanya.

“Memangnya kenapa? Bukankah ini kabar gembira?” Sehun menekuni paras Nara yang mengernyitkan alis, tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Liv takut Chanyeol tidak menyukai bayinya. Chanyeol memang tak mudah akrab dengan anak kecil,” Nara pada akhirnya menjawab. Ia cemberut. “Padahal bayi itu sangat lucu. Apalagi tangan mereka yang menggemaskan, lalu kakinya, dan wajahnya yang sangat kecil. Aku ingin mengasuh bayi suatu hari nanti.”

Sehun menarik ujung bibir ketika mendengar Nara mendiskripsikan kelucuan bayi. Ia mengusap ujung bibir Nara yang kotor karena terkena saus sushi. “Padahal kau sendiri masih seperti balita, tapi malah ingin mengasuh bayi,” kelakar Sehun.

Ugh, maksudmu aku awet muda serupa bayi begitu?” Nara menarik napas. “Itu lebih bagus daripada awet tua seperti dirimu,” ejek Nara ia menjulurkan lidah pada Sehun.

Sehun hanya memutar bola mata.

“Berisik sekali di sini,” ujar Nara saat mereka mulai menuruni tangga.

Nara butuh perjuangan keras agar Sehun bersedia ke lantai satu dan bergabung dengan pengunjung yang lain. Gadis itu merengek puluhan kali hingga rungu Sehun risih terhadapnya. Ocehannya tersebut ternyata berbuah manis.

“Berisik sekali di sini, Sehun” ulang Nara sebab tampaknya Sehun tak dapat mendengar dengan jelas perkataannya  karena suara musik EDM yang begitu keras.

Sehun menunduk agar ia bisa lebih dekat dengan sang istri untuk mendengar ucapannya. Tak hanya musik yang menjadi penghalang komunikasi mereka. The A sangat padat membuat mereka sedikit kesulitan berjalan. Sehun pun memutuskan merangkul bahu Nara, memastikan jika gadis itu berada di dekatnyadalam pengawasannya.

“Kita duduk di sana, Nara,” ujar Sehun pada salah satu tempat kosong yang berhadapan langsung dengan bartender.

Nara mengikuti Sehun. Baru beberapa sekon ia duduk, Nara teringat sesuatu. “Ponselku ketinggalan di lantai dua,” ucap Nara panik.

Sehun menghela napas kasar. “Baiklah, aku yang ambil. Kau di sini saja.” Sehun menghampiri si bartender yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka.

Nara melihat Sehun menepuk bahu si bartender, mereka bersalaman. “Sehun tampak akrab dengannya,” gumam Nara. Si gadis tersenyum ketika Sehun menunjuk Nara pada bartender.

“Nara, kau tunggu di sini, okay? Jangan ke mana-mana sebelum aku kembali, pinta Sehun. “Bartender itu bernama George. Dia akan menjagamu selama aku ke lantai dua. Dia sebentar lagi datang untuk membawakanmu jus,” jelas Sehun yang langsung direspon anggukan oleh istrinya.

Nara melihat Sehun pergi. Pria itu melangkah cepat.

“Ini minumanmu,” vokal George menginterupsi lamunan Nara.

Nara tersenyum pada laki-laki yang tampak berusia empat puluhan. “Terima kasih,” balas Nara sembari tersenyum.

“Maaf jika ini menyinggungmu, tapi kau sangat mirip dengan seseorang,” katanya lagi memulai topik.

Nara mengangguk. “Pasti yang kau maksud adalah Jung Ahradia kakakku.”

George tampak terkejut. “Jadi, Sehun menikahi adik Ahra.”

“Kau tampak mengenal mereka dengan baik. Apa Ahra dan Sehun sering kemari bersama?” tanya Nara ramah. Ia tetap iseng mengajukan pertanyaan meskipun Nara pernah mendengar dari Sehun apabila Ahra tak menyukai klub malam.

Pria itu menggeleng. “Mereka tidak pernah pergi ke sini bersama-sama. Sehun kemari bersama pria tinggiPark Chanyeol. Ahra berkunjung sendirian. Aku bertemu dia beberapa kali.” George menghela napas. “Aku ingat padanya sebab selalu memikirkannyamerasa menyesal karena tidak menolong

Menolong?” potong Nara.

Well, kakakmu pernah sangat mabuk. Dia dibawa oleh salah satu pria yang terkenal berengsek di sini,” jawabnya. Ia mengambil jeda sejenak. “Sejak itu Ahra jadi sering kemari. Aku tak tahu mereka berkencan atau semacamnya. “Aku pikir tidak tepat menceritakan ini pada dirimu karena kau adiknya. Tapi aku ingin keluarganya tahu. Aku dulu tak dapat menceritakan pada Sehun karena telah berjanji pada Ahra untuk menjaga mulutku.”

“Apa kau tak salah lihat? Maksudku, Ahra dulu kekasih Sehun. Mungkin saja mereka bersama.” Nara menatap George lamat berharap yang dikatakannya adalah sebuah kesalahpahaman.

“Tidak karena satu bulan setelah kejadian ituSehun menanyai semua bartender yang ada di sini mengenai Ahra,” jawabnya. Ia memelankan suara. “Aku harap ini tak benar-benar terjadi. Kau tahu laki-laki berengsek itu bisa saja berbuat sesuatu pada Ahraaku takut Ahra hamil.”

Nara tertegun mendengar ucapan George. Ia merasakan nyeri pada jantungnya. Napasnya mulai terengah, namun ia masih bertahan. Nara berjalan meninggalkan si bartender dengan tertatih. Gadis itu merasa sangat pusing.

Nara tak dapat berkonsentrai pada semua yang ada di depannya akibat rasa pening itu. Lantas si gadis dengan tanpa sengaja menabrak seorang laki-laki yang sedang menari hingga sloki pria itupun tumpah mengenai kemejanya.

Nara tersungkur ke lantai.

Nara kesakitan, jantungnya berdetak semakin cepat.

Nara tahu jika laki-laki yang ditabraknya marah-marah padanya, kendati demikian pandangan netra Nara mulai buram.

Nara terkulai. Kepalanya terbentur ke lantai dengan keras.

Sebelum semuanya gelap, dirinya bisa menatap siluet Sehun yang datang, kemudian menghantaml laki-laki yang menabraknya tadi.

Pikiran Nara masuk ke dalam lorong itu lagi.

Gelap.

Hanya langkah kaki yang terdengar.

Sayup-sayup suara wanita beradu argumen muncul.

“Kau wanita jalang, bisa-bisanya mengandung bayi dari laki-laki yang tak kau kenal. Semua yang sudah kupersiapkan untukmu sia-sia. Gadis tak tahu diuntung,” cacian dan makian itu semakin keras ketika benak Nara mendekat.

Nara dapat melihat dua orang wanitanamun ia tak bisa mengenali wajahnya. Yang satu berlutut di lantai, sedangkah yang lainnya berdiri. Mata si wanita yang berlutut di lantai pun tiba-tiba melihat ke arah Nara dengan tatapan beringas.

Tanpa diduga. Si wanita yang tersungkur berlari pada Nara, kemudian mencekiknya.

Nara meronta.

Ia kehabisan napas.

Dia sangat tersiksa untuk kesekian kalinya.

Kali ini dia tidak tahu caranya kembali.

… sebab dunia yang dimasuki oleh pikirannya semakin pekat dan dalam.

-oOo-

 

Terma kasih sudah membaca. :D. Cerita selanjutnya dapat dibaca di sini >>>  If You Were Me

n/b:

Kalian juga dapat membaca ceritaku melalui akun Wattpad usernamenya Twelveblossom atau add Line@: @NYC8880L (menggunakan @)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s