[KaiNa’s] EX.Girl (1) — by IMA

Ex girl

Kim Jong In — Lee Hana

By IMA (@twitter)

Rating PG

Campus-Life, Fluff, Romance

©IMA at SKF 2018

 Karma in Love (by Neez) — KISSPROOF — UNCONDITIONALLY (1) — UNCONDITIONALLY (2)

Tahu tidak seperti apa rasanya putus dengan pacar pertama?

[EX. Girl (1)]

Masa-masa perkuliahan adalah masa terberat bagi seorang Lee Hana. Memasuki semester tiga, jadwal kuliahnya semakin padat dan dosen-dosen selalu memberikan tugas bertumpuk yang tiada akhir. Well, Hana sendiri yang memilih jurusan Arsitektur dan ia harus menanggung semua konsekuensi tugas tiada akhir yang diberikan di setiap mata kuliah. Ditambah konsentrasinya yang terpecah akhir-akhir ini karena masalah pribadinya.

Putus dengan Kim Jong In.

Yap, putus. Berakhir. Kkeut. Berpisah.

Pasangan yang selalu diagung-agungkan dan menjadi bahan pembicaraan selama ini akhirnya berakhir. Jae Hee yang meramalkan hubungannya akan berakhir sampai ke jenjang pernikahan pun ternyata hanya angin lalu saja. Bahkan kabar putusnya mereka beredar dengan sangat cepat melalui grup alumni, membuat Hana ingin menghilang dari bumi saja rasanya.

Memang tidak mudah awalnya. Hana bahkan menghabiskan tiga kotak tisu di rumah Jae Hee, membasahi kasur Jae Hee dan mengacak-acaknya selama tiga hari dua malam, bahkan ia butuh waktu hampir dua minggu untuk benar-benar bisa muncul di hadapan Jong In lagi. Padahal mereka tidak mengambil mayor yang sama, tapi mereka terpaksa harus sekelas –karena sebelumnya memilih dua mata kuliah yang sama. Rasanya Hana menyesal karena menyetujui permintaan Jong In waktu itu.

Sudah hampir satu bulan berakhir, dan Hana sudah mulai terbiasa menjalani hidupnya tanpa Jong In. Setidaknya ia sedang berusaha.

“Lee Hana!”

Hana sedang duduk di bawah pohon di halaman kampusnya ketika mendengar suara seorang lelaki memanggilnya dari kejauhan. Hana harus memutar tubuhnya dan melihat Sehun melambai semangat dengan senyuman lebar seperti bocah dan berlari ke arahnya. Tabung gambar yang dikaitkan ke bahu lelaki itu terlihat bergoyang ke kanan-kiri, beberapa mahasiswa hampir ditabrak oleh Sehun yang masih berlari hingga menghempas duduk di sebelahnya.

Ya. Aku sudah bilang tidak mau berteman denganmu lagi,” sahut Hana, padahal Sehun belum sempat menyapa dan masih sibuk mengatur napasnya.

“Kenapa?” tanya Sehun dengan nada setengah merajuk. “Kau putus dengan Jong In, memangnya pertemanan kita harus putus juga? Kita kan teman satu jurusan, Lee Hana.”

“Ya pokoknya aku tidak mau karena kau temannya Jong In,” bahkan menyebut nama Jong In saja rasanya membuat hati Hana berkedut sakit.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Jong In memang brengsek kok, tapi aku tidak dan masih mau berteman denganmu,” Sehun menopang tubuhnya dengan kedua tangan ke belakang dan memandangi Hana yang melamun. “Ya. Kau punya catatan kuliah konstruksi tadi ‘kan?”

Hana mengangguk pelan seraya merogoh tas ranselnya dan menyerahkan buku catatannya begitu saja ke hadapan Sehun. “Ini. Kembalikan besok ya, aku mau mengerjakan tugas gambar konstruksi.”

“Iya iya, tapi aku tetap tidak mengerti,” Sehun terkekeh pelan begitu Hana melemparkan tatapan kesal padanya. “Besok kau mau kerjakan tugas dimana?”

“Perpus atau di studio mungkin. Kenapa? Mau ikut?” tanya Hana dengan polosnya yang membuat Sehun duduk tegak menghadap gadis itu.

“Memangnya boleh?” Sehun balik bertanya dengan ekspresi antusias, karena akhirnya memiliki partner dalam mengerjakan tugas.

“Ya… Sekarang tidak ada yang melarang lagi, kenapa tidak boleh?” Hana berusaha menyunggingkan senyum tipis, namun sepertinya lebih terlihat menyedihkan di mata Sehun.

Sehun menahan senyumnya melihat ekspresi pahit Hana lalu bangkit berdiri. “Aku pulang duluan, Hana-ya. Jangan terlalu sering memikirkan laki-laki brengsek macam Jong In, nanti kau sakit sendiri. Bye.

Sepeninggal Sehun, Hana tidak bisa berhenti memikirkan ucapan terakhir lelaki itu sebelum meninggalkannya. Terlalu banyak memikirkan Jong In juga tidak baik, padahal ia sudah sering mendengarnya dari Jae Hee dan Jinmi, tapi ucapan Sehun tadi benar-benar menohok dan menyadarkannya. Mungkin Hana harus berusaha untuk segera move on.

Hana masih menunggu bus menuju rumahnya di halte dekat kampus ketika ia tidak sengaja menangkap Jong In –dengan motor sport hitamnya melewati halte tempatnya duduk. Dari balik helm full face yang dipakai Jong In, ia bisa melihat lelaki itu meliriknya sekilas dan malah menambah kecepatan motornya.

Hembusan napas panjang keluar dari bibir Hana. Ia harus terbiasa menaiki kendaraan umum dan tidak bergantung pada siapa pun jika kesusahan atau merasa kesepian. Begitu melihat busnya memasuki halte, Hana segera berdiri dan ikut mengantri menaiki bus bersama orang-orang.

***

Pada kenyataannya, susah bagi Hana untuk tidak terus-terusan melirik Jong In –yang hari itu berada di satu mata kuliah yang sama dengannya. Ekspresi mengantuk Jong In yang menggemaskan saat mendengarkan kuliah membuat Hana tersenyum geli. Biasanya Hana selalu membantu Jong In –agar tidak kalah dengan rasa kantuknya dengan bermain game di kertas, sementara Hana akan meminta catatan pada teman sekelasnya agar mereka tidak ketinggalan kuliah.

Ingatan masa lalu membuat senyum Hana menghilang, ia segera mengalihkan tatapannya ke arah screen projector dan mencatat semua yang dijelaskan dosen. Padahal baru kemarin malam ia memutuskan untuk segera move on, tapi rasanya susah sekali kalau ia berada di jarak dekat dalam waktu yang lama.

Begitu dosen mengakhiri mata kuliah itu, Hana segera menumpuk buku-bukunya dan berjalan cepat meninggalkan kelas. Toh lelaki itu menganggapnya seperi manusia transparan, lebih baik ia pergi lebih dulu daripada mendapat tatapan iba dari mahasiswa lainnya.

“Lee Hana!”

Kemunculan Sehun tiba-tiba di depan pintu kelas membuat Hana terkesiap kaget. Melihat cengiran tanpa dosa Sehun, Hana malah ikut tersenyum dan berjalan bersama lelaki itu di koridor menuju lokernya. Sekilas Hana melirik ke arah Jong In, namun lelaki itu masih tetap pura-pura tidak melihatnya dan keluar kelas ke arah yang berlawanan. Hana mendengus pelan seraya memperhatikan Sehun yang berjalan santai dengan permen lolipop di dalam mulutnya.

“Biasanya kau selalu pergi dengan Jong In. Kalian ‘kan selalu berkumpul di jam makan siang, kenapa kau malah disini?” Hana mengetikkan kode untuk membuka lokernya lalu memasukkan buku-buku yang tidak diperlukan lagi ke dalam sana. Sementara Sehun hanya berdiri di belakangnya dan mengecap-ngecap permennya berulang kali.

“Tidak juga, sekarang aku sedang butuh tutor untuk mengerjakan tugas. Mereka tidak ada yang satu jurusan, jadi kenapa harus bersama mereka?” Sehun memperhatikan Hana yang terlihat menghembuskan napas panjang lalu menatapnya dengan ekspresi murung.

“Bukan karena kasihan padaku ‘kan?” tanya Hana penuh nada sedih, tapi malah membuat Sehun tertawa geli.

“Tidak—tidak kok,” jawab Sehun cepat masih berusaha menahan senyumnya.

“Andai Jae Hee dan Jinmi satu kampus denganku, pasti aku tidak menyedihkan seperti ini,” Hana berujar pelan seraya membanting pintu lokernya dan berjalan mendahului Sehun.

Keduanya berakhir duduk bersebelahan di dalam studio sambil memasang kertas berukuran A1 ke atas meja gambar masing-masing. Sementara Sehun masih sibuk memasang kertasnya, Hana memperhatikan lelaki itu –dan berargumen dengan pikirannya sendiri. Ia ingin bertanya sesuatu tapi takut akan menyakiti hatinya sendiri.

“Sehun-ssi,” ujar Hana pelan, disahut Sehun dengan gumaman –masih sambil memasang kertas gambarnya.

“Apa kau pernah bertanya ke Jong In? Kalau dia benar-benar serius padaku?” pertanyaan Hana membuat tangan Sehun terhenti. Ekspresi lelaki itu berubah menjadi serius dan mengalihkan pandangan ke arahnya, menatap tepat ke dalam matanya.

Well, yang aku tahu, dia tidak pernah main-main denganmu sejak SMA,” Sehun mengalihkan tatapannya kembali dan berusaha menyibukkan diri. “Kalian selalu akur, tidak pernah bertengkar sampai berhari-hari atau bahkan sampai mau putus. Makanya aku kaget saat berita tentang kalian menyebar di grup alumni. Kau dan Jong In tidak cerita apapun dan aku juga tidak mau bertanya.”

“Aku hanya cerita ke Jae Hee dan Jinmi, mereka sudah janji tidak akan cerita ke siapapun lagi,” Hana menggigit bagian dalam bibirnya, merasa ragu apakah ia harus menceritakannya ke Sehun juga. “Kau tidak penasaran?”

“Ya pasti penasaran, tapi aku menghargai privasi kalian,” Sehun menyelesaikan kegiatannya lalu menyunggingkan senyum tipis pada Hana. “Cha, kita mau mulai dari mana?”

“Aku yang minta putus.”

Sehun mengatupkan mulutnya begitu melihat Hana menundukkan kepala dan sibuk memainkan jemarinya sendiri. Padahal maksudnya ‘mau mulai dari mana’ mengerjakan tugas-tugas itu, bukan mengajak gadis itu bercerita. Tapi aura di sekitar Hana sudah terlanjur berubah menjadi murung, jadi mau-tidak-mau ia harus membalas dan mendengarkan

“Kenapa?” Sehun menarik kursinya mendekat ke hadapan Hana, berusaha mendengar cerita gadis itu dari jarak dekat.

“Jong In berubah selama satu tahun terakhir,” Hana menghembuskan napas panjang, masih sambil memainkan jemarinya sendiri. Berusaha menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku tidak tahu kenapa. Tapi dia jadi dingin, cuek, dan jarang membalas chatku. Tapi dia selalu marah kalau aku lakukan hal yang sama. Kami jadi sering berdebat dan harus aku yang minta maaf duluan. Mungkin kami sama-sama lelah dan sibuk dengan kuliah, jadi mungkin lebih baik seperti ini.”

“Lalu Jong In setuju?” tanya Sehun setengah tidak percaya. Jong In bukan seseorang yang bisa menutupi perasaannya, dan ia yakin kalau sahabatnya itu menyayangi Hana.

“Waktu itu kami berdebat tentang semuanya, aku menangis dan minta putus. Jong In diam saja selama lima menit sampai aku sedikit tenang,” Hana mengangkat kepalanya dan menatap Sehun dengan kedua mata berkaca-kaca.  “Jong In hanya menjawab ‘Ya sudahlalu pergi meninggalkanku di cafe.

“Aku menyesal, TT.TT, malam itu aku pulang ke rumah Jae Hee dan menangis semalaman,” Hana memasang ekspresi sedih dan hampir menitikkan air matanya, “Harusnya aku tidak sebodoh itu.”

“Sudah sudah,” Sehun menepuk-nepuk bahu Hana berusaha menenangkan, “Jong In tidak cerita apapun dan orang-orang pikir kau ‘dibuang’ seperti semua mantan kekasihnya dulu.”

“Karena itu aku semakin menyesal, Sehun-a. Aku membuat image Jong In jadi jelek lagi, dan dia sekarang menganggapku seperti orang asing,” bibir Hana melengkung ke bawah bersamaan dengan setitik air mata yang menetes dari mata kirinya.

Sehun ikut merasa iba, tapi sebenarnya melihat ekspresi Hana yang seperti itu malah membuatnya ingin tertawa. “Sudah sudah,” Sehun mengulangi ucapannya lagi karena Hana belum juga berhenti menangis.Kita di sini untuk mengerjakan tugas. Lupakan masalah Jong In dulu, oke?”

“Sehun-a, apa aku harus minta maaf?” Hana menyeka air matanya sendiri sambil menatap Sehun yang memundurkan kursinya kembali ke dekat meja gambar.

“Seharusnya sih iya, tapi memangnya bisa?” tanya Sehun tidak yakin. “Pasti kau langsung nangis saat bertemu dengannya nanti.”

“Iya ya?” Hana malah bertanya pada dirinya sendiri lalu menghela napas panjang. “Memangnya aku selemah itu?”

“Tidak tahu. Kalau kau merasa bisa, ya minta maaf saja ke Jong In,” Sehun kembali memperhatikan Hana dari balik meja gambarnya, menyadari bahwa ekspresi gadis itu semakin keruh. “Sudah, sekarang kita belajar dulu.”

Hana mengangguk tidak semangat lalu menarik kursinya ke dekat meja gambar Sehun. Membuat sebelah alis Sehun terangkat, sementara matanya melirik meja Hana –yang belum dipasang kertas gambar. “Tidak ikut kerjakan juga?”

“Jadi tidak mood.

***

Berkali-kali Hana menarik napas panjang dan menghembuskannya melalui mulut, sementara matanya tidak bisa berhenti memperhatikan Jong In yang terlihat serius membaca buku di sudut perpustakaan. Dari balik rak yang menjulang tinggi, Hana harus mengutuk jantungnya yang tidak berhenti menghentak keras sejak ia melangkah masuk ke dalam perpustakaan tadi. Padahal ia hanya mau meminta maaf, bukan meminta ‘rujuk’ lagi seperti apa yang ia inginkan –sebenarnya.

Hana menganggap ‘rujuk’ nanti sebagai bonus kalau Jong In menerima permintaan maafnya.

Setelah menarik napas panjang –lagi, Hana keluar dari balik rak dan mulai mendekati Jong In, namun langkahnya kembali terhenti ketika melihat ada seseorang yang sedang bersama lelaki itu di sana. Seorang wanita.

Kentara sekali wanita yang rambutnya digerai dengan riasan wajah yang tebal itu sedang berusaha menarik perhatian Jong In yang sedang serius membaca buku tentang rumus-rumus konstruksi. Dan yang membuat napas Hana memburu –karena merasa panas adalah Jong In yang juga menanggapi dan berbincang dengan suara pelan yang masih bisa didengar Hana dari jarak lebih dari dua meter di dalam perpustakaan itu.

Mereka membahas tentang menonton film di akhir pekan, seriously?

Hana menyembunyikan dua gelas cola ke balik tubuhnya. Sambil menahan air mata yang mendesak keluar, ia cepat-cepat berbalik dan melangkah lebar keluar dari balik rak menuju pintu keluar perpustakaan. Sialnya, ia berpapasan dengan Sehun yang saat itu mau masuk ke dalam.

“Kau bilang Jong In sendirian di perpus,” Hana mendengus sambil menyerahkan satu kaleng cola di tangannya ke Sehun –dengan kasar. “Minum saja sendiri. Aku mau pulang.”

Dengan langkah kelewat cepat Hana melewati Sehun dan segera menuruni tangga. Tidak peduli kalau ia menabrak beberapa orang karena saking ingin cepatnya menghilang dari sana.

Sehun memperhatikan dari belakang dengan hembusan napas panjang, ia baru saja mau berjalan ke dalam perpustakaan saat matanya menangkap Jong In yang menghadang jalannya. Ia lihat Jong In sendirian berdiri di sana, demi Tuhan. “Tadi Hana ke sini.”

“Aku tahu,” Jong In menyisir rambutnya ke belakang lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Tadinya aku mau mengejarnya, tapi tidak jadi.”

“Kenapa?” Sehun bertanya lagi lalu melirik seorang wanita yang ikut-ikutan mengejar Jong In dan berdiri di sebelah sahabatnya. Seolah mengerti lirikan jengah Jong In pada wanita itu, Sehun hanya mengangguk kecil.

Memang dasarnya seorang Kim Jong In memiliki daya tarik yang kelewat normal, begitu berita Jong In tidak lagi memiliki kekasih menyebar, banyak sekali wanita-wanita yang melemparkan diri dan jelas-jelas merayu Jong In agar mau jalan dengan mereka. Sehun tidak ingat wanita di hadapannya itu sudah wanita ke berapa yang berusaha mendekati Jong In dalam sebulan terakhir ini. Dan ia mengakui kalau mereka semua jelas lebih cantik, anggun, dan seksi –sama seperti semua mantan kekasih Jong In saat di SMA dulu sebelum Hana.

Sehun hanya berharap agar Jong In tidak kambuh lagi.

“Kau mau kemana?” tanya Jong In pada Sehun, berusaha melarikan diri dari wanita yang terus menempel padanya seperti parasit.

Sehun yang menyadari tatapan ‘minta tolong’ dari Jong In akhirnya mengurungkan niat ke perpustakaan. “Mencarimu. Anak-anak yang lain mau pergi ke rumahku sekarang.”

Assa. Aku pulang duluan ya, nona,” pamit Jong In berusaha sopan pada wanita yang kini memasang ekspresi kesal padanya.

Jong In beralih merangkul Sehun dan menyeret sahabatnya itu keluar dari area perpustakaan. Sementara Sehun terseok-seok menyamai langkah Jong In –yang juga kelewat cepat seperti Hana tadi agar cepat menghilang dari sana.

Begitu keduanya berhenti di halaman belakang kampus, Sehun berdiri di hadapan Jong In dan menyerahkan kaleng cola yang tadi diberikan Hana. “Tadi Hana bawa ini untukmu, tapi dia kabur karena melihatmu tidak sendirian.”

Terlihat hembusan napas panjang yang Jong In keluarkan sebelum mengambil kaleng cola itu. “Padahal aku sudah berusaha menjauhinya, tapi kenapa dia masih seperti ini?”

“Jong In,” Sehun menyela sambil mengusap tengkuknya beberapa kali, merasa ragu-ragu harus mengatakannya atau tidak. “Kau yakin Hana benar-benar mau putus?”

“Ya kalau ingat sebulan lalu, dia serius mau putus karena ‘katanya’ aku berubah,” Jong In mengendikkan bahu lalu menghempas duduk pada kursi kayu yang sepertinya sengaja ditempatkan menghadap danau untuk merefleksikan diri –seperti apa yang ia lakukan saat itu. “Apa aku berubah?”

“Semua orang pasti berubah, Jong In,” Sehun ikut menghempas duduk di sebelah sahabatnya dan ikut-ikutan menatap danau yang memantulkan langit sore.

Jong In menoleh dan memperhatikan wajah Sehun –yang tidak biasanya menjadi serius seperti itu. Padahal biasanya Sehun akan meledeknya habis-habisan karena ia tidak bisa move on dari Hana dan mengabaikan semua wanita cantik yang menyerahkan diri padanya. Tapi sore itu, Sehun seperti memiliki kepribadian lain yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“Tapi ya tergantung, kau berubah ke arah positif atau sebaliknya. Menurutku kau semakin dewasa, Hana juga, tapi kalian masih sama-sama egois jadi ya seperti ini. Tapi aku yakin Hana tidak benar-benar mau putus,” ujar Sehun dengan nada serius lalu ikut menoleh dan menemukan Jong In yang menatap kosong ke arahnya. “Jong In?”

“Sehun-a…. Kau benar Oh Sehun yang kukenal kan?” tanya Jong In polos, hingga membuat Sehun menoyor kepalanya dengan cukup kuat.

Aish! Aku serius!” sahut Sehun tidak terima dan ia malah melihat Jong In terkekeh karena rengekannya. “Jangan sampai kalian menyesal nanti.”

Molla molla,” jawab Jong In asal lalu beranjak dari kursi begitu saja meninggalkan Sehun di belakang.

I thought it’d be better to let you go
I wasn’t confident to make you happy
I tried to turn away, I treated you coldly
But I didn’t mean it

***

Beberapa hari ini Hana kembali menyibukkan diri dengan kegiatan kampus, berusaha seminimal mungkin tidak berpapasan dengan Jong In dan menggoyahkan pendiriannya lagi. Mungkin ia akan meminta maaf nanti, setelah perasaannya tidak lagi selemah itu. Ia masih butuh waktu untuk memberanikan diri.

Siang itu Hana hanya menyantap makan siangnya dalam diam dengan tangan kiri sibuk membuka lembaran buku –yang baru dipinjam kemarin sore dari tempat peminjaman buku di Hongdae. Sesekali Hana terkekeh geli karena jalan cerita di dalam komik yang sedang ia baca saat itu, berusaha tidak mengacuhkan keadaan cafetaria kampus yang hampir setiap pasang mata memperhatikannya duduk sendirian di sana.

Hana mulai benci tidak memiliki teman dan pasangan.

“Kursinya kosong tidak?”

Hana hampir tersedak kuah sup rumput lautnya begitu seorang lelaki tiba-tiba bersuara sambil menepuk sandaran kursi yang ada di di hadapannya. Ia mengangkat kepala untuk melihat sang pemilik suara, dan akhirnya benar-benar tersedak karena melihat senyum manis dengan lesung pipi milik lelaki itu.

Teman masa kecilnya. Jung Jaehyun.

Untung saja Hana sudah menelan kuah supnya, tidak lucu ‘kan kalau ia menyembur di depan lelaki itu.

“Eh, kau tidak apa-apa?” tanya Jaehyun sambil menarik kursi di hadapan Hana, meletakkan nampan makan siangnya ke atas meja dan menyodorkan gelas berisi air putih miliknya.

Hana masih terbatuk-batuk lalu meraih gelas apapun yang ditemukannya dan meneguknya sampai habis. “M-maaf, aku kaget—uhuk.”

Lelaki itu kembali tersenyum memamerkan lesung pipinya seraya menyodorkan tangannya. “Maaf juga membuatmu kaget. Kau tidak lupa namaku ‘kan, Lee Hana?”

Hana menatap uluran tangan laki-laki bernama Jaehyun itu selama beberapa detik sebelum menyambutnya dan ikut menyunggingkan senyum kaku. “N-ne, Jaehyun-ssi.”

“Aku baru pindah ke sini dan mulai masuk hari ini. Semua kursinya penuh, dan hanya kau yang duduk sendirian. Ternyata benar Lee Hana, maaf ya sekali lagi,” Jaehyun berujar dengan sopan sekali hingga membuat Hana merasa tidak enak.

Hana masih sedikit kaget dan merasa dunia sempit sekali karena ia bertemu lelaki itu di sana. Terakhir pertemuan mereka di pertandingan basket sekolahnya dengan sekolah Jaehyun sekitar tiga tahun lalu. Menyadari kalau Jaehyun adalah laki-laki pertama yang disukainya waktu kecil dulu sedikit membuat jantungnya berdebar tidak karuan. “Eh, tidak perlu minta maaf lagi. Aku yang kaget karena tidak pernah ada yang berani duduk di sana selama satu bulan ini.”

“Kenapa?” tanya Jaehyun dengan polosnya.

Hana memperhatikan sekeliling cafetaria dan entah kenapa malah bernapas lega saat tidak menemukan Jong In di sana. Sebenarnya karena meja itu yang biasa dipakai olehnya bersama Jong In saat jam makan siang dan Hana biasanya tidak suka jika ada yang duduk di sana –selain Jong In. Tapi ‘kan Hana sedang berniat untuk menyembuhkan hatinya, jadi harus dimulai dengan hal-hal kecil seperti itu.

“Tidak apa-apa sih,” Hana tersenyum kaku lalu melanjutkan makan siangnya dalam diam.

Begitu juga dengan Jaehyun yang hanya membalas dengan senyum, mulai melahap menu nasi curry yang tersedia di nampan makan siangnya, namun tidak melepaskan tatapannya dari Hana. Tiga tahun berlalu dengan cepat, namun wajah Hana masih sama seperti terakhir kali pertemuan mereka. Padahal ia masih mau bernostalgia dengan Hana waktu itu, tapi gadis itu sudah menghilang begitu selesai pertandingan. Ditambah orangtuanya harus pindah lagi ke Jepang tak lama setelah itu hingga ia benar-benar kehilangan akses untuk berhubungan dengan Hana.

Sepertinya Jaehyun harus berterima kasih kepada orangtuanya karena mendaftarkannya ke Universitas Kyunghee.

“Mmm, Hana-ya,” Jaehyun memanggil dengan ragu dan Hana mengangkat kepala dengan sisa buntut ebi furai yang masih menggantung di mulut. Jaehyun sontak menahan senyumnya, melihat tatapan dan ekspresi polos gadis itu.

Hana cepat-cepat memasukkan sisa buntut ebi furai itu ke dalam mulutnya, wajahnya terasa menghangat –karena malu dan mau tidak mau ikut terkekeh geli agar tidak canggung. Hingga terdengar suara tawa Jaehyun juga sedetik kemudian.

“M-maaf,” gumam Hana seraya menyeka sisa-sisa makanannya di dekat mulut dengan tisu, masih tidak berani menatap Jaehyun.

“Kau lucu.”

Kau lucu.

Pikiran Hana seperti memutar kembali ingatan-ingatan di masa lalunya, hingga melipat senyumnya kembali. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Jaehyun tetap tersenyum geli sambil menyantap makan siangnya dalam diam. Bagaimana bisa Jaehyun mengucapkan hal yang sama seperti Jong In dulu?

***

I know that it’s too late
I knew that you’d turn away from me
I know you’ll think I’m ridiculous
But I just wanna be with you for one day

Sejak bertemu Jaehyun –lagi, Hana tidak lagi merasa sendirian karena ternyata lelaki itu mengambil mayor yang sama sepertinya. Sementara Sehun sendiri hanya datang di jam kuliah kemudian menghilang setelahnya –seperti biasa. Hana pun tidak mau tahu pergaulan geng Jong In lagi, toh ia sudah bukan siapa-siapa dan kini memilih berteman dengan Jaehyun. Teman pertamanya di universitas, karena sebelumnya tidak pernah ada yang mau berteman dengannya karena alasan Jong In. Kalau lelaki karena takut dengan eksistensi Jong In –yang posesif setengah mati saat pacaran dulu, sementara wanita-wanita tentu iri padanya.

Karena Jaehyun masih anak pindahan yang belum tahu apa-apa, jadi lelaki itu tentu mau berteman dengannya.

Hari itu Hana harus menghadapi kelas mata kuliah yang di dalamnya ada Jong In, akhirnya setelah seminggu ini berusaha menghindar. Kedua tangannya berkeringat dingin begitu semakin dekat ke kelas, sementara Jaehyun terus mengoceh mengenai banyak hal dan tidak begitu diperhatikan olehnya. Tangan Hana baru terangkat untuk membuka pintu, tapi Jaehyun mendahuluinya membuka pintu dan menyuruhnya masuk lebih dulu. Wajah Hana menghangat, ia mengulum senyumnya sambil melangkah masuk ke dalam kelas.

Dari posisi Hana berdiri di depan kelas, ia bisa melihat Jong In duduk di dekat barisan belakang, sibuk membaca buku –entah apa dan kembali tidak mengacuhkan kehadirannya. Ia hanya bisa mendengus kesal dan mengikuti langkah besar Jaehyun mengisi deretan bangku di barisan kedua dari depan. Lebih baik seperti itu agar ia tidak terus-terusan melihat Jong In.

“Ah iya, tadi aku beli ini di vending,” Jaehyun mengeluarkan satu kaleng jus strawberry –yang diingatnya sebagai minuman favorit Hana saat kecil dulu.

Hana bersorak dalam hati dan menerimanya dengan senyum lebar. “Kau masih ingat?”

Keurae, mana mungkin aku lupa,” Jaehyun ikut tersenyum –memamerkan lesung pipinya sambil menepuk kepala Hana beberapa kali.

Sementara Jaehyun dan Hana bermesra-mesra ria, Jong In hanya bisa memperhatikan dengan mata memicing tidak suka. Ia tentu masih ingat jelas wajah laki-laki yang dulu menjadi rivalnya di pertandingan basket dan kentara sekali memiliki perasaan pada Hana. Yang membuatnya meremas buku di genggamannya saat itu, karena wajah Hana memerah ketika si Jaesuk itu menepuk puncak kepala gadisnya. Eh, mungkin mantan gadisnya.

“Hana tidak bisa buka tutup kalengnya, pabo,” rutuk Jong In dengan nada rendah saat melihat Jaehyun hanya menyerahkan jus kaleng saja dan membiarkan Hana dengan susah payah berusaha membukanya sendiri. “Aish.”

Jong In masih merutuk tidak jelas karena Hana masih saja bodoh dalam mengerjakan hal-hal mudah seperti membuka tutup jus kaleng. Ia kan tidak bisa membantu gadis itu sekarang. Apalagi ia lebih tidak suka saat ada laki-laki lain yang membukakan tutup jus kaleng untuk Hana, selain dirinya. Ia juga tidak bisa tiba-tiba mendatangi meja Hana hanya untuk membantu membuka tutup jusnya, kan?

“Ck,” Jong In tidak bisa menahan rasa kesalnya dan mendecak cukup keras hingga mengalihkan perhatian beberapa orang yang duduk di barisan yang sama. Bagaimana tidak kesal? Hana dengan polosnya meminta tolong pada Jaehyun untuk membuka tutup jus kalengnya.

“Oke, terserah kau saja, Lee Hana,” Jong In beranjak dari kursi, merapikan bukunya ke dalam tas lalu melangkah keluar dari barisannya. Tidak mood untuk hadir di kuliah yang penuh dengan hawa panas itu dan memilih untuk keluar dari sana.

Pada akhirnya Jong In hanya duduk di cafetaria, menendang kursi di depannya sambil mengacak rambut frustasi. Ingin rasanya menghajar Jaehyun kalau tidak ingat kalau ia dan Hana sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Ia tidak punya hak untuk bersikap posesif dan cemburu pada Hana –seperti sebelumnya. Hal itu juga yang membuat kepala Jong In terasa ingin meledak, membayangkan Hana menghabiskan waktu dengan laki-laki –selain dirinya.

“Oi Jong In,” Sehun tiba-tiba datang –entah darimana dan menarik kursi di depan Jong In, tidak tahan untuk tidak berkomentar melihat ekspresi masam sahabatnya. “Kenapa lagi? Hana?”

“Tidak tahu,” jawab Jong In asal lalu merebut es Americano dari tangan Sehun, meminumnya hingga habis setengah gelas.

Kening Sehun berkerut begitu Jong In menyerahkan gelas minumannya kembali. “Jong In…. Itu kan es kopi… Bukannya kau tidak suka?”

Jong In hanya melirik Sehun melalui sudut matanya, rasanya ingin menjawab bahwa hidupnya sekarang jauh lebih pahit dibanding es kopi yang dibencinya. Tapi kalau ia bilang secara terang-terangan, Sehun pasti menertawainya habis-habisan dan seantero kampus pasti akan tahu kalau ia cemburu pada Jaehyun. Kehadiran Lee Hana di hidupnya benar-benar memberikan pengaruh yang besar.

Memori-memori kebersamaan bersama Hana selama ini seperti menjadi tamparan sendiri bagi Jong In. Setelah putus, Jong In kesulitan menahan diri agar tidak langsung memeluk Hana yang dilihatnya setiap pagi, atau membantu menghabiskan sayuran di piring makan siang, hingga mencium bibir Hana yang selalu mengerucut ketika sedang berpikir serius. Ia dengan susah payah mengendalikan diri agar tidak duduk di sebelah Hana saat kelas bersama mereka berlangsung, atau hanya untuk sekedar melihat wajah Hana saja –karena gadis itu terus-terusan melihat ke arahnya.

Jong In sadar bahwa hidupnya sejak SMA, sejak ia tidak lagi main-main dengan perasaan wanita, Hana selalu ada di sisinya apapun yang terjadi.

Haruskah Jong In meminta Hana menerimanya lagi? Toh saat SMA dulu, ia dengan tidak tahu dirinya memaksa Hana berpacaran dan menghalalkan segala cara agar cintanya diterima. Sampai rela menerima 10 kali tamparan dari 10 kekasihnya waktu itu agar Hana percaya. Harusnya ia bisa melakukan hal yang sama sekarang kalau ia memang masih sayang pada Hana, iya kan?

Tapi kalau Hana sudah tidak menyanginya, bagaimana?

Tapi dulu Hana juga tidak menyukainya.

Ya. Kim Jong In,” panggil Sehun, menyadarkan Jong In dari lamunan panjangnya. “Kenapa? Bukannya kau ada kelas sekarang?”

“Sehun-a, apa Hana serius mau putus denganku?”

Sungguh, jika Jong In bukan sahabatnya, mungkin Sehun sudah membenturkan kepala lelaki itu ke meja sekarang juga.

I’m your ex-boy, can’t we turn things back?
Back to when we were happy?
I know, my ex-girl, after I turned around and left
Why am I struggling
with our memories?

[EX. Girl (1) — CUT]


Ima’s Note :

HALOOO, AKHIRNYA AKU KEMBALI XD

Setelah berabad-abad lamanya, akhirnya aku bisa nulis ff lagi hehe sebenernya udah mandek dari lama ini ff di laptop trus aku tambahin dan ubah dikit hehe

 

Makasih lho yg masih mau baca (kalau ada)… Sorry for typo(s)…

Regards,

IMA♥

 

 

Advertisements

11 responses to “[KaiNa’s] EX.Girl (1) — by IMA

  1. Ya allah demi apa kangen banget sama ff kak ima ! Kangen sama KaiNa jugaaaa. Dan ini aku tadi reread lagi Karma ini Love 😂

    Ditunggu next nya kak! Tetep and always love your fics 😊

  2. Uwuuu udah lama ngga liat ff yang main characternya kai TT__TT terima kasih ya sudah bikin ff ini^^

  3. Subhanallah :”) akhirnya update, seneng bangeeeeeettttttr, kangen kaina pake banget bangeeetttttt. Begitu update langsung cerita putus astaghfirullah, tp gpp yg penting update. Kutunggu update-an selanjutnyaa

  4. Ima unni….hiks padahal aku nunggu di blog sebelah,malah munculnya disini bareng nezz unni
    Aku tunggu pokoknya semua ffnya aku kangen bangeeet sama unni
    Cemungut yaaa

  5. yaAllah yaaaa udah lama gamuncul, sekalinya muncul mereka dibikin putus 😅
    udah putus tapi tetep lucu aja mereka. aku gemasssss 😂

  6. yaAllah ya udah lama gamuncul, sekalinya muncul mereka dibikin putus 😅
    udah putus aja lucu bgt mereka. aku gemasssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s