PERFECTIONIS (CHAPTER 12)

Author :

Jung Ji Hyoen

 

Main Cast :

  • Kim Rei Na / Lusia Kim
  • Oh Sehun
  • Xi Luhan
  • Lee Jun He
  • Lee Mi Na or Ny. Kim (Rei oemma)
  • Kim Jin Pyo / Hans Kim or Tn. Kim (Rei Appa)
  • And other support cast

 

Genre : romance, complicated, family, marriage life (Little)

 

Ranting : 15+

Previous Chapter

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10 || Chapter 11ba4aa1bb1b912093657ccb747fdc523c || …

Why didn’t I know

That you were my everything ?

 

K-WILL – Nonfiction

 

 

Selama ini aku terbiasa dengan kehadiranmu. Kita terlalu terbiasa bersama. Hingga kita dewasa, kebiasaan itu berubah… berubah menjadi cinta. Namun, cinta itu hanya aku yang rasa… hanya aku, tanpamu yang mau membuka hati.

 

Dalam beberapa saat aku mencoba berfikir dan menerima kenyataan, mungkin kedekatan kita hanya karna kebetulah dan keterpaksaan mengikuti acara keluarga dimana kita harus saling bertemu dan bermain bersama…

 

Aku mencoba… mencoba melepasmu, tapi hal itu percuma. Ketika yang telah terukir dalam hati adalah namamu.

 

Ingin rasanya menghapus namamu dari hatiku, menghapus semua kenangan masa lalu kita, berharap semuanya akan tertelan dimakan waktu. Tapi apakah harus? Bahkan aku tak mampu menghilangkan secuil perasaanku padamu.

 

Lima tahun terakhir tanpa ingatanmu di kepalaku membuatku merasa kosong. Tanpa ada cinta dan kasih sayang ataupun luka. Rasanya hampa…

 

Entah mengapa aku merasa nyaman tanpa ingatan memilukan itu.

 

Aku tak tahu darimana orang tuaku tahu tentang penyakitku, hingga memaksaku menikahi Sehun. Yang meskipun dia seorang dokter, tapi ayahnya memaksa Sehun untuk melanjutkan usaha keluarganya.

 

Apakah ini pilihan terbaik? Dengan terus berada disisinya?

 

Sampai saat inipun semuanya tidak baik – baik saja. Ingatan yang seharusnya tak kembali itu akhirnya kembali berputar bersamaan dengan rasa sakit itu.

 

Jika saja Luhan lebih cepat mengungkapkan perasaanya, apakah mungkin aku akan bahagia? Atau malah sebaliknya?

 

Akankah lebih baik tanpa ingatan itu? Atau haruskah aku hanya menerima Sehun seperti adanya sekarang? Tanpa mencintaiku?

 

“Reii!!!”

 

“Dokter… tolong periksa anak saya.”

 

Aku melihat sekeliling dengan kepala pening dan aroma alkohol yang sangat tajam. Nuansa putih dengan banyak kasur pasien yang terlihat kosong. Aku melihat Ayah dan ibuku, juga Shin Ahjumma.

 

“Kau sudah bangun sayang? Oh syukurlah, kau membuat semua orang khawatir.” Ibuku membelai kepalaku sambil memelukku erat.

 

“Eomma…” ujarku sambil meneteskan air mata.

 

“Iya sayang, eomma disini tidak perlu khawatir. Kau baik-baik saja, begitu juga Sehun.” Air mataku makin deras bergulir seakan menuntutku menuju jurang luka.

 

Seorang perempuan paruh baya berpakaian putih datang menghampiriku, memeriksaku.

 

“Putri anda baik-baik saja, tinggal menunggu infuse habis saja. Terima kasih saya permisi.”

 

Eomma kembali menggengam tanganku, sedangkan appa pergi entah kemana.

 

“Eomma sudah dengar dari Shin ahjumma. Kau menjaga Sehun semalaman? Kau istri yang baik.” Eomma tersenyum kepadaku. Akupun membalasnya dengan senyum lelahku.

 

“Kau ingin bertemu Sehun?”

 

“Mungkin nanti eomma, aku rasa aku butuh istirahat.”

 

“Baiklah, kau istirahatlah eomma pergi dulu.” Ingin sekali rasanya berkeluh kesah dengan eomma. Tapi apakah itu baik? Sedangkan eomma tak mengetahui secuilpun kehidupan kami berdua. Betapa rapuh dan usangnya cinta kami, hingga sedikit saja tersentuh aku malah takut hancur tak tersisa nantinya. Begitu rapuh hingga akupun takut mengungkapkannya kembali. Takut perasaan ini malah makin melebur tanpa sisa.

 

***

Author POV

3 April 2017

14.30 KST

 

“Kenapa kau terus saja menunduk hyung? Tenang saja, aku tidak apa-apa.” Sehun geram dengan suasana sunyi seperti saat ini, membuatnya merasa bersalah.

 

“Maafkan saya sajangnim. Saya tidak menjalankan tugas dengan baik.”

 

Hyung, kenapa kau membuatku tambah merasa bersalah, aku baik-baik saja. Mungkin ini balasanku atas apa yang pernah terjadi pada Rei…” Sehun menatap keluar jendela.

 

Joon pun tertegun mendengar penuturan penuh rasa dari Sehun. Karena notabenya Sehun memang manusia dingin tak berperasaan.

 

“Bagaimana keadaanya?” tanyanya lagi.

 

“Nyonya Rei sudah sadar dan saat ini masih di ruang gawat darurat.”

 

“Apa yang terjadi denganya?” Sehun masih setia menatap pemandangan luar jendela.

 

“Ne?” Joon bingung harus berbicara apa.

 

“jujur saja padaku.” Mendapat perintah tak terbantahkan itu Joon langsung menjawabnya dengan cepat.

 

“Pihak rumah sakit menelfon istri anda kemarin dan dengan cepat istri anda datang dan menunggu anda hingga pagi.”

 

“Itu saja?” Sehun berbalik menatap tepat di mata Joon.

 

“Ne?!”

 

“Emm, nyonya Rei belum tidur semalam dan juga belum makan, Nyonya terus saja menangis sambil menunggu anda bangun.”

 

“Ingatannya benar-benar sudah kembali.” Tutur Sehun pelan.

 

“Bagaimana baiknya anda menyelesaikan masalah dengan Nyonya Rei, karena sebelumnya Nyonya berlari keluar ketika mobil saya datang. Sayangnya anda tidak ada.”

 

Sehun menghela nafas panjang, matanya merah. Ia tak mampu lagi meraskan sakit di tangan dan kakinya. Sehun bingung, harus memulai darimana untuk memperbaiki hubungan yang semakin kusut ini.

 

“Sudahlah hyung, jangan menggunakan bahasa formal padaku. Kita sedang tidak di kantor.” Sehun mencoba mengalihkan pembicaraan.

 

“Sebenarnya bagaimana perasaanmu padanya Hun? Rei sudah terlalu lama tersakiti. Meskipun itu bukan sepenuhnya salahmu, tapi akankah lebih baik kalian saling jujur pada masing-masing. Masa depan tak akan ada yang tahu.”

 

Sehun mencoba kembali memikirkan beberapa tahun terakhir yang begitu menyiksanya karena kehilangan Hyunji. Perasaan terombang ambing dan bingung mengerogotinya. Perasaannya telah habis untuk mencintai Hyunji. Entah mengapa akhir-akhir ini Rei begitu menggangu fikirannya.

 

“Kita bertengkar sia-sia”

 

Kenangan lama itu berputar dikepala Sehun. Sehun masih belum siap memulai mencintai seseorang kembali. Takut hatinya yang belum sembuh ini kembali terluka. Sedangkan Rei, hatinya menunggu cinta tak berbalas Sehun.

 

“Sehun-ah, kenapa kau menangis?” Spontan Joon langsung mengambil tisu dan mengusap air mata Sehun.

 

“Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.”

 

“Selama ini tak ada sepatah  katapun yang mampu kuucapkan untuk membuat hatinya senang. Sedangkan Rei, begitu mencintaiku tanpa ada kata usai. Namun perasaanku sedang tercampur aduk dengan penyesalanku pada Hyunji. Seharusnya aku tidak pernah menerima perjodohan ini. Seharusnya Rei tetap pada ingatannya saat ini agar tak terus-menerus terluka. Sebenarnya aku ini siapa hingga ada seorang wanita yang mencintaiku tanpa mengeluh. Hyung…” air matanya mulai turun deras.

 

“Sehun-ah, kenapa kau selalu membuat dirimu terlihat buruk?!”

 

“Kenapa rasanya begitu sesak.” Joon melihat bagaimana Sehun sebenarnya. Si beku Sehun menangis memikirkan perasaannya yang kian hari kian memburuk.

 

“Sehun-ah, kenapa kau tak mencoba memikirkan bagaimana perasaan Hyunji disana, melihatmu masih menyesali rasa cintamu padanya. Hyunji pasti sedih melihatmu seperti ini, kejadian itu sudah tiga tahun lalu. Itu bukan salahmu Sehun… percayalah padaku.” Joon iba melihat Sehun. Wajahnya memerah menahan amarah. Tak dipungkiri kejadian tiga tahun lalu merubah Sehun 180 derajat. Tak seorangpun tahu bahwa Sehun masih memendam penyesalan itu.

 

“Kau harus memandang Rei tanpa rasa penyesalan. Jika saja kau merubah perlakuanmu pada Rei, dia akan menjadi penyemangatmu. Lihatlah usaha kerasnya hingga sejauh ini. Gadis manja itu sudah membuka ratusan outlite di Korea. Produknya sudah berkali-kali memenangkan penghargaan. Kau juga harus melihat bagaimana kerasnya Rei berusah menjadi yang terbaik untukmu Sehun. Sekali saja kau coba melihatnya tanpa ada bayangan Hyunji…”

 

Yang dikatakan Joon benar. Mungkin selama ini Sehun selalu terpaku pada Hyunji yang sudah tiada hingga mengabaikan seseorang yang selalu ada disisinya.

 

***

 

Ruangan dengan hiasan klasik khas rumah eropa tak lagi tampak nyaman. Aura ruangan itu seketika menjadi gelap karena sang empunya mendapat kabar buruk dari orang suruhannya.

 

“Bagaimana kau bisa sebodoh ini ha!” dua orang lelaki berbaju hitam itu hanya diam tak berani menatap wanita dengan dress merah ketat di depannya.

 

“Maafkan kami-“

 

“Bagaiman jika Sehun yang mati. Kau mau tanggung jawab! Hampir saja dia meregang nyawa. Keluar kalian dari sini!”

 

Tanpa bisa dihindari, kemarahan wanita itu membuat anak buahnya kalang kabut. Sedangkan sang bos besar bingung mengembalikan semua ini kembali ke rencanannya.”

 

“Sialan. Aku harus mencari cara lain.”

 

“Kenapa wanita itu harus selalu di rumah. Sial, keamanan rumah Sehun begitu ketat.”

 

***

 

Sementara itu di sisi lain ruang gawat darurat, Luhan menanti Rei dengan perasaan campur aduk. Hingga dilihatnya nyonya Kim yang baru saja keluar ruangan.

 

Luhan tak lantas bertanya, melainkan bersembunyi di balik bilik ruang tunggu. Luhan takut, perhatiannya itu dianggap mengganggu bagi keluarga kim.

 

“Kau baik-baik saja?” ucapnya lembut.

 

“Aku sudah terbiasa dengan semua ini.”

 

“Hanya karena kau terbiasa, bukan berarti kau baik-baik saja.” Luhan menatap mata Rei tegas.

 

“Maaf merepotkanmu…”

 

“Bagaimana kau bisa mencintai seseorang hingga sebodoh ini Rei, apakah dengan ini kau fikir Sehun aku membalas cintamu. Tidak! Kenapa kau sangat suka melukai diri sendiri?” Rei mulai meneteskan air matanya.

 

“Kita semua sama saja Lu, Sehun dengan Hyunji, Aku dengan Sehun dan kau, kau sama saja mencintaiku begitu bodoh tanpa tahu aku sudah menikah dengan Sehun. Apa kebodohan seperti itu yang kau maksud?” balas Rei tajam.

 

Yang di ucapkan Rei itu benar, kebodohan seperti itu yang sedang terjadi saat ini. Tak akan berubah dan akan tetap seperti itu.

 

“Aku menyadari aku mencintaimu Rei, sejak pertama kita bertemu… sampai pada suatu hari kau berdiri di atas sana menjadi seseorang yang tak mungkin lagi tergapai olehku. Saat itu aku sadar jarak kita terlalu jauh, terlebih lagi Tuan Kim yang tidak menyukai kedekatan kita. Aku menyadari perbedaan kita lebih dari apapun, tapi jika aku tahu kau akan menjadi seperti ini dengan Sehun. Aku pasti sudah membawamu pergi saat itu juga.”

 

“Aku tidak pernah berfikir seperti itu Lu…”

 

“Aku tahu Rei, tapi aku cukup mengerti posisiku. Aku juga cukup mengerti bahwa kau tak akan bahagia hidup miskin bersamaku…”

 

Rei kemudian kembali meneteskan air matanya menatap mata memerah milik Luhan.

 

“Maafkan aku Lu, aku tak pernah menyadarinya…”

 

“Sadar ataupun tidak, kita memang tidak seharusnya bersama Rei.”

 

“Oppa aku sungguh-“

 

“Aku harus mengurus beberapa administrasi. Aku pergi dulu, semoga cepat sembuh.”

 

Luhan pun pergi dengan air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya.

 

Sedangkan Rei hanya mampu menangisi kebodohannya. Rei tidak pernah berfikir bahwa dia memiliki strata lebih dari Luhan. Yang ia tahu, Luhan begitu baik padanya. Mendukungnya apapun yang ia lakukan. Entah itu untuk hal pribadi ataupun pekerjaan. Luhan hanyalah manusia biasa dimata Rei, sama sepertinya. Rei tak pernah memikirkan bagaimana dia harus bertanggung jawab kelak sebagai pewaris. Hal itu tak pernah terfikirkan olehnya.

 

Jam mulai menunjukkan pukul sembilan malam, Rei mulai gatal dengan tangannya. Ia kemudian melepas selang infuse dan bangkit dari tempa tidur dengan sedikit sempoyongan.

 

Tujuannya? Sudah pasti kamar Sehun.

 

Banyak hal yang terlintas difikiran Rei setelah mendengar pengakuan Luhan. Dan rasanya tidak perlu mengulur waktu lagi untuk mengatakan yang sejujurnya pada Sehun, sebelum semuanya terlambat.

 

Mungkin saja kejadian kemarin tidak hanya akan terjadi pada Sehun, mungkin suatu hari padanya juga. Rei tak mau menyesali apapun.

 

Rei membuka ruang rawat Sehun begitu pelan, dan mendapati ruangan itu sepi. Mungkin saja yang lain sedang mencari makan malam.

 

Tubuh Sehun masih terbaring di tempat tidur itu. Sudah terlelap mungkin. Fikir Rei.

 

Tangannya mencoba membenarkan anak rambut Sehun.

 

“Maafkan aku Sehun.” Kemudian Rei beralih membelai wajah Sehun yang begitu pucat. Seolah ingin mengatakan semua keluh kesahnya melalui belaian lembut itu.

 

“Aku ingin mengatakan yang sejujurnya padamu, tapi aku tak ingin menerima kenyataan bahwa kau akan meninggalkanku nantinya.” Rei masih setia mengusap pipi Sehun.

 

Rei mulai meneteskan air matanya.

 

“Aku membenci kenyataan aku tak bisa membencimu Sehun!”

 

“Semua ini untukmu! Aku belajar semua hal yang aku benci hanya untukmu, hingga aku telah menjadi seorang pengusaha di usia semuda ini itu semua demi kau Sehun. Agar kau mau sedikit saja melihatku. Kau tahu, semua itu hampir membunuhku.”  Tangisnya pun pecah, Rei duduk di sisi kanan tempat tidur Sehun dan menaruh kepalanya di tempat tidur pasien sambil terus memegangi tangan kanan Sehun.

 

“Maaf” ucap suara berat itu.

 

Rei membulatkan matanya dan duduk tegak memandang Sehun. “Oh Sehun? Gwenchana? Apa ada yang sakit?”

 

“Berhentilah menangis, aku baik – baik saja.” Rei masih tidak percaya dengan yang dilihatnya. Sehun berbicara padanya.

 

“Aku akan memanggil dokter” sebelum sempat beranjak, tangan Sehun berhasil mencegah kepergian Rei.

 

“Aku bilang aku baik-baik saja Rei. Tak perlu memanggil dokter.”

 

Kemudian Rei kembali duduk dengan rasa canggung berhadapan dengan Sehun. Apakah dia mendengarnya? Batin Rei.

 

“Kau melepas infusemu lagi? Kenapa kau tak pernah mendengarkan nasihatku. Dimana dokter yang bertangung jawab merawatmu.”

 

“Sehun, aku baik-baik saja.” sela Rei kemudian, agaknya Sehun sedang melampiaskan kekesalannya pada dokter yang menangani Rei. Padahal hal itu adalah kemauan Rei sendiri.

 

Kemudian Sehun terdiam dan mengalihkan pandanganya.

 

“Oh Sehun-ssi. Ada hal yang ingin ku katakan padamu.”

 

“Rei-ah…”

 

“Ne?”

 

“Kita bisa bicarakan hal ini nanti? Kepalaku sakit.” Ujar Sehun kemudian sambil menatap Rei tepat di kelopak matanya. Membuat Rei gugup dan salah tingkah.

 

Bukan. Bukan ini yang diingkan Sehun, hanya saja dia belum tahu bagaimana harus berbuat ketika Rei jujur padanya. Bagaimana dia harus menanggapi pernyataan Rei bahwa dia sudah mengingat semuanya. Sehun hanya belum tahu apa yang harus dilakukannya ketika Rei mengakui perasaanya. Apakah Sehun akan menolaknya untuk kesekian kali, atau hanya akan membuat rumah tangganya semakin hambar.

 

“Maafkan aku Sehun-ssi, sepertinya aku berbicara pada waktu yang tidak tepat.”

 

“Kenapa kau jadi begitu sungkan. Kau sudah makan? Berapa jam kau tidur? Kau sudah minum obatmu?” ucapnya tanpa jeda.

 

“Sepertinya kau tidak dalam keadaan untuk bertanya hal seperti itu padaku Tuan Oh. Aku yang harusnya bertanya, bagaimana bisa seorang Oh Sehun lalai dalam mengemudi?” Rei tampak khawatir. Alisnya bertautan, guratan lelah itu terlihat begitu jelas pada gadis kurus itu.

 

“Kenapa kau tidak langsung pulang ketika pekerjaanmu sudah selesai, apa kau akan terus gila kerja seperti ini. Kau melakukan semua hal semaumu sendiri, kau juga seorang dokter Sehun. Kenapa kau tidak mementingkan kesehatanmu juga. Jantungku hampir berhenti berdetak ketika mendengar kabarmu. Apa kau tidak bisa memberiku sesuatu yang lebih baik sebagai oleh-oleh. Apa kau bahkan mengingatku ketika kau disana?” Air mata Rei mulai berjatuhan begitu deras. Sehun yang melihatnya begitu salah tingkah dibuatnya, sebegitu khawatirkah Rei kepadanya.

 

“Kenapa kau tak memikirkan bagaimana perasaan orang-orang di sekitarmu Oh Sehun.”

 

Sehun mulai menggenggam tangan Rei. “Maafkan aku, aku terlalu egois hingga tak menyadari bahwa istriku mengkhawatirkanku setiap waktu.” Wajah dinginnya mengisyaratkan kesungguhan dari setiap katanya. Membuat Rei berhenti meneteskan airmata.

 

“Maafkan aku karena membuatmu khawatir Rei.” Ulangnya lagi lebih jelas.

 

Rei mengusap air matanya kasar, dan merasa salah tingkah karena Sehun terus saja memandanginya.

 

“Aku memaafkanmu Sehun, jadi berhentilah menatapku seperti itu. Menggangu.”

 

Sehun hanya tersenyum mendengar hal itu.

 

“Ini sudah malam, kau tidur dimana?” Tanyanya pada Rei.

 

Sedikit berfikir, namun akhirnya Rei tetap tak memiliki jawaban. “Aku akan menjagamu disini saja, atau aku hanya akan tidur di sofa.” Rei menunjuk sofa di sebelah kanan tempat tidur Sehun.

 

“Kenapa kau tidak pulang ke rumah saja, lagipula aku tidak akan kemana-mana. Juga, bangsal VVIP keamanannya sangat ketat kau tak perlu takut.”

 

“Apa maksud dari pertanyaanmu itu kau menyuruhku pulang?” tanya Rei kesal.

 

“Aku menyuruhmu untuk istirahat Rei, apa kau belum bercermin hari ini? Kau tampak lelah sekali.”

 

Menanggapi hal itu Rei hanya mengusap wajah dan merapikan rambutnya.

 

Sehun benar, dia tampak lusuh hari ini. Tanpa make up, mata sembab dan kantung mata yang menghitam.

 

Perasaan tak terdefinisi muncul di benak Rei. Apakah Sehun mengkhawatirkannya atau hanya terganggu karenanya.

 

Rei memutuskan untuk melepas genggaman tangan mereka. Merasa canggung sekaligus tak rela. Hatinya berdesir untuk tetap disisi Sehun saat ini.

 

Beberapa kata tak mampu lagi terucap dan tergantikan oleh air mata yang tiba-tiba menetes.

 

Rei berbalik “Aku akan istirahat.” Ujar Rei singkat menahan suaranya yang bergetar. “Selamat malam”

 

Rei berjalan cepat menuju pintu dengan air mata yang terus bercucuran.

 

“Kau bodoh Rei. Kenapa kau masih saja menangis, ini bukan pertama kalinya. Kau harus sadar Rei!!” ucapnya pada diri sendiri.

 

Rei terus saja berjalan keluar dan berakhir di kursi taman rumah sakit. Kakinya sudah tak mampu lagi melangkah. Keseimbangannya hilang begitu saja.

 

Entah sudah yang keberapa, tapi Rei tetap saja merasa bahwa Sehun tak ada sedikitpun niat memperbaiki hubungan mereka.

 

Sehun tetaplah Sehun. Sehun yang dingin dan selalu saja memberikan kata-kata tajam padanya.

 

Sedangkan Rei tetaplah Rei, yang mencintai Sehun begitu bodoh.

 

Ingin menyerah rasanya. Melihat tak ada yang berubah dari segala aspek di diri Sehun. Rei ingin sekali mengakhiri saja hubungan rumit ini.

 

Semua perasaan tak terucapkan itu hanya Rei yang rasa. Hanya Rei seorang yang mampu menghadapi dinginnya sifat Sehun.

 

“Kau masih saja menangis Rei.” Suara itu menyadarkan Rei dari isakannya dan melihat seseorang yang kini sudah berdiri di hadapannya.

 

“Sekertaris Joon?”

 

“Kau bisa memanggilku Joon. Aku lebih tua beberapa tahun dari Sehun.”

 

Rei mengusap air matanya, Joon kemudian ikut duduk dan memberikan sapu tangannya.

 

“Kau pasti sangat terluka melihat Sehun seperti ini. Aku juga, tak ada hari dimana dia tidak bekerja keras. Mungkin ini memang saatnya dia istirahat.” Rei memandang Joon dengan pandangan bertanya-tanya.

 

“Kau mengenal Sehun sejak kapan?” Joon tersenyum menatap Rei, kemudian menatap lurus kedepan.

 

“Ayahku adalah sekertaris Tuan Oh, dan kita sering bermain bersama ketika ayah kami bekerja. Kau pasti jarang melihatku.”

 

Rei hanya menatap diam pada Joon.

 

“Sehun sebenarnya orang yang baik, dia hanya tak ingin orang lain merasakan sakit yang ia rasa karna terlalu mencintai seseorang.”

 

“Sehun tak pernah mendapat yang dia inginkan sejak kecil. Karena itu dia lebih banyak diam, dia akan berbicara pada orang-orang tertentu saat itu, dan orang-orang tersebut salah satunya adalah kau.”

 

“Sehun menceritakan padaku bahwa dia senang memiliki adik perempuan sepertimu, dia ingin bisa melindungimu.”

 

“Aku tidak akan menyalahkan kalian berdua, tapi kalian sama-sama berkepala dingin dan berhati baja. Karena itulah kalian sulit mengerti satu sama lain, saling diam dan hanya memandang satu sama lain dari kejauhan.”

 

“Aku tidak berusaha memojokkanmu karena kau berbeda dalam mengartikan sifat Sehun, tapi percayalah seseorang tak akan semudah itu berjalan di altar dan mengucap janji. Sehun butuh waktu, aku tahu ini egois tapi jika tidak ada salah satu diantara kalian yang mengalah hubungan kalian akan tetap menyakitkan satu sama lain.

 

“Semua butuh waktu Rei, begitu juga kau. Kau butuh waktu tanpa memikirkan Sehun. Kau harus istirahat, menata fikiran juga perasaanmu. Tidak ada yang mustahil di dunia ini.”

 

“Kau pasti sudah tahu jika Sehun mengetahui ketika ingatanmu kembali. Kau pasti terkejut dan membuatmu menjadi sangat tersakiti seperti ini. Berilah waktu pada masing-masing kalian untuk saling mengerti. Kau mengerti maksudku kan? Aku tidak menyuruhmu untuk menjauhi Sehun, tapi semua soal waktu. Kau percaya padaku kan Rei? Aku sudah tidak tega melihatmu terus saja menangis. Sekarang akan kuantarkan kau pulang, berganti baju dan istirahatlah. Kepala Pelayan Park dan Shin ahjumma sudah menunggumu di mobil.”

 

To be continue…

 

Huaaaa!!!

Rasa sanga-sangat menyesalku muncul kali ini

Maaf sekali aku baru bisa update.

Ini sekitar enam bulan ya L

Ya Tuhan aku ga sadar sudah selama itu aku nggak menulis. Tapi percayalah aku selalu menyempatkan waktu menulis chapter 12 ini. Wkwks meskipun hasilnya ga bagus bagus amat. Maaf juga karena ini sangat pendek atau mungkin kepanjangaan.

Apakah kalian masih penasaran dengan hubungan asmara mereka

Jangan lupa tinggalkan jejak.

Deep bow –Jihyeon

Pai pai ~

 

 

 

 

Advertisements

6 responses to “PERFECTIONIS (CHAPTER 12)

  1. Akhirnyaaaa akhirnyaaa yg ditunggu2… Ditunggu selanjutnyaaaa… Ditunggu sampe selesai ceritanya pokok… Semangat n keep writing authorrr

  2. selalu teriris hatiku klo baca ff ini 😦
    rei menjauh aja dari sehun daripada sakit hati terus, sama luhan aja deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s