Je Te Déteste [Chapter 1] by ARLENE P.


Je Te Déteste

Story about the night that hold too many secrets
Motherfucker? Yes, he is!

⌈Rate : NC -17 | Harsh Words & Mature Contents ⌋

⌈ An Amazing Cover by WhitePingu95

⌈ Las Vegas, United States ⌋

⌈ AU ¶ Multi-chaptered⌋

⌈ GENRE ⌋

Romance, Marriage Life, Angst, Dark, Hurt, Crime, Psychology, Incest, Brothership, Friendship, Family

.

⌈ DISCLAIMER ⌋

I ordinary own the plot and I’ve try my best to make this absurd story. So, don’t be siders or plagiators, please. Don’t forget to read the Author’s Note below.

.

⌈ PREVIOUS PART ⌋

TEASER

.

.

Arlene©2018 | DARKLENE

.

.

⌈ NOW PRESENTEGO |  5.378 w

.

.

.

When the ego, pain, and betrayal become one, they’re exploded like a bomb.

 

Las Vegas, kota terpadat ke-28 di Amerika Serikat yang tercatat menjadi ibukota Clark County. Dalam skala internasional, Las Vegas telah dikenal sebagai kota resor besar untuk perjudian, perbelanjaan, serta dunia hiburan. Seakan penduduknya tak pernah tidur, kasino serta kelab malam yang tersebar justru semakin ramai setelah bulan menggantikan kerja matahari. Tidak hanya itu, prostitusi pun sudah dianggap lazim di kota ini, meskipun pemerintah sudah tidak lagi melegalkannya. Well, rules are made to be broken, right?

Tak heran jika negara dari belahan dunia yang lain menjuluki Las Vegas sebagai Kota Dosa. Surga bagi para pencari kesenangan yang membutuhkan hiburan di luar nalar.

XS yang terletak di Encore pun menjadi salah satunya. Bukti nyata yang digadang-gadang sebagai kelab malam paling menakjubkan di Las Vegas. Menyediakan indoor dan outdoor area super luas, kolam renang yang mampu menciptakan suasana intim, serta dentuman musik berisik yang membuat ratusan orang rela berdesakan di lantai dansa mengikuti irama.

Dan di tengah suasana riuh rendah inilah seorang pria berdiri di atas panggung, memancarkan seluruh pesona yang ia miliki di tengah kesibukannya menaklukkan berbagai peralatan disc jockey. Sesekali tangannya sibuk membenahi posisi headphone, sesekali pula tangannya menggoda pinggang ramping yang mengelilingi.

I always love your performance, Park,” bisik salah satu wanita yang ikut membatasi ruang gerak Chanyeol. Seakan tak kenal malu, ia lekas bergelayut manja pada lengan besar pria yang baru saja mengakhiri penampilannya tersebut. “Are you free tonight?”

“Aku sibuk,” balas Chanyeol, membebaskan diri, lantas berlalu. Mengabaikan godaan dari sekumpulan wanita lapar yang kentara menginginkan sentuhannya, hanya untuk menghampiri dua orang pria yang tengah duduk di depan meja bartender.

“Aku pikir kalian tidak datang malam ini,” ucap Chanyeol seusai menjatuhkan pantat di kursi kosong yang terletak di samping kiri Kai. Tangannya terulur—merebut gelas kecil dalam genggaman sang sahabat untuk kemudian ia tenggak habis isinya dengan dahi mengernyit heran. “Air?”

“Aku mudah mabuk, kau tahu sendiri,” papar Kai datar, sama sekali tidak tersinggung dengan tampang meremehkan Chanyeol.

Sementara yang diberi penjelasan malah terkekeh geli. “Ya, ya, ya,” tangannya lantas menepuk bahu Kai beberapa kali, baru setelah itu menambahkan dengan nada yang lebih menghina, “Kau benar-benar sahabatku yang imut,  pergi jauh-jauh ke XS hanya untuk minum air mineral.”

“Sehun yang memaksaku datang kemari. Dia mengaku sangat butuh hiburan malam ini,” sahut Kai, disusul satu cibiran keras kala fokusnya menangkap sosok Sehun yang belum lama ini mendapatkan mainan kesukaannya—Claudia. “Tapi aku baru ingat bahwa si brengsek itu selalu membutuhkan hal yang sama setiap malam. Aku masih tidak mengerti bagaimana mungkin Ilana membiarkan hal menjijikkan seperti ini terjadi berulang kali,” imbuhnya dengan sorot muak yang tak pernah lepas dari setiap pergerakan Sehun di samping kanan.

“Kita tak pernah benar-benar tahu isi hati manusia.” Chanyeol menjentikkan jari dua kali, memanggil salah satu bartender agar lekas mengisi kembali gelas yang kosong dengan Schorschbock—kesukaannya. “Kita lihat saja sejauh mana Ilana mampu bertahan dengan ketenangannya sekarang. He’s got hypersexuality and we know it so damn well, Kai,” tutup Chanyeol sembari menikmati rasa panas yang belum lama ini menjalari kerongkongan. Fokusnya lantas berpendar, ganti mencari hiburannya sendiri.

Kai mendengus keras. “I know that he has an out of control sexual behaviors dan aku juga tahu keinginannya untuk memiliki Ilana sudah terlampau gila untuk ia kendalikan seorang diri. Tapi melampiaskannya kepada para jalang,” Lagi-lagi pria berkulit tan ini melirik ke arah Sehun yang kini telah berpindah dua kursi lebih jauh. Diam-diam mengumpat dalam hati karena disuguhi pemandangan sialan yang tak ia pungkiri mampu membangkitkan libidonya sebagai seorang pria. “it’s not really a good idea for me. Disgusting, Man!”

“Kau mencemaskan Sehun atau Ilana-nya?”

“Ilana sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Kau tenang saja. Aku tidak mungkin mengkhianati sahabatku,” sanggah Kai, cepat.

Chanyeol mengangguk, namun mencibir juga. Tangan kanannya sibuk memutar gelas kosong dalam genggaman, tepat di depan wajah. Fokus kelamnya yang semula asyik menelanjangi setiap sisi ruangan mulai berpaling dan melirik pusat tubuh Kai. “Your dick is awake. I think he’s hungry now. Kenapa tidak minta koleksi Sehun saja untuk malam ini? Melakukannya sesekali bukan masalah besar.”

Thanks, but I’m not interested to do it with a bitch. Aku tidak seperti Sehun,” Kai mendesah berat, kemudian menambahkan, “dan dirimu.”

Chanyeol menoleh, menatap malas pada Si Pria Kim. “Ya-ya. Aku tahu kau yang paling normal,” pria bermarga Park itu lekas membentuk tanda kutip menggunakan jemari sebelum melanjutkan, “di antara kita.” Sesudahnya, Chanyeol kembali mengedarkan fokus. Mencari apa saja yang pantas dijadikan pengalih, sebelum ingatan masa lalu itu kembali ke permukaan dan membangunkan sisi kelam dalam jiwanya.

“Aku mem—”

Look there!” potong Chanyeol. Suaranya terdengar lebih keras, menunjukkan ketertarikan yang amat besar. “Doesn’t she look like Yoora? Ekspresi ketakutannya sekarang benar-benar mirip dengan Yoora-ku … dulu,” cecar vokal yang sama begitu tahu fokus Kai telah berhasil mengikuti arah telunjuknya. Secepat kilat Chanyeol pun menoleh, meminta persetujuan sahabatnya tersebut.

“Yoora? Park Yoora? Your sister?”

Chanyeol mendesis. Tak suka mendengar kalimat balasan yang dimuntahkan Kai. “She’s not my sister!” tolaknya penuh emosi.

“Sinting! Jelas-jelas dia kakakmu. Kakak kandungmu.” Kai tak mau kalah. “Dan perempuan itu sama sekali tidak mirip Yoora, Park Chanyeol.”

Fuck that shit! I love Yoora. So, I want that girl.” Chanyeol membanting gelas kecilnya ke atas meja, kemudian bangkit berdiri. Masih dengan raut tak suka, ia menelanjangi raut wajah Kai yang sekarang tampak jauh lebih tenang darinya. “Eat shit and die, Man!” maki Chanyeol sebelum benar-benar berlalu dari hadapan sahabatnya itu. Mencari apa yang belum lama ini mencuri atensi. Seorang gadis yang ia anggap pantas memenuhi kebutuhannya akan sosok Yoora—gadis kecil yang kerap kali mewarnai gelap mimpinya hingga mengusik pejaman mata.

Sementara di tempat yang sama, Kai hanya mampu menatap hampa kepergian Chanyeol dengan kedua siku yang bertumpu pada meja bartender di balik punggung. Fokusnya bergulir, memperhatikan Chanyeol lalu kembali pada Sehun. Dalam hati sibuk merutuki alur kehidupan yang tak pernah ia ketahui akan membawanya ke mana. Satu yang bisa Kai pastikan hanyalah manusia memang sulit bersahabat dengan takdir, terlebih masa lalu …

“Bangs*t!”

including Chanyeol and himself.

Untitled-1

Tak ada sapaan ringan atau sekadar ulasan senyum. Chanyeol justru lebih memilih untuk memulai kisah barunya dengan sebuah tepukan keras yang ia layangkan di bahu Alex, satu-satunya lelaki yang ia pikir mampu membantu menuntaskan kuriositasnya saat ini.

Tanpa kesulitan berarti Si Pria Park menekan vokalnya keluar setelah mendapatkan perhatian penuh dari Alex. Selalu, seperti yang ia inginkan. “Who’s that girl?”

Which one?”

Chanyeol menunjuk gadis yang sekarang berdiri beberapa meter darinya. Iris hitam Chanyeol memicing begitu menyadari bahwa gadis tersebut tampak canggung di balik segala senyum manis yang terkunci di bibir. Senyum yang didominasi rasa takut. Senyum itulah yang disukai Chanyeol sejak pertama melihatnya. “Apa dia baru di sini?” tanya Chanyeol kemudian.

Alex menganggukkan kepalanya, enggan. “Ya. Baru hari ini. Dia mengaku membutuhkan banyak uang untuk biaya kuliah adiknya,” tambah lelaki ini kemudian. “How stupid she is. Sudah tahu tidak mampu, kenapa memaksakan diri? She’s still a virgin and she threw away her pride just to protect her lil brother like a drama queen.”

Selanjutnya tawa meremehkan Alex menggema, mengundang raut tidak suka yang membingkai jelas ketampanan Chanyeol. Cepat tanggap, Alex pun lekas membungkam mulutnya, ngeri mengingat betapa ringan tangannya seorang Park Chanyeol saat tengah dirundung amarah. Guna mencairkan suasana, ia pun balas bertanya, “What’s wrong? Do you want to taste her tonight? I can imagine how tight her pussy.”

Kedua tangan Chanyeol terkepal di sisi tubuh. Kepayahan dalam mengendalikan emosi yang bergejolak di hati agar tidak sampai melayangkan tinjunya pada bibir keparat Alex. Memilih untuk menarik napas panjang terlebih dahulu, menyuapnya ke udara, baru kemudian menjawab, “Ya. I wanna have her, but not for tonight.”

So?” Kedua alis cokelat Alex menukik. “Tomorrow?”

As long as I need her to stay.

Alex terbelalak, tak percaya.

“Aku ingin dia tinggal bersamaku,” Chanyeol menambahkan. Berusaha menekankan keinginannya di tengah keterkejutan yang ditunjukkan si lawan bicara. “How much I have to pay for her? Aku akan membayarnya, berapa pun.”

“Bukankah kau hanya membutuhkannya untuk semalam dan tidak pernah mau menggunakan perempuan yang sama dua kali?”

It’s none of your bussiness, I think.

Rasa heran mulai mendominasi tatapan Alex, namun pria ini terpaksa memenjarakan seluruh keingintahuannya di dasar pikiran. Menutupinya dengan satu kedikan di bahu, serta sebuah kalimat bernada sindiran, “Aku yakin ada yang salah dengan otakmu malam ini setelah melihat gadis itu. You’re crazy, Man.”

“Ya. Anggap saja begitu.” Chanyeol mengangkat satu sudut bibirnya. “Jadi, berapa?”

Alex membalas senyum sinis Chanyeol dengan seringai tipis. Mendadak puas akan nominal yang baru saja dicetuskan pusat sarafnya. “Kau pasti tahu, menyelamatkan seorang perawan dari tanganku bukan hal yang murah.” Ia merangsek maju, membisikkan harga yang dirasanya pantas untuk topik mereka malam ini. Senyum Alex tampak semakin lebar tatkala mendengar respon tak berarti yang ditunjukkan Chanyeol.

“Tidak semahal yang kukira.”

“Anggap saja diskon untuk pelanggan terbaikku.”

“Oke.” Chanyeol kembali menjatuhkan fokusnya pada gadis yang sedari tadi menjadi topik utama . “What’s her name?”

“Anneliese. Anneliese Janvier.”

I’ll take her home, now.”

Untitled-1

Susah payah Sehun mengabaikan seruan Kai di tengah permainan kecilnya yang selalu menyenangkan. Awalnya Sehun memang berniat untuk bersikap tak acuh, hingga di kali ketiga Kai memanggilnya, ia terbakar emosi dan siap melancarkan beribu makian. Namun, begitu ia menolehkan kepala, pita suaranya justru membeku. Pakem berbahasa yang selama ini dipelajarinya pun ikut menguap bersama karbondioksida yang disuapnya ke udara beberapa sekon lalu. Dalam satu kali gerakan, Sehun bergegas menyingkirkan wanita dalam pangkuan, kemudian menyeret tungkainya mendekat ke arah Kai. Sementara fokusnya masih juga terpaku di titik yang sama.

Ilana.

Shit! Batinnya mengumpat. Sejak kapan gadisnya ada di sini?

Why did you stop? Just continue your game with that … bitch? I’m okay,” sambut Ilana setelah keduanya berdiri berhadapan. Nadanya ketika bertanya jelas sekali meremehkan. Berbanding terbalik dengan bibirnya yang  melengkung ke atas tak lama kemudian. Satu tangan gadis itu pun terulur, meraih sisi kanan wajah Sehun dan menarikan ibu jarinya di sana secara perlahan. “Just do what you wanna do. You don’t need to think about me.” Ilana menggeser ibu jarinya hingga ke permukaan bibir Sehun yang bengkak dan memerah. “Apakah rasanya lebih manis dariku? Sepertinya kau paling senang bermain dengan jalang yang satu itu.”

Sehun membeku selama beberapa saat. Tatapan birunya mengarah pada Kai, meminta pertolongan. Tapi sialnya, Kai tetaplah Kai. Jika sudah menyangkut Ilana, sahabatnya itu tidak akan pernah sudi untuk ikut campur atau sekadar membelanya. Kai lebih cenderung berpihak kepada Ilana selayaknya seorang pengkhianat.

Atau jika tidak, Kai akan menghindar secepat yang ia bisa. Seperti sekarang … “I got to go.

Damn it! Lagi-lagi Sehun menggerutu dalam hati. Fokusnya sempat mengikuti kepergian Kai, sebelum akhirnya kembali ke depan hingga bertemu dengan tatapan Ilana yang kembali teduh.

Belum rampung Sehun mengais sisa keberaniannya yang tersimpan agar kembali mengudara, tindakan Ilana selanjutnya justru semakin mengaburkan akal sehat Sehun. Gadis itu berjinjit sembari memeluk leher Sehun. Mengendus aroma bibir kekasihnya tersebut, lalu melumatnya sebentar, sebelum akhirnya terkekeh kecil. “Orange?” goda Ilana. “Sepertinya ini tidak lebih manis dari bibir ceriku. Am I right?”

Taste it by yourself, Babe.” Sehun lekas meraih tengkuk Ilana dan mengikis jarak yang ada. Disusul dengan kelembaban bibirnya yang bertemu dengan milik Si Gadis Kim. Berawal dari sebuah kecupan ringan, lalu berakhir dengan lumatan-lumatan rakus yang ia lancarkan.

Tergoda untuk merasakan lebih, satu tangan Sehun mulai melingkari pinggang Ilana. Menarik tubuh mungil itu lebih dekat ke arahnya, kemudian mempertemukan pusat tubuh keduanya. “Can you feel it? I’m so hard right now. I need you, Babe. I really want you,” bisik Sehun setelah mengembalikan jarak yang semula dihapusnya.

Segera Ilana mencekal pergelangan tangan Sehun, menolak amunisi nakal sang kekasih. “I don’t fucking care. Harusnya kau tahu kalau aku tidak akan pernah sudi menuntaskan bekas yang ditinggalkan para pelacurmu itu,” balas Ilana sembari membebaskan diri dari rengkuhan posesif Sehun. Bibirnya kembali mengunci senyum yang sama setelah memberi sedikit penekanan pada susunan kata yang belum lama ini melewati kerongkongan. Begitu tenang, seakan apa yang dirinya dan Sehun bicarakan saat ini tidaklah berarti.

“Apa hubungan kita benar-benar penting bagimu?”

“Apakah seks segalanya bagimu?”

Sehun memutar sebal kedua bola matanya. “This is Las Vegas, La. Sex is common.”

For you, but-not-for-me-!” Ilana melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya pun mulai tidak bersahabat. “Kau yang menentukan semuanya. Kalau ada yang membuatku seperti ini, itu dirimu. You didn’t keep my faith. You broke it!”

Ilana menghela napas panjang untuk waktu yang cukup lama. Mencoba mengendalikan amarah yang nyaris meraup seluruh kesabarannya. “Kau meminta di satu bulan pertama hubungan kita. Dalam waktu sesingkat itu, kau melukai harga diriku. Hal yang wajar jika aku langsung menolakmu. Tapi apa yang kau lakukan setelah itu? Hanya berselang satu hari aku melihatmu menyetubuhi seorang jalang di apartemenmu sendiri! Kau bahkan tidak bisa menunggu untukku. Lalu bagaimana bisa aku memercayaimu setelahnya?”

I’m sorry. I know that was—”

Where’s Chanyeol? Aku kemari untuk menemuinya.”

Sehun mendecakkan lidah. Tangannya bergerak, hendak meraih kembali tubuh mungil Ilana ke dalam pelukan, hingga tiba-tiba saja Chanyeol muncul dan mencuri penuh atensi gadisnya tersebut. Membuat Sehun kembali memaki dengan satu tangan terkepal. Meninju udara seumpama orang bodoh. “What a shitty day!”

“Lana, can you help me?” suara bass Chanyeol lepas. Menggelitik gendang telinga Ilana dan juga Sehun di waktu bersamaan. Menimbulkan reaksi berbeda dari dua manusia yang berdiri tepat di hadapannya tersebut. “I really need your help right now. That girl,” sama seperti saat bersama Kai, Chanyeol mengarahkan jari telunjuknya pada satu titik—tepat di mana seluruh kuriositasnya bermuara sejak beberapa saat lalu, “can you take her to my home?”

Ilana mengernyit. “Who is she?”

“Sejak kapan kau membawa pelacurmu ke rumah?”

Chanyeol menggeram kesal mendengar ucapan yang baru saja meluncur dari bibir Sehun. “Shut up your fucking mouth! She’s not a bitch!” tukasnya.

“Lalu siapa, Yeol?” Ilana menimpali dengan nada yang lebih tenang. Mencoba menengahi perang dingin yang belum lama ini dibangun oleh Sehun karena dipicu rasa kesal berlebihan terhadap kemunculan Chanyeol. “Untuk apa kau membawanya ke rumahmu? Apa kau …” Ilana kehilangan pasokan katanya selama beberapa saat. Manik ungunya kembali menatap penuh pada gadis yang berdiri cukup jauh darinya tersebut. Tak tega membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi seandainya ia memenuhi keinginan Chanyeol. “Kau tidak akan menyakitinya, kan?” Gadis ini lekas membenahi kalimat rumpangnya dengan sebuah pertanyaan baru.

Merasa frustasi, Chanyeol pun mengacak rambutnya sendiri dengan tangan kanan. “Kalian benar-benar pasangan yang cocok,” ia menggerutu. “Kenapa selalu berpikiran buruk tentangku? I swear that I’ll never hurt or fuck her, okay? So, do you want to help me?” Cepat-cepat Chanyeol menambahkan saat menangkap keraguan yang ditunjukkan Ilana, “Or not?”

Why don’t you take her by yourself?”

“Aku tak ingin membuatnya takut. Paling tidak, kau perempuan. Dia akan merasa aman saat bersamamu,” jawab Chanyeol tanpa memedulikan ekspresi jengah Sehun lantaran terasing dari percakapan ini. “Kau tahu, kan, aku tak pernah sekali pun mengingkari janjiku?”

“Ya. Tidak sekali, tapi berkali-kali,” balas Ilana santai yang dibalas geraman sebal oleh Chanyeol. “Memang kau pikir dia tidak akan terkejut setelah melihatmu di rumah nanti?”

“Jika sudah ada di rumahku, dia takkan bisa ke mana-mana lagi. Tolonglah, aku benar-benar menginginkannya. Aku membutuhkan gadis itu, La.”

“Bilang saja kau takut menerima penolakan di awal. Sekarang atau nanti, kau akan tetap membuat gadis itu ketakutan,” Sehun ikut bersuara. “You’re such a monster.”

You-too,” Ilana menimpali. “Kau bahkan terlihat seribu kali lebih menyeramkan daripada monster saat sedang menikmati jalang-jalangmu itu!” Lalu, tanpa mengacuhkan raut kesal yang membingkai wajah tampan kekasihnya, Ilana kembali pada Chanyeol. “Aku akan membantumu asalkan kau berjanji untuk tidak menyakitinya,” ucap gadis ini yang kontan dibalas anggukan yakin oleh Chanyeol.

Deal.” Ilana lekas berpaling ke sisi kanan Chanyeol. Tangannya tergerak menepuk pipi Sehun dua kali. “Enjoy your night, Babe. I love you.”

Sehun membuang napas kasarnya ke udara selepas kepergian Ilana. Amarahnya terasa semakin menjadi begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Chanyeol.

“Kalian kenapa lagi? Apa dia melihatmu memakai Claudia?”

“Apa pedulimu?”

Where’s Kai?”

“Apa peduliku?”

Chanyeol mendecak sebal mendengar dua balasan terakhir yang diberikan Sehun, sedangkan fokus pria ini sibuk mencecar Sehun yang sedang memasang kembali dua kancing teratas kemejanya. “Kau mau ke mana sekarang?” tanya Chanyeol, pada akhirnya kembali normal. Tak ada lagi penekanan atau pun emosi dalam silabel yang ia lisankan.

“Ke rumahmu. Mengambil gadisku.”

“Lalu Kai? Dia datang bersamamu, kan?”

“Urus saja sendiri!”

Tawa Chanyeol pecah melihat tingkah kekanak-kanakkan Sehun. Tawa yang jarang sekali Pria Park ini tunjukkan. Dan begitu Chanyeol merasa puas dengan hiburan kecilnya, ia pun lekas meraih ponsel dalam saku celana. Bergegas menghubungi Kai untuk mengabarkan kebahagiaan baru yang siap menyambut. Tak lama lagi, ia akan mendapatkan keinginannya.

Ya, hanya karena Chanyeol merasa harus memiliki gadis itu di pandangan pertama, sama seperti keinginannya memiliki Yoora di luka pertama. Tak peduli keduanya hanya memiliki kemiripan dalam berekspresi, atau bahkan tidak sama sekali, Pria Park ini tetap harus membuat gadis itu tinggal.

Egois, bukan?Untitled-1

Sebotol air mineral menjadi satu-satunya pengisi kesendirian Kai malam ini. Berbeda dengan Chanyeol dan Sehun, Kai memang tidak begitu menyukai minuman beralkohol, apalagi dengan kadar yang tinggi. Alasannya sederhana, ia mudah sekali mabuk. Lagi pula Kai hanya akan membuang waktunya seperti itu di kala pikirannya benar-benar buntu dan tak punya pelepasan lain.

Kalau saja malam ini Kai tidak menyanggupi ajakan Sehun, mungkin dirinya takkan terlibat percakapan yang mengusik ingatan masa lalunya bersama Chanyeol. Seandainya saja ia mengikuti kata hatinya sejak awal dengan menyibukkan diri bersama sekumpulan materi dari kasus kriminal yang kini tengah ditanganinya. Seandainya … Ya, seandainya saja ia tidak mengutamakan persahabatan di atas segalanya, maka ia pastikan takkan seberat ini rasanya. Ia sungguh ingin berbagi dan mengungkapkan segalanya bersama ketiga manusia yang ia labeli sebagai sahabat, namun satu dan lain hal membuat keberaniannya mengerdil.

“Perlu teman?”

Kai menoleh. Mencari asal-muasal suara menjijikkan yang baru saja memenuhi gendang telinga. Seperti yang telah ia duga, seorang wanita berpakaian minim menjadi yang pertama menyambut fokusnya. Membalas kedua manik cokelat Pria Kim ini dengan sebuah kerlingan manja yang membuat wanita itu terlihat semakin murahan. “No, thanks. Just leave me alone.”

But I need a friend. Sejak awal aku sudah tertarik padamu.” Wanita tersebut merangsek maju, kemudian menjatuhkan pantat di sisi kanan Kai. Bergelayut manja, bahkan dengan lancang merapatkan tubuhnya kepada pria berkulit tan yang sudah sejak lama mencuri perhatian. “Aku sungguh tertarik padamu. Kau kenal Claudia, kan? Dia temanku dan aku tahu kau berteman baik dengan Sehun. Namaku—”

Sorry.” Kai menepis beban yang membatasi ruang gerak lengannya sesegera mungkin. “Aku tidak tertarik pada barang bekas. Dan namamu,” Kai mengangkat satu alisnya, “itu sama sekali tidak penting bagiku. So, get off my ass, bitch, can’t you?”

What?” Wanita tadi membelalak. “What did you call me?” geramnya kemudian.

Bitch. Kau memang seorang jalang, kan? Kau dan Claudia sama sa—” Satu tamparan keras melayang di pipi Kai, sontak membungkam pasokan kata yang belum rampung melewati kerongkongan sang empunya. Seakan tak peduli, Kai hanya mengusap pipinya sembari menunjuk lantai dansa yang penuh sesak dengan sekumpulan manusia menggunakan dagu. Mengusir wanita tersebut dengan cara yang melenceng jauh dari norma kesopanan.

Tak berselang lama, Kai mengempas kasar punggungnya pada sandaran kursi. sembari mengusap sisi kiri wajahnya yang sedikit memerah diiringi senyum culas. Bibir tebalnya baru akan mengumpat saat ponselnya menjerit, menuntut perhatian.

Napas berat pun kembali terembus seusai menemukan nama Chanyeol yang muncul pada layar. Masih dengan rasa malas yang menggelayuti seluruh persendian, ia menekan tombol hijau. Membiarkan suara bass sahabatnya itu memenuhi gendang telinga yang sejak tadi hampa, terjerat lamunan. “Aku ada di meja bartender atas … Okay, aku akan segera ke san——What? Are you crazy? You really take her to your home? … Yeah, I’ll go there soon!”

I guess I really fuck now,” keluhnya setelah panggilan terputus.Untitled-1

Anneliese Janvier. Gadis berketurunan Jerman-Korea yang tersesat di tengah asingnya Nevada. Bermula dari kehancuran rumah tangga orangtuanya, lalu ditutup dengan sebuah perceraian yang dulu kerap menjadi bunga tidur setiap kali malam menjemput. Anneliese terpaksa membuang keindahan masa remajanya hanya demi mengejar masa depan sang adik. Bahkan malam ini ia rela menjual harga dirinya untuk mendapatkan sejumlah uang yang ia yakini mampu menutupi daftar pengeluaran dalam saku celana jins belelnya, sebelum benar-benar meledak dan menguarkan aroma menyakitkan yang jauh lebih menyiksa.

Berdasarkan sejumlah penjelasan yang diberikan Alex, Anneliese tahu bahwa ia telah berhasil mendapatkan ‘pelanggan‘ pertama. Dan karena itulah ia berakhir di sini, berdiri di teras sebuah rumah megah bergaya Eropa yang berpuluh-puluh kali lipat lebih besar dari tempat huniannya bersama sang adik selama beberapa tahun terakhir. Luas halamannya saja mampu membuat Anneliese berdecak iri. Belum lagi jernihnya kolam renang yang terlihat begitu menggoda, mengingatkan gadis ini pada konsep mediterania yang sejak kecil begitu ia sukai.

Namun, dari sekian banyak keindahan yang memenuhi fokusnya tersebut, Anneliese jauh lebih tertarik untuk memperhatikan sejumlah pria berjas hitam yang berdiri dekat gerbang dan pintu utama. Membuatnya bergidik ngeri untuk alasan yang ia sendiri pun tidak mengerti.

Suara dehaman yang mengudara secara tiba-tiba pun mengakhiri kegiatan kecil Anneliese. Menarik paksa gadis itu kembali ke titik normal agar lekas bertumbuk dengan manik hitam yang sedari tadi sibuk memperhatikan dirinya. Hazel Si Gadis Tan kentara memicing, menikmati pahatan wajah tampan yang kini mendominasi pandangan. Satu lagi mahakarya Tuhan yang mewarnai dua puluh dua tahun perjalanan hidupnya.

Tubuh pria itu tinggi, tidak terlalu berisi, namun tetap menarik, ah, tidak, bahkan ini lebih dari menarik. Menggoda pertahanan Anneliese untuk lekas menelusuri ketampanan manusia di hadapannya tersebut lebih dekat. Bermula dari manik hitamnya yang membulat—balas menatap penuh pada Anneliese, lalu turun pada ujung hidung mancungnya, hingga tergelincir pada bibir tebalnya yang padat di bagian bawah.

Tiba-tiba saja Anneliese tersedak. Kehilangan kontrol akan diri sendiri.

Are you okay?” suara Ilana menjadi yang pertama menyapa Anneliese. Disusul tangannya yang bergerak turun, mencari jemari gadis itu, kemudian menggenggamnya erat. Bermaksud menenangkan. “Raut wajahmu terlihat tidak menyenangkan, Ann. Apa kau tidak nyaman berada di sini?” Aura cemas terselip kentara pada tiap silabel yang dilisankan Ilana.

Bukannya menjawab, Anneliese tetap mempertahankan fokusnya pada titik yang sama. Menghujam raut tak terbaca pria di hadapannya dengan rasa ingin tahu yang tinggi. “Who are you?” Ia memutuskan bertanya. Agaknya jengah menjadi satu-satunya orang yang buta situasi. Ya. Sepanjang perjalanan Ilana memang tidak menjelaskan apa pun padanya. Keduanya hanya berbincang seputar keseharian Anneliese yang bahkan tidak cukup layak untuk dijadikan topik utama.

Ilana menggeram, merasa bersalah. “Dia—”

“Malaikat. Kedengarannya bagus, bukan?” suara bass itu menyela cepat. Tergesa menambahkan, sebab enggan memberi kesempatan bagi Ilana untuk menjelaskan, “Don’t be afraid. You’re save now.” Manik hitamnya turun, meneliti penampilan Anneliese—sekali lagi, kemudian tersenyum lega. Diam-diam memuji kepintaran Ilana yang tak membiarkan Anneliese mengenakan pakaian laknatnya lebih lama. Menjauhkan Chanyeol dari kemungkinan terburuk yang harus ia hindari sesuai janjinya. Pria ini sungguh tidak ingin menerkam Anneliese, apalagi menjadikan gadis itu sebagai pelampiasan segala nafsu setannya.

Anneliese sendiri masih bergeming. Tak tahu harus menjawab apa.

“Aku sudah menyelamatkanmu dari tempat terkutuk itu,” Chanyeol kembali berujar. “Aku memilikimu tanpa batas.”

“Kau gila, ya?” Anneliese bertanya kelewat lugu. Pancaran hazelnya goyah, diserang rasa takut berlebihan. “A-Aku … Aku ha-hanya akan melayanimu ma-malam ini. Bagaimana bisa kau menyebutku sebagai milikmu tanpa batas?”

Chanyeol tertawa sumbang. “Kau milikku, bukan jalang. Kau hanya bisa lepas dari genggamanku ketika aku melepaskanmu atau takdir sendiri yang merenggutmu dariku.” Ia menghela napas berat. “Dan aku sama sekali tidak gila, kecuali kau sendiri yang membuatku terlihat seperti itu.”

Kali ini Chanyeol merangsek maju, berhenti tepat di sisi kanan Ilana dengan satu tangan terulur. Mencoba menjangkau sosok semampai yang bersembunyi di balik punggung angkuh sahabatnya tersebut. “Come on. I’ll take you to your room.” Suara berat itu terdengar dingin, tanpa penekanan apa pun, namun tetap terasa mengintimidasi. Pria Park ini berharap agar Anneliese lekas menerima ajakannya, karena dirinya benci membuang-buang waktu dan menunggu. Namun harapan itu pupus dalam waktu singkat. Chanyeol tidak bodoh untuk menyadari bahwa Anneliese justru mencoba mengabaikannya.

“Kurasa biar ak—”

NO!” Chanyeol memekik nyaring, menghentikan pergerakan Ilana. Satu tangannya menjangkau kasar lengan Anneliese yang bebas, lalu menarik gadis itu lebih dekat hingga membentur dada bidangnya. “She’s mine.” Cekalan tangan Chanyeol pada pergelangan Anneliese terasa amat kuat di beberapa detik pertama, sebelum akhirnya terlepas dan beralih melingkari pinggang Gadis Janvier tersebut dengan begitu posesif. Menariknya kian dekat hingga tak ada lagi jarak yang tersisa. Seolah tidak sadar bahwa tindakannya ini membuat Anneliese tersengal dan meringis, kehilangan pasokan oksigen.

Ilana sontak menggeram sembari memutar sebal manik ungunya. “Kau sudah berjanji padaku untuk tidak menyakitinya, Park Chanyeol!” tukasnya. “Tapi, belum genap satu hari kau sudah ingkar. Kau terlalu kasar padanya!” Ilana mencoba meraih kembali jemari Anneliese, namun Chanyeol mengambil langkah mundur secepat yang ia bisa. Sengaja menjauh. “Ada apa denganmu sebenarnya?”

“Aku benci penolakan, Ilana!”

“Perhatikan nada bicaramu, Bung!”

Amarah Chanyeol berhasil mengundang kemunculan Sehun, sosok lain yang tentu sama asingnya bagi Anneliese. Pahatan lain yang kesempurnaannya tak kalah hebat dari Chanyeol. Wajah blasteran dengan kulit putih pucat, hidung mancung, dan mata sebiru obsidian.

“Sedang apa kau di sini?” Ilana memekik sebal.

“Menjemput calon istriku, apa lagi?”

Bullshit!” Ilana mendesis, sebelum akhirnya kembali fokus pada Chanyeol. “Anneliese hanya terkejut, karena belum mengenalmu,” tuturnya, berharap Pria Park itu mau mengerti. “Lepaskan dia, Yeol! Dia bisa mati kehabisan napas kalau terus kau peluk seperti itu! Kau bilang kau membutuhkannya, kan?” Gadis bermarga Kim ini mencoba sabar menghadapi perilaku sahabatnya yang terlampau konyol.

“Sudahlah. Biarkan Chanyeol bermain dengan kesenangan—”

“Seperti aku harus membiarkanmu bermain dengan para jalang. Begitu maksudmu?” sergah Ilana. Gadis itu meledak untuk hal yang sama, dan mungkin akan selalu sama. “Berhenti mengunci Anneliese dengan egomu, Chanyeol! Ada hal yang harus kubicarakan mengenai Yoora. Aku tunggu kau di da—Hei!” Ilana menjerit. Tubuh mungilnya meronta saat Sehun menggendongnya di bahu kanan. Ujung stiletto-nya menendang asal, coba menyerang Sehun secara bar-bar.

Anneliese membeliak. Masih belum paham akan situasi yang kini merampas salah satu hak asasinya sebagai manusia.

Bersamaan dengan menghilangnya sosok Sehun dan Ilana di balik pintu, barulah kuasa Chanyeol mengendur. Tubuh lelaki itu mundur, mengembalikan kebebasan Anneliese. Manik hitamnya bergulir, gusar, mencari pasangannya.

“Apakah aku menyakitimu?” Iris Chanyeol menyendu seusai menemukan hazel Anneliese yang tampak kabur di balik lapisan kaca-kaca bening. “Maaf. Bersikap lembut memang bukan hal yang mudah bagiku. Tapi, kumohon … patuhlah padaku. Aku akan terus berusaha untuk tidak lagi kasar padamu, Anna.”

My name is Anneliese, not Anna!” tegas sang empunya nama.

“Itu sudah menjadi namamu mulai malam ini. Anna, milikku!”

Manik hitam Chanyeol tampak membara, berkilat dipenuhi arogansi. Menyadarkan Anneliese pada satu kenyataan bahwa dirinya baru saja berakhir di tempat yang salah. Seperti dibebaskan dari gigitan ular berbisa, lalu dilempar hidup-hidup ke dalam kandang singa yang tengah kelaparan. Dingin, kejam, dan menyakitkan.

Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Anneliese pun membuka plum-nya. Memaksakan diri untuk memohon, meski tahu suaranya terdengar begitu sumbang dan bergetar. “Lepaskan aku … tolong.”

Ucapan Anneliese serta merta membangkitkan sisi kelam Chanyeol. Mengingatkan pria bermarga Park itu terhadap kesakitannya di masa lalu. Membakar kelembutan yang coba ditunjukkannya dengan ego. Tak kuasa menahan amarah yang bergejolak, ia pun kembali mencengkeram kasar pergelangan mungil Anneliese. Menarik wajah gadis itu hingga ujung hidung keduanya saling menyapa. “Dengarkan ini baik-baik! Apa yang sudah menjadi milikku, selamanya akan menjadi milikku. Tidak akan bisa kemana pun kecuali kau mati atau aku yang melepaskanmu. Sekali kau mencoba kabur dari sini, aku tak akan segan membunuh mereka,” Chanyeol menunjuk sekumpulan pria berjas hitam yang menarik perhatian Anneliese di awal tadi menggunakan dagu, “sebagai gantinya.”

Tubuh Anneliese kebas. Kehilangan rasa. “Kenapa … begitu?”

“Karena kau sudah jadi milikku dan aku paling benci kehilangan, Anna!”


Untitled-1

Chanyeol mengempas kasar tubuh penatnya ke atas sofa seusai mengantar Anneliese ke kamar, atau lebih tepatnya mengurung gadis itu di sana. Celana jinsnya sendiri telah berganti dengan celana pendek santai rumahan. “Jadi, apa yang ingin kau sampaikan padaku?” tanyanya dingin, masih kesal terhadap Ilana yang dirasa terlalu ikut campur. Belum paham bahwa tindakan gadis itu tak lebih dari wujud rasa simpatinya terhadap penderitaan yang sudah terlalu banyak ditanggung Anneliese.

“Di mana Anneliese?”

Kedua tangan Chanyeol terkepal, marah. “Sleep.”

Kedua violet Ilana berkhianat selama beberapa saat. Melirik sekumpulan anak tangga yang melingkar di sudut ruangan sana. Salah satu sarana Chanyeol mengantarkan Anneliese menuju penjara barunya.

Sesaat, Ilana pun memaki keputusannya untuk membantu Chanyeol. Cukup lama gadis ini bermain dengan rasa bersalah yang menggelayuti pikiran, sebelum memutuskan untuk mengalah dan lekas menyampaikan tujuannya tanpa mengindahkan manuver yang dilancarkan Sehun pada tubuhnya sekarang. Walaupun dalam hati mengumpat juga, merasakan geli tak terkira pada daun telinganya yang dibuai kelembutan bibir sang kekasih.

“Tentang Yoora … Bolehkah aku menyerah dalam menanganinya?”

Rahang Chanyeol mengeras, mengiringi sorotan tajamnya yang mulai menelanjangi keberanian Ilana. “You have to finish what I’ve entrusted to you!” Chanyeol mengucapkan seluruh keinginannya dengan penuh penekanan. Menuntut, bukan meminta tolong.

Ilana menggeliat sebentar, membebaskan diri dari godaan Sehun pada ceruk lehernya. Namun seperti tak kenal lelah, Si Pria Oh kembali merangsek maju dan ganti menggigit kecil daun telinga gadisnya tersebut, sebelum melumatnya tanpa permisi. Bergairah. Sungguh pria sialan!

“Sudah dua tahun aku mencoba dan aku hampir gila,” balas Ilana. Pada akhirnya memutuskan untuk menyerah, membiarkan Sehun menginvasi titik lemahnya sesuka hati.

Nada bicara Ilana lantas meninggi. Ingin menekankan rasa frustasi yang selama ini ditanggungnya, sekaligus mempertahankan konsentrasi yang sebagian besar telah dicuri oleh sikap tak tahu malu kekasihnya. Setelah membasahi kerongkongan yang tercekat saliva, ia pun menambahkan, “Yoora perlu perawatan dari tim medis yang lebih ahli. Kau bisa memba—”

NEVER!” Chanyeol memukul keras permukaan meja. “Aku takkan pernah menceritakan kesakitannya pada siapa pun, selain kalian bertiga. I believe you. I-do-believe-on-you, Ms. Kim! Aku bukan orang yang mudah percaya dan kau tahu itu! SELESAIKAN SAJA APA YANG SUDAH KUPERCAYAKAN PADAMU!”

Chanyeol meledak, begitu pun Sehun. Pria bermarga Oh itu kontan menarik diri dari kegiatan kecilnya. Menatap Chanyeol dengan sepasang obsidi yang berubah gelap, diserang emosi serupa. Memaksa Kai untuk turun tangan, di tengah usahanya memejamkan mata. “Berhenti berteriak, Park. Kau sedang bicara dengan perempuan, bicaralah ba—”

“YOORA JUGA PEREMPUAN DAN YOORA-KU BUTUH BANTUAN, TAPI DIA,” Chanyeol mengarahkan telunjuknya kepada Ilana, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tenang, “perempuan payah ini menolak membantu Yoora-ku. Wajar kalau aku memberinya sedikit pelajaran, kan?”

Sehun menepis kasar jari telunjuk Chanyeol. Giginya beradu, menekan emosinya yang menuntut untuk dimuntahkan sesegera mungkin. “Perempuan yang kau bilang payah ini adalah gadisku. Jangan sembarang bicara dan membuatku menghajarmu sekarang, saat ini juga!”

“Harusnya aku tidak ikut kemari tadi!” gerutu Kai. Fokus cokelatnya mencari tatapan kelam Chanyeol. Tenggelam di sana selama beberapa saat sebelum akhirnya ikut terbakar dalam kenangan penuh luka. “Aku mengerti kemarahanmu, tapi aku rasa tidak ada yang salah dengan kalimat Ilana. Yoora memang—”

“KAU ITU HANYA ORANG ASING!” Chanyeol menyela. “KAU TIDAK AKAN MENGERTI!”

“APA YANG TIDAK AKU MENGERTI, HAH?”

Sehun dan Ilana sontak membeku, terkejut melihat kemarahan seorang Kai Kim. Biasanya pria itulah yang paling piawai meredam emosi. Menjadi penengah, tanpa tersulut amarah yang lain. Jangankan berteriak, gurat murka pun hampir tidak pernah ia tunjukkan. Namun kini semua terjadi begitu cepat, bagaimana rasa panas membakar seluruh pori-pori Kai, membuat pria itu memerah hingga ke cuping telinga.

“Kau yang sebenarnya tidak mengerti!” Kai mengepalkan tangan. “Kau hanya tidak siap membuka luka lamamu lagi pada orang lain. Kau bersembunyi di balik segala ketakutanmu akan masa lalu. Bukannya melindungi Yoora, kau justru sedang berusaha melindungi dirimu sendiri! Kenapa? Malu kalau orang-orang mengetahui kegagalanmu dulu? Kau bahkan membawa seorang gadis ke rumahmu hanya karena merasa dirinya mirip dengan Yoora. Mirip dari mananya, hah?! Itu hanya sisi pengecutmu yang ingin memenuhi kehausanmu akan sosok Yoora dengan cara tidak masuk akal! You’re so selfish and seems so pathetic. You always said that you love Yoora, but

Chanyeol jelas merasa terhina. “Shut

“AKU BELUM SELESAI BICARA, SIALAN!”

Ilana memekik spontan paska melihat Kai mencengkeram kerah baju yang dikenakan Chanyeol. Tangannya merangkak mencari perlindungan Sehun, namun prianya tersebut dengan cepat bangkit. Memisahkan dua manusia yang sama-sama terbakar dengan kondisinya yang bahkan tidak jauh lebih baik. Wajahnya yang paling merah padam di sini. Perpaduan antara menahan amarah dan hasrat kelelakiannya yang menggelora, nyaris tak tertahankan.

“Bukan begini cara pria menyelesaikan masalah!”

Kai menatap nyalang ke arah Sehun. “Lalu yang benar seperti apa, hm? Aku muak setiap kali dia bersikap seolah-olah dialah yang paling terluka selama ini!” Fokus cokelat Kai berkhianat dari obsidian Sehun, memilih untuk tenggelam dalam kemarahan yang dipancarkan Chanyeol di kelam manik hitamnya. “Haruskah aku mengingatkan pria bodoh ini pada masa lalunya?”

“KAI!”

“Kelam masa lalu memang seringnya mengantarkan seseorang pada dua pilihan, menyalahkan keadaan atau diri sendiri,” Kai kembali berujar tenang, meski gurat murka di wajah belum juga lenyap. “Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa kau lebih memilih untuk melemparkan kesalahanmu pada orang lain seperti sekarang. Kau lebih egois dari yang kubayangkan, Park Chanyeol!”

“Kai, sudah cukup,” kini ganti Ilana yang menengahi.

“Cukup apanya, La?” Kai menyahut gemas. “Cukup memanjakan Park Chanyeol dengan membantu menutup-nutupi semua kegagalannya di masa lalu, iya?” Paska melempar sarkasme, Pria Kim ini kembali pada Chanyeol. “Aku juga memiliki lukaku sendiri, apa kau peduli itu? Padaku, pada Ilana, pada Sehun, yang kau sebut sahabat ini, apa kau peduli, hah?”


P.s : Semoga tetep berkenan. Semoga kalian enggak bosen. Dan terima kasih banyak untuk dukungannya selama ini. Saranghae~

.

.

.

Much love, A.

Advertisements

695 responses to “Je Te Déteste [Chapter 1] by ARLENE P.

  1. wow..kaget loh sumpah. aku kira pas ilana nemuin sehun lagi gituan ama cewek laen yg bisa dikatain ‘pelacur’ , ilana bakalan nampar,marah*,maki*,dan lalu bilang putus. ya kebanyakan cewek termasuk aku kalau nemuin lakinya gituan ama cewek lain pasti bakalan kayak gitu, kalau perlu siram aja pake air apapun yg ada di jangkauan mata.
    tapi ini si ilana cuma bengong liatin kayak yg ga terjadi apa* dan malah nyuruh si sehun lanjutin kegiatannya yg sempet keganggu dan yg lebih parahnya ilana juga udah pernah liat sehun bobok beneran sama pelacur!!
    oh god.. ilana gak gila kan? kok bisa si dia setenang itu!
    salut aja sama ilana, masih bisa santai ngadepin lakinya yg alhamdulillah brengseng banget haha
    overall..ffnya keren!!

  2. part 1 yqng kereeennn abis…, nyata banget kalo cara penyampaian crita itu penting…yg cuma bisa dikaluin ama author tertentu ..semoga sekeren ini ampe akhir crita.

  3. Ilana cewek strong.
    Kok Chanyeolnya brengsek gitu,
    Kasihan Anna kan,
    Ijin baca chapter berikutnya kak ^^

  4. I can’t describe what i feel after read this ff. Aku suka karakter Kai, banget. Aku tau rasanya telat banget komen ff yg udah publish hampir dua tahun yang lalu, tapi aku baru ketemu ff ini, aku juga baru baca ff ini dan berharap bisa nemuin karakter Anna yang lebih kuat di next chapter. And by the way, i want to know more about ‘yoora’.

  5. Akhirnya aku baca juga meskipun Sehun bukan main cast nya, lol.
    Tapi setidaknya Ilana masih ada.
    Gak bisa banyak komentar soalnya masih abu-abu banget.
    Aku bakal lanjut baca dulu

    Karya kak Lene emang gak pernah mengecewakan.
    Seharusnya aku udah baca ini.
    Tapi yah, waktu tidak mengizinkan HAHA

  6. Masihh abu abu jalan ceritanya wkwkkw tpi kayanya bakal seru😅 chanyeol suka sama kakak kandungnya di luar perkiraan sihh dan juga penasaran chan bakal ngapain si anna nya itu. Tpi serius ngakak baca ff ini kalo udh bagian sehun 😂😂😂 kasian liat dia nahan hasrat gtu wkwkkwkw

  7. aku udah lama penasaran sama ff ini… tapi baru sempet baca sekarang, sumpah ff ini bagus banget ceritanyaa. . dan disini sehun-illana bener2 mencuri perhatian aku wkwk
    big applause buat kak arlene deh👏

  8. Aku kira ilana bakalan marah sama sehun karena udah mergokin sehun but ternyata itu diluar dugaan😂
    Dan aku masih bingung tentang ‘yoora’ . Izin lanjut baca

  9. Pingback: Rekomendasi FF EXO 2016-2017 (UPDATED !) | CLAYWORLD·

  10. gak nyangka banget dah kelakuan sehun begitu 😀 aku kira kai yang akan memerankan laki2 seperti itu nyata nya sehun.kkk~
    jadi yoora nya kenapa? apa mungkin jadi gila gara2 sama chanyeol atau bagaimana? ahhh makin penasaran dan tambah suka aja.
    apalagi il nya suaar banget ngadepin sehun.

  11. penasarannn sama kesalahan apa yang dibuat chanyeol sampe segitunyaa dia traumanya:(
    gak sabar juga nunggu adeknya anna muncul wkwk^^

  12. Rasanya aku pernah membaca cerita ini dgn penulis yg sama. Sekitar 3 tahun yg lalu dan waktu itu aku lupa endingnya gmna. FFnya di repost ya Kak?

  13. bagussss deh critanya anti mainstream. Dr sini blm bisa mnebak* apa yg trjadi dimasa lalu .
    Tp btw aku suka ama couple sehun-ilana , jgn buat mreka berdua pisah yaw kaka author plissss wkwk.
    Next chapter fighting

  14. Maaf sebelumnya aku coment chap 3-7 di sini.
    Soalnya nyari chap itu disini gak ada, ada nya di yang lain, mau coment susah disana jadi gak apa kan kalau disini 🙏

  15. Di chap 3 : semudah itu chan bilang mau nikahin anna. Dan dengan kaget nya anna sampe mau pingsan.kkk~
    Di chap 4 : ya ampun kai segitunya sama tania, kaya nya complecated banget hidup kai. Jadi ilana serba salah ya di sisi lain kasian sama chan pengen dia sembuh tapi anna juga tersakiti.hiks
    Sedih ko iliana sama sehun udahan gitu 😥
    Di chap 5 : Membanyangkan chan bicara seperti ini “Sedang coba mengancamku, Nyonya Park?” Jadi senyum2 sendiri, dan bahagia banget.hahaha
    Di chap 6 : ilana menyayat tangan nya kah?
    Ya ampun pahit banget ya kehidupan kai.hiks
    Di chap 7 : Ya ampun kai terluka lagi 😥 kasihan ihhh terus2n begitu kai nya. aslinya aku langsung ketika kai mengungkapan apa uang ingin dia ungkapan ke tania tapi tania gak mau mendengar nya 😥
    “Jangan ajari adikku yang aneh-aneh!”
    “Adik kita, Sayang.” Suka momment ini,cintahhhsangat.
    Ngakak abis waktu kai bilang “Aku tampan, kok.”
    “Tampan, tapi melamar perempuan saja tidak becus,” sindir Ilana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s