[KAINA’S] EX.GIRL (2) — BY IMA

Ex girl

Kim Jong In — Lee Hana

By IMA (@twitter)

Rating PG

Campus-Life, Fluff, Romance

©IMA at SKF 2018

 Karma in Love (by Neez) — KISSPROOF — UNCONDITIONALLY (1) — UNCONDITIONALLY (2) — EX.GIRL (1)

Tahu tidak seperti apa rasanya putus dengan pacar pertama?

[EX. Girl (2)]

Sore itu jadwal kuliah Hana baru saja selesai, tidak ada Jaehyun –yang selalu minta temani belajar di kelas terakhir, jadi ia bisa cepat pulang ke rumah karena ibunya janji akan memasakkan makanan kesukaannya. Begitu tiba di halte bus, Hana menunggu bersama murid lainnya yang akan pulang ke rumah dengan kedua telinga yang disumpal headset dan berusaha tidak mengacuhkan lirikan orang-orang yang berdiri bersamanya di sana.

Ya, Hana sedang menjadi pusat perhatian akhir-akhir ini karena setelah putus dari lelaki paling hot seantero kampus, ia dekat dengan mahasiswa baru paling baik dan manis seantero kampus juga. Hana sendiri heran kenapa lingkungan kampus sebesar itu bisa menyebarkan gosip secepat kilat hanya dengan melalui social media.

“Hana-ya!”

Hana yang baru saja mau menaiki tangga ke dalam bus, dikagetkan dengan suara melengking laki-laki dari dalam. Begitu menempelkan kartunya di dekat supir, ia mencari asal suara cempreng itu dan menemukan Jongdae –salah satu teman Jong In melambai semangat ke arahnya dari bangku paling belakang. Dengan senyum kaku sambil membungkuk singkat, ia melirik bangku kosong yang berderet di bangku belakang –di samping Jongdae. Sekarang ia heran kenapa semua bangku di dalam bus itu penuh dan hanya menyisakan bangku belakang bersama Jongdae saja.

“Sini sini!” Jongdae berseru semangat, membuat Hana harus menahan malunya dan mengikuti perintah sunbae di kampusnya itu untuk duduk di bangku belakang.

Hana akhirnya duduk di bagian tengah deretan bangku belakang –karena Jongdae duduk di pojok, namun Jongdae dengan isengnya malah bergeser dan duduk tepat di sebelahnya. Terpaksa melepas headsetnya –karena merasa tidak sopan, ia berusaha menyapa Jongdae dengan senyum ramah –walaupun tidak berani menatap kedua mata lelaki itu.

Ya. Kenapa kau putus dengan Jong In?”

Adalah pertanyaan pertama dari Jongdae yang membuat Hana ingin lompat dari bus saat itu juga. Jongdae bertanya dengan nada yang cukup bisa didengar oleh orang-orang di dalam bus itu, membuat Hana harus meremas tangannya sendiri karena beberapa orang mulai melihat ke arahnya.

“Kenapa sunbae tidak tanya Jong In?” Hana menjawab dengan nada yang normal untuk mengobrol –saat duduk bersebelahan sambil menoleh ke arah Jongdae.

Jongdae memasang ekspresi heran lalu terkekeh pelan. “Kalau aku tahu jawabannya dari Jong In, aku juga tidak akan tanya padamu, Hana-ya.”

Benar juga sih, jawab Hana dengan polosnya –dalam hati. Hana berdehem pelan seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Ya pokoknya ini masalah kami berdua, kalau Jong In tidak mau cerita, aku juga tidak bisa cerita. Hehe.”

“Ah tidak seru,” Jongdae melipat tangan di depan dada, menghempas punggungnya ke sandaran kursi –hanya selama beberapa detik sebelum duduk dengan tegak dan kembali memutar tubuhnya ke arah Hana. “Hana-ya, sepertinya aku tahu alasannya.”

Sesungguhnya Hana tidak ingin mengobrol dengan Jongdae lagi, tapi ia harus menghormati dan memasang ekspresi –sepenasaran mungkin dengan mengerutkan kening. “Apa sunbae?”

“Karena kau tidak feminim.”

Ekspresi Hana berubah menjadi masam seketika, heran dengan pemikiran lelaki di hadapannya. “Maksudnya?”

“Ya karena kau tidak seperti wanita-wanita di Kyunghee. Mereka suka pakai dress, one piece, rok, sepatu hak tinggi, baju yang cantik-cantik, tapi kau… maaf ya Hana-ya, aku tidak bermaksud menghinamu atau apa… Tapi gayamu…. Apa tidak terlalu ‘anak SMA’?” tanya Jongdae yang membuat Hana menunduk dan memperhatikan penampilannya sendiri.

Celana jeans biasa yang sedikit lusuh dengan sedikit sobekan di bagian lutut, kaus bertuliskan New York, ditambah luaran kemeja sedikit kebesaran bermotif kotak-kotak biru, dan lengkap dengan sneakers putih kesayangannya yang warnanya sudah berubah menjadi keabu-abuan. Well, Hana tidak pernah mau pusing dengan penampilannya selama ini, tapi setelah mendengar Jongdae….. Ada benarnya juga….

“Kau tahu ‘kan, selera laki-laki itu bisa berubah kalau mulai dewasa. Mungkin kalau Jong In sebelumnya suka Hana yang polos dan biasa saja, sekarang sudah mulai berubah selera makanya dia bosan. Ya kalau lihat track recordnya Jong In di SMA, kalau pun tidak diceritakan kalian, kami tahu kalau dia…. yang minta putus ‘kan?” Jongdae yang masih terus berbicara tidak jelas akhirnya membuat Hana jengah juga.

Sunbae,” potong Hana dengan nada dingin dan helaan napas panjang. “Aku turun duluan ya.”

Hana bangkit dari bangku, membetulkan tali tas totebag di bahunya lalu membungkuk singkat pada Jongdae sebelum melangkah menuju pintu keluar bus. Padahal sebenarnya stasiun terdekat dari rumahnya masih sangat jauh, tapi ia jadi tidak mood dan sepertinya lebih baik naik taksi untuk sekarang.

Sesungguhnya Hana tidak perlu memikirkan ucapan Jongdae, tapi ia terlanjur memikirkannya sampai gelisah sendiri dan akhirnya mengakui juga. Mungkin alasan Jong In berubah selama satu tahun terakhir, salah satunya karena bosan melihat penampilannya yang seperti itu saja sejak SMA.

***

Rasanya Jong In mulai mengantuk menunggu dosen kuliahnya tiba, ditambah Hana yang juga tidak kunjung datang padahal sudah lima menit berlalu dari jam masuk. Ia hanya menopang dagu sambil memperhatikan Jaehyun yang duduk dua baris di depan dengan gelisahnya menelepon seseorang –yang sepertinya Hana.

Begitu pintu ruang kelas terbuka dan dosen kuliahnya masuk, Jong In hanya bisa menghela napas panjang kecewa, tidak bisa melihat Hana di jam pertama kuliahnya hari itu. Ia tidak lagi fokus pada pintu dan beralih mengeluarkan bukunya dari dalam tas, namun ia mendengar murid-murid di kelasnya mendadak ricuh lalu bertepuk tangan heboh. Mengangkat kepalanya karena penasaran, Jong In hampir terjatuh dari kursinya sendiri saat melihat Hana melangkah masuk ke dalam kelas sambil tersenyum malu.

Yang membuat Jong In syok setengah mati adalah melihat seorang Lee Hana memakai dress.

Dress.

Apa kepala Hana terbentur sesuatu saat pulang kemarin?

Hans's outfit.jpg

d90adf024c6fb188abadcfcd0b7d46c1.jpg

Woah aku tidak tahu kalau Lee Hana punya badan sebagus itu.”

Jong In sontak menoleh dengan ekspresi dingin pada laki-laki yang duduk di belakang, rasanya ingin merobek mulut lelaki itu karena dengan beraninya memuji lekuk tubuh Hana.

Ya, Yoon Ji Soo! Kau punya nomor telepon Hana?”

Kepala Jong In berputar ke sisi kanan saat mendengar laki-laki lain bertanya tentang Hana pada seorang murid wanita di sebelahnya.

“Ck ck ck, kenapa aku baru sadar kalau ada wanita secantik dia di kelas ini?”

Jong In mengumpat pelan di sela helapaan napasnya, jantungnya menghentak keras, merasa marah karena orang-orang kini memperhatikan gadisnya. Apalagi saat melihat ekspresi Jaehyun –yang sama saja mesumnya seperti laki-laki lain begitu Hana duduk di sebelah lelaki itu. Ia benci mengakui bahwa Hana terlihat 100 kali lebih cantik dari biasanya, namun ia lebih suka Hana yang biasa dan hanya ia saja yang bisa mengagumi kecantikan gadis itu.

Selama kuliah pun Jong In tidak bisa duduk tenang karena terus mendengar obrolan mesum para murid laki-laki di dekatnya. Hawa di sekitarnya menjadi panas, ia tidak bisa mengacaukan jam kuliah karena rasa cemburunya dan hanya bisa melemparkan tatapan dingin –untuk menghentikan obrolan mereka, sementara pandangannya tidak lepas dari Hana yang juga tidak bisa duduk diam di depan. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang dan melihatnya, namun ia segera mengalihkan pandangan ke arah dosen di depan kelas.

Begitu jam kuliah selesai, Jong In cepat-cepat membereskan bukunya, ia keluar dari barisan dengan tidak sabaran karena Hana yang duduk di depan sudah keluar dari kelas lebih dulu. Namun saat ia keluar dari kelas dan berdiri di koridor, ia tidak menemukan Hana dimana pun, ditelan banyak sekali murid-murid yang juga baru selesai kuliah.

“Jong In-a~.”

Suara melengking yang sangat dikenali oleh Jong In terdengar di antara kerumunan, disusul sosok laki-laki pemilik suara itu yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya. Jong In masih berusaha mencari keberadaan Hana ketika Jongdae merangkulnya dan menyeretnya berjalan di antara kerumunan.

“Mencari siapa sih? Pacar baru?” tanya Jongdae pada Jong In –yang masih sibuk menoleh ke belakang.

Anhi, kau lihat Hana tidak, hyung?” tanya Jong In yang membuat kedua alis Jongdae terangkat tinggi-tinggi.

Jongdae tersenyum jahil. “Kau mencari Hana? Kenapa?”

Eoh… Kau lihat dia?” Jong In masih mencari-cari di antara kerumunan, berharap bisa menemukan Jaehyun ataupun Hana. “Anhi… Anak itu terbentur kepalanya atau apa? Kau tahu apa yang dia pakai ke kelas hari ini, hyung?”

“Rok?” tanya Jongdae tak percaya.

“Lebih buruk dari rok. Dia pakai dress one piece di atas lutut yang bagian lengannya transparan, pakai heels jugahaish,” Jong In menyempilkan umpatan di akhir ucapannya saat mengingat mesumnya semua murid laki-laki di kelas tadi. Ia harus cepat-cepat menemukan Hana.

“Woaah, kau serius? Daebak. Ayo kita cari Hana,” Jongdae berseru semangat dan semakin menarik Jong In.

Jong In memasang ekspresi datar sambil menghentikan langkahnya. “Mwoya, kau mau lihat Hana pakai dress juga seperti laki-laki mesum di kelasku?”

Ya. Kim Jong In. Kau suka Hana berubah jadi lebih feminim ‘kan? Ayo jujur,” Jongdae kembali menaikkan alisnya, bertanya pada Jong In yang masih terlihat kesal.

“Tidak,” jawab Jong In tegas lalu berjalan cepat meninggalkan Jongdae, menuju cafetaria.

Berada di kerumunan orang-orang yang kelaparan tidak membantu Jong In sama sekali. Tanpa melepaskan dari seluruh sudut cafetaria, Jong In ikut mengantri makan siang bersama murid-murid lain. Membawa nampan makan siangnya yang berisi samgyetang dan semangkuk nasi, ia mengelilingi setiap tempat duduk di cafetaria –sambil mencari Hana. Ia baru saja menoleh ke kanan ketika menemukan Hana melangkah santai dengan nampan di tangan dan senyuman lebar yang tertuju pada sebuah meja –berisi Jaehyun serta beberapa anak lelaki dan perempuan.

Pandangan Jong In tidak lepas dari Hana, hingga pandangannya turun memperhatikan kaki jenjang Hana yang tidak dibalut apapun. Ia mengumpat dalam hati, tidak bisa memungkiri bahwa Hana memang terlihat bersinar hari itu. Tapi ia tetap tidak suka pemandangan Hana yang seperti itu dinikmati oleh semua orang.

DUAK

Sh*t.

Kaki Jong In tersandung kaki meja hingga membuat tubuhnya terpelanting ke depan dan nampan yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Karena terlalu fokus memperhatikan Hana, ia dengan bodohnya tidak sadar bahwa tidak berhenti berjalan sejak tadi. Keadaan cafetaria menjadi hening selama beberapa saat, namun Jong In –yang saat itu jatuh dalam posisi seperti merangkak hanya bisa mengumpat pelan. Tidak berani mengangkat kepala karena terlalu malu untuk sekedar menatap Hana.

“Kau tidak apa-apa?”

Seorang wanita tiba-tiba saja berlutut di samping Jong In setelah meletakkan nampan yang kosong di meja terdekat. Jong In menoleh dan melihat ekspresi khawatir –sekaligus polos dari wanita berambut sebahu itu. Gadis itu sedikit menyunggingkan senyum, memamerkan lesung pipi yang tidak terlalu dalam namun entah kenapa terlihat manis.

Tidak pernah ada wanita yang tulus menolongnya selama ini, karena mereka semua jelas-jelas hanya mengincarnya saja. Tapi saat wanita itu membantunya membersihkan kuah samgyetang yang berantakan menggunakan tisu milik gadis itu sendiri, lalu membantunya berdiri tanpa mengatakan apapun, untuk pertama kalinya Jong In merasakan ketulusan dari wanita –selain Hana. Bahkan gadis itu menatap tepat ke dalam kedua matanya, tanpa semburat merah di pipi, dan senyum malu-malu menjijikan seperti wanita yang selalu mengejar-ngejarnya.

Sunbaenim tidak apa-apa?

Suara lembut gadis itu dibuyarkan oleh kedatangan seorang wanita lain yang tiba-tiba saja menggamit lengan wanita di hadapannya.

Yah Herin-ah, kau gila ya?” tanya wanita berambut pirang itu dengan nada setengah berbisik, namun bisa didengar Jong In diantara suasana cafetaria yang kembali berisik.

Wanita bernama Herin itu menoleh menatap temannya dan Jong In secara bergantian. “Kenapa? Aku hanya menolongnya, Yerim-ah”

“Seo Herin, kau mau mati? Kau bisa dikejar-kejar penggemarnya sampai ke ujung dunia,” jawab Yerim cepat lalu membungkuk singkat ke arah Jong In –yang masih berdiri mematung di sana.

“He? Memangnya dia siapa? Idol?” Herin bertanya dengan polosnya sambil memperhatikan Jong In dengan seksama. Ia hanya seorang mahasiswi dari gedung seberang yang kebetulan ikut makan siang bersama sahabatnya di sana.

“Kau tidak tahu siapa aku?” tanya Jong In dengan kening berkerut, tidak percaya bahwa masih ada murid Kyunghee yang tidak tahu tentangnya.

Dan Jong In sendiri seperti mengalami Deja Vu.

“Hmm, apa seharusnya aku tahu? Kau seorang sunbae?” tanya Herin, yang lagi-lagi menggali kembali ingatan Jong In ke saat-saat SMA dulu.

Saat ia pertama kali bertemu Hana di ruang kesehatan, dan gadis yang berasal dari gunung itu tidak mengenalnya yang terkenal seantero sekolah. Dengan tatapan polos dan ekspresi bodoh bertanya tentang dirinya. Sama seperti gadis bernama Herin itu.

“Siapa namamu tadi?” Jong In balik bertanya dengan ekspresi dingin –dan sebelah alis terangkat.

Wanita yang menggamit lengan Herin sontak menelan ludah gugup, tidak bisa menahan jantungnya yang berdetak cepat karena tatapan intimidasi Jong In –yang tertuju pada sahabatnya. Ia hanya bisa berdoa untuk keselamatan Seo Herin mulai sekarang.

“Seo Herin.”

“Herin-ah, ayo kita pergi saja,” Yerim berbisik sambil menarik-narik lengan Herin karena gadis itu memberi tahu nama tanpa berpikir dua kali.

Jong In menyeringai pelan dengan kedua tangan di dalam saku celana, tidak tahan dengan kepolosan Herin. Sangat mirip dengan Hana di masa lalu. “Kau hanya pura-pura tidak tahu ‘kan?”

“Maaf ya sunbaenim, tapi aku bukan mahasiswa super yang bisa mengenal semua nama di Kyunghee. Kau kira aku ini wonderwoman apa?” Herin mendengus pelan seraya meletakkan nampan Jong In dengan kasar di atas meja terdekat. “Terima kasih. Aku permisi dulu, sunbaenim.”

Dengan langkah lebar Herin menyeret Yerim menjauh dari hadapan Jong In, namun keduanya belum cukup jauh ketika mendengar lelaki itu berteriak ke arah Herin.

“Aku Kim Jong In. Terima kasih sudah menolongku, Seo Herin,” seru Jong In, tidak sadar membuat perut Herin bergelinjang tidak nyaman dan melangkah semakin cepat menghilang dari cafetaria.

Hingga sedetik kemudian Jong In tersadar akan tujuannya datang ke sana, ia mencari keberadaan Hana lagi di meja yang berisi Jaehyun tadi namun tidak menemukan Hana –maupun Jaehyun di sana. Mengabaikan perutnya yang berdemo minta diisi, ia membawa nampannya –yang sudah berantakan ke tempat nampan bekas dan segera berlari keluar dari cafetaria untuk mencari Hana lagi.

***

“Ck ck ck ck, sudah pasrah dengan cara yang normal, Lee Hana?”

Hana yang sedang duduk di kursi halaman belakang kampus sontak memusatkan perhatiannya pada Sehun yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya. Bibir Hana mengerucut, masih merasa kesal dengan adegan not-so-romantic antara Jong In dan seorang wanita yang tidak ia kenal. Padahal ia susah payah berdandan seperti itu agar Jong In meliriknya dan mengajaknya berbicara, tapi tidak berhasil.

“Tidak mempan untuk Jong In?” Sehun bertanya dengan nada menyebalkan lagi, membuat Hana hanya bisa mendengus kesal.

Sehun melepaskan jaket baseballnya dan menyelimuti paha Hana –yang sedikit terbuka. Ekspresi Hana masih terlihat muram dengan kening berkerut kesal. “Wae? Kenapa lagi?”

Molla. Apa aku menyerah saja ya? Toh kalau Jong In sudah tidak suka lagi, aku bisa apa?” Hana menyunggingkan senyum tipis –yang sebenarnya mungkin lebih terlihat menyedihkan.

Sehun tidak bisa menahan senyumnya, padahal ia baru saja mendengar cerita Jong In –di basecamp tadi bahwa penampilan Hana hari itu membuat semua laki-laki di kelas menggila. Termasuk Jong In sendiri. Bukan karena mengagumi penampilan Hana, sahabatnya itu menggila karena tidak tahan mendengar obrolan mesum para lelaki di kelas tadi pagi. Mode posesif Jong In jauh lebih menyeramkan dibanding sebelumnya. Haruskah ia memberitahu Jong In tentang keberadaan Hana sekarang?

“Kalau kau kuberi kesempatan mengobrol dengan Jong In, kau mau bilang apa?” tanya Sehun tiba-tiba.

“Memangnya dia mau? Hmm mungkin minta maaf? Aku tidak tahu… Apa aku harus minta maaf, Sehun-ssi?” Hana kembali bertanya dengan polosnya, membuat Sehun rasanya ingin terjun saja ke dalam danau agar terhindar dari dua manusia dengan gengsi setinggi langit : Jong In dan Hana.

Sehun mengusap wajahnya frustasi. “Ya. Lee Hana, dengarkan aku baik-baik. Kalau kau masih mau berhubungan baik dengan Jong In, entah kalian mau pacaran lagi atau tidak, ya kau harus minta maaf dan jelaskan alasannya. Dwaesseo, pokoknya nanti aku chat tempat kalian bertemu. Jangan sampai tidak datang, kecuali kalau kau tidak mau dapat kesempatan lagi.”

“Tapi Sehun-ssi—.

Ucapan Hana menggantung di udara ketika Sehun meninggalkannya secepat kilat dan hanya melambaikan tangan –tanpa berbalik ke arahnya. Hana menyadari jaket baseball milik Sehun yang masih menutupi kakinya lalu menghela napas panjang.

Selama hampir semalaman Hana mengacak-acak isi lemarinya sendiri, berharap bisa menemukan warna-warna selain biru tua, cokelat, hitam, abu-abu, dan putih dari dalam lemari. Namun ia hanya menemukan warna-warna itu dalam bentuk kaos, kemeja besar, beberapa cardigan, ditambah celana jeans dengan berbagai macam model yang dilipat rapi di rak paling atas. Sejak SMA ia hampir tidak pernah beli dress atau rok karena merasa risih dan tidak nyaman.

Setelah berkutat dengan tumpukan baju, Hana memutuskan untuk meminjam dress dari Hayeon –tetangga di sebelah rumah hanya untuk hari itu saja. Butuh waktu selama hampir satu jam untuk Hana bersiap-siap sampai harus memoleskan make up yang sedikit lebih tebal dengan eyeliner dan mascara, blush on peach, serta lipstick yang berwarna sedikit merah juga. Padahal biasanya ia hanya memakai pelembab, sedikit bb cream, dan liptint atau lipbalm saja. Tapi demi mengubah penampilan –dan menarik perhatian Jong In lagi, ia rela melakukan itu semua di pagi hari.

Tapi Jong In bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Atau mungkin melirik, tapi tidak benar-benar menarik perhatian lelaki itu. Sudah jelas kalau Jong In tidak peduli padanya lagi.

After we say goodbye, if I go to that place
Will you be looking at me?
I’m sure you won’t
But far away at the place we first met
Seems like I can see you

[EX. Girl (2) — CUT]



IMA’s Note:

Yhaa maaf yaa tiga bulan ga di post malah cuma seuprit

ini udah lama mau di post sebenernya… tp karena beberapa alasan jadi dipending dulu trus dibenerin wkwk

ku ingin bikin ff baru, tapi mungkin ga di post disini semua dan dipindah ke blog ku sendiri hehe semoga masih ada yang mau baca yaaa

 

Regards,

IMA♥

 

Advertisements

9 responses to “[KAINA’S] EX.GIRL (2) — BY IMA

  1. Hana gx tau aja klo jongin udah kebakaran jenggot😁😁😁
    seruuuuuu eon kira2 apa yg akan dilakukan jongin klo bertemu dg Hana???
    awas jgn nyesel

  2. Rasanya pingin bantuin sehun buat balikin mereka lagi,gemay akutuuuuu sama mereka
    Miss you ima unniiiii ☺

  3. plisss dong buat hana balikan ama jongin , itu siapa lagi haerin ?? Hiissh gak suka ah .
    Bikin balikan ya kaka author plissss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s