Queen of the Future (Chapter 1) by JjFinger’s

Title: Queen of the Future│Author: JjFinger’s │ Cast: Song Jina (OC), Hwang Minhyun (Wanna One / Nuest), Kang Daniel (Wanna One) │ Genre: Romance, Time Travel, Marriage Life │ Rated: PG-17 │ Length: Series

***

Terdengar suara teriakan dari ruangan Profesor Park, membuat beberapa orang yang melewati ruangan itu terperanjat kaget. Walau pintu dari ruangan itu tertutup rapat, tak membuat suara dari pria berusia 40 tahunan itu meredam.

Semua orang yang melewati ruangan itu memilih mempercepat langkah mereka karena takut, sementara orang-orang yang sedang melihat majalah dinding di dekat ruangan itu lebih memilih untuk pura-pura tidak mendengar.

Mahasiswa yang berada di Fakultas Seni dan Design tidak ada yang tidak mengenal sosok Profesor Park. Mereka tahu bahwa dia lah satu-satunya dosen yang paling menakutkan dan juga disegani di fakultas itu.

Tak lama setelahnya keluarlah seorang gadis dari ruangan professor Park dengan wajah bersungut-sungut dan di tangannya terdapat sebuah makalah. Gadis dengan rambut panjang bewarna coklat itu bernama Song Jina, dia menyadari betul bahwa tatapan semua orang sedang tertuju padanya. Segera dia menunduk sambil menutup separuh wajahnya dengan makalah di tangannya dan memilih pergi meninggalkan lokasi itu.

“Dasar Profesor sialan!” gumamnya memaki sambil terus berjalan cepat.

Setibanya dia di luar gedung, tak sengaja matanya tertuju pada seorang pemuda yang sedang bercengkrama akrab dengan seorang gadis lain di bawah pohon ek. Segera dia menghampiri kedua orang itu dengan rasa kesal yang memuncak.

“Hey, Hwang Somi!” teriaknya memanggil.

Pemuda dan gadis itu menoleh begitu mendengar panggilannya. Tanpa basa basi Jina menyerang Somi dengan cara menjambak rambutnya. Membuat Somi mengerang kesakitan. Sementara pemuda yang berada di dekat mereka sejenak tertegun sebelum kemudian mencoba melepaskan tangan Jina dari rambut Somi.

Semua mata tertuju pada mereka. Ada yang berbisik dan adapula yang lebih memilih menonton.

Jina menoleh kesal pada pemuda itu setelah pemuda itu berhasil melepaskan tangannya dari rambut Somi.

“Dasar Kang Daniel brengsek, bisa-bisanya kau tenang-tenang di sini dengan gadis gila ini,” marahnya.

“Hey, tenanglah Jina. Ada apa dengamu?” tanya Daniel yang benar-benar tak paham dengan situasi yang sedang terjadi.

Jina melirik Somi, gadis yang baru saja diserangnya itu sedang menatap kesal padanya sambil membenahi rambutnya yang tengah berantakan.

“Kau gila ya? Dasar gadis sialan,” komentar Somi dengan ketus.

Dahi Jina mengerut menahan emosi, “Kau kan? Yang tidak memberitahuku tentang dipercepatnya pengumpulan tugas dari Profesor Park? Karena hanya aku yang telat mengumpulkan tugas,” tanyanya sambil berkacak pinggang.

Daniel yang berada di sampingnya mencoba untuk menenangkan Jina dan berusaha membuat gadis itu beranjak meninggalkan Somi. Namun Jina tidak mengindahkan ajakannya dan menepis tangan Daniel yang sejak tadi memegang tangannya.

Somi tersenyum mengejek, “Apa untungnya bagiku menipumu seperti itu? Lagipula kau bisa melihat chat grup atau bertanya pada teman yang lain. Selama ini yang kutahu kau selalu cuek dengan apapun yang berurusan dengan kuliahmu.”

“Tutup mulutmu!” Jina menyampakkan makalah di tangannya ke wajah Somi. “Kau yang telah memblokirku dari grup. Dan karena kau juga aku tidak punya teman yang bisa kupercaya di kelas. Walau kau berasal dari keluarga keturuan kerajaan, itu tidak membuatmu bisa dipandangan tinggi. Karena bagiku kau terlihat sangat rendahan,” ucapnya tersenyum sinis.

Emosi Somi terpancing, gadis itu memaki Jina dan mulai menjambak rambutnya dan Jina pun balik menyerangnya. Sementara Daniel berusaha melerai pertikaian kedua gadis itu.

Sementara beberapa orang pria dan wanita yang mengenal mereka lekas menghampiri ketiganya sambil bertanya kenapa dan apa yang sedang terjadi. Beberapa orang pria juga berusaha melerai Jina dan Somi dengan memegang tangan mereka agar melepaskan jambakan satu sama lain. Sementara Daniel memeluk pinggang Jina dari belakang dan mengangkat tubuh gadis itu sedikit menjauh begitu keduanya sudah tidak saling menjambak. Jina terus saja meronta-ronta.

Ketika menyadari situasi mereka yang sedang menjadi pusat perhatian, Somi pun segera merapikan rambutnya sambil berdeham kemudian memaki Jina pelan sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

Jina segera melepaskan tangan Daniel yang sedang melingkar di pinggangnya, memungut makalah dan tasnya sambil sesekali merapikan rambutnya sebelum kemudian meninggalkan tempat itu juga.

Semua orang yang melihat pertunjukan itu pun satu persatu bubar, dan Daniel hanya menghela napas kuat sambil melihat punggung Jina yang semakin menjauh.

***

“Kau masih marah padaku?” tanya Daniel begitu sampai di hadapan Jina yang sedang duduk di kursi taman kampus.

Tapi Jina tak memedulikannya dan malah berpaling ke arah lain sebelum berucap, “Memangnya kita pernah kenal?”

Daniel tersenyum dan menempelkan satu es krim coklat ke pipi Jina, membuat gadis itu memekik karena dingin. Namun gadis itu segera merenggut es krim itu dari tangan Daniel.

“Ayolah, Jina. Kau marah dengan Somi tapi kenapa melampiaskannya padaku?” tanyanya sambil duduk di samping Jina.

“Senang karena makin dekat dengan gadis incaranmu?” tanya Jina dengan mulut penuh es krim.

“Tanpa kuincar juga dia akan mendekat sendiri. Aku kan salah satu mahasiswa populer di fakultas ini,” ucapnya dengan bangga. “Lagipula tadi dia dulu yang mendekatiku sewaktu aku sedang menunggumu di luar gedung,” lanjutnya sambil membuka bungkus eskrim di tangannya.

Jina melirik Daniel sebelum kemudian tersenyum geli.

Memang benar Daniel adalah salah satu mahasiswa populer di fakultas ini karena dia jago dalam mendesain hanbok, memiliki postur tinggi dan wajah menarik, juga hebat dalam modern dance. Jadi siapapun gadis yang mengenalnya tentu akan tertarik dengannya.

“Ya, ku akui kau populer,” ujarnya setengah tak peduli.

Rasa percaya diri Daniel meningkat ketika mendengar komentar Jina. Dia pun tersenyum bangga.

Jika dipikir-pikir lagi, sampai sekarang hanya Jina satu-satunya gadis yang mendapat perhatian penuh dari sosok Daniel, sebab mereka telah mengenal satu sama lain sejak SMP dan mereka lanjut di SMA yang sama. Walau keakraban mereka terbangun tanpa unsur kesengajaan. Karena hal-hal sepele telah membuat keduanya akrab hingga kuliah.

Ditambah lagi Daniel tidak pernah bertahan lama ketika berkencan dengan seorang gadis, membuat Jina sempat curiga padanya apakah dia normal atau tidak. Sampai suatu ketika hal itu ditepis oleh Daniel. Pemuda itu membuktikannya dengan cara berkencan cukup lama dengan seorang gadis ketika dia berada di tahun kedua saat SMA. Meskipun hanya bertahan enam bulan.

Tiba-tiba saja Jina tertawa lepas ketika mengingat semua itu, membuat Daniel mengerutkan dahi heran.

“Kenapa kau tertawa tiba-tiba? Seperti orang gila saja.”

“Hey, Kang Daniel. Aku tiba-tiba jadi teringat dengan kencanmu yang dulu-dulu. Satupun tidak ada yang bertahan lama.” Tawa Jina semakin lepas.

Daniel terlihat kesal, “Itu kan karenamu juga kencanku tidak pernah bertahan lama.”

Jina meredakan tawanya, “Karenaku? Seingatku aku tidak pernah mengganggumu saat pacaran. Aku juga tidak pernah menggangumu saat kau sedang berkencan dengan pacarmu.”

“Karena aku selalu lebih mementingkan bermain denganmu dan teman-temanku yang lain daripada mengutamakan ajakan mereka dan itu membuat mereka marah,” ucap Daniel sambil menatap langit yang perlahan menggelap.

Itu semua benar, walau Daniel telah memiliki pacar tapi dia tidak pernah seharipun tidak berada di sini Jina. Bahkan sampai-sampai pemuda itu terlihat seperti tidak memiliki pacar.

Ada satu hal yang membuat Jina penasaran hingga sekarang, sebenarnya seperti apa perasaan Daniel padanya. Dan jujur saja, Jina pun tidak tahu perasaan seperti apa yang dia rasakan pada Daniel. Apa dia mengganggap Daniel laki-laki atau hanya sebatas teman yang telah lama bersama. Yang pasti Jina merasa senang dengan semua perhatian yang Daniel berikan padanya.

“Sudah lama aku ingin bertanya ini. Apa kau menyukaiku?” tanya Jina dengan wajah serius.

Mendengar itu Daniel tertawa, “Menyukaimu yang seperti laki-laki? Suka sekali bertengkar, suka berteriak, suka memaki, suka memukul dan kau juga tidak pernah menunjukkan sisi wanitamu di hadapanku. Bagaimana bisa aku menyukaimu?” tawanya meledak.

Jina mendengus sebal dan menjewer telinga Daniel, membuat pemuda itu memekik kesakitan. “Ya sudah kalau tidak. Tinggal bilang tidak apa susahnya, sih? Kenapa juga sampai menambahkan kejelekkanku.”

Daniel mengelus telinganya yang terasa berdenyut, “Maaf, Aku hanya tidak menyangka kau menanyakan itu.”

“Jangankan kau, aku saja juga tidak menyangka kenapa aku menanyakan ini. Apa karena alasanmu tadi ya?” ujarnya bingung. “Jelasnya aku tidak suka dengan pertanyaan banyak orang mengenai hubungan kita. Mereka mengira kalau kita lebih dari sekedar teman. Juga aku tidak suka dengan semua penggemarmu yang sering menunjukkan rasa tidak sukanya padaku,” lanjutnya dengan tegas.

“Abaikan saja mereka,” saran Daniel tenang.

“Benar, itu lebih baik. Ayo kita pulang,” segera Jina bangkit dari duduknya  dan berjalan lebih dulu meninggalkan Daniel.

Entah kenapa perasaan tak suka itu datang ketika mendengar penjelasan dari Jina bahwa gadis itu tidak suka dengan banyak pertanyaan mengenai hubungan mereka.

Daniel menghela napas dan menyusul langkah Jina. Sesampainya di samping Jina, pemuda itu merangkul Jina dan gadis itu langsung merangkul pinggang Daniel. Mereka bersenandung gembira seperti orang yang mabuk, sesekali tertawa dan saling menjahili satu sama lain.

Ya, Daniel pikir lebih baik seperti ini saja. Dia tidak ingin membuat Jina tidak nyaman dengannya. Status teman mungkin tidak terdengar istimewa, namun bagi Daniel status teman membuatnya terus bisa berada di samping Jina.

***

Jina merasa uring-uringan ketika dirinya baru saja keluar dari toilet kampus lantai dua. Baju hanbok bewarna putih yang dikenakannya terasa sangat tidak nyaman karena bagian tas hanbok yang terlihat transparan sehingga mengekspos kulit bahu dan tangannya,

Tentu saja bagian atas hanbok itu sengaja dibuat trasparan, sebab hanbok yang dikenakannya sekarang adalah hanbok khusus untuk seorang gisaeng.

Sembari keluar, Jina tak henti-hentinya mengutuk Daniel yang telah merancang hanbok itu untuk dikenakannya. Sekarang pandangan orang-orang sedang tertuju padanya. Ada yang tertawa mengejek, ada yang berbisik dan ada pula yang tersenyum mencemooh. Kenapa pula pemuda itu mendesain hanbok dengan konsep gisaeng?!

Setelah keluar gedung, Jina duduk di salah satu bangku taman dan sesekali melirik ponselnya. Masih belum ada jawaban dari Daniel. Dia pun mendengus kesal karena pandangan orang-orang tak kunjung lepas darinya sampai ketika sesuatu benda yang lembut membungkus bahunya.

Jina menoleh reflek dan menemukan Daniel tengah menyilimuti bahunya dengan sebuah jaket. Daniel tersenyum, namun hal itu tidak berpengarus bagi Jina yang sudah merasa kesal.

“Kenapa kau lama sekali, sih?” tanyanya emosi.

Daniel terlihat tak acuh dan segera menarik gadis itu pergi meninggalkan kampus, kemudian segera menaiki taksi begitu menemukannya di pinggir jalan.

“Maaf, aku terlambat. Karena aku harus menemui dosenku lebih dulu,” jelas Daniel setelah berhasil mengatur napasnya.

Jina memutar bolah matanya kesal, “Padahal aku sudah susah payah meluangkan waktu untukmu. Ini semua kan untuk tugasmu makanya aku bersedia menjadi modelmu, tapi kau sama sekali tidak datang saat aku sedang mengenakan hanbok ini. Kau tahu tidak susahnya aku memasang tali hanbok ini?”

Daniel melihat tali hanbok yang terikat di depan dada Jina. Gadis itu mengikatnya dengan arah terbalik. Tapi sesuatu hal membuat Daniel terpaku ketika menatap dada Jina.

Merasa ada yang aneh, Jina berucap, “Sedang apa kau? Apa yang kau lihat, brengsek?” segera Jina menyilang kedua tangannya di depan dada.

Daniel segera tersadar sambil mengusap tengkuk belakang lehernya dengan salah tingkah. Dia kepergok sedang berpikir mesum.

“Maksudmu aku melihat dadamu?” tanyanya gugup. “Hey, sadarlah dadamu itu tidak lebih besar dari kepala kucing,” ejek Daniel kemudian.

“Kurang ajar kau.” Tangan Jina melayang ke kepala Daniel, membuat pemuda itu mengerang kesakitan.

“Jina, kau gila? Pukulanmu itu sakit sekali. Tidak salah aku menyebutmu seperti laki-laki,” keluh Daniel sambil menghina Jina.

“Bukannya berterima kasih padaku, kau malah senang menghinaku,” rajuknya.

Daniel tertawa kecil, “Oke. Setelah pertunjukanmu selesai, aku akan membelikanmu makanan yang kau inginkan.”

Jina bersedekap, “Kau kira aku pengemis? Oke, aku mau makan di banyak restoran. Dan jangan sampai kau mengeluh karena uangmu habis,” ujarnya bercanda dengan sikap angkuh.

“Tentu saja tidak akan mengeluh. Apa yang tidak untuk temanku yang jelek ini,” canda Daniel sambil mencubit pipi Jina.

“Ngomong-ngomong kenapa sih kau memilih konsep hanbok gisaeng seperti ini?”

“Karena yang lain sudah mengambil konsep desain hanbok modern. Aku ingin sesuatu yang berbeda, maka itu aku memilih hanbok gisaeng dengan warna polos, walau tidak kudesain secara modern setidaknya hal ini bisa saja menarik perhatian panitia.”

Daniel adalah mahasiswa desain hanbok. Dia sudah mencintai hanbok sejak Jina mengenalnya di tahun kedua SMP. Walau sampai sekarang Jina tidak tahu pasti apa yang membuat pemuda itu tertarik dengan hanbok. Karena jika Jina bertanya, Daniel akan menjawabnya dengan enteng yaitu ‘karena aku menyukainya dan menyukai sesuatu itu tidak butuh banyak alasan’.

“Tugas kuliahmu kenapa harus melakukan peragaan busana, sih?” Jina bertanya dengan ekspresi wajah tak suka.

“Hari ini peringatan kemerdekaan Korea. Jadi dari jauh hari jurusanku sudah ingin membuat event seperti ini. Untuk membuat kami semangat dalam merancang hanbok, maka dibuatlah tugas untuk satu mata kuliah yang penting di semester ini.” Daniel menjelaskan dengan nada tenang.

Jina mengatup bibirnya rapat-rapat dan mengangguk berulangkali.

“Aku memilihmu sebagai modelku, karena selain menurut teman-teman jurusanku kau cantik. Kau juga mahasiswi dari jurusan seni musik tradisional. Kau tahu sendiri bahwa seorang gisaeng adalah wanita penghibur di era Joseon?” Daniel menghela napas sebelum melanjutkan, “Seorang gisaeng memiliki jiwa seni yang tinggi dalam hal musik dan menari. Lalu kau salah satu orang yang jago dalam melakukan itu.”

“Kau kira aku tidak tahu?” sela Jina cepat, “Percuma saja aku belajar sejarah korea bertahun-tahun kalau cerita dasar itu saja aku tidak tahu.”

Tangan Daniel terangkat dan mengacak-acak kecil rambut Jina, membuat gadis itu jengkel.

“Kau ingatkan setelah peragaan akan ada pertunjukan? Jadi mainkan gayageum dengan baik ya. Aku mengandalkanmu.” Daniel berbicara dengan semangat dan Jina hanya menghela napas kuat.

Mobil taksi yang mereka naiki berhenti di museum sejarah terbesar di Korea. Event yang diadakan oleh jurusan desain hanbok di gelar di museum dan event itu terbuka untuk umum. Jadi pengunjung museum juga dapat menikmati event yang tengah diadakan.

Daniel dan Jina berjalan masuk. Museum itu dipenuhi oleh banyak pengunjung.

“Kau tunggulah di sini. Aku akan segera kembali,” ucap Daniel begitu mereka sampai di dekat salah satu pameran museum.

“Mau kemana?” tanya Jina cepat.

“Ada yang harus kuurus. Kau tunggulah di sini, jangan kemana-kemana.” Daniel meyakinkan Jina dengan senyuman sebelum akhirnya melangkah pergi.

Jina melihat sekeliling. Museum itu benar-benar ramai. Tapi tiba-tiba saja pandangannya tertegun di salah satu lorong yang sepi dan di ujung sana terlihat pendaran cahaya yang aneh.

Langkah demi langkah membawa Jina menuju ruangan yang sejak tadi memancarkan cahaya aneh. Tanpa sadar dia sudah masuk ke dalam ruangan di ujung lorong itu. Dia seakan terhipnotis karena cahaya itu.

Setelah sadar Jina melihat sekeliling dengan bingung dan menemukan jika cahaya yang ia lihat tadi berasal dari salah satu lukisan seorang raja dari jaman Joseon. Cahayanya terlihat dari mata raja di lukisan itu.

Perlahan tangan Jina terangkat menyentuh mata di lukisan itu dan tanpa diduga cahaya itu menyilaukan mata sampai-sampai Jina memejamkan matanya kuat-kuat.

Cahaya itu meredup dan sosok Jina tak lagi terlihat di ruangan itu.

***

Jina mengernyitkan dahi ketika sakit kepala itu menyerang dirinya. Perlahan dia tersadar dari tidurnya dan terperanjat kaget saat melihat orang-orang yang tak ia kenal mengelilinginya.

Orang-orang yang berada di sekitarnyapun mulai memberi ruang pada Jina.

“Ternyata kau sudah sadar?” salah satu wanita berpenampilan seperti seorang gisaeng bertanya kepadanya. “Apa kepalamu cedera?” lanjutnya.

Bukannya menjawab Jina malah melihat sekeliling dan merasa ruangan yang ia tempati ittu terlihat sangat tradisional seperti rumah tradisional korea. Dia juga memandang orang-orang yang berada di sekelilingnya. Enam wanita berpakaian seperti gisaeng dan satu pria mengenakan baju budak di jaman joseon.

Sebenarnya ini di mana?!

“Salah satu budak kami menemukanmu sedang pingsan di dekat hutan. Karena kau mengenakan pakaian gisaeng jadi dia membawamu ke sini. Apa kau salah satu calon peserta baru untuk menjadi seorang gisaeng? Kalau begitu kau tentu saja lolos karena kau memiliki kecantikan yang unik,” salah satu seorang gisaeng berujar semangat.

“Cobalah lihat rambutnya itu, sangat cantik dan terawat. Rambutmu benar-benar unik karena bewarna cokelat terang. Matanya besar dan juga bewarna cokelat. Kau benar-benar cantik. Mungkin ratu negri ini tak secantik dirimu. Tidak pernah kulihat ada wanita yang memiliki wajah sepertimu. Terlihat sempurna dan itu keunikan dari kecantikanmu,” sahut salah satu wanita gisaeng.

Semua wanita gisaeng yang berada satu ruangan dengannya tertawa centil, membuat Jina semakin mengerutkan dahinya bingung.

“Kulitnya juga benar-benar terawat. Kau bukan berasa dari negara barat, kan?” tanyanya sambil menilik Jina, “Tidak mungkin kau dari negara barat. Karena tidak sembarang orang dari negara barat bisa datang ke mari. Apa kau anak dari seorang bangsawan?” lanjutnya.

Para wanita gisaeng itu terus saja mengoceh dan melemparkan banyak pertanyaan padanya, membuat Jina menutup telinganya rapat-rapat karena merasa terintimidasi.

Sebelum kemudian bertanya, “Ini di mana?”

“Tentu saja kau berada di rumah gisaeng. Bukankah kau yang menginginkan pekerjaan ini?”

Jina semakin bingung, namun tiba-tiba ingatannya kembali. Terakhir kali dia berada di salah satu ruangan museum. Menyentuh lukisan raja yang bercahaya dan setelah itu merasa bahwa dirinya tak sadarkan diri sampai akhirnya dia terbangun di tempat aneh yang tidak dia ketahui.

Setelah mengingat kejadian sebelumnya alaram waspada di kepala Jina menyala. Dia memeluk tubuhnya dan bersandar menjauh ke dinding. “Ini tahun berapa? Dan era apa ini?” tanyanya menggebuh-gebuh.

“Ini tahun 1657. Dan kau berada di Dinasti Joseon. Apa yang salah denganmu? Kau sungguh aneh bisa melupakan tahun di mana kau tinggal,” sindir wanita gisaeng yang lain.

Apa?! Abad ke-17?! Jina semakin tertegun tak menyangka. Buru-buru dia bangkit dan keluar dari ruangan itu. Betapa terkejutnya dia ketika melihat semua orang yang berada di luar mengenakan hanbok. Semua wanita di sana mengenakan hanbok gisaeng dengan sanggul rambut yang besar seolah-olah melingkari seluruh kepala, dan ada juga beberapa pria yang mengenakan hanbok bangsawan sedang bercengkrama mesra dengan beberapa wanita gisaeng.

“Hey, kau jangan menampakkan wajahmu dulu kepada para tamu yang datang karena kau harus lebih dulu bertemu dengan pemilik rumah gisaeng ini. Ayo kita temui Nyonya Kim.” Salah satu wanita gisaeng meletakkan sebuah jubah di atas kepalanya dan menyuruh Jina untuk menutup wajahnya dengan jubah itu.

Mau tak mau Jina mengikuti wanita itu pergi. Pertama-tama dia harus mengikuti skenario kehidupan di tempat itu dulu. Lalu dia akan mencari tahu mengapa dia bisa terlempar ke masa lalu.

Ini bukan mimpi dan tentu Jina harus bisa bertahan hidup di tempat yang sangat asing ini. Pikiran gadis itu terus bergejolak, bagaimana dia bisa bertahan di masa penuh sejarah ini? Karena dari sejarah yang dia tahu, kehidupan di Joseon sangatlah keras dan penuh konflik khususnya terhadap kaum wanita dan kaum kelas bawah.

.

.

.

―TBC―

Note: FF ini Cuma ngambil gambaran baju hanbok aja dan lain-lainnya. Tapi sejarah kerajaannya murni fiksi. BTW gayageum itu sejenis alat musik tradision korea yang bentuknya kayak kecapi

Aku liat di sini pembacanya mulai berkurang ya, hehehe. Ya semoga aja ada yang baca dan komen. Kalo nggak komen juga gak tahu ada yang baca atau gak wkwk. Kalo komen bakal saya respon kok. Btw nanti raja minhyun bakal nongol di chap ke dua. Mungkin dari kalian yang udah sering banget nonton drama korea pasti udah hapal betul sama pakaian-pakaian hanboknya jenis-jenis and segala macemnya.

Song Jina (Ulzzang Park Seul)

 

Kang Daniel (Wanna One)

 

Untuk Pakaian tradisional Korea di jaman Joseon

Hanbok Gisaeng

Hanbok Bangsawan Pria

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 responses to “Queen of the Future (Chapter 1) by JjFinger’s

  1. halo, kalo mau menghubungi admin yg sekarang ke mana yaa? I need some help. makasih banyak sebelumnya! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s