Cupid vs Cerberus ~FINAL~

img-20180427-wa0002227157694.jpg

Cupid vs Cerberus

Nadine (OC) || Im Jaebum (GOT7 JB) || Mark Tuan (GOT7 Mark) || Shin Jihyo (OC)

Alternative Universe, Fantasy, Romance, Comedy

PG || Chapter

Poster © Ra

Index & Prolog || Part I || Part II || Part III || Part IV || Part V || Part VI || Part VII || Part VIII || Part IX || Part X || Part XI || Part XII

© Neez

FINAL PART

Segumpal tanah

Segumpal darah

Ruh

Dan hadirlah Putra Adam

 

Segumpal tanah

Segumpal darah

Tulang rusuk Putra Adam

Ruh

Terciptalah Putri Hawa

 

*           *           *

Jaebum merangkak mendekati tubuh Nadine. Ia memang bisa merasakan tekstur tanah, tekstur rerumputan yang menjadi tumpuannya berpijak pada saat ini. Namun semua ini terasa familiar sekaligus asing pada saat yang bersamaan. Ia merasa, namun tidak dengan cara yang sama. Ia mendengar, mencium, dan melihat pun tidak dengan cara yang sama.

   ”Nadine…” panggil Jaebum lemah, begitu tiba disisi Cupid yang tidak menjawab dan bergerak. Jaebum bisa melihat dengan jelas, tubuh gadis itu pucat, dengan pakaian serba putihnya, dan sayapnya yang tercabik-cabik. Gaunnya bahkan robek di beberapa tempat. ”Nadine,” Jaebum membalikkan tubuh Nadine yang tadinya setengah miring hingga terlentang menghadapnya yang membungkuk.

   Jaebum memang baru merasakan jantungnya, namun untuk pertamakalinya, ia merasakan jantung itu berdebar keras. Ia sering memperhatikan denyut-denyut jantung para Putra Adam dan Putri Hawa. Ia bisa membedakan mana denyut jantung karena jatuh cinta, karena bersemangat, bahagia, sedih, takut, dan khawatir.

   ”Nadine,” Jaebum dengan lemah mengguncang tubuh Nadine yang dingin. Inilah rasa takut. Jaebum samar-samar ingat ia pernah merasa takut, namun setelah menjadi manusia, perasaan takut itu jauh lebih nyata. Jauh lebih menyesakkan, dan menakutkan. ”Nadine,” guncangnya, sambil menggenggam tangan Cupid yang sudah dingin itu.

   Jaebum meraih kepala Nadine, menyibakkan rambutnya di dahi. Kedua mata manusianya yang tajam menelusuri setiap luka yang samar-samar ia ingat adalah hasil perbuatan dua kepala wujud Cerberusnya.

   ”Oh, tidak, tidak tidak!” Jaebum merasakan panas yang amat sangat pada kedua pelupuk matanya sambil mengangkat kepala Cupid itu, mendudukkan pada pangkuannya. Satu-satunya bagian tubuhnya yang tertutup dengan kain berbentuk celana pendek. ”Nadine, Nadine!” kembali panggilnya dengan panik, merasakan dan mencari tanda-tanda kehidupan pada Cupid itu, meski Jaebum menyadari bahwa ia bukanlah Cerberus lagi. ”Kumohon, bangunlah, Nadine.”

   Masih tak ada tanda-tanda Cupid itu akan menjawab panggilannya.

   ”Oh Tuhan,” Jaebum kebingungan, memandang ke sekelilingnya, dan barulah ia benar-benar memperhatikan dimana ia berada pada saat ini. Entah ini ada dimana, yang jelas kondisinya tidak akan memungkinkan bagi Jaebum untuk berteriak meminta pertolongan. Ia hanya melihat padang rumput luas berbentuk bukit-bukit kecil dengan bunga-bunga liar yang cantik. ”Nadine,” panggil Jaebum kembali, secara insting menggosokkan tangannya yang hangat pada telapak tangan Cupid yang dingin.

   Berbeda dengan manusia, Jaebum tidak tahu bagaimana cara untuk memastikan Cupid hidup atau tidak, tetapi ia tidak ingin memikirkan bahwa Cupid yang dicintainya ini telah pergi. Lagipula, bukankah jika Cupid atau Cerberus meninggal, akan meninggalkan…

   ”Akh!”

   Kedua mata Jaebum membelalak, tangannya meremas telapak tangan Nadine, dan tangan satunya lagi membelai kepala Cupid yang tengah merintih kesakitan itu.

   ”Nadine, kau bisa melihatku? Kau bisa mendengarku?” tanya Jaebum, terengah-engah karena semangat dan khawatir. ”Kau bisa… melihatku?”

   Kepala Nadine bergerak-gerak lemah, sebelah tangannya menyentuh pelipisnya. Sementara Jaebum, hanya secara naluriah mengusap lembut pelipis Nadine, hingga gadis itu membuka kedua matanya, benar-benar menatap Jaebum yang menunduk diatasnya.

   ”Hei, kau… tak apa-apa?” tanya Jaebum, keningnya mengerut. Cupid dalam pangkuannya tersenyum kecil, dengan satu tangan yang tak digenggam Jaebum ia mengulurkan tangannya itu ke arah dahi Jaebum yang mengerut.

   ”Aku… baik-baik saja.”

   Jaebum tersenyum lega mendengarnya. ”Nadine, apakah… apakah, kau… menjadi manusia?”

   Saat itu, Jaebum bisa melihat senyuman lemah di bibir Nadine memudar. Tak lama, karena ia kembali tersenyum. ”Maaf, aku menjadikanmu manusia, ya?” tanyanya lagi.

   ”Tak apa,” geleng Jaebum sambil mengangkat bahu, dengan cepat. Ia tidak ingin Nadine salah paham. Ia memang tidak memiliki indra super seperti saat ia menjadi Cerberus. Tetapi yang jelas ia sudah bukan keturunan iblis Lucifer! ”Err, Nadine, apa kau bisa bangun?” tanya Jaebum canggung.

   Nadine terkekeh pelan, memejamkan matanya, hanya seolah-olah ia sedang menghabiskan hari yang cerah dibawah matahari bersama Jaebum saja. ”Tidak, aku masih ingin disini. Bolehkah?” tanyanya, kedua matanya membuka lagi dan menatap ke dalam mata Jaebum yang gelap.

   ”Tentu saja,” Jaebum buru-buru mengiyakan, berpikir bahwa Nadine mestilah lelah setelah menolongnya lolos dari penjara kelam itu. Namun, fisiknya sebagai manusia jelas jauh lebih lemah dibandingkan saat ia menjadi Cerberus. Terbukti dengan kakinya yang mulai matirasa menopang kepala Nadine dengan posisi terlipat. ”Err, boleh aku meluruskan kakiku? Sebentar saja…” tanyanya pada Nadine.

   Nadine mengangguk, tidak menjawab.

   Jaebum sedikit membantu Nadine mengangkat kepalanya, dan meluruskan kakinya. Nadine sedikit meringis, dan saat kaki Jaebum lurus dan tangannya kembali ia tarik, barulah ia menyadari ada yang tidak beres. Celana kain hitamnya dipenuhi bercak kehitaman, dan ketika tangannya ia angkat keatas, banyak sekali darah yang menempel pada tangannya.

   ”Na…nadine?” suara Jaebum yang terperangah membuat Nadine kembali membuka matanya, dan tersenyum sedih. ”A-pa… apa yang terjadi?” terbata-bata Jaebum dengan gemetaran memperhatikan tangan dan pangkuannya yang sudah dipenuhi darah. ”Nadine!” seru Jaebum ketakutan, ia benar-benar ketakutan dan gemetar. Jika dulu, ketika menjadi Cerberus, membaui darah adalah hal yang lumrah, sebagai manusia, indra penciuman Jaebum memunculkan perasaan ketakutan yang menggebu-gebu.

   Nadine mengangkat tangannya lemah, dan menggenggam tangan Jaebum yang gemetaran dan berlumuran darah. ”Tak apa-apa,” gumamnya, dengan suara seperti orang mengantuk, namun Jaebum tahu bukan karena itu. ”Aku akan baik-baik saja, Jaebum.”

   ”Tidak! Tidak!” seru Jaebum lebih keras. Ia tahu ini buruk, ia tahu ada yang tidak beres, dan ia tidak menyukainya. Terlebih ia semakin bisa merasakan darah merembes dari punggung Nadine. Dugaan Jaebum saat ini darah itu berasal dari sayap Cupidnya yang patah. ”Kita… kita harus ke rumah sakit! Manusia bisa disembuhkan di rumah sakit, kan? Aku akan menggendongmu…” suara Jaebum menghilang karena menyadari, hanya sebatas itu yang dapat ia lakukan dengan kemampuannya sebagai manusia.

   ”Tidak usah, tidak perlu…” bisik Nadine.

   ”Tidak! Nadine, tidak! Kumohon, izinkan aku membawamu… mereka akan menyembuhkanmu. Atau, atau… bagaimana cara memanggil ibumu? Malaikat lainnya?!”

   Panik. Jaebum panik. Ia tidak bisa memikirkan solusi yang lebih baik dari ini.

   ”Tidak bisa,” jawab Nadine masih dengan senyuman sedihnya. Semakin gadis itu tersenyum, semakin sesak pula dada Jaebum dibuatnya.  ”Kumohon, Jaebum, sebentar saja… biarkan aku berbaring, aku hanya merasa lelah dan kedinginan.” Jaebum memang sejak tadi merasakan tubuh Nadine begitu dingin, bahkan sekarang semakin memucat.

   Nadine memejamkan matanya dan jemarinya yang menggenggam tangan Jaebum diletakkannya di dadanya, dimana jantung seharusnya berada.

   ”Maafkan aku,”

   Nadine membuka matanya, karena merasakan air mata Jaebum menjatuhi wajahnya. ”Kenapa?” tanyanya.

   ”Aku membuatmu begini.”

   Nadine menggeleng, ”Tidak.” Ujarnya pelan. ”Jaebum,” panggil Nadine tiba-tiba, ”Aku semakin mengantuk…”

   ”Tidak! Tetaplah terjaga,” mohon Jaebum tidak tahu harus berkata apa lagi. ”Kau… kau tidak boleh pergi, Nadine.” Tanpa bisa mengendalikan air mata dan perasaannya. ”Kau tidak boleh meninggalkanku.” Mohonnya sambil membawa tangan dingin Nadine pada pipinya.

   Bibir Nadine bergetar hebat, sebelum menjawab, ”Hei, jangan begitu.” Bujuknya, berusaha tersenyum, meski terlihat dengan susah payah melakukannya. Tangannya mengelus rambut Jaebum. ”Nasibmu sudah lebih baik daripada menjadi keturunan iblis sekarang, bukan?”

   ”Tapi… tapi tidak tanpamu,”

   Nadine menghela napasnya berat dan sekarang diselingi dengan beberapa batuk kecil. ”Aku disini, aku masih disini, Jaebum. Dengarkan aku,” kata Nadine menatap kedua mata Jaebum. ”Kau akan menjadi pria hebat. Aku yakin… aku tahu itu.” Jaebum menggelengkan kepalanya, masih menangis. ”Kau akan membawa kebaikan di dunia, kau akan membawa perubahan.”

   ”Nadine…”

   ”Ssshhh, dengarkan aku… aku bisa melihatnya,” bisik Nadine pelan.

   Jaebum menahan tangisannya, masih dengan menggenggam erat tangan Nadine di pipi. Sesekali mengecupnya dan mengelus rambutnya. Dibiarkannya Nadine terus berbicara.

   ”Aku yakin akan ada banyak rintangan,” lanjut Nadine dengan bayang-bayang impiannya soal masa depan Jaebum. ”tetapi, kau pasti bisa menjalaninya dengan baik, Jaebum.”

   ”Apakah kau… bisa melihatmu disana? Denganku?” tanya Jaebum memutuskan mengikuti angan-angan Nadine.

   Nadine terkekeh, ”Tidak.”

   ”Kenapa?!”

   ”Karena ini…” Nadine menarik tangannya di pipi Jaebum, membawa tangan Jaebum diantara mereka berdua, satu sentuhan lemah dan gemetar dari tangan Nadine memperlihatkan sebuah benang merah menyala melayang-layang di jari kelingking Jaebum. ”…kau tidak akan sendirian, Jaebum.” Beritahu Nadine dengan senyuman lebar, namun dengan sebutir air mata lolos melalui matanya yang menatap Jaebum.

   Jaebum nyaris tidak mempercayai apa yang ia lihat. Di jari kelingkingnya sendiri. Benang merah, yang semasa hidupnya sebagai Cerberus menjadi sumber dari malapetaka namun berakhir dengan cinta.

   ”Whoa,” suara Nadine terdengar begitu ceria. ”Kau pasti jadi kekasih yang hebat, Jaebum.”

   ”Tidak.” Tolak Jaebum, tidak ingin percaya.

   ”Hei,” Nadine terkekeh, air matanya semakin deras. ”Kau pasti akan menjaga kekasihmu dengan baik. Lindungi ia di dunia ini, karena Lucifer akan berusaha terus untuk memisahkan kalian. Jaga dia, dan cintai dia hingga akhir hidupmu, oke?”

   Jaebum terisak-isak sambil menggeleng keras. ”Tidak!” tolaknya. ”Tidak! Aku mencintaimu, bukan gadis lain!”

   ”Dia jodohmu, Jaebum… kau akan mencintainya, sebesar ia mencintaimu…” suara Nadine semakin lirih. Tangannya kembali terangkat dan menyentuh pipi Jaebum. ”Tapi, untuk saat ini… izinkan aku yang menjadi wanita beruntung itu… Jaebum, aku…”

   Jaebum kembali menekap tangan dingin Nadine di pipinya, sementara kedua matanya tak lepas dari wajah cantik Nadine yang susah payah menyelesaikan kalimatnya.

   ”…Jaebum, aku… mencintai…mu…”

   Jaebum mengangguk, dengan air mata masih meleleh, dikecupnya tangan  Nadine ketika gadis itu selesai mengutarakan isi hatinya. ”Aku juga, aku sangat mencintaimu.”

   Nadine tersenyum, sangat bahagia dan damai saat mendengarnya, kemudian dengan satu tarikan napas panjang. Tangan yang Jaebum genggam kehilangan tenaganya, wajah cantik yang menatapnya terkulai, menyisakan satu senyuman terakhir yang takkan pernah terhapus dari sana.

   Meninggalkan Jaebum yang terisak lebih keras, sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Cupid malang itu, bahunya terguncang-guncang. Ia tidak mempercayai apa yang terjadi. Ia memeluk tubuh Nadine selama yang ia butuhkan, meski tubuh dalam pelukannya tak lagi bergerak, dan semakin lama semakin mendingin. Hingga ia tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan Nadine.

   Gadis itu jelas masih Cupid, belum menjadi manusia. Namun sayap Cupidnya patah, dan Jaebum jelas tak bisa melakukan apa pun lagi karena kemampuannya sudah terbatas sebagai manusia.

   Saat itulah secercah cahaya turun dari langit bak lampu sorot di tempat Jaebum memeluk Nadine, dan turunlah tiga malaikat perempuan dengan wajah penuh duka. Ketiganya memang cantik, namun bagi Jaebum meski wajah Nadine tak lagi berwarna, ia tetap yang terindah.

   ”Kami akan membawa Nadine kembali,” ucap yang berdiri ditengah. ”Dia adik kami…”

   Jaebum semakin mengeratkan pelukannya.

   ”Ibu kami pasti ingin… pasti ingin… jasad kedua putrinya disemayamkan dengan layak…” kata yang kiri dengan air mata sama derasnya dengan Jaebum. ”Izinkan kami membawa adik kami pulang, Jaebum.”

   Jaebum terisak-isak, enggan melepaskan tubuh Cupid dalam pelukannya itu, namun ia mendongak menyadari satu hal. ”Dua putri…nya?”

   ”Olivia…” isak yang kiri sekarang, tak mampu meneruskan kalimatnya, namun Jaebum tahu apa yang hendak ia katakan.

   ”Olivia… meninggal?” tanya Jaebum takut.

   ”Ya,” jawab ketiga malaikat itu sedih. ”Yongguk juga… mereka berdua meninggal.”

   Jaebum mengisak kembali sambil memeluk Nadine.

   Ketiga kakak Nadine dan Olivia membiarkan Jaebum menghabiskan saat-saat terakhirnya dengan jasad Nadine. Hingga langit berubah gelap, barulah kakak tertua Nadine, Carla berjongkok dan meminta kembali agar mereka dapat membawa jasad Nadine pulang.

   Jaebum terpaksa melepaskannya. Melihat bagaimana dengan kekuatan tiga malaikat itu, tubuh Nadine terbungkus oleh balutan sayap-sayap putih.

   ”Kami pamit, Jaebum.” Ucap Jacinta.

   Jaebum mengusap matanya, mengangguk lemah, matanya tak lepas dari jasad Nadine yang melayang terbungkus oleh balutan sayap-sayap putih seperti peti jenazah.

   ”Terima kasih sudah sangat mencintai adik kami,” ucap Monica.

   ”Jaga dirimu baik-baik, Jaebum.” Pesan Carla saat kedua adiknya bersiap dibawah cahaya seperti lampu sorot yang berasal dari langit.

   Tidak menjawab, namun mengerti. Jacinta dan Monica terbang ke arah langit dimana sinar itu berasal dengan Nadine dalam balutan sayap. Meninggalkan Carla sendirian.

   ”Aku pamit,” kata Carla pada Jaebum. ”Mungkin hal ini akan sedikit meringankanmu… kami memutuskan mengambil jasad Yongguk, dan akan memakamkannya bersama-sama dengan Olivia.”

   Jaebum terperangah mendengarnya, namun mengangguk. ”Terima kasih.”

   ”Sekali lagi, jaga dirimu. Semoga kau segera menemukannya,” Carla melirik kelingking kanan Jaebum, dimana benang merah melayang-layang tipis di udara. ”Selamat tinggal, Jaebum.”

   Jaebum mengangguk, memandang malaikat itu melayang hingga menghilang dibalik awan-awan putih. Mengusap matanya, Jaebum berbalik dan berjalan pergi meninggalkan bukit itu. Angin bertiup pelan mengiringi kepergiannya, membawa daun-daun kering, dan tiga buah bulu dari patahan sayap.

   Dua putih, dan satu hitam.

   Cahaya dibelakangnya perlahan menghilang, dan digantikan dengan sinar rembulan. Tunas-tunas bermunculan. Kehidupan terus berjalan.

*           *           *

2 Minggu Kemudian

   Jaebum dengan balutan seragamnya berjalan menyusuri jalanan menuju sekolah yang sudah sangat familiar baginya. Berbagai memori melintas didalam kepalanya saat memasuki gerbang sekolah. Mengingat sosok Nadine—Cupid menyebalkan yang menjadi musuhnya, hingga berubah menjadi cinta sejatinya. Jaebum tetap yakin, bahwa hingga akhir hayatnya sebagai manusia nanti, di hatinya takkan ada yang dapat menggantikan posisi Nadine.

   ”Hei!”

   ”Jaebum!”
”Im Jaebum!”

   ”Jaebum Hyung~”

   Mark, Jackson, Youngjae, Yugyeom, Bambam, dan Jinyoung—teman-teman Mark dan Jackson, teman sekelasnya yang paling senang pergi ke klub, berlari-lari menghampirinya.

   ”Kau kemana saja selama dua minggu tidak masuk?!”

   ”Kau jalan-jalan ya?”

   ”Kau keluar negeri ya?”

   ”Mana oleh-oleh?”

   Jaebum tersenyum kecil dibombardir pertanyaan seperti itu. Tidak ada yang berubah, ternyata. Lalu apa yang terjadi dengan sosok Cha Sera?

   ”Ayo kita ke Triptych malam ini,” ajak Jackson bersemangat, sebelum kepalanya dipukul oleh Mark, ”Berhentilah clubbing!” omel Mark.

   Bambam berdecak sebal, ”Sumpah, Mark Hyung semakin tidak seru semenjak berkencan. Padahal Jihyo saja mau diajak clubbing.”

   ”Jangan macam-macam!” ancam Mark padanya.

   Jaebum mengikuti langkah teman-temannya ke dalam bangunan sekolah, dan mengikuti mereka ke barisan loker-loker. Jaebum memperhatikan Mark yang tiba-tiba saja mengagetkan sosok Jihyo dari belakang. Gadis itu pura-pura marah, namun Mark malah mencium keningnya dengan lembut dan keduanya kembali saling bertukar senyuman.

   Yah, kedamaian itu tak berlangsung lama, karena Jackson langsung muncul dan menawari Jihyo untuk ikut clubbing, diikuti Bambam. Dan bisa ditebak kelanjutannya, Mark langsung menjitak kepala mereka berdua, diiringi tawa nyaring Jihyo yang setengahnya menegur kekasihnya itu karena sudah bersikap kasar pada Jackson dan Bambam.

   Jaebum menggeleng dan membuka lokernya sendiri, mengambil buku-buku yang ia perlukan sebelum bel berbunyi dan melambaikan tangannya pada Youngjae, Jinyoung, Yugyeom, dan Bambam, serta mengikuti Jackson dan Mark menuju kelas. Bertanya-tanya, apa yang terjadi pada sosok Sera? Apakah Sera juga dikabarkan meninggal dunia?

   Selama pelajaran berlangsung, Jaebum tidak bisa berkonsentrasi dan hanya memikirkan apa yang terjadi pada sosok Sera, hingga ia tak menyadari bel istirahat berbunyi.

   ”Jaebum, ayo! Makan,” ajak Jackson sambil berdiri. ”Mark tidak akan ikut, karena ia pasti akan makan dengan Jihyo.”

   ”Ehm, Mark… err, kau dengar kabar soal Sera?” tanya Jaebum tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.

   ”Sera siapa?” tanya Mark sambil mengerutkan kening.

   Jackson buru-buru menyambar, ”Anak kelas berapa? Cantik?”

   Gantian Jaebum yang mengernyitkan dahinya. ”Se…sera, teman sekelas Jihyo, bukan?”

   ”Memang ada Sera di kelas Jihyo dan Yugyeom?” tanya Mark kepada Jackson yang notabene petugas sensus gadis-gadis sekolah. Jackson menggeleng dengan sangat yakin.

   ”Sera… Cha Sera?” tanya Jaebum terbata-bata. ”Yang duduk dengan Jaemin, dibelakang Jihyo?”

   Mark mengernyit, berusaha mengingat-ingat, ”Jaemin… yang dibelakang Jihyo? Dia duduk sendiri, Bro. Kau salah kali, mungkin teman sekelas Jinyoung, Yura?” tanyanya.

   Dari sanalah, Jaebum sadar bahwa eksistensi Cha Sera di dunia ini tidak pernah ada di memori mereka, atau dihapuskan. Namun ia masih ingat dengan jelas sosok Nadine atau Cha Sera dalam benaknya.

   ”Bro, are you okay? Ayo makan.” Ajak Jackson tidak menyadari bahwa Jaebum melamun.

*           *           *

”Bagaimana menurutmu, Sayang?”

   ”Kisah cinta mereka sangat suci dan indah, Gabriel.” Menatap kolam nasib di salah satu pancuran di Taman Firdaus, Michaela nampak bangga dan bahagia.

   Gabriel mengangguk. ”Kau benar. Satu cinta di dunia, memunculkan banyak cinta yang lainnya. Dengan semakin banyaknya cinta, maka peperangan perlahan-lahan akan segera sirna. Mereka jauh melampaui ekspektasi kita, betul?” Gabriel mengecup tangan istrinya.

   ”Putra Adam. Ia butuh tulang rusuknya…” gumam Michaela sambil mengerutkan dahinya menatap kolam, dimana aktivitas Jaebum terlihat begitu jelas.

   ”Tulang rusuk Putra Adam, tidak akan pernah jauh darinya, Michaela.”

   Michaela tersenyum, mengangguk.

*           *           *

Jihyo dengan ceria meletakkan nampan berisi tiga porsi lunch box, membuat seisi meja membelalak heran.

   ”Sayang, kau lapar?” tanya Mark heran.

   Jihyo menggeleng, ia meletakkan satu porsi di hadapan Mark.

   ”Lalu itu buat siapa? Buatku ya? Kebetulan sekali aku tidak bawa uang saku lebih…” ujar Youngjae, tangannya terulur hendak mengambil lunch box di nampan Jihyo, tetapi Jihyo menepuk tangannya.

   ”Ini bukan punyamu!”

   ”Lalu?”

   Keenam pasang mata menatapnya penasaran, terkecuali Jaebum yang sibuk membaca materi algoritma ujian susulannya. Absen selama dua pekan membuatnya ketinggalan banyak.

   Baru saja Jihyo hendak menjawab, seorang gadis membawa tiga buah kaleng jus muncul.

   ”Hai,”
”Whoa~”

   ”UHUK!”

   ”WOW!”

   Jihyo dan Mark geleng-geleng kepala, malu dengan kelakuan teman-teman mereka. Jihyo mempersilakan gadis itu duduk disampingnya, dan gadis itu ikut duduk.

   ”Siapa dia?” Yugyeom yang duduk disamping Jihyo menyikutnya.

   Jihyo memandang sekeliling meja, matanya berhenti pada sosok Jaebum yang masih serius. ”Yah, Jaebum Sunbae!” Jaebum mengangkat wajahnya ingin tahu, sebelum Jihyo meneruskan, ”Kenalkan, temanku… dia baru pindah di kelas sebelah.”

   ”Oh, hai…” sapa Yugyeom sambil melambai.

   ”Halo,” sapa Jinyoung.

   ”Yo whassap, my name is Youngjae.”

   ”Hai, aku Bambam~”

   ”Aku Mark,”

   ”Aku Jackson, biasa dipanggil Sayang.”

   Bisa ditebak kemudian kepalanya dijitak di kanan kiri.

   ”Jaebum Sunbae, hei! Kenalkan temanku…”

   Jaebum kembali mendongak dan menoleh ke samping Jihyo. Jika sebelumnya yang membuat Jaebum berpijak adalah gravitasi, detik itu juga gravitasi berpindah arah.

   Terpana, Jaebum tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Gadis disamping Jihyo…

   ”Halo semua, kenalkan… aku Hong Sera.”

-TAMAT-

 

Advertisements

One response to “Cupid vs Cerberus ~FINAL~

  1. Hong sera..pdhl nadine yah jd manusia…sukaaa bgtt..udh lama g bca…..tp langsung suka bgttt..d tunggu next karyanya y neez…semangattt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s