[Twelveblossom] Dear Husband: Heart Of Darkness

20180222_130634_0001

Twelveblossom(Twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Nara, Liv, dan Chanyeol | Romance, Marriage Life & Friendship | Wattpad: twelveblossom | Line@ @NYC8880L | twitter: twelveblossom

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel – The Way I Love You – I’m Okay Even It’s Hurt – If You Were Me – When You and I Become Us – Dealing With You – My Eyes On You – Love, Lies, and Life – Hold Back The Tears – Dear Husband: Special Part

“I’m a fool who only looks at you, oh what people keep teasing me. But I don’t care, whatever they say I only need you, all I wanna do.” Boomerang, Wanna One

-oOo-

Nara kembali cerah setelah kepulangan Sehun. Gadis itu lebih banyak tersenyum jika suaminya berada di sekitarnya. Ia juga mengenakan gaun-gaun indah selutut setiap sarapan pagi bersama di kediaman Keluarga Park. Paras cantik itu kini menemukan energinya lagi. Semuanya berjalan menyenangkan dalam kehidupan Jung Nara selama beberapa hari ini.

Nara menjungkitkan sudut bibirnya ketika Sehun turun dari lantai dua menuju ruang makan. Gadis itu masih mengenakan apron saat Sehun menghampirinya. Pelukan ringan dan kecupan kecil di kening sebagai rutinitas yang mereka lakukan.

“Di mana Liv dan Chanyeol?” tanya Sehun setelah mereka duduk.

Nara menunjuk ke lantai atas. “Liv sedang memberikan sup penghilang mabuk untuk kakakku,” jawabnya. Tangan Nara menerima sandwich yang sudah dipotongkan kecil-kecil oleh suaminya. “Chanyeol hangover semalam. Aku kasihan pada Liv soalnya kakakku agak gila kalau mabuk,” lanjutnya.

“Dia memang sudah gila dari dulu,” gumam Sehun sembari mengunyah.

“Aku harap dia tidak membahayakan Liv dan bayinya,” celetuk si gadis santai.

Sehun menghentikan kegiatan meneguk jus jeruk. Ia menatap Nara tajamgadis itu pun membalas pandangan Sehun. “Apa maksudmu, Nara?” tanya si pria.

“Eum tidak ada, aku hanya mengatakan hal konyol

Sehun menghela napas kasar. “Chanyeol memang mencintai Liv tapi dia tidak akan suka

Menurutku itu tak masuk akal. Mereka sudah menikah dan melakukan hal itu. Bagaimana mungkin Chanyeol bisa menolak?” Tentu saja, menikah juga untuk punya keturunan, bukan?”

Sehun memicingkan alis. “Kita menikah dengan perjanjian, Nara. Kau bahkan tak ingin melahirkan anak dariku

―Itukan dulu, tapi sekarang berbeda,” tegas Nara. Ia mengacungkan garpu pada Sehun. “Aku dulu belum menyukaimu. Kau terlihat seperti paman tua yang minta aku melahirkan bayi, mengerikan.”

Sehun mengetuk dagu. Pupil cokelatnya menunjukkan atensi pada gadisnya. “Kalau sekarang aku lebih setuju kau tidak usah melahirkan. Aku cukup puas kita hidup hanya berdua.”

“Apa kau tertular fobia Chanyeol yang takut pada anak-anak?” tanya Nara dingin.

“Bukankah dokter menyarankan kau untuk tidak

Aku enggan membahasnya sekarang,” sela Nara. Ia menunduk, pura-pura asyik dengan kudapan paginya.

Sehun lagi-lagi menghembuskan napas. “Cepat atau lambat kita akan membicarakan hal tersebut, Nara,” sergahnya.

Nara hanya bergumam dengan suara yang kurang jelas. Gadis itu sangat kecewa apabila mereka membahas mengenai bayi. Nara tahu jika suaminya sedih juga karena keterbatasan sang istri. Namun, Sehun hanya bisa semakin memojokkan Nara. Mengenaskan.

Sehun ingin menghibur Nara atas segala hal yang terjadi. Namun, dirinya juga tidak ingin istrinya melarikan diri dari semua fakta yang ada. Sehun ingin mereka menyelesaikan segalanya, sehingga tak ada hutang di masa depan.

Nara meletakkan secangkir susu hangat di nakas dekat ranjang milik Liv. Gadis itu sengaja datang ke sana pada siang hari setelah memastikan Sehun dan Chanyeol pergi bekerja. Nara melihat Liv duduk bersandar pada kepala ranjang. Jari-jari lentik Liv membelai perutnya yang mulai terlihat jika ada janin di dalam sana. Hampir setiap hari Nara melihat Liv mual, lalu memuntahkan makanan yang wanita itu lahap. Nara sadar Liv menderita, namun wanita itu enggan mengeluh sama sekali. Olivia Kim menghadapi semuanya dengan tegar.

Si calon ibu tersebut tersenyum simpul ketika menangkap sosok Nara yang kini duduk di hadapannya. Adik ipar yang memerhatikan dirinya lebih dari semua orang yang tinggal di kediaman Keluarga Park.

“Terima kasih, Nara,” vokal Olivia mengalun indah.

Nara menampakkan raut perihatin. Ia bisa merasakan kesedihan kakak iparnya, meskipun si wanita menutupi dengan senyum. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Nara pada akhirnya.

Liv enggan langsung menjawab, wanita itu menyisipkan surainya yang berantakan ke balik telinga. “Chanyeol sudah tahu jika aku hamil,” katanya pelan. Ia menenkan diafragmnya untuk bernapas. “Kami bertengkar semalam, dia pergi ke klub dan mabuk,” sambungnya.

Nara menautkan alis. “Dasar Chanyeol sialan berlebihan,” umpatnya lebih seperti dengungan lebah.

“Kami membuat kesepakatan lagi,” ungkap Liv. Ia melihat Nara sebentar kemudian membuang muka. “Aku harus mengurus bayi ini sendirian,” lanjut si wanita yang lantas membuat Nara berdiri karena marah.

“Dasar laki-laki, mereka mau saja membuatnya tapi tidak ingin mengurus!” seru Nara kesal. “Kau tunggu di sini, Liv. Aku akan ke kantor Chanyeol dan menghukum pria sialan itu.”

Tanpa menunggu tanggapan kakak iparnya, Nara melangkah lebar-lebar untuk melabrak Chanyeol. Entah apa yang akan dilakukan si gadis yang pasti Chanyeol tidak akan selamat kali ini.

Ini memang bukan pertama kali Nara datang ke kantor Chanyeol. Kakak laki-lakinya tersebut mendirikan sebuah firma hukum yang terletak di daerah Jung-gu dekat Myeongdong. Gedung yang terdiri dari tujuh lantai itu berdiri elegan dengan dominasi warna hitam dan emas. Dua pilar sebagai sanggahan menyambut Nara ketika memasuki bagunan tersebut.

Nara menunggu di lobi gedung ketika asistennya berbicara dengan resepsionis. Benar, Nara punya asisten pribadi sekarang. Well, Sehun yang memaksa. Apabila Nara hendak keluar dari kediaman Keluarga Park, dirinya wajib membawa asistennyawanita muda yang usianya mungkin lebih tua beberapa tahun dari Nara. Kalau tidak begitu, Sehun pasti mengoceh sepanjang hari.

Si Nona Muda membuka ponselnya untuk memangkas waktu. Ia menekan-nekan layar benda itu tanpa tujuan yang jelas. Selang beberapa menit dia mulai bosan, konsentrasinya pada handphone yang berada di tangannya pun terpecah. Nara mulai tertarik untuk berkeliling. Akhirnya, gadis itu berdiri dari tempat duduknya.

“Kenapa lama sekali?” keluh Nara pada kekosongan.

Nara berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti untuk melihat bangunan yang mayoritas dindingnya dilapisi kaca. Pupil Nara mengawasi orang-orang yang lalu lalang di sekitar. Mereka tampak sibuk melakukan kegiatan masing-masing tanpa memedulikan lingkungan. Matanya mulai menyipit menyadari sesuatu yang tak asing bagi dirinya.

“Appa,” bisik Nara saat dia melihat beberapa baris laki-laki yang mengikuti seorang pria. Mereka berada sekian meter dari lokasi si gadis.

Nara mengenali pria paruh baya itu sebagai ayah tirinyaTuan Park  yang seharusnya berada di Tokyo saat ini. Ayah tiri Nara tersebut turun dari lift firma hukum Chanyeol. Nara mencoba membaca situasi melalui pikirannya. Apakah alasan kuat yang membuat Tuan Park berkunjung ke sini? Setahu nara, hubungan antara Chanyeol dan Tuan Park kurang harmonis. Mereka hanya tampil untuk acara publik yang dapat mendongkrak harga saham keluarga.

Si gadis berlari kecil menuju laki-laki tersebut. “Appa!” panggil Nara lebih keras, namun suaranya tak dapat mengalahkan keramaian ruangan.

Nara hampir mencapai si pria paruh baya tetapi seseorang tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar, sehingga ia berbalik. “Sehun?” pernyataan Nara lebih serupa pertanyaan. Gadis itu mengerucutkan ujung bibir. “Kenapa kau berada di sini?” imbuh Nara, dia mulai terengah.

Sehun yang masih mengenakan setelan kantor. Pria itu terlihat tampan, aura dinginnya menambah kesan tak tersentuh serta membuat orang segan.

“Kenapa kau berada di sini?” Sehun membalik pertanyaan istrinya.

“Aku ingin bertemu Chanyeolada Appa di sana tadi―aw sakit Sehun,” balasan Nara terpotong karena cengkraman Sehun semakin kuat.

Sehun segera mengendurkan jarinya. Ia melepaskan Nara, setelah sadar jika istrinya kesakitan. Ekspresi pria itu tetap datar, ada nada marah dalam suaranya. “Aku sudah bilang padamu, kau harus tetap beristirahat.”

“Aku hanya ingin menemui kakakku. Aku juga sudah mengizinkan wanita sialanmaksudku pengawal wanita itu untuk mengikutiku,” Nara menunjuk meja resepsionis, tempat di mana asistennya terakhir kali terlihat. Gadis itu membolakan mata karena si wanita menghilang. “Apa dia hantu? Kenapa dia lenyap begitu saja dari sana. Kau lihatkan dia sangat tidak kompetenbagaiamana bisa dia meninggalkanku sendirian?” oceh Nara yang berusaha mengalihkan perhatian Sehun dan meredakan kemurkaan pada paras sang suami.

Sehun hanya memutar bola mata karena mengetahu trik licik Nara. Dia menggenggam tangan Nara kali ini lebih lembut dari sebelumnya. Si pria membawa gadisnya keluar dari gedung.

Tanpa banyak pertanyaan Nara mengekori si suami karena dia memang membutuhkan Sehun saat ini. Nampaknya kinerja jantungnya sudah mulai berlebihan hanya karena berlarian sebentar seperti tadi. Nara sadar ia butuh istirahat dan obatnya.

“Aku tadi betul-betul melihat Appa. Apa kau tak menyadarinya?” kata Nara ketika mereka sudah berada di lantai tiga The Evenue Park.

Mereka berbincang sembari menyantap makan siang di ruang kerja Sehun. Pria itu memastikan Nara melahap habis kudapan yang disajikan karena ia tahu bahwa istrinya sedikit kelelahan. Tentu saja, ada perdebatan kecil sebelum Nara mengikuti perintahnya. Sehun yang menang kali ini

“Mungkin saja,” gumam Sehun. Ia sibuk membuka obat yang harus diminum sang istri. Sehun menghapal semua obat yang harus masuk ke dalam tubuh si gadis. Ia sengaja melakukan hal tersebut agar dapat bertindak secara tepat apabila Nara terkena serangan jantung tiba-tiba.

“Apa kau tak bertemu dengannya saat ke ruangan Chanyeol?” Nara masih belum menyerah.

Sehun menghela napas, ia menekan emosi. “Berhenti penasaran, Nara. Aku rapat di Daehan Corp, kemudian asistenmu mengatakan bahwa kau berada di firma Chanyeol, letak tempat itu berdekatan. Makanya, aku mampir ke sana sebentar untuk menemuimu,” jelas Sehun. Ia menyerahkan pil yang sudah dipilahnya sesuai dengan kebutuhan Nara. “Aku juga tidak bertemu Chanyeol,” ia mengimbuhkan.

“Kau berbohong, ya?” selidik Nara. Gadis itu mendekatkan diri ke paras Sehun untuk meneliti pria yang berada di sampingnya tersebut. “Aku sudah mengenalmu hampir setengah tahun, Oh Sehun. Aku hafal sewaktu kau berdusta. Alismu ini naik-turun,” cetus si gadis. Jari Nara menunjuk alis suaminya, sebenarnya tidaklah bergerak serupa yang dituduhkan.

Bingo, tebakan Nara benar.

Sang suami memang sedang berdusta.

Hm, bukan Sehun namanya jika dia tidak dapat memutar strategi.

Sehun menyeringai, bukannya mundur laki-laki itu justru mengurangi spasi di antara mereka, hingga hidungnya saling bersentuhan dengan milik Nara. “Benarkah? Kau sudah dapat membaca bahasa tubuhku sekarang,” simpul Sehun, nadanya pelan dibuat menggoda.

Nara menahan napas. Rasanya ia seperti akan terserang asma, apabila terlalu dekat dengan suaminya. Bahkan Nara yakin pipinya telah merah.

Sang gadis rupawan itu hendak memalingkan wajah, tetapi tangan Sehun bergerak lebih cepat. Sehun menyentuh dagu Nara agar sepasang netra yang menjadi dunianya tersebut hanya terfokus pada dirinya.

“Jawab aku Nara, waktumu tiga detik,” ucap Sehun. Ia mengusap bibir Nara lembut menggunakan telunjuknya. “One …” Sehun mulai memiringkan kepala agar bibirnya dapat sejajar dengan milik gadisnya. “Two …” Sehun mengecup ujung bibir Nara sebelum hitungan ketiga.

Nara terkejut. Ini bukan kecupan pertama mereka. Mungkin sudah belasan kali Sehun menyatukan kailnya. Meskipun begitu, respons Nara tetap sama. Ia kelimpungan membalas lajur Sehun, apalagi ketika prianya mulai menarik tengkuk mereka untuk masuk ke dalam. Dirinya berusaha untuk menjernihkan pikiran, dia tak ingin terjerat lebih dalam. Benak Nara berucap, Sehun berusaha mengalihkan perhatiannya agar tak membahas mengenai Tuan Park.

Nara memukul dada Sehun sebagai perlawanan agar si pria sadar bahwa sang istri ingin bicara. Sehun mengendalikan perlawanan Nara dengan sangat mudah. Laki-laki yang berusia pertengahan tiga puluhan itu menggigit bibir bawah istirinya, lantas Nara pun mendesah tak terima.

“Sebentar lagi, Sayang,” ucap Sehun sebelum lidahnya memasuki milik gadis itu.

Nara meraih surai Sehun, menariknyaentah sebagai penyaluran frustasinya atau rasa lain yang membuncah pada dirinya. Nara benar-benar gila, setiap sentuhan suaminya pada raga ini membuat si gadis kehilangan kendali. Ia mulai kehabisan napas. Cengkraman jarinya mulai mengendur.

Nara yakin bahwa Sehun memahami kebutuhan istrinya akan oksigen karena tak berselang lama Sehun melepaskan kungkungannya. Sehun mengusap bibir Nara yang sedikit membengkak.

Nara terengah, dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Gadis itu menatap sayu suaminya. Nara malah mendapat balasan tawa yang menggelegar. Ia tahu kalau Sehun sangat puas dengan hasil perbuatannya. Tatapannya pun berubah galak. Ia memukul Sehunkali ini dengan seluruh kekuatannya.

Lantaran menghindar Sehun justru pasrah saja dan tertawa karena berhasil membuat Nara kesal. Pria itu menertawakan ekspresi Nara ketika murkahidung si gadis yang melebar, pipi merah, dan tatapan kesal khas Jung Nara. Sehun menikmatinya.

“Dasar menyebalkan!” seru Nara keras sebagai penutup aksi anarkisnya pada Sehun. Gadis itu berkacak pinggang. “Kau membuat lipstikku berantakan

Aku bisa meminta asistenku untuk membawakan lisptik baru untukmu,” sela Sehun. Ia memberikan jarak pada tubuh mereka.

Nara tersenyum kecut. “Itu sama saja dengan mengatakan pada seluruh kantor jika kita baru saja berciuman panas di ruanganmu. Astaga, aku baru sadar kalau karyawanmu pun sangat suka bergosip,” omel Nara seperti burung kenari yang sedang mengoceh.

“Tarik napas Nara, kau bicara terus. Apa tidak lelah?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan lagi,” tandas si gadis. “Apa Appa ke sini untuk membahas tentang Ahra?” ia melanjutkan.

Sehun mengatupkan senyuman yang tadinya terpampang jelas pada wajah tampannya. Ia membuang muka, berpura-pura melihat langit sore yang mendung. “Aku kira kita bisa untuk tidak mengungkit mengenai Ahra sebentar saja. Tapi, ternyata hal itu mustahil.” Jari Sehun menyentuh surai Nara yang halus. Ia membelai kepala istrinya. “Aku seharusnya tak mengatakan hal ini padamu, namun aku tidak tahan memikirkannya sendiri. Aku terlalu merasa nyaman denganmu, Nara. Lambat laun aku menjadikan dirimu bagian dariku.”

Nara meremas tangan Sehun. “Apa ini mengenai laki-laki yang memperkosa Ahra?” ada getir dalam dirinya saat si gadis mengucapkan pertanyaan tersebut.

“Aku telah melihat semua bukti yang diperlihatkan Kang Daniel padaku. Hal itu semakin membuatku bertanya-tanya, apakah Ahra dipaksa atau ia justru dengan suka rela datang ke pelukan laki-laki lain?” Sehun membalas sedih. Sang pria tahu cara membawa si gadis ke dalam lingkaran emosional.

“Apa yang bisa kulakukan untukmu, Sehun?” tanya Nara tanpa berpikir panjang.

Sehun enggan langsung menjawab, ia sengaja memberikan jeda beberapa sekon. “Aku membutuhkan ingatanmu. Mungkin, ibumu bukan lagi saksi kunci atas semuanya. Tetapi, aku yakin jika kau berbicara dengan Han Haera dan berkunjung ke beberapa tempatpelan-pelan potongan kenangan tersebut akan menjadi satu-kesatuan.”

Nara mengernyitkan alis. Cengkramannya pada tangan Sehun semakin erat. “SSehun, kau tahu aku tak dapat pergi ke Tokyo karena takut ketinggian,” Nara mulai tergagap. Ia mengatur napasnya agar tenang dan dapat berpikir jernih dalam merespons permintaan suaminya.

“Aku ingin menggunakan rencanamu dan Daniel soal menyuntikkan obat penenang saat kau berada di pesawat. Rencana ini lebih aman karena ada dokter yang ikut dengan kita dan dosis yang kau telan tak banyak. Minhyun akan membantu kita Nara. Kita akan melakukan hipnoterapi itu di tempat kejadian selama kau dan Ahra berada di Tokyo.”

“Bagaimana jika akumaksudku jantung ini bermasalah ketika melaksanakan rencanamu?” gumam Nara. Ia tak sanggup memikirkan betapa sakit raganya saat ia dipaksa mengingat.

“Aku memastikan kau dirawat oleh dokter terbaik

Apa kau sama sekali tidak mengkhawatirkan diriku, Oh Sehun?” potong Nara, nadanya meninggi. Gadis itu mendengus ketika suaminya bergeming. “Kelihatannya tidak. Aku menceritakan ini bukan karena menolak untuk membantu mengungkapkan kematian kakakku. Aku hanya ingin kau tahu saat kenangan itu menjadi mimpi buruk, tubuhku seolah ditusuk oleh ratusan bilah pisau. Aku tidak dapat bernapas, rasanya ada tangan-tangan yang mencekikku

Hentikan Nara,” potong Sehun. Ia berdiri dari duduknya, pria itu berbalik membelakangi Nara. “Kecurigaankuyang melakukan hal tersebut pada Ahra adalah Tuan Park,” ucap Sehun lelah. Ia seharusnya menyimpan ini untuk dirinya dan Chanyeol. Bahkan, Kang Daniel yang menjadi tangan kanannya pun hanya mengetahui separuh informasi. Namun dia tidak punya pilihan lain. Sehun harus membujuk Nara dengan cara ini.

“Apa kau gila, Sehun?” tanya Nara tanpa berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

Wajar saja si gadis mengatakan jika suaminya kehilangan akal sehat. Bagaiamana mungkin ia menuduh Tuan Park? Laki-laki paruh baya itu telah menjadi ayah sekaligus orang yang berjasa dalam membiayai kebutuhan keluarga Nara.

“Mana mungkin Ahra tidur dengan laki-laki yang dinikahi oleh ibuku!” seru Nara tidak terima. Dia berjalan ke hadapan Sehun gadis itu menarik tangannya. “Apa kau berusaha menyalahkan orang lain lagi?” lanjutnya masih enggan menerima fakta yang dibeberkan suaminya.

Sehun meremas bahu Nara. “Maka dari itu, kau harus ke Tokyo untuk membuktikan, Nara. Kita semua ingin tahu kebenarannya,” kata si pria, kemudian memeluk istrinya yang mulai menangis.

Nara hanya menggeleng. Bagi serebrumnya informasi yang baru saja diberikan Sehun sama sekali di luar nalar. Bukankah hanya binatang yang mampu memperkosa anaknya sendiri?

Sehun menyeringai sekilas, ia tahu benar bahwa ucapannya sudah mampu menarik Nara ke dalam rencana. Meskipun sebagian dari dirinya menolak mengorbakan wanita yang berada di dekapannya ini, Sehun tetap memegang logikanya. Dia memilih untuk menyelesaikan segalanya secepat ia bisa karena mereka sesungguhnya diburu oleh waktu.

Perjalanan rahasia itu tak diketahui siapa pun termasuk Kang Danielmungkin Sehun hanya dapat mengulur informasi ini beberapa jam dari sepupunya tersebut. Sehun membawa Nara ke Tokyo pada pagi hari berikutnya menggunakan jet pribadi milik keluarga besar The Three Clouds. Ia sengaja menyewa orang khusus untuk membantu mereka, tanpa campur tangan dari saudara-saudaranya. Sehun juga memercayai Minhyun sebagai dokter utama yang menangangi kondisi jiwa sang istri serta beberapa ahli jantung sudah dipersiapkan di Tokyo.

Sehun menggenggam tangan sang istri erat ketika mereka memasuki alat transportasi udara tersebut. Ia dapat merasakan apabila Nara ketakutan karena kungkungan jari-jari istrinya semakin kuat. Sehun hanya bungkam sepanjang perjalanan, dirinya menenangkan diri agar dapat memikirkan opsi lain jika rencananya nanti gagal. Prioritas keselamatan Nara memang nomor satu dalam seluruh akalnya, tapi semuanya bergantung pada situasi. Sehun membutuhkan ingatan Nara dalam keadaan utuh untuk memastikan bahwa Tuan Park merupakan dalang dari pemerkosaan Jung Ahra.

“Sehun, apa kau akan tetap di sini selama aku tidur?” tanya Nara saat dia mulai berbaring di kursi otomatis jet pribadi yang bisa berubah menjadi ranjang minimalis.

Sehun yang duduk di sebelah Nara mengangguk. Ia membelai paras si gadis lembut. “Semua baik-baik saja Nara. Minhyun akan membantumu tertidur sampai kita mendarat di Tokyo,” jelas Sehun. Ia memberikan isyarat melalui gerak tubuhnya pada Minhyun untuk segera menyuntikkan obat penenang pada Nara.

Si gadis mengernyitkan alis ketika jarum itu menembus kulitnya. Netranya tetap menjadikan suaminya sebagai atensi. Dalam hitungan menit, sosok Sehun mulai kabur. Rasa kantuk itu enggan ditahan. Nara tak dapat lagi mengendalikan diri. Telapak tangan Nara menyentuh rahang suaminya. Ada buliran halus di sana yang membuatnya semakin ingin menutup mata. Perlahan tapi pasti Jung Nara tertidur.

Sehun segera melepaskan tautan tangan mereka setelah Nara tak sadar. Ia memanggil asistennya. “Berangkat sekarang, sebelum diketahui Kang Daniel.” Sehun mengetuk dagu. Ada jeda sejenak sebelum dirinya kembali berucap, “Katakan kepada Chanyeol agar dia memastikan bahwa Tuan Park kembali ke Tokyo hari ini.”

“Baik, Presedir,” balas asisten Sehun patuh. Dia berjalan ke arah kabin pilot setelah memastikan tuannya tak menginginkan apapun darinya.

Sehun menghela napas kasar ketika perhatiannya kembali tertuju pada gadis yang berbaring di sampingnya. Nara tampak sangat pucat, dia serupa mayat hidup. Ada cubitan kecil yang membuat Sehun sedih melihat keadaan gadisnya.

“Apa dia mulai terengah-engah?” tanya Minhyun yang menghampiri Sehun setelah lima belas menit jet pribadi itu lepas landas.

Sehun menggeleng. “Napasnya teratur hanya tangannya saja yang dingin.”

Minhyun menyentuh pergelangan tangan Nara untuk memeriksa denyut nadi si gadis. Ia mengangguk karena hasilnya lumayan.

“Apa kau bisa membuat Nara tak kesakitan saat hipnoterapi nanti?” ujar Sehun nadanya datar.

Ekspresi kalem Minhyun berubah menjadi khawatir. “Membangunkan trauma seseorang seperti merobek kembali luka yang baru dijahit. Bisa saja terjadi infeksi apabila kita menanganinya dengan tidak tepat. Kita juga dapat mengobatinya lagi kemudian menjahit dengan benar, tapi bekas yang ditinggalkan sangat sulit hilang,” jelas pria yang telah menjadi kawan Sehun sejak di London. Ia menarik napas untuk memberikan ruang bagi perkataannya. “Nara memiliki kelainan jantung bawaan, dalam kondisi normal harapan hidupnya mungkin 10 sampai 20 tahun bisa lebih jika raganya kuat. Namun, trauma yang diderita gadis itu menjadikan harapan hidupnya semakin pendek sekitar dua sampai lima tahun

Ya! Berhenti bersikap terlalu jujur Hwang Minhyun,” potong Sehun.

Minhyun tersenyum. “Aku hanya ingin kau menghargai setiap waktumu dengan Jung Nara. Umur seseorang memang tak dapat diprediksikan secara pasti, meskipun begitu gadis ini sedang sakit Oh Sehunjangan sampai kau menyesal,” ujar Minhyun. Ia menepuk bahu kawan lamanya, kemudian kembali ke tempat duduk.

Nara mengerjapkan mata beberapa kali, dia terbangun dari tidurnya. Badanya terasa sangat ringan. Mungkin dia sudah terlelap selama beberapa jam. Alasan apapun itu Nara menyukai kondisinya saat ini. Si gadis meregangkan otot-otot yang kaku, setelah cukup puas Nara pun bangun kemudian turun dari tempat tidur.

Nara tak mengetahui di mana dirinya sekarang berada. Kamar yang sedang didiami tampak serupa ruangan untuk anak-anak. Ranjangnya lumayan besar dengan boneka jerapah dari segala ukuran mengelilingi. Nara yakin pernah melihat area ini sebelumnya entah kapan.

Nara butuh jawaban atas rasa penasarannya tersebut. Di manakah dirinya sekarang? Kenapa tidak ada seorang pun bersamanya?

Nara mulai melangkahkan kaki perlahan untuk menjawab pertanyaan dalam benak. Ujung kakinya yang seharusnya menyentuh dinginnya lantai marmer itu. Tetapi, ia justru merasa sedang berjalan beralaskan udara. Hanya ada desir angin yang menyentuh kulit. Tanpa satu pun beban dalam pijakannya.

Nara meraba paras. Ada yang berbeda. Raganya jauh lebih kecil daripada sebelumnya.

Gadis itu menuju cermin untuk melihat penampilannya sebelum menyimpulkan. Ia mematut diri, menatap bayangannya, lalu Nara pun terkejut.

Bukan Nara dewasa yang berada di sana, namun gadis kecil bersurai panjang. Rambutnya diikat dua menggunakan pita jerapah, sosok itu mengenakan piama yang serupa baju rumah sakit. Nara mundur beberapa langkah. Keterkejutannya berganti menjadi rasa rindu yang teramat dalam saat pintu kamarnya terbuka, seorang gadis yang dikenali Nara masuk.

“Baby Jung, apa kau sudah bangun?” celetuk seorang gadis yang teramat rupawan. Surainya tergerai lurus berwarna hitam, polesan liptint tipis merah muda yang senada dengan warna pipi, tubuhnya langsing dibalut gaun biru yang cantik.

Dia adalah Jung Ahra dalam ingatan Nara. Jung Ahra sebelum kecelakaan itu terjadi. Gadis cantik penuh kasih yang menjadikan adiknya sebagai prioritas.

“Kakak,” ucap Nara pelan.

Ahra tersenyum lebar. “Kakak membawakan sesuatu untukmu,” kata si gadis gembira. Ia menunjukkan sebuket bunga mawar yang indah pada si adik kecil. “Kau kan ingin tahu tekstur kelopak mawar itu seperti apa, jadi kakak membelinya untukmu. Kakak menghilangkan durinya untukmu. Jadi, kau bisa melukisnya dengan benar sekarang,” lanjut Ahra sembari menyerahkan bunga itu.

Nara menerima buket dari Ahra. Si gadis mencium wangi mawar. Ia tersenyum. Nara tersentuh sebab kakaknya membelikan ini agar Nara bisa menghapus kebosanannya di rumah sakit dengan melukis.

“Aku merindukan kakak,” gumam Nara, lalu menghambur untuk memeluk saudarinya.

Ahra menarik ujung bibir. Ia berlutut agar tinggi mereka dapat sejajar. “Gadis cantik, kakak sangat menyangimu. Semua orang berkata jika kita sangat mirip, meskipun …” Ahra menggantung ucapannya. Ia membelai pipi sang adik.

Nara menyadari ada nada duka dalam suara Ahra. Seolah sang kakak baru saja diberi pil yang sangat pahit. Nara pun ingin menghiburnya.

Tangan Nara menggenggam jari-jari milik Ahra. Dia menatap pupil kakaknya yang berwarna cokelat muda. Gadis itu menyukai kenangan kali ini, di mana sang kakak tak menyakitinya. Hanya ada kelembutan yang memang Nara rindukan sedari dulu.

“Tentu saja Nara mirip Kakak Ahra karena kita memang saudara,” bisik Nara. Satu kalimat penuh kesungguhan meluncur dari bibir Nara.

Tatapan Ahra yang penuh kasih pun seolah luntur. Gadis itu mengganti sayangnya menjadi kebencian yang membara. Ia seolah baru saja dibakar oleh api yang dinyalakan Nara.

“Apa yang kau katakan, Nara? Kau dan aku dilahirkan oleh wanita yang berbeda,” tandas Ahra, vokalnya tak lagi sama.

Kelembutan yang ditawarkan sebelumnya berubah menjadi sesuatu yang kasar ketika tangan Ahra yang berada di pipi Nara menarik surai si adik dengan keras.

Nara pun menjerit.

“Apa kau ingin mengejekku karena aku berasal dari rahim wanita rendahan yang dihamili oleh ayah kita?” Ahra menatap Nara yang memberontak kesakitan. “Aku bahkan harus menggantikanmu untuk menjalani semua ketololan itu,” tambahnya.

Nara mencoba memberontak. Ia memukul tangan saudarinya agar dibebaskan dari rasa sakit. Nara berusah melolong, namun suaranya terlanjur habis.

Lantaran melepaskan siksaan, Ahra justru tertawa melihat adiknya menderita. Gadis cantik yang tadi berada di sana seolah berganti menjadi monster.

Tiba-tiba pintu itu terbuka lagi, Han Haera memasuki ruangan. Wanita itu sangat terkejut menyaksikan apa yang berada di hadapannya. Ibu kandung Nara segera menarik Ahra agar tidak lagi menyentuh putrinya.

“Apa yang kau lakukan pada adikmu?” tanya Haera intonasinya tinggi. Ia sangat marah.

“Dia bukan adikku. Aku tidak ingin lagi berpura-pura menyayanginya hanya untuk membuatnya bersemangat hidup. Aku tak ingin memenuhi permintaanmu karena kau bukan ibuku. Kau tak pernah menganggapku sebagai anakmu

Han Haera menampar Ahra. Tangannya bergetar setelah sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya pada gadis mudayang dulu dibesarkannya seperti anaknya sendiri. Han Haera terlampau terkejut dengan semua adegan dan enggan menyangka bahwa Ahra yang lembut bersikap demikian.

“Apa ibu menamparku?” tanya Ahra sedih. Telapak tangannya memegang pipinya yang merah. “Ibu akan membalas ini dengan kehilangan semuanya. Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia!” bentak Ahra, lalu pergi dari ruangan itu.

Nara masih berada di sana. Ia adalah saksi hidup atas kejadian tersebut. Si gadis hanya bungkam. Nara dipukul telak oleh fakta yang baru saja didengarnya.

Jung Ahra tidak dilahirkan oleh ibu, batinnya terus mengulang.

Kenyataan tersebut terlampau pahit.

Nara pun ikut terluka.

Gadis itu mulai menangis ketika mendengar suara sedu sedan ibunya.

Tangisan penyesalan yang menyayat hati dibisikkan oleh keduanya

-oOo-

a/n:

Part selanjutnya juga dapat dibaca di It’s too Late to Realize

Atau langsung mengunjungi blog twelveblossom.wordpress.com untuk membaca cerita lain. 

Blog: twelveblossom.wordpress.com | Wattpad: twelveblossom | Line@ @NYC8880L | twitter: twelveblossom

Advertisements

2 responses to “[Twelveblossom] Dear Husband: Heart Of Darkness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s