My Boyfriend Is An Actor Chapter 1

Author : namitsutiti

Title : My Boyfriend Is An Actor
Cast : Park Jimin (BTS) as actor & Anisa Liani (OC) as make up artist
Place : Indonesia
Theme : Slice Of Life
Genre : Romance
Length : Short Chapter
Summary : Park Jimin seorang idol korea dikontrak untuk menjadi Pemeran utama sebuah drama di Indonesia. Bertemu dengan gadis pendiam, Anisa Liani, seorang make up artist.

*
*
*
Terlihat sibuk semua orang di lokasi syuting. Termasuk seorang gadis cantik yang tengah mendandani salah satu aktor.

“Maaf Oppa, pejamkan matamu sebentar.”

“Baiklah.”

Gadis itu, Anisa Liani memoles bagian kelopak mata sang aktor menggunakan bedak.

Park Jimin, nama aktor tersebut, merasakan gadis di depannya ini melakukan pekerjaannya sembari menahan napas.

“Tunggu,” Jimin menahan Anisa tanpa ia sadari. Tadi itu refleks tapi Jimin juga tidak ingin langsung menariknya.

“I-iya, Oppa?” Anisa sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan Jimin. Badannya tiba-tiba terasa panas dingin.

Jimin memegang tangannya. Anisa akan ingat selalu kejadian ini.
Anisa menundukkan pandangannya. Tidak sanggup menatap lawan bicaranya lebih lama. Ia semakin merasa gugup.

“Apa kamu ingin mati, Nona?” Jimin memicingkan mata.

“E-eh?” Anisa kebingungan mendengar perkataan Jimin.

“Kamu mendandaniku sambil menahan napas.” Jimin menjelaskan.

“A-ah, m-maaf.” Kini emosi perasaannya semakin bertambah. Selain gugup, Anisa merasa sangat malu. Bodohnya ia. Pasti Jimin bisa menebak mengapa Anisa melakukannya.

“Kamu gugup terhadapku?” Jimin menyeringai. Ia melihat Anisa semakin gelagapan. Jimin berpikir itu sebuah hiburan bisa menggoda orang lain terlebih lagi tipe pemalu seperti gadis di hadapannya ini.

“Apa aku terlalu tampan?” Jimin semakin semangat menggoda Anisa.

Sementara sang korban, wajahnya kian memerah. Anisa menunduk lagi malu-malu. Ia sering mendandani beberapa aktor tampan. Tetapi untuk Jimin, Anisa tidak bisa merasa biasa-biasa saja. Apakah karena Jimin seorang idol korea?
*
*
*
Waktu telah menunjukkan pukul 22:15. Kesibukan syuting itu pun selesai. Crew segera membereskan peralatan syuting. Begitu juga Jimin. Ia merasa begitu lelah. Mungkin karena itu adalah kali pertama Jimin bermain drama.

Jimin bergegas menuju parkiran. Ia ingin segera sampai di apartemen. Membersihkan tubuhnya yang cukup gerah.

Sebelum Jimin sampai ke tempat mobilnya, ia berpapasan dengan Anisa. Waw, melihat gadis pendek itu cukup menghiburnya. Rasa lelahnya sedikit berkurang.

“Hai, Nona.” Jimin menyapa Anisa.
Lagi-lagi membuat Anisa terkejut. Betapa ramahnya Jimin. Pikir Anisa.

“H-hai juga, Oppa,” balas Anisa kaku. Ia merasa bingung. Antara buru-buru pergi atau menunggu Jimin lebih dulu. Anisa tidak ingin Jimin berpikir kalau ia bukan gadis yang sopan. Padahal Anisa sungguh ingin menghilang dari pandangan Jimin. Lelaki itu selalu menggodanya. Jimin selalu tahu bagaimana membuatnya mati kutu.

“Tempat tinggalmu ke arah mana?”

“Di jln Niaga Hijau Raya.”

“Ah, aku juga melewati arah sana.” Anisa mencatat itu dengan baik.

“Ah, bagaimana kalau kita pulang bersama?” Jimin menyunggingkan senyumnya.

“A-apa?” Anisa begitu shok. Seumur-umur. Baru kali ini ia diantar seorang lelaki. Dan itu adalah seorang idol terkenal di korea. Anisa sungguh senang atas keberuntungannya ini.

“T-tapi…”

“Cukup jangan dilanjutkan. Karena aku ingin. Sesederhana itu.” Jimin menarik tangan Anisa untuk mengikutinya.

“T-tunggu, bagaimana kalau ada yang melihat kita?”

“….”

“Bagaimana kalau ada yang memotret kita?”

“….”

Jimin mengabaikan Anisa. Ternyata disaat situasi seperti ini Anisa bigitu cerewet. Jimin merasa senang mendengarnya.

“Oppa, t-tanganku?” Anisa semakin memerah dibuatnya.
*
*
*
Di dalam mobil, Anisa menatap jalanan tidak tentu arah. Ia gelisah juga gugup. Mimpi apa dia bisa ‘sedekat itu’ dengan idolanya.

Ya, Anisa adalah salah satu fans Jimin. Ia adalah fans paling beruntung di dunia ini. Ketika yang lain hanya bisa melihat Jimin dari jauh, ia bahkan semobil dengan Jimin. Berdua saja.

Anisa ingin berbicara banyak kepada Jimin. Namun tidak ada satu kata pun yang keluar. Anisa merutuki sifatnya yang begitu pendiam. Selain itu, di tempat kerjanya saja ia tidak pernah membuka percakapan. Anisa hanya akan tersenyum ketika mereka menatapnya.

Jimin pun tidak berkata apa-apa. Ia ikut diam. Menikmati betapa tidak nyamannya Anisa duduk di sana.
*
*
*
Mobil yang dikendarai Jimin telah sampai di depan gedung kosan Anisa.

“T-terima kasih Oppa sudah mengantar. M-maaf merepotkanmu.”

Anisa mengatakannya sembari menunduk.

“Tidak masalah.”

“Oh ya, apa kosanmu itu bebas?”

Anisa menatap Jimin sebentar. “I-iya.”

“Baguslah. Ngomong-ngomong apa aku boleh mampir?”

Pertanyaan yang terlintas dipikirannya adalah, mengapa idola seterkenal dia mau melakukan itu semua.

Jimin tersenyum melihat kebimbangan Anisa. Mengapa ia begitu tertarik terhadap semua hal tentang Anisa?

“Baiklah, kalau kamu memang keberatan, aku akan mengurungkan niatku.”

Tanpa sadar Anisa menghela napas lega. Jimin melihatnya. Anisa itu, lucu.

“Tapi, kamu harus menyetujui ini. Aku ingin menjalin hubungan dengan mu.”

Ah, Anisa sudah tidak tahan lagi. Apa yang dirasakan hatinya, ia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Beginikah rasanya ‘ditembak’ seorang lelaki?

Jimin itu, bahkan Anisa tidak pernah bermimpi, bahwa impiannya akan menjadi kenyataan. Bisa menjalin hubungan dengan dia, idol terkenal. Anisa tidak menyangka kalau pekerjaannya mengantarkannya kepada Jimin.

“M-maaf Oppa, berhentilah bercanda denganku. Bagaimana mungkin Oppa yang seorang idol ingin bersamaku?”

Anisa mencoba bersikap tenang. Ia tidak ingin Jimin mengatakan itu sebagai candaan. Anisa hanya tidak ingin terlalu berharap. Melihat seharian ini Jimin selalu senang menggodanya.

Jimin meraih dagu Anisa, “ karena itu, tatap aku ketika berbicara.”

Perlahan, Anisa mendongak menatap Jimin. Kini warna merah di pipinya terlihat jelas. Anisa tidak percaya dengan semua itu. Kejadian hari ini.

“Apa aku terlihat sedang bercanda?” Anisa menggelengkan kepala cepat.

“Jadi, sekarang hanya jawab ‘iya’.” Jimin menunggu dengan sabar. Terdiamnya lagi seorang Anisa.

Dua menit pun berlalu. Akhirnya Anisa sudah bisa bersuara.

“I-iya.”

Jimin tersenyum lebar mendengarnya. “Kenapa tingkahmu itu selalu menggemaskan?” Anisa berpikir bagian mananya ia bertingkah menggemaskan. Ia tidak mengerti.

“Itu tidak tahan untukku…” Jimin menggoda Anisa menggunakan matanya. Ia mengerlingkan matanya. Anisa tersipu malu.

“U-untuk apa?” Tanya Anisa penasaran. Jimin cukup lama menggantungkan kalimatnya.
Jimin mendekatkan wajahnya ke depan Anisa. “Menurutmu, untuk apa?”

Anisa sungguh malu. Semakin merahlah wajahnya. Jarak ini terlalu dekat untuknya. Lantas ia menghindari pandangannya ke samping. Anisa berusaha keras menahan degupan jantungnya. Meski itu gagal. Pasti dengan jarak seperti ini, Jimin bisa mendengarnya.

Jimin sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Anisa. Karena itu, Jimin menyentuh lagi dagu Anisa. Memaksa gadis itu untuk melihatnya lagi.

“Tolong berhentilah bersikap manis di hadapanku. Itu membuatu semakin ingin…”

‘CHUP’

“…menciummu.”

Ah~~ kepala Anisa serasa blank. Apa itu yang barusan dilakukan Jimin?

Jimin menyentuh kedua pipi Anisa, “Kalau kamu terus diam lagi, aku ingin menciumu kembali.”

Akhirnya Anisa langsung sadar. Ia belum ingin Jimin melakukan itu lagi sekarang. Ya, sekarang. Anisa tidak ingin jantungnya ‘berolah raga’ lagi. Itu membuatnya lelah meski sangat menyenangkan.

“Y-yasudah aku akan masuk. Oppa pulang lah.” Anisa melihat Jimin mengangguk sembari senyum-senyum.

Anisa membuka pintu mobil Jimin. Tangannya bergetar ketika memegang pintu mobilnya. Untungnya Jimin tidak bisa melihat itu karena posisinya yang membelakangi Jimin.

“S-sampai jumpa.” Anisa mengucapkannya saat sudah diluar.
Bukannya menjawab salam Anisa, Jimin malah ikut keluar dari mobil.

“Sepertinya aku ingin bersamamu lebih lama. Boleh kalau aku ikut menginap?”
*
*
*
Jimin ikut berjalan di samping Anisa. Entah apa yang dipikirkan gadis itu. Anisa selalu mendunduk ketika bersamanya. Apakah Anisa sungguh sangat pemalu.

Yang dirasakan Anisa sekarang semuanya campur aduk. Ditambah lagi Jimin ingin menginap di tempatnya. Anisa merasa gugup dan bingung. Apakah tidak masalah kalau kekasihnya menginap di tempatnya? Bahwa Anisa malu menyebut Jimin sebagai kekasih. Bagaimana kalau terjadi yang tidak-tidak? Gimana pun, Jimin seorang lelaki dan itu adalah kekasihnya.

Semakin banyak dipikirkan, tanpa sadar ia telah sampai di depan kamarnya.

Anisa merogoh kunci di dalam tas nya. Kunci dengan gantungan boneka kecil berbentuk Doraemon.

‘KLEK’

“M-masuklah, Oppa.”

Jimin melihat ada sebuah TV dan sofa panjang. Sebuah kasur yang muat untuk dua orang. Di sampingnya ada sebuah lemari. Di sudut ruangan ada sebuah pintu. Sepertinya itu kamar mandi.

“Oppa duduklah dulu. Aku akan menyalakan air panas dan mengambil handuk untukmu.”

Jimin berjalan menuju sofa. Ia mendudukkan dirinya di sana. Sofa itu cukup empuk.

“O-oppa mandilah lebih dulu. Aku akan menyiapkan tempat tidur untukmu. T-tidak apa kan kalau di sofa? A-ah apa aku yang harus di sana?”

Jimin menyunggingkan senyum. “Pertama-tama, mengapa kamu selalu berbicara gugup? Apa aku selalu menakutimu?” Anisa menggelengkan kepala.

“Santai dan tenanglah. Bicara dengan pelan. Tidak perlu kaku denganku. Ingat kita sepasang kekasih sekarang. Kemudian, siapa yang harus tidur di sofa? Kita akan tidur bersama di kasur.”
*
*
*
TBC
.
.
Hai semuanya. Balik lagi nih. Coba-coba bikin hehe. Sebelumnya selalu kandas bikin yang chapter. Mudah-mudahan kali ini bisa sampai selesai ya.
Yang udah baca mohon tinggalkan like komennya ya,

Mampir juga ya ke blog pribadi

namitsutiti.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s