WE GOT MARRIED (CHAPTER 1 KEMBALI KE KOREA) #EXO & YEOJA! SEHUN

cover exo & yeoja Sehun copy

Judul :

We Got Married

(EXO & YEOJA! Series)

Cast :

OH SE HUN

LEE HERA

Other Cast :

find yourself 🙂

Genre :

family, romance, friendship, drama

Note :

Ini masih ff yang sama, tentang Sehun yang dingin dan Lee Hera yang pemberani namun agak ceroboh. sebenernya gak diubah sih alur ceritanya, masih sama kaya yang waktu itu tapi, oke ini kelamaan, sudah hampir dua tahun ff ini stuck gak maju – maju. trus pasti banyak yang sudah melupakan juga ff ini sih sepertinya dan pergi meninggalkan ff ini uuunncchhh :(( duh aku gak bisa berkilah kalau aku kadang mles nulis dan sibuk dengan dunia nyata yang kuhadapi apalagi banyak hal yang terjadi dua tahun belakangan ini yang menurutku cukup berat  *cie curhat* dannn aku tak dapat memaksa kalian untuk mengikuti ceritaku atau ff yang aku buat but, kalau menurut kalian aku harus lanjut, aku akan lanjut dan aku sangat butuh dukungan dari kalian. love you guys!! ❤

Chapter 1

Kembali ke Korea

Tuan ini berkas yang tuan inginkan.”

Pria bermata tajam itu mengalihkan pandangan pada sekertaris ayahnya. Wajahnya agak tertekuk. Ya, ia sedikit kesal karena seharusnya seminggu yang lalu ia pulang ke kampung halamannya. Tapi, latihan untuk menjadi penerus perusahaan keluarganya dua minggu ini mengharuskannya untuk tetap tinggal di disini. Berkutat dengan laptop dan berkas – berkas yang diberikan tuan Kim-sekertaris ayahnya itu.

“Taruh saja disitu.” tunjuknya pada bagian meja yang masih kosong.

Tuan Kim meletakkan berkas tersebut pada tempat yang sudah ditunjuk. Kemudian ia menatap sang calon pewaris perusahaan dan tersenyum sedikit melihat ekspresi wajahnya yang terlihat agak kesal. Tuan Kim tau betul, jika calon pewaris perusahan ini pasti merasa lelah dengan semua yang majikannya tugaskan untuk anaknya ini.

“Ekhem,” tuan Kim mencoba menarik eksistensinya. “Maaf Tuan muda, Anda tidak lupa bahwa siang ini, Tuan Oh menyuruh Anda untuk menemuinya kan?”

Sehun-sang calon pewaris menghembuskan nafas lelah. Sejujurnya ia lupa. Ayahnya menyuruhnya untuk makan siang bersama sebelum ia pulang ke Korea. Tunggu, memang. . .

“Siang ini?” tanya Sehun untuk memastikan pendengarannya dan asumsinya.

“Benar tuan.”

Tunggu, jika siang ini berarti. . . Ahhhh hari ini ia pulang ke Korea bukan? Sehun tersenyum. Tuan Kim yang melihat perubahan mood dalam diri Sehun ikut tersenyum.

Sehun melirik jam tangan hitamnya, “Setengah jam lagi. Benar?”

“Iya tuan.” Jawab tuan Kim mantap.

“Aku akan bersiap.” Sehun bangkit dari kursi, sedikit merapikan jas dan dasinya kemudian tersenyum pada tuan Kim. “Kau sudah memesan tiket pesawat untukku kan?”

“Tentu saja tuan,” jawab kembali tuan kim sambil agak menundukkan kepalanya.

“Baguslah.” ucap Sehun yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

***

“Appa tidak akan ikut pulang? kenapa?”

Kini Sehun sudah bersama tuan Oh dan menikmati makan siangnya dengan perasaan senang karena hari ini kan ia akan pulang. Bertemu eommanya.

Tuan Oh menelan makanannya kemudian menjawab pertanyaan Sehun. “Kau tau, banyak hal yang harus kuselsaikan disini.”

“Appa tak merindukan eomma?”

Tuan Kim menghembuskan nafasnya. “Tentu saja. Tentu saja aku sangat merindukan eommamu.”

“Setidaknya sempatkan untuk pulang. Ini sudah 2 bulan appa meninggalkan eomma.”

“Aku yakin dia mengerti. lagi pula lusa Appa akan menyusulmu ke Korea.”

Sehun hanya memanggut-manggut dan kembali menyuapkan makanan kemulutnya.

“Kau sudah menghubungi eommamu?”

Sehun mengangguk.

“Kau tidak lupa dengan gadismu kan?”

“Hmm, aku tidak lupa. Selama ini Lay selalu memberi perkembangan bagaimana pertumbuhan dia.”

“Baguslah. Kuharap kau segera bertemu kembali dengannya.”

“Hmm.” Sehun menatap piringnya. Sebentar lagi ia akan bertemu gadisnya. Ya gadisnya.

“Dan adikmu–Taeyong akan masuk institut Le Rosey tahun ini.” Tuan Oh menatap Sehun, menumpukan dagu dikedua tangannya yang saling  bertautan, “ia akan mendapat pendidikan yang layak disana.”

Sehun tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari luar kaca jendela restoran. Le Rosey? ucapnya dalam hati. Itu lebih dari sekedar layak. Sekolah termahal di dunia dengan fasilitas dan biaya yang WOW? Sehun tak sabar menantikan kelulusan Taeyong beberapa tahun yang akan datang.

“Appa yakin akan memasukannya kesana?” kini Sehun menatap Appanya, “Apakah ia akan bergaul dengan baik?” karena Sehun tak yakin Taeyong akan bergaul dengan baik.

“Aku yakin. Dia selalu menyebut dirinya pangeran kan? ia bahkan bersikap seperti raja di sekolahnya sekarang. Mengapa tak kita masukan saja ia ke ‘School of Kings’ itu. Sikap arogannya mungkin akan hilang jika bergaul dengan anak para raja?” pertanyaan terakhir Appanya terdengar tidak yakin di telinga Sehun.

Sehun tertawa, “Yang benar saja? setelah lulus, ia akan menjadi orang yang sangat besar kepala. Menceritakan atau memamerkan foto – foto dirinya dengan anak – anak raja? Sejujurnya aku kurang setuju.”

“Tapi disana tak ada siswa yang memamerkan harta mereka atau berusaha bersaing dalam hal kekayaan.”

“Itu mereka Appa. Berbeda dengan Taeyong.”

Tuan Oh terdiam, mencoba mencerna pendapat Sehun. Anak bungsunya memang berbeda dengan kakak – kakaknya walau sama – sama agak dingin namun sikap arogan Taeyong dan sikap main – mainnya kadang berlebihan.

“Appa akan pikirkan kembali. Kita akan mencari solusi untuk mendidiknya dengan metode yang baik.”

“Oh ya, apakah Hyung akan kembali juga ke Korea?” tanya Sehun saat mengingat kakak laki – lakinya–Oh Myung soo atau yang biasa disebut L.

Tuan Oh meminum air putihnya terlebih dulu sebelum menjawab. “Entahlah, tapi Appa sudah menyuruhnya pulang. Eommamu mengomel padaku karena sudah hampir empat tahun ia tak kembali ke Korea.”

Sehun mengangkat bahunya. Kakaknya itu menjelma menjadi workholic setelah cabang hotel keluarga yang berada di Jerman resmi diserahkan sepenuhnya kepadanya dua tahun lalu. Tak aneh jika ia rela tak pulang ke rumah dan berusaha mengembangkan perusahaannya. L adalah orang yang ambisius dan gampang tertarik pada hal yang membuatnya penasaran.

“Aku akan mencoba menghubunginya. Aku juga berharap Appa cepat pulang. Pasti eomma ingin kita semua berkumpul kembali.”

Setelah itu Sehun melihat jam tangan Sevenfriday limited edition P3C/01 yang berada di tangan kirinya. Jam tangan yang baru dibelinya beberapa bulan lalu itu menunjukan pukul 03.45 PM. Dua jam sebelum keberangkatannya ke Korea.

“Apa ada hal yang perlu kulakukan lagi Appa?”

Tuan Oh menggeleng, “Aku akan ikut mengantarmu ke Bandara.”

***

Setelah beberapa jam perjalanan udara, akhirnya Sehun tiba di Bandara Internasional Incheon. Sehun memegang perutnya yang kembali kontraksi. Ia membutuhkan toilet saat ini. Untung saja ia sudah mendarat. Sakit perutnya ini pasti gara – gara Almer yang memaksanya memakan Vindaloo–makanan pedas dari India–kemarin malam. Ayam yang entah mengapa terasa pedas sampai ketulang – tulangnya itu dipaksa masuk kemulut Sehun oleh teman dekatnya itu.

Terkutuk! umpat Sehun dalam hati dan kembali masuk kedalam toilet sementara itu. . .

Chen yang sekarang duduk menunggu dikursi bandara merasa menyesal tak membawa benda panjang penghubung suara dari ponsel ke telinganya. Setidaknya ia dapat mendengarkan musik. Ia sudah hampir satu jam duduk terdiam dan puluhan kali melirik jam tangan hitamnya menunggu sahabat yang katanya pulang hari ini dari Amerika. Sejujurnya ia sudah merasa kesal dan akan menyerah saja. Tapi ini sahabatnya. Ya, sahabat yang sudah ia kenal dari 17 tahun lalu. Apa pantas ia menyerah sekarang?

Ponsel Chen berbunyi. Satu pesan masuk dari Suho.

Hey, mengapa lama sekali? kalian terjebak macet?

Chen mendengus. Bahkan ia belum keluar dari Bandara sejak hampir sejam lalu. Mengapa Suho tak bertanya saja pada si beruang yang katanya pulang hari ini? atau jangan – jangan Suho dan yang lainnya sedang mengerjainya sekarang? Bagaimana jika si beruang itu tak pulang sekarang? Oh god!

“Ternyata kau disini?”

Chen mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan menatap pria berjas hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Akhirnya si beruang datang juga. Chen tersenyum. Rasa kesalnya pudar seketika ketika melihat sahabat yang dirindukannya kini berdiri dihadapannya.

Chen bangkit dan segera memeluk pria itu, “Sehun!” ucapnya keras, “kau begitu lama!” Chen melepas pelukannya, “dari mana saja? kau tersesat di Bandara heh?”

Sehun tersenyum, apakah ia harus bercerita jika ia pergi menuntaskan masalahnya di toilet dan mencari obat untuk mengatasinya? “Aku tak bisa menahan perutku.” Hanya itu saja yang keluar dari bibirnya. Tak mungkin Sehun harus bercerita panjang lebar kan? Chen pasti mengerti.

Chen menatap perut Sehun dan kembali menatap wajahnya. “Baiklah. Tapi apa kau sudah merasa baikan?”

Sehun mengangguk. “Aku sudah meminum obat.”

Dahi Chen berkerut, “Separah itu kah? sampai kau harus meminum obat?”

Sehun hanya membalasnya dengan senyum yang di paksakan. Ia malas menceritakan rasa Ayam Vindaloo itu.

Chen yang mengerti ekspresi sahabatnya itu langsung merangkul pundaknya, “Selamat datang kembali di Korea!” teriak Chen senang.

Sehun tertawa kecil melihat Chen yang mulai melompat – lompat sambil tetap merangkulnya dan mengiringinya berjalan keluar Bandara.

“Kau menjemputku sendirian?”

Chen mengangguk membenarkan, “Yang lain sangat sibuk. Kau tau kan mereka itu bagaimana?”

“Hmm” Sahabatnya yang lain seperti Suho, Kris, Lay dll memang sibuk dengan perusahaan dan sekolahnya. Tak menjemputnya bukan berarti tak ingat padanya kan? lagi pula mereka sudah tau jika dirinya pulang hari ini lewat grup chat.

“Jadi kau akan mengantarku sampai rumahkan?”

“Tentu saja.” Chen tak bisa menyembunyikan senyumnya, “aku akan berkunjung. Tak apa kan?”

Sehun membalas senyum Chen. “Tentu saja.”

Sehun tak bisa mengalihkan pandangannya dari tempat – tempat yang dilaluinya ketika dalam perjalanan menuju rumahnya. Seoul. Rasanya sudah lama ia tak kembali dan tentu saja banyak yang berubah. Apakah tempat bermainnya ikut berubah?

Chen sesekali melirik Sehun yang terdiam melirik keluar kaca mobil. “Banyak yang berubah?”

“Hmm.” jawab Sehun singkat. “Apa tempat bermain kita juga berubah?”

“Tidak.” Chen membayangkan bukit dan rumah pohon tempat mereka bermain sejak kecil. “Aku dan yang lain tak berniat mengubah tempat itu. Banyak kenangan berharga. Benar kan?” Chen sekilas melirik ke arah Sehun. Ia bisa melihat persetujuan Sehun akan kata – katanya dari anggukan kepalanya.

“Aku senang bisa kembali dan bersama dengan kalian.” Sehun mencoba menerawang, “Banyak hal yang kulewatkan disini. Bahkan aku tak bisa melihat bagaimana perkembangan ingatannya?”

“Dia baik – baik saja namun ingatannya belum pulih. Lagi pula Lay selalu mengawasinya dari jauh.”

Sehun mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Dan bagaimana dengan Kris? Apakah ia sering megunjungi kalian disini?”

“Dua minggu sekali ia ke Korea. Ia sangat sibuk dengan perusahaan yang akan di wariskan kepadanya di Shanghai. Perlahan semuanya sibuk dengan urusan masing – masing. Lay juga mengembangkan cabang restorannya, Suho akan mengurus cabang perusahaan appanya yang di busan dan sebentar lagi, tentu saja kau akan sibuk dengan bisnis appamu juga kan?” jelas Chen panjang lebar.

***

Seorang gadis menggenggam erat tangan anak perempuan yang kini sedang terengah-engah dibelakangnya. Mereka berdua berlari untuk menghindari kejaran pria botak berbadan gemuk yang terlihat geram. Tak hanya pria botak itu, segerombolan yang terlihat seperti preman ikut mengejar gadis yang kini menelusup kearah gang sempit.

“Eon–nie?” gadis itu mencoba memanggil gadis cantik yang tengah menyeretnya. Nafasnya tak kuat untuk memanggil orang yang ia anggap pahlawan ini.

Gadis itu melirik kebelakang, mencoba melihat anak perempuan yang sedang dibawanya. Anak itu terlihat kelelahan, wajahnya agak memucat. Mereka sudah berlari cukup lama dan mungkin anak itu sudah tak kuat lagi.

“Kau lelah?” tanya gadis itu agak terengah dan dijawab anggukan lemah oleh si anak perempuan.

Gadis itu berfikir keras agar mereka dapat lolos dari kejaran para pria yang ia yakini mereka adalah salah satu komplotan jaringan penjualan anak.

Satu ide terlintas di benaknya ketika dari kejauhan ia melihat sebuah rumah tua yang membuat gadis itu tersenyum, mungkin ia bisa bersembunyi disana untuk sementara waktu. Tak mungkin terus berlari karena anak yang dibawanya sudah kelelahan.

Tanpa pikir panjang ia menggendong anak perempuan itu dan berlari dengan cepat memasuki perkarangan rumah. Ia bersembunyi di belakang rumah itu dan segera menurunkan kembali anak kecil yang digendongnya. Si botak dan preman preman terus berlari dan melewati tempat persembunyian mereka.

Dengan lega gadis itu menghembuskan nafas. Kemudian atensinya beralih pada anak perempuan yang dibawanya, “Kau tak apa – apa?”

“Hm” jawab anak perempuan itu sambil mengangguk.

Gadis cantik itu tersenyum, “Baguslah, sekarang mari kita pulang.”

***

“Yoonhae!!!!” teriak seorang wanita paruh baya yang langsung menghambur memeluk anak perempuan yang menjadi anak asuhnya di panti asuhan. Wanita itu tak henti – hentinya berucap syukur sambil menangis.

“Oh Tuhan. Aku tak tahu bagaimana nantinya jika Yonnhae-ku tak kembali.”

“Kang Ahjumma, sudahlah jangan menangis lagi, Hera sudah menemukannya.” ucap seorang gadis yang membawa dua gelas air ditangannya. Ia menyerahkan gelas yang berada di tangan kananannya ke anak perempuan yang bernama Yoonhae dan gelas yang lain kepada gadis cantik yang membawa Yoonhae, Lee Hera.

Ibu panti itu mengusap matanya yang basah dan beralih kepada Hera, “Hera-ya… Ahjumma sangat berterimakasih padamu. Jika tak ada kau, kita tak tahu bagaimana nasib Yoonhae nantinya.” ia menggenggam erat tangan Hera.

Hera tersenyum lembut, “Ne, Ahjumma. Aku senang bisa membantu dan—aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku.”

Gadis si pembawa gelas–Jinsang ikut tersenyum melihat ibu panti dan sahabatnya. Hera memang anak baik dan sahabat terbaik yang dimilikinya.

Keharuan itu tak bertahan lama, karena pintu terbuka dengan keras dan tedengar hentakan kaki yang terdengar kesal.

Tiga perempuan yang larut akan keharuan itu saling memandang dan bingung ketika seorang gadis berumur 18 tahun datang dengan seragam yang basah dan mata berkaca – kaca.

“Hyeri!!!” teriak Kang Ahjumma. “K-kau kenapa sayang?”

Kang Hyeri. Salah satu anak panti itu berhambur memeluk Kang ahjumma. “Eomma—” nafasnya tak beraturan, “p-pria itu kejam. Ia terus membullyku!!!” teriaknya agak histeris.

Lee Hera yang mendengar itu seketika berdiri dan menghampiri Hyeri. “Kau di bully?”

Hyeri hanya mengangguk dan terus menangis di pelukan Kang Ahjumma. Hera memandang Jinsang sekilas dan bertanya kembali.

“Siapa yang membullymu?”

“Oh Taeyong.”

“Oh Taeyong?” beo Hera.

“Ia anak ketiga dari keluarga Oh pemilik resort Dream land.”

Keluarga Oh? Dream land? nama – nama itu tak asing ditelinga Hera. Ia mengenal keluarga itu dari eommanya.

“Anak ketiga? Oh Taeyong. Baiklah, serahkan padaku. Aku tau siapa dia.”

Hera pernah bertemu sekali dengan Oh Myung soo dan Oh Sehun, kakak dari Oh Taeyong. Tapi ia belum pernah bertemu dengan Taeyong. Sesungguhnya Hera malas bertemu anak – anak dari keluarga Oh. Mereka memang sangat arogan. Hera benci mereka.

***

Oh Taeyong baru saja pulang dari sekolahnya. Wajahnya sangat kusut. Ia benci hari ini. Hari yang dianggapnya sungguh sial. Karena lagi – lagi teman – temannya mengusilinya.

“Kau sudah pulang?” ucap eommanya yang membawa kue kering dari dapur.

“hmm.” Jawab Tae malas. Ia ingin segera ke kamarnya.

“Kau kenapa?”

“Tidak.”

Tae hendak melangkah menuju kamarnya hingga suara ribut dari ruangan bermainnya menarik perhatiannya. Ia mengerutkan kening.

“Ada apa?” tanyanya pada diri sendiri sedikit penasaran. ia melangkah menuju ruang bermain. Ruangan yang sering ia, L dan Sehun pakai untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.

Sesampainya disana. Ia melihat sahabat Sehun sedang menghias ruangan tersebut dengan kertas warna warni, balon dan berbagai pernak pernik yang biasa dipakai untuk memberi kejutan ulang tahun.

“Siapa yang ulang tahun?” Tanya tae setelah memasuki ruangan.

Suho yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya menjawab pertanyaan Tae. “Tentu saja menyambut kepulangan kakakmu Taeyong.”

“Hah? Siapa yang pulang?” Tae menghampiri Suho dan duduk disebelahnya.

“Coba kau tebak.” Kini pria jangkung dengan telinga aneh yang menjawab. Pria itu bernama Park Chanyeol. Kakak kelas Tae di sekolahnya dan salah satu pangeran sekolah yang diagungkan wanita.

Tae memperhatikan orang – orang yang berada di ruangan tersebut. Suho, Chanyeol, D.O, Lay, dan Luhan. Semuanya sahabat dekat Sehun dan tentu saja yang pulang. . .

“Oh Sehun?”

“Tepat sekali!” jawab Luhan yang sibuk memasangkan banner selamat datang di tembok. Luhan juga sama seperti Chanyeol, kakak kelas Taeyong disekolah. “Memangnya kau tidak tahu?”

“Tidak” jawab Tae lesu. Eommanya pasti lupa memberitahunya.

“Mungkin tadinya Sehun ingin memberikanmu kejutan.” Ucap Luhan sambil turun dari bangku. Ia selsai memasang banner. “Kita yang akan memberikan kejutan padanya.”

Taeyong tersenyum. “Hyung benar. Hahahaha”

Nyonya Oh datang dan bertanya, “Apakah semuanya sudah siap?” ia meletakkan kue dengan tulisan ‘selamat datang’ di  meja.

“Kurasa semuanya sudah siap.” Ucap Lay. Ia berdiri dari sofa.

Suho ikut berdiri, “Ya semuanya sudah siap dan Chen sudah membawa Sehun pulang.”

“Chen menjemput hyung di bandara?” Tae menatap eommanya, “mengapa eomma tak menyuruhku menjemputnya?”

“Kau sekolah dan tak boleh bolos.”

Luhan dan Chanyeol menatap Tae lalu tersenyum kasihan.

“Ini menyebalkan.” Ucap Tae kesal.

***

Sehun dan Chen akhirnya sampai di kediaman keluarga Oh. Sehun tersenyum memandang bangunan megah di depannya. Rasanya sudah lama ia meninggalkan rumah, batinnya.

Chen tersenyum melihat Sehun yang diam. Ia tahu pria ini pasti sangat merindukan rumah. “Jadi kau mau masuk apa diam disitu?”

Sehun beralih menatap Chen yang mengeret koper miliknya dan kakinya melangkah mengikuti Chen yang mulai memasuki rumahnya.

Suasana di dalam rumah terasa sepi. Sehun mengerutkan keningnya, kemana eommanya? Kemana adiknya? Apa eommanya lupa jika hari ini ia pulang?

“Sudah lama juga aku tak mengunjungi rumahmu. Semenjak kau pergi, aku tak pernah kembali kesini.”

“Seharusnya kau kemari saja meski tak ada aku.” Sehun menghempaskan tubuhnya ke sofa, ia mengeluarkan ponselnya, “eommaku kemana ya?”

Chen mengangkat bahunya, “lebih baik kita bersantai diruang bermainmu yu, aku ingin mengenang kebersamaan kita disana.”

Sehun diam sejenak namun akhirnya memutuskan untuk mengikuti Chen yang terlebih dulu pergi.

Chen diam di depan pintu, “kau yang buka.”

“kenapa?”

“Ya jelas karena kau pemilik ruangan ini.”

Sehun menyentuh handle pintu dan perlahan membuka pintu.

“SELAMAT DATANG!!” teriak orang – orang dari dalam.

Sehun tersenyum, di depannya berdiri eomma, Taeyong, Luhan, KAI, D.O, Suho dan Lay. Lay yang super sibukpun menyempatkan untuk menyambut kepulangannya?

Nyonya Oh menarik Sehun untuk duduk di kursi, “kemarilah kau pasti lelah.”

“Selamat datang kembali di rumah hyung!” Tae merangkul Sehun. Sehun menatap Tae yang tingginya hampir sepantaran dengannya.

“Kau sudah besar.”

Tae melepas rangkulannya, ia mengambil beberapa cemilan di meja. “Tentu saja aku sudah besar. Aku sudah mau menyusulmu.”

Kini sehun beralih menatap Lay, “kau berbohong soal kepergianmu ke China?”

Sebelumnya Sehun menghubungi Lay dan memberitahu kepulangannya yang mendadak, namun Lay meminta maaf jika ia tak bisa menjemput Sehun karena ia sendiri akan pergi ke China. Kenyataanya saat ini Lay berada disini, ikut menyambut kepulangannya.

“Aku tak berbohong. Aku tak ingin melewatkan waktu 2 minggu untuk bertemu denganmu. Jadi aku membatalkan penerbangan tadi sore dan menggantinya nanti malam.”

“Aku juga orang sibuk jika kau ingin tahu,” Suho merapikan jasnya dan dasi hitam dikerahnya tak ingin kalah dengan Lay, “kau lihat, sekarang aku seorang CEO muda.”

Suho memang baru beberapa bulan ini belajar untuk memegang perusahaan. Perusahaan keluarga Suho bergerak di bidang IT. Suho pernah bilang bahwa ia tak begitu tertarik dengan perusahaan appanya. Dari dulu Suho ingin menjadi dokter spesialis jantung. Suho juga berencana menyerahkan perusahaan keluarga sepenuhnya kepada D.O. Tapi, untuk sekarang, mau tak mau ia harus menjalankan perusahaannya sampai D.O siap untuk melanjutkan. Sambil ia tetap kuliah di jurusan kedokteran tentunya.

“Jadi kau berubah pikiran? Kau mau jadi seorang CEO perusahaan IT?” Luhan menatap D.O, “Sepertinya kau harus menguatkan niatmu untuk bekerja di NASA.”

“Tidak, tidak. Aku hanya CEO muda sementara, nanti ia yang akan menggantikanku secara permanen. Jas hitam ini akan berubah menjadi jas putih. Jadi bersabarlah D.O!”

D.O menatap Suho sambil menggeleng tak habis fikir. Kakaknya agak kekanakan. Membanggakan dirinya yang saat ini menjadi CEO muda namun menegaskan bahwa ia akan menjadi calon dokter?

“Jadi bagaimana sekolah kalian?” Sehun bertanya pada Chanyeol dan Kai yang sedari tadi sibuk dengan cemilan mereka bersama Taeyong. “Kalian tidak berbuat yang aneh-aneh kan di sekolah?”

“Kami anak baik-baik. Benarkan?” Tanya Kai meminta persetujuan Taeyong dan Chanyeol. Mereka berdua mengangguk menyetujui. “Yang harusnya ditanya itu dia!” tunjuk Kai pada Luhan.

“Aku?” Luhan menunjuk dirinya sendiri, “Kenapa aku?”

“Kau yang suka membuat onar di sekolah. Wanita selalu menjerit histeris bahkan menangis sampai terlihat gila jika berhadapan denganmu.” Ucap Chanyeol sambil mengunyah makanannya.

“Itu bukan salahku!” bantah Luhan. “Yang jelas, kalian bertigalah yang selalu berbuat onar.”

Chanyeol dan Kai memang terkenal karena mereka merupakan orang yang dianggap pangeran squad disekolah. Tapi sikap mereka yang urakan, membuatnya mendapat predikat bad prince dari para wanita. Walau bad, mereka tetap disenangi oleh para gadis, meski tak sebanyak Luhan.

“Aku tak pernah ikut – ikutan mereka. Aku hanya terseret.” Taeyong mulai membantah, karena kalau tidak ia bisa dituduh yang macam – macam oleh eommanya. Ia tak ingin ketahuan bagaimana sikapnya di sekolah.

Sehun menikmati percakapan sahabat-sahabatnya. Walau memang tak lengkap, ia masih tetap bersyukur dan ingin terus menyimpan ingatan kebersamaan ini.

“Oh ya, Kris meminta maaf padamu karena ia tak bisa datang. Ia belum pulang dari Shanghai, ada sedikit masalah disana. Xiumin juga masih dalam tugasnya, ia akan menghubungimu nanti.” Ucap Suho menyampaikan ketidakhadiran Kris dan Xiumin.

Seperti diingatkan, Chanyeol juga memberitahu alasan si cerewet Baekhyun yang belum bisa hadir, “Baekhyun juga sedang dalam masa pelatihannya. Ia akan menghadapi perlombaan piano tingkat nasional.”

“Ya, mereka sudah menghubungiku.” Ucap Sehun sambil mengangkat ponselnya.

“Tao. Dimana dia?” Tanya Chen saat sadar tak melihat keberadaan sahabatnya yang terkenal astral.

“Dia sedang berburu.” Jawab Kai asal, “mungkin dia sudah kehabisan stok dirumahnya.”

“Bukannya dia pergi ke Alaska?”

“Ya dia pergi ke Alaska untuk berburu.” Jawab Kai lagi.

D.O hanya mengangguk – anggukan kepalanya.

“Aku pergi duluan.” Lay melihat jam tangannya, “maaf Sehun aku tak bisa lama.” Lay pamit pergi.

Yang lain melihat kepergiannya. Sebenarnya Sehun ingin berbincang dengan Lay. Mungkin belum waktunya, melihat Lay terlihat sibuk.

“Kadang aku kawatir dengannya,” Suho memasukan kedua tangannya ke dalam saku. Suaranya agak sedikit rendah dan mungkin hanya bisa di dengar oleh Sehun yang berada disampingnya.

“Kau benar.” Ucap Sehun, “Dia seperti L hyung. Sangat cinta pada pekerjaanya.”

TBC

Terima kasih sudah membaca dan silahkan tinggalkan jejak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s