[Vignette] Insiden Kentang Dadu by ShanShoo

jungkook

ShanShoo’s present

BTS’ Jungkook, Minhee (OC), BTS’ RM (Namjoon)

family, comedy ♠ vignette ♠ teenager

—oOo—

Nuna, jangan mempermalukan dirimu sendiri, seandainya nanti kau berjodoh dengan Namjoon hyung dan hingga saat itu kau masih belum bisa memotong-motong bahan masakan dengan benar.”


WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

—oOo—

Ack!” Jeon Minhee memekik nyeri, ketika pisau di tangannya yang digunakan untuk memotong dadu kentang, menggores jari telunjuknya. Darah segar langsung keluar. Minhee terpaksa mengisap darah itu meski rasanya sungguh aneh―seperti rasa logam dan… ugh! Pokoknya aneh!

Tak lama, Jungkook datang dari arah ruang tengah dengan raut wajah penasaran. Begitu tahu kalau kakak perempuannya itu terkena goresan pisau di jarinya, ia mendesah berat.

“Masih belum mahir memotong kentangnya, huh?” tanya Jungkook. Jeon Minhee berharap adanya nada meledek dari perkataan Jungkook, tetapi ia sama sekali tidak mendengarnya. Jeon Jungkook hanya memasang ekspresi datar―menyerempet bosan, seolah kejadian kecil seperti ini sudah merupakan hal yang sudah biasa baginya.

Sembari menyingsing lengan sweter birunya, Jungkook berjalan mendekati Minhee. Ia mengambil alih pisau di tangan sang kakak, sementara Minhee memandangnya dengan kening berkerut-kerut jengkel.

“Cepat, cuci sana lukanya. Nanti infeksi. Biar aku yang menyelesaikan tugas memotong-motong kentangnya,” suruh Jungkook.

Biasanya, Jeon Minhee akan langsung menyalaknya, layaknya anjing galak. Namun, anehnya, saat ini dia hanya menuruti perintah adik laki-lakinya itu dan berjingkat menuju wastafel dapur untuk membersihkan sisa darah serta luka gores di jarinya.

Nuna, jangan mempermalukan dirimu sendiri, seandainya nanti kau berjodoh dengan Namjoon hyung dan hingga saat itu kau masih belum bisa memotong-motong bahan masakan dengan benar.”

Oh. Agaknya perkiraan Minhee meleset parah. Nyatanya, Jungkook melontarkan ucapan itu dengan nada meledek bercampur tawanya yang tertahan. Minhee mendesahkan napas panjang di sela kesibukannya di wastafel. Lantas, setelah dirasa jarinya sudah agak baikan, Minhee melesat pergi ke kamarnya untuk mengambil plester dari dalam kotak P3K, sebelum ia kembali ke dapur untuk memukul belakang kepala adiknya yang kini sedang memasukkan kentang dadu tadi ke dalam panci sup.

“Diam kau, Bocah!” gerutu Minhee, kesal.

YaNuna!” Jungkook terkesiap dan lekas memegang kepalanya yang terkena pukulan. Saat membalikkan tubuh menghadap Minhee, ia mendapati ekspresi sangar di wajah gadis itu yang berkacak pinggang karena emosi.

“Bisakah kau tidak mengaitkan hal apa pun tentangku dengan Kim Namjoon?” kata Minhee, tajam.

Si laki-laki Jeon sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh cara bicara Minhee serta gestur tubuhnya yang menunjukkan amarah kelewat besar. Dia malah melipat tangan di depan dada, menatap si kakak mungil yang tingginya hanya mencapai dada bidangnya dan menyahut, “Lho, memangnya kenapa? Bukankah kalian berdua saling menyukai?”

“Bocah ini!” Minhee berdecak sebal. “Siapa bilang? Aku tidak menyukainya!”

Oho… lihatlah!” Jungkook menuding hidung bangir kakaknya. “Kau bahkan sama sekali tidak berbakat sebagai tukang membual. Akui sajalah, Nuna. Lagi pula, Namjoon hyung memang benar-benar menyukaimu. Dia mengatakannya langsung padaku saat kami bermain ke rumah Seokjin hyung.”

“Wah….” Minhee tertawa kesal. “Kau ini pandai sekali membuat nuna-mu emosi, ya?”

Jungkook mengangkat sebelah bahunya singkat, berlagak tak acuh.

“Begini, Nuna,” kata Jungkook. “Pertama, tadi, sebelum kau meminta untuk mencoba membuat sup ayam kentang ketika ayah dan ibu pergi, aku sudah mengajarimu bagaimana cara memotong dadu kentangnya lebih dulu―karena aku tidak bisa menyerahkan bagian memotong ayamnya padamu begitu saja, bisa-bisa bukannya ayam yang kau potong, melainkan semua jari tanganmu,” Jungkook berujar panjang lebar, dan ia tidak mengizinkan Minhee menyela. “Kedua, kau mencoba memotong kentang pertama, tapi kau gagal. Aku mengajarimu lagi, dan kau gagal lagi. Dan luka yang kau dapat ini hasil dari percobaan pertama memotong kentangnya, bukan?”

Minhee memasang ekspresi terperangah. Tahu dari mana bocah sialan ini?!

“Tentu saja aku tahu. Tadi aku melihat kentangnya masih berjumlah sama sebelum aku datang kemari.” Jungkook dengan mudah menebak pemikiran Minhee. “Jadi, bukan salahku kalau aku membicarakan tentang ketidakmampuanmu memotong kentang dan berujung membicarakanmu dengan Namjoon hyung.”

Sepertinya, bibir Minhee dijahit menjadi satu, membuatnya tak mampu membalas satu pun ucapan menyakitkan adiknya yang terlontar dengan nada setengah bercanda, setengah mengejek. Namun, tidak ada yang tahu pasti bukan, bahwa bisa saja kebisuan Minhee berakhir pada tangannya yang meraih spatula di tempat penyimpaan alat memasak dapur dan memukuli pantat berisi Jungkook sekeras mungkin?

AW! NUNA! NUNA! BERHENTILAH MEMUKULKU―ARGH!” Jungkook berlari meninggalkan dapur, mencoba menyelamatkan bokong seksinya dari pukulan maut kakaknya, juga menghindari sepasang telinganya dari ucapan kasar yang memboyong semua nama binatang dari bibir tipis perempuan itu dalam sekejap.

Beruntungnya Jeon Jungkook, karena laki-laki itu berhasil masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Menghalau pantatnya dari kejaran spatula di tangan Minhee.

“KEMARI KAU, BOCAH SIALAN! KAU BENAR-BENAR TIDAK TAHU APA ITU SOPAN SANTUN, HUH? YA! KELUAR DARI KAMARMU! CEPAT!!!” Pekikan Minhee sungguh luar biasa kencang. Bisa-bisa, seluruh kaca rumah retak hanya karena getaran hebat dari suara teriakan seorang Jeon Minhee yang terlampau nyaring.

Selagi mengucap syukur sebanyak-banyaknya, Jeon Jungkook beringsut ke tempat tidur untuk menyambar ponselnya―yang syukurnya juga ia simpan di sini, tidak ia bawa keluar―lalu bergegas menghubungi nomor ponsel milik Kim Namjoon.

Tidak butuh waktu lama bagi Jungkook untuk segera mendengar sahutan si laki-laki Kim dari seberang sana.

HYUNG! GAWAT! MINHEE NUNA MENGAMUK!” teriak Jungkook, heboh. Masalahnya, Jeon Minhee masih meraung-raung di balik pintu kamarnya dan itu sungguh tidak baik bagi kesehatan telinga serta jiwa mudanya.

Kim Namjoon malah tertawa setelah mendengar laporan Jungkook. Seakan perkara Jeon Minhee yang mengamuk tidak lagi menjadi topik mengejutkan bagi hidupnya. Bukankah Jeon Minhee memang sering sekali mengamuk karena tingkah menyebalkan adiknya?

“JEON JUNGKOOK!”

Itu suara Minhee yang tertangkap ke pengeras suara ponsel Jungkook, sehingga Namjoon bisa mendengarnya dengan jelas.

“Kakakmu benar-benar mengamuk?” tanya Namjoon, mendadak cemas. Dan jujur saja, Namjoon juga dilanda rasa takut setelah mendengar suara Minhee. Apalagi Jeon Jungkook?

“Kau pikir aku berbohong?” sahut Jungkook, panik. “Bisakah kau kemari dan menenangkannya? Sepertinya dia butuh obat bius dosis tinggi agar cepat-cepat tenang!”

Hening.

Tidak ada lagi teriakan menggelegar Jeon Minhee di balik pintu kamarnya.

Aneh.

H-Hyung… Minhee nuna… sepertinya sudah tidak berteriak lagi?” kata Jungkook, gusar dan masih merasa takut.

“Benarkah?” Namjoon menyahut. “Apakah aku sebaiknya ke sana saja, Jung?”

“E-entahlah….” Jungkook menelan ludahnya susah payah, seiring kaki jenjangnya melangkah mendekat ke arah pintu untuk memutar kunci dan membuka pintunya perlahan.

Pintu terbuka. Presensi Jeon Minhee tidak tertangkap atensi.

Oh, haruskah Jungkook mengembuskan napas lega dan mengucap syukur sebanyak yang ia bisa?

CTAK!

Sayangnya, tidak. Karena rupanya Minhee pandai bersembunyi dan ketika ada kesempatan kala Jungkook keluar kamar, gadis itu langsung saja bertindak memukul jidat lebar Jungkook yang masih menelepon Kim Namjoon. Pukulan itu menghasilkan pekik kesakitan laki-laki itu, disusul tawa Minhee yang penuh kepuasan.

Nuna!” Jungkook mengusap-usap keningnya keras-keras yang mulai menimbulkan rona merah hasil pukulan Minhee. Kau tidak bisa membayangkan betapa ajaib nan kerasnya pukulan gadis itu. Jeon Jungkook sampai bisa melihat ada banyak burung-burung imajiner yang berkelebat di depan matanya sedang terbang berputar-putar.

“Jungkook? Ada apa?” Namjoon berkata, setengah panik, setengah menahan tawa karena sebenarnya ia juga mendengar suara hantaman keras juga ringisan kesakitan Jeon Jungkook.

Minhee, dengan tatapan sinisnya, mengambil alih ponsel di tangan Jungkook. Ia pun berbicara, “Halo, Namjoon?”

“O-oh… Minhee-ya, apa kabar?” Namjoon mencoba menstabilkan nada bicaranya agar tidak terkesan gugup dan takut.

“Begini, Namjoon,” Minhee berdeham lebih dulu. Tatap masih terarah pada si menyebalkan Jeon Jungkook yang menatapnya nanar. “Kalau kau memang punya obat bius berdosis tinggi, segera bawa kemari. Aku akan memberikannya pada Jungkook agar setidaknya ia bisa diam dan tidak mengganggu ketenangan hidupku.”

“H-huh?” Namjoon menelan ludahnya susah payah. “T-tapi aku tidak punya…”

“Kalau kau punya, Namjoon-ssi.” Jeon Minhee mendadak berubah menggunakan bahasa formal. “Kalau tidak punya, ya, sudah. Biar aku mencarinya sendiri.” Pip.

Nu-nuna… kau tentu bercanda, bukan?” Jungkook mengusahakan senyum manis terbit di bibirnya, meski jatuhnya jadi terlihat kaku dan aneh.

Minhee tersenyum setan. “Menurutmu, Adik Kecil?”

Hening.

Sepasang kakak adik itu mematung sesaat, dan tanpa bisa diduga sedikit pun, Jungkook menyambar ponsel di tangan Minhee lalu melesat kembali ke kamar dan mengunci pintunya.

“Jeon Jungkook!” Lagi, Minhee berteriak seperti orang kesetanan.

Jungkook menghubungi nomor ponsel Namjoon.

Namjoon menerimanya dengan cepat dan Jungkook berseru, “HYUNG! BANTU AKU…”

“Tamatlah riwayatmu, Anak Muda,” sahut Namjoon, prihatin.

Beberapa detik berselang….

“JUNGKOOK! SUPNYA!!!”

―end

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s