Just Because

cr pict: pinterest

Cast: You and Kim Hanbin (iKON)

—–

Deadline kita minggu depan, ingat?”

Sontak kau tersentak.  Kau lantas memandang pria yang baru saja menjatuhkan setumpuk kertas di atas mejamu. Kau pun memberikan tatapan tidak terima kepada pria itu. Tapi kau tidak bisa berbuat banyak, karena dia adalah atasanmu.

Belum sempat kau bersuara, bosmu itu kembali berbicara. “Oiya, jangan lupa laporan yang kemarin kusuruh, harus sudah kau berikan padaku besok. Mengerti?” Pria di hadapanmu itu mengedipkan sebelah mata. Seolah kata-katanya barusan adalah rayuan paling manis di dunia.

Kau pun membuang napas sesaat setelah bosmu berlalu pergi. Lantas kau menoleh ke sekitar, dan mendapati semua orang di ruangan itu terlihat sibuk dengan komputer yang menyala di hadapan mereka.

Kau mengembuskan napas sekali lagi. Sudah sejak satu bulan terakhir jam tidurmu berkurang banyak. Bahkan sesekali kau harus menginap di kantor demi memenuhi deadline yang mendesak. Semua itu karena rekan satu timmu mengudurkan diri bulan lalu, sehingga pekerjaanmu pun bertambah menjadi dua kali lipat.

Well, hidupmu tidak akan menjadi semakin menyedihkan jika kau memiliki atasan yang pengertian. Namun sayangnya, bosmu adalah orang paling menyebalkan nomor satu dalam hidupmu. Bosmu seringkali sewena-wena dalam memberikan perintah dan sama sekali tidak memahami suasana hatimu.

Misalnya saja hari ini. Kau benar-benar dalam suasana hati yang kacau, namun bosmu sama sekali tidak bisa membaca itu dari wajahmu dan justru melipatgandakan pekerjaanmu.

Kau ingin memberitahu dunia bahwa kau tidak sedang baik-baik saja. Pagimu kacau dan hatimu patah menjadi kepingan kecil. Bukan karna sepatu high heels-mu yang patah pagi tadi. Bukan. Tapi karna pesan dari Koo Junhoe di ponselmu yang kau baca saat pertama kali membuka mata pagi tadi.

Aku sudah meyakinkan ibuku, tapi dia tetap tidak bisa menerimamu. Jadi sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini. Itu yang terbaik untuk kita.

“Brengsek.” Kau kembali mengutuk. Tanpa sadar buliran air mata jatuh di pipimu. Langsung saja kau menghapusnya, karena kau tidak ingin rekan kerjamu menangkapbasahmu sedang menangis di jam sibuk ini.

Tapi nyatanya dadamu semakin sesak. Makin kau menahannya, makin hatimu ingin meledak. Mungkin kau tidak akan sehancur itu kalau kau tidak mencintai Junhoe. Mungkin kau tidak akan semenyedihkan itu kalau hubunganmu dan Junhoe belum berjalan lima tahun.

Lima tahun…

Kau sudah membuang waktu lima tahun untuk hal yang tidak berguna.

——

Semilir angin musim semi menerbangkan rambut sebahunmu. Kau pun menyesap cup kopimu. Dari tempat kau duduk sekarang, kau memerhatikan rombongan anak TK sedang bernyanyi dan bermain bersama di lapangan kecil di tengah taman. Mereka tertawa lepas tanpa beban sedikit pun.

Tanpa sadar kau ikut tersenyum. Kau pun teringat masa kecilmu dulu. Masa di mana kau tidak perlu memikirkan banyak hal, masa di mana kau tidak harus menghawatirkan apa-apa.

Hatimu kembali berdenyut ngilu. Kau merindukan saat-saat itu.

Kini, usiamu sudah menginjak angka dua puluh lima. Ibumu pun selalu mendesakmu untuk menikah, begitu juga ayahmu yang sudah rewel ingin menimang cucu. Di sisi lain, kau juga menghawatirkan karier dan masa depanmu.

Tubuh dan pikiranmu bekerja keras setiap hari, dan kau lelah menjalani kehidupan seperti itu.

“Mau es krim?”

Kau tersentak, lantas buru-buru menyeka air yang tanpa sadar sudah menggenang di kedua matamu. Tatapanmu pun tertuju pada pemuda yang kini mendudukkan diri di sebelahmu.

“Kim Hanbin?” Kau bingung mendapati pemuda itu di sana.

Bukannya menjawab, pemuda itu malah menyodorkan sebungkus es krim. “Tidak mau?”

Pemuda itu berniat menarik kembali es krimnya, tapi kau buru-buru merampasnya. “Siapa bilang tidak mau?” katamu cepat.

Pemuda itu tersenyum miring dan kembali memakan es krim miliknya.

“Kenapa kau ada disini?” tanyamu disela menikmati es krim.

“Kau mengirimiku pesan kalau kau sedang berada di taman. Bukankah itu artinya aku harus datang ke taman?”

Kau pun tersenyum canggung. “Jadi kau menangkapnya seperti itu?” ujarmu setengah malu. Karena sebenarnya, kau tidak benar-benar bermaksud seperti itu.

Hanbin mengangguk cuek.

Kau masih menatap Kim Hanbin. Pemuda itu bukanlah sahabatmu, bukan juga keluargamu. Dia hanya seorang teman yang tidak sengaja kau kenal tiga yang tahun lalu lewat kejadian lucu.

Saat itu kau harus pergi ke acara kencan buta untuk menggantikan sahabatmu. Tentu saja kau tidak serius dengan kencan buta itu karena ketika itu kau sudah mempunyai Junhoe sebagai pacarmu. Di acara kencan buta tersebut, kau bertemu dengan Kim Hanbin, yang ternyata saat itu juga sedang menggantikan sahabatnya. Disanalah kalian tidak sengaja berkenalan dan kemudian saling menyimpan kontak masing-masing.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu, kau tidak ingat persis kejadiannya. Tapi menurut penuturan Hanbin, kau tiba-tiba menelponnya tengah malah. Kau ingat malam itu kau pergi minum-minum sendiri lantaran sedang dirundung masalah dengan Junhoe, tapi kau tidak ingat kalau kau menelpon Hanbin. Ketika itu Hanbin mengaku kebingungan, tapi mendengar suaramu seperti orang mabuk, dia pun menanyakan di mana posisimu dan segera menghampiri keberadaanmu.

Paginya, kau terbangun di atas sofa kontrakanmu. Kau pun terkejut dan kebingungan di saat yang bersamaan. Tapi setelah melihat kontak Kim Hanbin di panggilan keluar ponselmu, kau pun mengingat samar-sama kejadian sebelumnya; ketika Hanbin menyusulmu dan mengantarmu pulang.

Kau tersenyum mengingat kejadian itu. “Aku bertanya-tanya kenapa dari sekian banyak nomor di ponselku, aku memilih untuk menelponmu malam itu,” ujarmu kemudian. Kau tertawa kecil.

Hanbin menoleh dan menatapmu tidak mengerti.

“Waktu aku mabuk tiga tahun yang lalu.” Kau mengingatkan.

“Tapi sepertinya kau memang menganggapku sebagai penyedia layanan antar-jemput. Karena setiap kali kau mabuk, kau selalu menelponku,” balas Hanbin sarkastik, kemudian membuang muka ke arah lain. “Sepertinya aku harus mulai meminta bayaran padamu.”

Kau pun tergelak karena apa yang Hanbin katakan adalah fakta. Kau secara otomatis akan mencari kontak Hanbin ketika kau mabuk, dan kau tidak tahu alasannya.

“Tapi kupikir sekarang kau tidak mabuk.” Hanbin beralih menatapmu dengan saksama.

Kau pun mengalihkan pandangan lantaran gugup ditatap seperti itu. “Yah, seperti yang kau lihat, aku memang tidak mabuk.” Kau sedang berusaha menyembunyikan kesedihan di hatimu.

“Ada masalah?”

Kau masih tidak berani memandang Hanbin, kau hanya menggeleng. “Oiya, bagaimana dengan lagu-lagu yang kau buat? Apa klienmu menyukainya?” ujarmu mengalihkan pembicaraan.

Hanbin tidak langsung menjawab. Dia memberi jeda. “Kau tahu sendiri tidak ada yang tidak menyukai lagu-laguku.”

Kau merasa bahwa kau sudah berhasil mengalihkan pembicaraan, kau pun dengan antusias menatap Hanbin di sebelahmu. “Aku bertanya-tanya kenapa kau bisa menciptakan lagu-lagu cinta yang sangat indah padahal kau sendiri belum pernah paca—” Kau menghentikan kalimatmu karena Hanbin menatapmu tepat di manik matamu. Dan pemuda itu terlihat sangat serius.

“Kau menangis?”

Kau serta-merta mengalihkan pandangan. “Akhir-akhir ini banyak pekerjaan. Jadi aku menangis karena lelah,” ceplosmu asal.

“Kau yakin karena pekerjaan?” Ada nada ragu di dalam pertanyaan Hanbin.

“Untuk kau yang selalu memandang segala sesuatunya dengan santai, kau tidak akan mengerti, Kim Hanbin,” balasmu sembari memandang Hanbin sekilas. “Aku sungguh iri melihatmu,” Kau melanjutkan. “Kau tidak pernah peduli tentang pendapat orang lain padamu. Kau tidak pernah peduli meski kau tidak punya pacar. Kau tidak pernah peduli meski lagu-lagumu ditolak. Kau tidak pernah ambil pusing terhadap semua hal. Aku benar-benar iri padamu,” ujarmu sungguh-sungguh.

“Kau tahu, tidak semua hal harus dipikirkan,” Hanbin membuka suara. Kau pun memberanikan diri menatapnya. “Terkadang kau harus bersikap cuek. Santai bukan berarti aku tidak memikirkannya sama sekali,” lanjut pemuda itu. “Aku memilih untuk tidak ambil pusing karena yah, memikirkannya hanya akan membuatku sakit kepala. Aku memilih move on dan melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat. Soal lagu-laguku yang ditolak, kupikir aku masih bisa menciptakan seribu lagu yang lain, atau aku hanya perlu mengubahnya seperti yang klien inginkan,” terang Hanbin. “Dengar, kau juga harus mulai berhenti menghawatirkan hal-hal yang membuatmu sakit kepala.”

“Tapi aku berbeda, Hanbin. Aku tidak bisa semudah itu menjadi sepertimu. Aku tidak bisa bersikap tidak peduli ketika Junhoe memutuskan hubungan kami. Aku tidak bisa tidak memikirkannya. Hatiku sakit.” Kau tidak bisa menahannya lagi. Air matamu pun tumpah. Rasa sesak yang kau tahan dua hari belakangan akhirnya meledak juga.

“Kalian…putus?” Nada bicara Hanbin terdengar seperti tidak percaya.

Kau tidak bisa menjawabnya. Kau sudah menangis terisak.

Hanbin kehabisan kata-kata. Barangkali dia belum pernah melihat seorang gadis menangis terisak-isak di hadapannya.

Tak lama kemudian kau merasakan tangan Hanbin merengkuhmu untuk menangis di bahunya. Kau pun tidak menolak. Selanjutnya kau tidak mendengarnya berbicara lagi, tapi kau merasakan usapan tangannya di kepalamu.

Perlakuan Hanbin itu perlahan mengurangi sesak di dadamu.

Hanbin memang tidak pernah medeklarasikan diri sebagai teman dekatmu atau bahkan sahabatmu, begitu juga kau. Tapi anehnya, kau selalu merasa nyaman berada di sekitarnya. Rasanya seperti ketika kau pulang ke rumah dan disambut hangat oleh ayah dan ibumu. Rasanya seperti itu.

Apa nama yang tepat untuk hubungan semacam itu?

——-

Hayo apa hayooo? :p

Advertisements

4 responses to “Just Because

  1. Kupikir hubungan seperti itu, bisa diperjelas dengan status pacar… Lagian udah putus juga kan…

    Apalagi sudah ada rasa nyaman yang mengiringi kalian… Itu sudah cukup kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s