Been Through

Been Through

Story by Hansabae

Byun Baekhyun, Park Hyera (OC)

Romance, Angst
Oneshoot

Been Through

Inspired by Naruhina fanfiction in wattpad. (Un)comitted.

A/N:

Aku kembali lagi wkwk. Udah pada lupa mesti aku siapa, emang dasarnya sih bukan author tenar. Tapi dulu aku suka banget nulis TT_TT Waw setelah diingat2 aku udah 4 tahun gapernah nulis ff lagi wkwk ngakak. Dan kalo ke blog tuh inget kalo aku punya SEGUDANG utang ff yang belum terselesaikan wkwk hadeuhh lupakan aja ya ff yang itu.

Aku saranin bacanya sambil dengerin lagu Im Hanbyul-The Way to Say Goodbye

Btw…

HAPPY READING ♥

Page dividers1

Jika saja ada satu keajaiban untuk Byun Baekhyun, pria itu ingin sekali memutar balikkan waktu.

◊◊♦♦◊◊

Baekhyun merasakan adrenalin mengalir deras di darahnya ketika baru saja mendapati kabar bahwa orang yang dulu dikasihinya terlibat kecelakaan di distrik dekat kantornya. Napasnya memburu tak teratur bagai atlit yang berusaha keras untuk meraih posisi nomor satu di garis finish. Jantungnya bertalu-talu seakan ingin keluar dari dadanya.

Tidak, apapun itu jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada orang yang pernah ia cintai!

Tanpa sadar peluh keringat telah memenuhi wajah pria tersebut. Matanya menjalar ke seluruh arah mencari ruang operasi dimana tempat orang yang pernah dicintainya berada. Baekhyun berlari sampai rasanya ingin mati ketika mengingat bahwa ini menyangkut hidup mati orang yang sampai sekarang masih belum bisa ia lupakan.

“Bagaimana keadaan Shin Saeri?” Baekhyun mengguncang bahu temannya ketika melihat pria itu berdiam diri di depan ruang operasi di sudut ruangan. “Apa ia baik-baik saja? Apa operasinya berhasil?” Tanya Baekhyun kembali dengan napas terputus-putus.

Jongin—teman Baekhyun yang sedari tadi menunggu kabar mantan kekasih Baekhyun itu lantas menepuk punggung Baekhyun pelan. “Saeri berhasil melewati masa kritis. Lukanya tidak terlalu dalam. Dokter bilang kurun waktu beberapa hari dapat dipastikan bahwa Saeri akan sadar. Baru saja ia dipindahkan ke ruang IGD, tapi pasien masih belum boleh dijenguk untuk kepentingan pemulihan kesehatan.” jelas Jongin panjang lebar. Matanya terlihat redup namun suaranya masih terdengar tenang seperti biasanya meskipun ia menyembunyikan perasaan terkejut di dalam hatinya. Pasalnya, baru 10 menit yang lalu ia mengabarkan kepada Baekhyun mengenai keadaan Saeri, tetapi kini pria itu sudah berada di hadapannya.

Sesungguhnya, Jongin sangat tidak menyangka bahwa Baekhyun akan datang kemari karena seharusnya pria itu memiliki kepentingan yang perlu diprioritaskan untuk saat ini.

Baekhyun yang mendengarkan penjelasan Jongin dengan cermat lantas menghembuskan napas lega meskipun jantungnya masih berdetak diambang batas normal. “Lalu bagaimana keluarga Saeri?”

“Keluarganya belum ada yang datang Baek, sejak awal aku menghubungi mereka sampai sekarang tidak mendapatkan respon yang pasti.”

Baekhyun menelan kenyataan itu dengan pahit. Ia paham, sangat paham dengan kondisi keluarga Shin Saeri. Namun tak pernah ia bayangkan bahwa keluarganya masih tetap menelantarkan gadis itu meskipun baru saja ditimpa insiden kecelakaan.

“Baek, kau tahu, aku dan Jennie tidak keberatan jika kau meminta kami untuk menjaga kondisi Saeri. Maaf sudah membuatmu panik sebelumnya. Jennie akan datang kemari menemaniku ketika jam kerjanya selesai.” terang Jongin pelan. Pria itu menghembuskan napas berat, terlihat sedikit ragu untuk meneruskan percakapan. “Baek, aku tau ini out of topic, tapi kurasa kau tak seharusnya berada disini. Kembali ke ruang persalinan istrimu, mereka membutuhkanmu Baek.”

Merasa seperti tersengat ribuan lebah, Baekhyun hampir saja kehilangan beban di kedua kakinya. ‘SHIT!’ Istrinya akan melahirkan namun apa yang dia lakukan disini? Merasa khawatir dengan cinta masa lalunya? Lantas menelantarkan istrinya yang tengah memperjuangkan hidup matinya demi buah hati mereka?

Sialan! Baekhyun merasa seperti terhimpit berjuta batu bata. Sakit sekali rasanya.

“Jongin-ah apa yang baru saja aku lakukan?” Tanyanya bagai kehilangan arah tujuan. Ia ingat tujuan utamanya ke rumah sakit adalah untuk menemani persalinan istrinya. Namun ketika mendengar kabar dari Jongin bahwa Saeri baru saja mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit yang sama dimana tempat persalinan istrinya berada Baekhyun lantas berlari mendekati ruang operasi dan semakin menjauhi ruang persalinan istrinya.

Jongin menatap Baekhyun marah. “Cepat kembali ke istrimu! Lari sampai rasanya ingin mati, temani dia dan ambil semua rasa sakitnya. Hanya itu yang kau bisa lakukan Baek.” Pinta Jongin sembari mendorong punggung Baekhyun, memintanya untuk segera kembali ke ruang persalinan.

Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat tenang menjadi gaduh kala itu ketika Baekhyun berlari bagai menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kakinya, hampir menabrak pasien, suster, dan beberapa penjenguk saking paniknya.

Baekhyun bersumpah ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal yang buruk pada istri dan anaknya. Baekhyun bersumpah.

◊◊♦♦◊◊

“Dokter apa aku boleh melahirkan jika suamiku tak ada di sisiku?” Tanya seorang wanita yang rona wajahnya semakin memucat seiring berjalannya waktu. Peluh keringat memenuhi seluruh wajahnya tanpa kecuali.

Byun Hyera—wanita itu memiliki kepribadian serta hati yang sangat kuat bagai baja, sangat disayangkan fisiknya berbanding terbalik dengan sikapnya, ia lemah, mudah sakit, mudah pucat. Sekarang kondisi itu semakin diperburuk dengan terkurasnya energinya sebelum janin yang berada di dalam rahimnya melihat keindahan dunia. Hyera lelah, ingin menyerah, tetapi Hyera sangat ingin melahirkan anaknya. Ia ingin mendengar suara tangis bayinya. Ia ingin mengecup anaknya dengan rasa bahagia. Hyera ingin, tetapi ia merasa tidak sanggup.

Tidak ketika suami yang dinantikannya sejak tadi pagi tak kunjung datang untuk menemaninya.

“D-dok… Apa aku bisa melahirkan jika suamiku tidak mendampingi di sisiku?” Tanya Hyera kembali dengan suara yang semakin melemah. Hyera ingin segera melahirkan anak pertamanya, tetapi Hyera juga sangat ingin melihat suaminya berada di sampingnya, menyemangatinya dan terus menemaninya hingga anak pertama mereka berhasil dilahirkan.

“Tidak apa-apa Ibu Hyera, mungkin suamimu sedang terlibat kemacetan kota?” Jawab dokter yang mendampingi Hyera dengan ragu-ragu. “Well, Seoul akhir-akhir ini sering dilanda kemacetan karena membludaknya kendaraan beroda empat bukan? Kau tak perlu khawatir. Tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan. Kau tidak boleh menyerah Ibu Hyera. Anakmu membutuhkanmu.”

Hyera menatap pintu ruangan bersalin dengan mata berkilat penuh perasaan. Ia sudah tidak sanggup, ia sudah lelah.

Suamiku, kau harus datang sekarang. Karena jika tidak, aku—

Pikiran Hyera terputus ketika mendengar suara dobrakan datang dari arah ruang bersalin. Akhirnya tiba juga kedatangan sesosok yang telah dinantikannya sejak awal. Byun Baekhyun masuk dengan wajah penuh peluh di dahinya. Hyera menatap pria itu dengan senyum lebar. Senyum yang selama ini hanya ia tunjukkan pada lelaki itu semata. Senyum yang membuat Baekhyun merasakan bahwa ia satu-satunya lelaki paling beruntung dan paling bahagia di dunia.

Namun perlahan senyum itu berubah menjadi senyum paling menyedihkan yang pernah Baekhyun lihat sepanjang hidupnya.

“Baekhyun-ah, annyeong.” Sapa Hyera lemah. Suaranya seperti hampir tidak mau keluar sekeras apapun Hyera berusaha. “Aku bersyukur kau sudah menyempatkan waktumu untuk datang, tetapi kenapa lama sekali?” Tanya Hyera yang langsung membuat jantung Baekhyun berhenti berdetak secara tiba-tiba.

Hyera mengenali gesture tubuh itu. Hyera tahu sekali. Mereka sudah dekat selama 4 tahun. Jadi tak ada yang bisa disembunyikan Baekhyun di depan Hyera, dan Baekhyun pun paham betul dengan hal itu.

“Sayang, maafkan aku.” Pria itu menerjang tubuh Hyera dan memeluknya dengan erat. Diam-diam merasa bersyukur karena Hyera masih menatap dan berbicara kepadanya meskipun ia merasa tak pantas mendapatkan seluruh perhatian tersebut. Tadi sepanjang perjalanan kesini Baekhyun merasa bahwa istrinya akan pergi tanpa pamit kepadanya, tapi syukurlah hal itu tidak terjadi.

Hyera berusaha menolak pelukan dari suaminya karena ia merasa sesak, bukan sesak karena pelukan pria tersebut melainkan sesak akan perasaan. Hyera paham betul maksud dari permintaan maaf Baekhyun. Sudah beribu maaf terucap dari mulut pria itu tapi suaminya itu tidak pernah jera. Dan Hyera sebal dengan dirinya sendiri yang tidak dapat membenci Baekhyun meskipun pria itu tega menyakiti hatinya berkali-kali.

“Pada akhirnya kau tetap tidak bisa memprioritaskan aku ya? Pada akhirnya hatimu tetap tidak bisa berpaling padaku ya, Byun Baekhyun?”

Baekhyun membulatkan matanya terkejut, kemudian menggeleng kasar. ‘Tidak Byun Hyera! Kau salah besar!‘ sanggahnya dalam hati. Sungguh hati dan jiwa raga Baekhyun hanya milik Hyera, mengapa kini wanita itu meragukan perasaannya?

“Pada akhirnya Saeri tetap yang nomor satu ya Baekhyun-ah?” tanya Hyera dengan lemah. Fisiknya nyaris berhenti bekerja, kini kedatangan Baekhyun membuat emosinya ikut melemah. Ah, Hyera ingin menyerah, sangat ingin menyerah di detik ini juga.

“Byun Hyera kau salah besar!” Teriak Baekhyun kalap. Diraihnya kepala wanita yang dicintainya tersebut dengan lembut. Dikecupnya ujung kepala wanita itu dengan penuh perasaan. “Harus berapa kali aku mengatakan hal itu kepadamu Hyera-ya?”

Pada saat Baekhyun meraih kepalanya dan mengecupnya dengan lembut, pada waktu itu juga pertahanan Hyera luntur tak tersisa. Ia menangis terisak-isak di bawah pelukan suaminya. Suami yang hatinya masih tertambat pada gadis lain. Sungguh ironi.

“Aku cinta kamu Byun Baekhyun. Tapi jika kamu tidak bisa melupakan gadis lain maka aku harus melepaskanmu bukan? Ini sudah saatnya aku menyerah Baekhyun-ah. Aku capek, aku lelah, aku ingin istirahat.” Hyera tergugu, sebelum akhirnya merasakan sakit yang sangat dahsyat di bagian bawah perutnya. Oh, waktunya sudah tiba!

Hyera mengejan sekuat tenaga. Matanya berair dan kian lama bibirnya semakin pucat bagai mayat. “Sa..sakit. Sangat sakit.” Teriak Hyera meraung-raung. Ruang bersalin itu mendadak menjadi tak terkendali ketika dokter-dokter dan para asistennya mengerubungi Hyera dengan kilat mata panik.

“Sang Ibu pendarahan, siapkan beberapa kantong darah dengan golongan darah AB negatif!” Ucap salah satu dokter dengan lantang.

“Tapi dok, stock darah itu sangat langka. Kita tidak tahu apa rumah sakit masih menyimpan stock darah itu atau tidak.”

“Cek dulu persediaan kita. Jika tidak ada, maka hubungi pihak Palang Merah. Kita butuh darah itu secepatnya.” Perintah sang dokter mutlak. Tak butuh waktu lama sekitar 1-2 orang keluar dari ruang bersalin, berlari-larian di lorong rumah sakit menuju ke ruangan yang Baekhyun tidak ketahui.

Suasana menegangkan di ruangan bersalin membuatnya membayangkan yang tidak-tidak. Baekhyun lantas menggenggam tangan istrinya dengan erat.  Tak membiarkan Hyera berjuang sendirian.

“Hyera, jangan pergi. Aku disini. Kau tidak boleh menyerah. Aku mencintaimu. Terus berjuang untuk aku dan anak kita ya sayang.” Ucapnya dengan lembut. Baekhyun menangis menyaksikan istrinya kejang bagai dicabut nyawanya. Ia bersumpah ini merupakan momen paling menyakitkan di sepanjang hidupnya. Ia sangat ingin menggantikan Hyera, melawan rasa sakitnya dan berjuang untuk mempertahankan hidupnya serta nyawa anaknya.

“Hyera, aku cinta kamu. Sangat mencintaimu. Tolong jangan pergi. Kamu belum mendengar penjelasanku, kamu tidak boleh pergi meninggalkanku. Aku benar-benar jatuh cinta dan sayang kepadamu. Ayok berjuang sedikit lagi sayang.” Pinta Baekhyun memohon, suaranya serak, penuh perasaan.

Hyera dengan matanya yang mulai berbayang berusaha menatap Baekhyun. Dengan sisa kekuatannya ia tersenyum. Senyum yang menggambarkan luka yang perlahan-lahan mengiris Baekhyun. “Baekhyun-ah harus bahagia, karena satu-satunya yang bisa membuat aku bahagia adalah ketika melihat kamu bahagia. Aku memaafkanmu Baekhyun-ah.”

Suaranya bagai desisan angin di padang pasir. Pelan namun mampu membawa badai besar. Baekhyun mendadak merasakan lututnya melemas. Ingin jatuh di tempat ketika merasakan tangan Hyera tak lagi menggenggamnya dengan erat. Baekhyun berharap ini hanyalah mimpi semata, namun dinginnya tangan Hyera menyadarkannya bahwa ini semua adalah kenyataan pahit yang harus diterimanya dengan ikhlas.

“Hyera, bangun. Kamu tidak boleh meninggalkanku sendirian, ya? Aku mohon, aku mohon untuk kali ini saja buka matamu. Kau ingin aku bahagia? Bahagiaku seluruhnya ada padamu Hyera-ya. Tampar aku. Teriak padaku. Apapun itu akan aku terima asal kau tidak pergi sayang. Bangun ya? Ayok kita mulai semua dari titik awal. Tak akan ada lagi orang ketiga. Hanya kita berdua bersama anak-anak kita nantinya, ya sayang ya. Ayok bangun. Aku cinta kamu.”

Baekhyun meremas tangan Hyera berkali-kali namun tetap tak ada respon yang berarti. Orang yang mencintainya tanpa pamrih itu resmi pergi, meninggalkan hampir seluruh jiwa yang ada pada diri Baekhyun. Parahnya lagi, Hyera pergi tanpa terdengar satupun suara tangisan bayi di ruangan bersalin tersebut. Anaknya tidak selamat, begitupun dengan ibunya. Hyera pergi membawa anak Baekhyun yang belum sempat melihat indahnya dunia.

Permainan takdir begitu menyakitkan.

◊◊♦♦◊◊

Sore itu suasana kota Seoul tidak secerah biasanya. Langit yang biasanya menampakkan siluet berwarna senja kini menggelap dan dipenuhi awan kelabu. Byun Baekhyun yang sebelumnya tengah berkutat dengan berkas-berkas perusahaannya lantas mengerutkan keningnya semakin dalam ketika merasa bahwa hujan sebentar lagi akan tiba. Pria itu kemudian bangkit dari meja kerjanya dan bergerak menuju jendela besar yang terdapat di ruangannya, matanya sedikit terpejam ketika memandang kilatan cahaya di luar jendela yang disertai dengan suara gemuruh di luar gedung kantornya.

“Shin Saeri, aku tak bisa menahanmu lebih lama lagi.” ucap Baekhyun mantap. Matanya memandang jauh seakan raganya tidak berada pada tempat yang seharusnya. Berbalik arah, Baekhyun menatap seorang gadis yang sejak pagi mendatangi ruangannya dan belum mau beranjak pergi hingga detik ini.

Saeri yang merasakan tatapan tajam Baekhyun hanya bisa menggigit bibirnya gugup. Tangannya meremas rok selututnya dengan kasar. Takkan pernah terbayang oleh gadis itu bahwa hari ini akan tiba, hari dimana Baekhyun akan menjauh darinya, tak tergapai dan tak bisa lagi digenggam dengan erat.

“A-aku tidak mau melepasmu, Hyunnie.” sanggah Saeri sedikit ragu.

Baekhyun lantas menghembuskan napasnya kasar. “Mau tidak mau kau harus melepaskanku Saeri. Aku tidak bisa menyakitinya lebih dalam lagi!” Teriak Baekhyun frustasi. Matanya memancarkan emosi yang tak dapat dipahami oleh Saeri sekalipun. Sorot itu bagaikan campuran antara luka, sakit, dan patah hati yang bergabung menjadi satu.

Baekhyun merasa seperti ingin mati.

Dan minimal Saeri paham bahwa Baekhyun benar-benar terlihat menderita sekarang.

“Kau tidak akan mengatakan bahwa semua ini kesalahanku bukan?” tanya Saeri dengan suara bergetar. Ia merasakan hal yang sama seperti Baekhyun, perlahan rasanya Saeri seperti dicekik oleh kenyataan yang semakin membelit perasaannya. Saeri mencintai Baekhyun, sangat mencintai pria itu hingga seluruh nadinya seakan meneriakkan nama Baekhyun di tiap detiknya. Tak ada orang selain Baekhyun, hanya pria itu! Dan kini pria itu berusaha melepaskan diri dari lingkar dosa yang selama ini telah mereka lakukan di belakang. Saeri merasa bersalah, namun cintanya pada Baekhyun membuatnya buta.

“Ne, Hyunnie. Aku mencintaimu, lebih lama dari yang pernah ia rasakan, lebih dalam dari yang pernah ia ucapkan. Hanya aku yang mencintaimu seperti ini! Tak bisakah kau meninggalkannya dan bahagia bersamaku?” Pinta Saeri memohon. Ia memang mempunyai harga diri setinggi langit, tetapi jika itu untuk Baekhyun Saeri rela mengemis cinta, meskipun itu melukai harga dirinya.

Suara petir di luar ruangan mengejutkan kedua manusia yang berada dalam satu ruangan tersebut. Hujan deras turun mengguyur seantero kota, menjadikan suasana diantara keduanya bertambah sendu.

Di sisi lain, Baekhyun merasa diam adalah jawaban yang terbaik untuk saat ini. Karena jika ia berbicara lebih lanjut ia takut akan semakin melukai hati tercintanya. Tetapi, Baekhyun juga tidak bisa membiarkan pembicaraan ini berlalu begitu saja. Dosanya sudah seluas samudera, saat ini adalah waktu yang terbaik sebagai titik awal pria itu untuk memperbaiki kesalahannya.

“Saeri, kau tahu? Sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Aku tidak bisa menjadi lelaki brengsek lagi sekalipun aku mau. Aku tidak bisa memilihmu lantas menelantarkan Hyera yang tengah mengandung darah dagingku di rumah. Aku tidak bisa.”

Bagai ditikam ribuan jarum pernyataan Baekhyun membuat Saeri nyaris tak sadarkan diri di tempat.

Apa tadi katanya? Dia akan menjadi seorang ayah? Mustahil! Bagaimana bisa?

Saeri ingin sekali marah, berteriak, memaki Baekhyun dengan segala kata kasar yang pernah ada di kamusnya. Saeri ingin menamparnya. Saeri ingin menjambak rambutnya. Tapi sayang, tenaganya sudah terkuras habis hanya karena mendengar pernyataan dari lelaki yang dicintainya itu. Tak ada yang bisa Saeri lakukan kecuali menangis tersedu-sedu. “Ini tidak lucu” Ucapnya dengan suara bergetar.

Baekhyun mengusap wajahnya dengan kasar. Ya, apa yang Saeri katakan memang benar. Permainan takdir ini tidak lucu. Baekhyun merasa mual, melintaslah bayangan istrinya yang memberikan cinta tanpa batas tersenyum lebar kepadanya, sedangkan disini Baekhyun mengkhianati wanita berhati malaikat itu tanpa perasaan.

Ia pria yang sangat brengsek dan Baekhyun tahu itu.

“Tak ada lagi yang bisa kita pertahankan Saeri. Aku sayang Hyera, meskipun belum mencintainya. Bersama Hyera aku bahagia, aku tidak bisa menyakiti sumber kebahagiaanku Saeri. Tidak ketika ia yang menyembuhkan luka hatiku yang disebabkan olehmu!” Baekhyun mendekati Saeri, menarik gadis itu untuk berdiri di hadapannya lantas memeluknya dengan erat. “Hanya ini yang bisa kuberikan padamu Saeri. Kau harus bahagia.”

Saeri menangis di pelukan Baekhyun. Tangannya meraih wajah Baekhyun dan hanya Tuhan yang tahu apa yang dilakukan mereka berdua selanjutnya. Well, Baekhyun bilang ini yang terakhir kalinya. Jadi ini seperti a goodbye kiss? Or more than a kiss? Who knows.

Siapa yang tahu bahwa di balik pintu ruang kerja Baekhyun terdapat Byun Hyera yang menunggu sampai tertidur dalam posisinya yang sangat tidak nyaman? Wanita itu bersandar pada pintu ruang kerja Baekhyun dan menunggu suaminya selesai bekerja. Semua pegawai kantor Baekhyun merasa aneh melihat istri direktur Byun Baekhyun seperti wanita terlantar di pinggiran jalan. Mereka telah menawarkan kursi dan ruangan yang lebih nyaman, tapi sangat disayangkan tawaran mereka ditolak mentah-mentah oleh Hyera.

“Apa yang kau lakukan di dalam Baekhyun-ah” Tanyanya dengan suara getir sebelum akhirnya tertidur karena lelah menunggu suaminya.

th

◊◊♦♦◊◊

“Baekhyun-ah buka pintu hatimu, biarkan aku masuk. Akan aku ambil segala rasa sakit yang pernah kau rasakan. Kita hanya akan hidup bahagia, bagaimana? Apa tawaranku cukup adil?”

Baekhyun terkejut ketika membuka pintu apartemennya ia menemukan gadis cantik itu berdiri dengan penuh percaya diri, menantangnya dengan sebuah tawaran yang membuat Baekhyun mau tidak mau harus memikirkan jawabannya. Umur mereka hanya terpaut 2 tahun, tapi Baekhyun merasa ada saatnya Hyera terlihat sangat dewasa melebihi dirinya, contohnya seperti saat ini.

Adakah seorang gadis yang rela mengunjungi apartemenmu di pagi har hanya untuk mengatakan hal tersebut. Percaya diri sekali Park Hyera ini, dia datang seolah yakin betul bahwa Baekhyun akan menerima tawarannya tanpa berpikir dua kali.

Tapi memang dasarnya ego lelaki apabila ditantang ia akan semakin tertarik. Ok, Baekhyun akui untuk yang kali ini Hyera menang dari pria itu.

“Kita bisa mencoba masa pendekatan terlebih dahulu? Aku khawatir tidak bisa jatuh cinta kepadamu.” Well, kalimat itu terdengar menyakitkan namun lain halnya dengan Park Hyera. Pada kalimat itu gadis itu menemukan sebuah cahaya, ia percaya bahwa Baekhyun baru saja memberikan kesempatan padanya untuk masuk ke dalam hatinya. Kesempatan yang tidak aka disia-siakan oleh Hyera sekalipun.

“Aku berorientasi pada masa depan kak. Jika hanya sekedar pendekatan, teman pun bisa melakukan hal itu. Aku akan menantangmu lebih tinggi, bagaimana jika kita bertunangan selama 1 tahun? Jika merasa sudah cocok, ayok kita lanjutkan ke jenjang pernikahan!”

Wah gadis ini gila! jerit Baekhyun dalam hatinya. Baekhyun tahu bahwa Hyera benar-benar menginginkan Baekhyun di dalam hidupnya dan tawaran gadis itu bukan main. Jika gadis lain yang menantang Baekhyun mungkin Baekhyun akan merasa geli karena bisa-bisanya seorang perempuan menjadi seganas itu. Tapi lain halnya dengan Hyera, hanya dengan satu tantangan adrenalin memacu cepat dalam nadi pria itu. Jangan tanyakan alasannya karena Baekhyun pun tidak tahu. Sekarang Baekhyun bahkan tidak dapat menahan senyumnya. Begitupun dengan Hyera.

Shit! senyum Hyera menular pada Baekhyun dan pria itu tidak membenci fakta tersebut.

Beberapa detik berlalu, dan kemudian “Deal!” Ucap Baekhyun mantap. Ia tidak tahu seberapa jauh gadis ini akan mengobati luka di hatinya. Sudah waktunya bagi Baekhyun untuk memulai langkah baru. Ditinggalkan mantan kekasihnya yang lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri selama bertahun-tahun tidak seharusnya membuat Baekhyun menjadi lelaki depresi dan terlihat menyedihkan. Dia harus melangkah maju dan kepada Hyera-lah ia akan menggantungkan masa depannya.

Meski ia belum bisa melupakan mantan kekasihnya, tapi ia percaya bahwa ini merupakan awalan yang baik untuk dirinya dan juga untuk Park Hyera.

◊◊♦♦◊◊

Pintu ruang kerja Baekhyun terbuka tak lama setelah insiden pelukan—yang entah berlanjut sampai ke tahap apa— yang dilakukan oleh Baekhyun dan Saeri di ruangan kerjanya. Hyera yang memang posisinya tengah bersandar pada pintu kerja Baekhyun terkejut dan langsung terbangun dari posisinya. Mata mereka tanpa sengaja saling menatap.

Istri Baekhyun dan mantan kekasih Baekhyun.

Kombinasi yang sangat indah.

Saeri dengan wajah sembabnya membungkukkan badannya sesaat sebelum akhirnya memilih untuk pergi tanpa memperhatikan keadaan Hyera lebih lanjut. Di lain sisi Hyera merasa seperti tertimpa batuan karang. Sakit sekali.

Wanita itu mengenali wajah Shin Saeri selaku mantan kekasih Baekhyun. Dan hal itu mengusik hatinya ketika melihat mereka berdua berada di ruangan yang sama dan dalam jangka waktu yang sangat lama pula.

Apa yang mereka lakukan di dalam?

Hyera mengatur napasnya yang tiba-tiba memburu bagai dikejar anjing tetangga. Ia menengadahkan kepalanya, berusaha menahan air mata yang tiba-tiba berlomba ingin keluar dari mata indahnya. Ia paham betul sejak beberapa bulan yang lalu suaminya mulai bermain api di belakangnya. Mantan kekasihnya kembali ke Seoul setelah selesai melanjutkan pendidikannya di luar Korea dan sukses membuka cabang usahanya di Korea. Baekhyun tidak pernah mengatakan apapun, tapi insting Hyera sangat kuat, terlebih kondisinya saat ini yang tengah hamil membuatnya semakin peka terhadap sekitarnya.

Hyera tahu suaminya mengkhianatinya tepat ketika umur pernikahan mereka menginjak waktu 2 tahun, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali tersenyum dan menyambut kepulangan suaminya—yang selalu melewati waktu tengah malam akhir-akhir ini—dengan mata redup.

Perlu waktu satu tahun bagi Hyera untuk mendekati Byun Baekhyun, kemudian perlu waktu satu tahun lagi bagi Hyera untuk menjalani pertunangannya dengan lelaki tersebut. Dan kini ketika mereka sudah 2 tahun menikah, cobaan terberat bagi bahtera rumah tangga mereka mulai muncul. Orang ketiga datang, di waktu yang sangat tidak terduga.

Di saat Hyera mengandung buah hati Baekhyun.

Perlahan gadis itu membuka pintu ruangan Baekhyun. Wanita itu kemudian terkejut ketika menemui suaminya berada dalam keadaan yang tidak pantas. Rambutnya tak beraturan, kemejanya berantakan di beberapa bagian membuatnya tak sedap dipandang mata. Dan apa itu noda merah yang melekat di sudut bibir lelakinya?

“Bilang kalau kamu habis berkelahi hebat dengannya, maka aku akan langsung memaafkanmu Baekhyun-ah.” Ujar Hyera tegas.

Baekhyun menyeka sudut bibirnya dan menatap Hyera dengan terkejut. Bagaimana bisa istrinya berada disini?

Baekhyun mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku baru saja menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan Hyera-ya. Aku tidak memintamu untuk percaya kepadaku, tetapi itulah kenyataannya.” Baekhyun paham betul jika istrinya pemaaf, sangat pemaaf. Tapi ada saat-saat dimana memperoleh maaf Byun Hyera tiba-tiba menjadi sangat mahal, sangat sulit dilakukan. Dan Baekhyun merasa saat ini adalah saat-saat paling sulit untuk memperoleh kata ‘aku memaafkanmu’ dari mulut manis istrinya.

“Aku mempercayaimu seumur hidupku Baek. Ini yang terakhir kalinya. Jika kau mengkhianatiku lagi, aku benar-benar akan pergi.”

Semudah itu ultimatum dikeluarkan, semudah itu pula pertahanan Baekhyun runtuh. Ia menjatuhkan dirinya di hadapan istrinya. Mencium perut istrinya dengan mata berkaca-kaca. Kurang beruntung apalagi ia dikaruniai istri semanis dan berhati malaikat seperti Byun Hyera, sungguh Baekhyun tidak meminta lebih. Sekalipun ia sangat jijik dengan dirinya saat ini, ia akan berusaha memperbaiki perilakunya ke depan. Ia akan kembali mencintai Hyera tanpa syarat. Ia ingin membahagiakan Hyera sampai ke titik puncak. Dan ia berjanji tidak akan pernah melepaskan wanita itu meskipun wanita itu memohon untuk pergi.

Baekhyun sepertinya baru menyadarinya bahwa pada detik itu dirinya telah jatuh cinta seutuhnya dan tak tersisa sedikitpun tempat untuk wanita lain di hatinya. Hanya Hyera.

◊◊♦♦◊◊

So i’m trying to pretend to smile. Actually, i’m suffering more than anyone. —Im Hanbyul, The Way to Say Goodbye

◊◊♦♦◊◊

Sore itu suasana kota Seoul tidak secerah biasanya. Langit yang biasanya menampakkan siluet berwarna senja kini menggelap dan dipenuhi awan kelabu. Apa kau merasa de javu? Ya, hal ini sama persis ketika Hyera memergokiku berselingkuh dengan mantan kekasihku.

Aku mengernyitkan hidung, merasa jijik dengan perilaku sendiri.

Kuraih nisanmu dengan tangan bergetar. Mengelusnya penuh lembut, membayangkan bahwa yang kusentuh saat ini adalah wajahmu yang penuh binar bahagia.

Belum ada setengah hari kau pergi meninggalkanku, tapi aku sudah merasakan rindu setengah mati. Sudah cukup aku menangis meraung-raung memohon kepada Tuhan untuk membuatmu kembali. Berteriak bagai orang sakit jiwa ketika mengetahui bahwa bayi kita juga tidak dapat terselamatkan.

Harus hidup bagaimana lagi aku ketika kau membawa seluruh hati dan jiwaku, Byun Hyera?

Aku ingin mati, ingin menancapkan pisau ke ulu hati ketika mengingat isak tangismu tadi pagi. Hyera-ya, apa kau tidak tahu bahwa sakitmu sakitku juga? Aku merasa tercekat terlebih ketika genggaman tanganmu sudah lepas dari tanganku.

“Jangan pergi.” gumamku dengan suara serak bekas tangisan tiada henti. “Aku membutuhkanmu. Aku butuh kamu di setiap hembusan napasku, Hyera-ya.”

Aku butuh kamu yang menatapku dengan senyum manis setelah mencubit pipiku untuk membangunkan diriku di pagi hari. Aku butuh kamu dengan apron kebesaranmu bergerak lincah untuk memasak sarapan di dapur setiap pagi. Aku butuh kecupan hangatmu sebelum berangkat kerja di waktu pagi. Aku butuh sambutan hangatmu di depan pintu ketika aku pulang selarut apapun aku sampai di rumah. Aku butuh pelukan hangatmu ketika ingin terlelap di malam hari. Singkatnya aku butuh kamu Byun Hyera.

Kilasan balik memutar ingatanku malam sebelum hari ini. Aku tidak bisa menemani wanita itu meskipun ia sangat membutuhkanku malam itu. Ketika mengingatnya, aku kembali merasa jijik dengan seluruh darah yang mengalir di dalam diriku.

Bagaimana bisa semalam aku memutuskan untuk pergi menemani Saeri yang kejiwaannya sedang tidak stabil berkat keluarganya. Dan pagi tadi aku tidak tahu bahwa setelah kutemani nampaknya Saeri semakin menggila ketika menyadari bahwa ia tak lagi menjadi orang pertama di hidupku.

Jujur, pikiranku hanya tertuju kepadamu Hyura. Aku tak bisa lagi memikirkan gadis lain. Tidak ketika kamu mencintaku tanpa meminta imbalan apapun. Ketika kamu mempertaruhkan raga dan jiwamu untuk mengandung anakku meskipun fisikmu menderita dan tidak cukup kuat untuk menanggung beban seorang ibu. Ketika kamu masih setia memberikan senyum manis kepadaku padahal kau tahu seluruh perilaku busukku.

Puncaknya, pagi itu aku meninggalkan Saeri dan berniat untuk menjengukmu di ruang persalinan ketika aku menerima kabar dari dokter langgananmu yang menyatakan bahwa kau akan segera melahirkan. Aku akan menjadi ayah! Aku bahagia, mulai merasakan perasaan meletup-letup bagai adrenalin yang mengalir deras di dalam darahku. Perasaan ini sama seperti tiga tahun yang lalu ketika kau melamarku di depan pintu apartemenku. Hanya kau yang bisa membuatku seperti ini Hyera-ya. Hanya engkau semata.

Namun naas, beberapa langkah sebelum aku memasuki ruang persalinanmu telepon dari Jongin membuatku menjadi panik. Saeri kecelakaan. Dan aku merasa tertohok ketika menyadari bahwa beberapa menit yang lalu kami masih berada dalam ruangan yang sama lalu kemudian secara tiba-tiba ia mengalami insiden kecelakaan? Mustahil! Ini pasti Saeri percobaan bunuh diri dengan mobilnya karena merasa putus asa ditinggal olehku.

Sialan. Aku tidak bisa berpikir tenang kala itu. Dan ingatanku menjadi buram karena tidak bisa berpikir secara jernih.

Hyera, maafkan aku. Kembali memutar memori, tenggorokanku merasa tercekap.

“Pada akhirnya kau tetap tidak bisa memprioritaskan aku ya? Pada akhirnya hatimu tetap tidak bisa berpaling padaku ya, Byun Baekhyun?”

Tidak Hyera, kau salah besar. Kau prioritasku, akan selalu menjadi prioritasku. Hatiku dan seluruh jiwaku jatuh cinta kepadamu Byun Hyera. Kau belum tahu bukan bahwa aku sudah tergila-gila padamu sejak kau mengandung anakku? Kau pasti belum mengetahuinya, karena aku belum pernah mengatakannya kepadamu sayang. Aku mencintaimu, seluruh denyut nadi dan napasku hanya berisi namamu.

“Aku cinta kamu Byun Baekhyun. Tapi jika kamu tidak bisa melupakan gadis lain maka aku harus melepaskanmu bukan? Ini sudah saatnya aku menyerah Baekhyun-ah. Aku capek, aku lelah, aku ingin istirahat.”

Air mataku kembali mengalir ketika mengingat betapa suaramu saat itu menggambarkan rasa sakit yang tak mampu diungkapkan kata-kata. Aku ingin mengiris nadi ketika menyadari bahwa sumber rasa sakitmu adalah diriku sendiri.

“Kenapa kamu menyerah disaat aku sudah jatuh cinta setengah mati kepadamu Byun Hyera? Kenapa kau tega meninggalkan seluruh jiwa dan perasaanku?” Tanyaku pilu, kupeluk batu nisanmu sangat erat.

“Baekhyun-ah harus bahagia, karena satu-satunya yang bisa membuat aku bahagia adalah ketika melihat kamu bahagia. Aku memaafkanmu Baekhyun-ah.”

Tidak bisa, aku seumur hidup tidak akan bahagia jika tak ada dirimu di sisiku Hyera-ya. Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri sekalipun kau telah memaafkanku. Biarkan aku menderita, biarkan aku tersiksa untuk membalas semua rasa sakit yang pernah kau rasakan saat hidup bersamaku, istriku. Sampai takdir mempertemukan kita di atas sana. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus seluruh dosaku kepadamu.

◊◊♦♦◊◊

Baekhyun menatap tempat perisitirahatan istrinya dengan wajah yang tidak beraturan. Matanya bengkak, hidungnya memerah, rambutnya berantakan, badannya basah kuyup karena terguyur hujan. Badannya nyaris limbung jika tidak ditahan oleh Jongin di belakangnya. Sahabat setia Baekhyun itu meremas bahu Baekhyun pelan, berusaha menguatkan pria itu.

Baekhyun lantas menaruh bunga lavender favorit istrinya di atas makam wanita tersebut. Lelaki itu kembali menangis, meskipun sudah 2 jam lamanya tidak beranjak dari makam istrinya dan menangisi kepergian kekasih hidupnya, Baekhyun kembali menangis ketika menyadari bahwa ia akan berpisah selamanya dengan istri dan anak tercintanya.

“Kau harus bahagia Hyera-ya. Apapun itu, kau tidak boleh menangisi aku di atas sana meskipun hidupku terlihat menyedihkan.” Ucap Baekhyun getar. “Dan untuk anakku Byun Nara, jaga ibu baik-baik ya. Ayah tak bisa melihatmu tapi kamu harus tahu kalau ayah sangat mencintaimu, sama seperti ayah mencintai ibumu.” Lanjut Baekhyun dengan lembut.

Selamat tinggal orang-orang tercintaku.

Ketika Baekhyun hendak meninggalkan makam Hyera, langit tiba-tiba berubah menjadi terang. Awan kelabu perlahan mulai menjauh, tergantikan oleh awan putih yang terlihat sangat suci. Di kejauhan terdapat pelangi yang bias warnanya terlihat sangat jelas. Cantik sekali.

Kemudian angin berembus pelan menggelitik telinga Baekhyun. “Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak menjalani hidupmu dengan bahagia Baekhyun-ah!” Samar-samar lelaki tersebut mendengar suara. Baekhyun menoleh ke arah makam istrinya dan matanya seakan melihat bayangan istrinya tengah menggendong putri pertamanya dengan senyum lebar. “Kami akan menunggumu disini Baekhyun-ah.” ucap Hyera sebelum akhirnya bayangan itu menghilang terbawa oleh angin senja.

Page dividers1

THE END

 

Yeyeye akhirnya selesai juga wkwk, lega deh udah lama gak bikin ff oneshoot. Ya maklum aja ya kalo jadinya panjang banget. Terus udah sok-sokan pake genre angst eh malah gabikin baper ceritanya wkwk.

Aku terinspirasi bikin cerita ini gara-gara baca wattpad NaruHina yang aduhaiii bikin nangis banget itu. Aku suka banget parah. Dan sekarang bias aku pindah ke Baekhyun jadi aku gabakal bikin cerita ff Sehun lagi deh wkwk gak deng boong. Gatau juga bakal nulis cerita lain atau enggak. Ini aku nulis ini aja udah perjuangan banget mikir keras buat milih diksinya. Haha maklum udah tumpul bikin cerita.

Udah ah, segini aja. Aku bikin ff ini cuman 2 hari, gak pake dikoreksi jadi maklum kalo banyak typonya wkwk. Terus besok aku ada UTS di kampus wkwk yaelah malah nyelesaiin ff ya, dodol emang. Segini dulu deh. Sampai jumpa di ff-ff selanjutnya.

Salam cinta dari Hansabae dan Baekhyun♥

original (3)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s