FanFic “Nimia” #1 by Arni Kyo

Nimia - Poster

Nimia #1

Author : Arni Kyo

Main cast : Jung Jaewon a.k.a ONE (Rapper) | Park Yeonsung (OC)

Other cast : Kim Younghoon (The Boyz) | Wu Kimi (OC) | Kim Hanbin (Ikon) | Moon Kevin (The Boyz) | etc

Genre  : School Life, Romance

Length : Chaptered

~oOo~

Ketika itu musim berganti. Malam hari ketika salju pertama turun ke bumi. Udara dingin mulai menerpa kala suara derap kuda berlari menyusuri jalanan desa. Tak peduli pada butiran putih salju yang menerpa wajahnya, pria gagah itu terus menunggangi kudanya. Ia tiba di depan gerbang tinggi yang berdiri menghadangnya. Dua orang penjaga gerbang menghampirinya untuk menanyakan identitas dan tujuannya datang ke Paviliun Sang Raja di tengah malam.

Pria gagah itu menunjukkan tanda pengenalnya – yang hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. Penjaga gerbang segera membukakan gerbang bagi pria itu. Dengan langkah besarnya si pria memasuki halaman Paviliun.

“Yang Mulia, ini aku”.

“masuklah”.

Pelayan Kerajaan yang saat itu sedang bertugas membukakan pintu untuk pria itu. Ia pun memasuki kamar sang Raja dengan cepat.

“berita apa yang kau bawa?”.

“bayi nya sudah lahir”.

Sang Raja yang sejak tadi sibuk membaca buku puisi, langsung mendongak dan menatap wajah orang kepercayaannya ini.

“bayi perempuan”.

Sementara itu di sebuah rumah yang terletak dipinggiran desa. Suara tangis bayi tak lagi terdengar. Bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu kini berada di dalam dekapan ayahnya.

“apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”. Tanya istrinya yang baru saja melahirkan bayi ini.

“apa lagi? Kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya”.

“tengah malam begini? Tidak! Aku tidak mau pergi membawa putri ku ditengah malam, salju baru saja turun dan mungkin akan lebih lebat lagi”.

“Gongjunim, kumohon”.

Pria yang merupakan mantan penjaga kerjaan ini meyakinkan istrinya, yang merupakan seorang putrid dari kerajaan agar menurut saja pada apa yang ia katakan. Dan semuanya akan baik-baik saja.

andwe!”.

mwo?”.

“ya! Kau pikir kita bisa mempublikasikan cerita seperti ini? Tidak, tidak, ganti cerita lain saja”.

Kim Hanbin. Editor majalah sekolah, ia sangat cerewet dan kejam. Sering sekali berdebat dengan Park Yeonsung karena menurutnya gadis itu sering membuat cerita yang tidak masuk akal.

“ya! Kim Hanbin, kau tidak bisa langsung menilai ceritaku! Aku bahkan belum selesai membacakannya”.

Park Yeonsung. Ia tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang penulis, ia hanya menyukai kegiatannya ketika harus focus dan membuat sebuah cerita yang datang secara liar ke dalam otaknya.

“benar, lagipula menurutku tidak buruk, kok”.

Kim Younghoon. Lelaki yang super tampan, memiliki fanclub untuknya sendiri di sekolah ini. Memiliki wajah yang sempurna, tinggi bak tokoh anime, senyuman yang manis dan tatapan yang memikat.

“tetap saja, aku tidak setuju, lebih baik kau memikirkan cerita lain”.

“tapi aku tidak keberatan menggambar komik untuk cerita itu, Hanbin’ah”.

Moon Kevin. Ia pernah tinggal di Kanada, jadi terkadang ia akan berbicara dengan bahasa Inggris jika sedang bercakap dengan Wu Kimi. Sangat mahir menggambar, apapun yang diminta oleh temannya, ia akan buatkan.

Klik.

Pintu terbuka. Seorang gadis muncul dari balik pintu tersebut. Ia mengangkat tangan kanannya. “annyeong, semuanya”.

Wu Kimi. Keturunan Tiongkok-Korea. Ia pun pernah tinggal di Kanada sebelum akhirnya dikirim kembali ke Korea. Kimi tidak begitu bisa membuat pertemanan dengan gadis-gadis lain.

“Kimi’ah ~ Hanbin menolak ceritaku lagi”. Yeonsung langsung berdiri, menghampiri dan memeluk Kimi. Mencari pembelaan.

“lagi?!”. Kimi membelalakan matanya. Ia pun melotot pada Hanbin.

“apa?”.

“ya ~ kau benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa kau menolaknya? Ia bahkan mengerjakan itu semalaman”.

“tentu saja aku bisa”. Ujar Hanbin sewot’.

“kau cari mati, ya?”. Kimi menyingsingkan lengan almamaternya. Sambil berkacak pinggang ia menghampiri Hanbin. “mari kita rilis majalah minggu ini tanpa persetujuan Hanbin”.

Hanbin pun ikut berdiri. Keadaan benar-benar menunjukkan seolah mereka akan bertengkar hebat. “geurae! Coba saja rilis tanpa aku”.

“kau kira aku tidak bisa, huh?”.

Adu mulut terjadi antara Hanbin dan Kimi. Tak ada yang mau mengalah, tak ada juga yang meleraikan. Younghoon memilih menutup telinganya dengan earphone. Kevin pun memilih untuk berdiri dan mendekati jendela, disana ada bunga didalam pot yang ditanam oleh mereka. Sementara Yeonsung berlindung dibelakang Kimi, bahkan ia bertingkah seolah menghakimi Hanbin walau tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“bisakah kalian tidak berisik?”.

Hening.

Suara berat khas itu menghentikan adu mulut yang tengah terjadi. Semua mata menatap sosok itu. Jung Jaewon baru saja memasuki ruangan club. Ia menatap satu per satu temannya yang masih diam. Lelaki tampan lainnya, ia merupakan ketua club majalah sekolah. Seseorang yang bisa memutuskan segalanya.

Jaewon duduk di kursinya.

“apa yang terjadi hingga kalian harus melakukan duet seperti tadi?”.

“itu –“.

“aku menolak cerita yang diajukan oleh Yeonsung”. Hanbin memotong ketika Kimi baru hendak membuka suara.

Jaewon menarik laptop milik Yeonsung, membaca cerita yang Yeonsung ajukan tadi. Wajahnya tanpa ekspresi, mulutnya sedikit terbuka, sesekali keningnya berkerut. “ini tidak buruk”

Yeonsung tersenyum lega.

“tapi kita tidak bisa mempublikasikan cerita ini”.

Senyum Yeonsung kembali sirna.

“ya ~ wae?”. Protes Kimi.

“kau sudah membaca ini?”.

Kimi membelalak, ia menggigit bibir dalamnya. “belum, sih”.

Jaewon berdecak. “semuanya duduk, kita akan rapat sebentar”. Surah Jaewon. Mereka biasanya melakukan rapat jika ada hal penting saja yang harus semuanya ketahui.

Untuk sebuah club yang tergolong besar di sekolah, hanya beranggotakan 6 orang itu adalah hal yang cukup melelahkan. Namun club majalah sekolah ini adalah club yang paling beruntung karena mereka semua melalui test untuk bisa masuk, dan juga biaya club di tanggung oleh sekolah.

Tetapi untuk anak-anak seperti mereka bukan karena biaya yang didanai oleh sekolah saja. Bahkan di dalam ruang club ada beberapa barang yang mereka beli dengan uang sendiri.

Bel masuk berbunyi.

Rapat club selesai. Mereka membahas beberapa hal seperti ujian sekolah yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Jaewon mengatakan jika guru pembimbing menyarankan agar mereka segera merilis majalan mingguan untuk minggu ini dan libur di minggu depan. Agar focus pada ujian.

“aah ~ aku bisa gila. Aku tidak bisa memikirkan satu ceritapun”.

“jangan stress Yeon’ah, nanti berat badanmu bertambah”. Ujar Hanbin.

mwo? Ya!”.

Belum sempat Yeonsung melayangkan pukulannya, Hanbin telah berlari lebih dulu. Lelaki itu memasuki kelas 2-1.

“ah ~ aku juga belum sempat mengumpulkan dokumentasi yang diperlukan”. Keluh Kimi. Ia baru teringat akan tugas yang seharusnya ia penuhi. Mengambil poto dokumentasi.

“mau ku bantu?”. Tawar Younghoon.

Kimi tersenyum seperti seekor anak anjing. Gadis itu mengangguk – bertingkah imut. “tentu, kau memang seharusnya membantuku, Younghoon’ah”.

“baiklah, besok kita mulai bekerja”.

“ah, Yeon’ah, aku masuk kelas dulu. Kau juga jangan terlalu stress memikirkan ceritamu. Fighting”. Kimi pun memasuki kelas 2-3.

Yeonsung hanya mengangguk. Ia hanya bisa mendesah berat ketika Kimi masuk ke dalam kelas.

“jika kau butuh saran, kau bisa membicarakannya padaku, Yeon’ah”. Ujar Kevin yang sejak tadi berjalan dibelakang nya.

“tapi – aku sungguh sedang tidak ada ide. Bagaimana?”.

Kevin tersenyum tenang. “kau mau mengerjakannya diluar? Mungkin sambil makan atau semacamnya?”.

Yeonsung memicingkan matanya. “ohoo ~ Moon Kevin, kau sedang mengajakku berkencan, ya?”.

aigoo ~ aku masuk kelas duluan, pokoknya jika kau butuh bantuan tentang ceritamu, jangan sungkan untuk membicarakannya padaku”.

“siap, Pak”.

Kevin mengulurkan tangannya untuk mengajak Yeonsung tos. Gadis itu segera melayangkan tangannya, melakukan tos dengan Kevin.

“ya! Park Yeon, kau tidak ingin masuk?”. Panggil Jaewon dari ambang pintu kelas mereka.

“eish… dia itu”. Umpat Yeonsung. Sebelum berlari kecil menuju kelasnya, bahkan Yeonsung sempat melambaikan tangannya pada Kevin. Yeonsung memasuki kelasnya bersama Jaewon.

Bel istirahat berbunyi. Menggema diseluruh penjuru sekolah. Para siswa berlarian menuju kantin. Mengantri untuk mendapatkan makan siang. Tak terkecuali Kimi dan Yeonsung. Meskipun mereka berdua berada dikelas yang berbeda, Kimi selalu menjemput Yeonsung ke kelasnya untuk makan siang bersama.

“belum berapa menit, antriannya saja sudah panjang begini”. Keluh Yeonsung.

“apa menunya hari ini, ya?”.

“ugh… apapun itu cepatlah buka pintunya”.

Seorang siswi mendekati Yeonsung. Ia ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan, karena ada Kimi di depan Yeonsung. “Park Yeonsung”. Panggilnya pelan.

“eung? Oh, Mina’ya, wae?”.

Gadis itu – Park Mina. Berusaha sepelan mungkin ketika memanggil Yeonsung, tapi malah orang yang dipanggil meninggikan suaranya. Hingga membuat Kimi menoleh. Ia menatap Mina, sedang membongkar ingatannya tentang gadis ini.

“aku ingin berbicara denganmu, bisa kita bertemu sepulang sekolah?”. Ujar Mina.

“ah, baiklah, nanti ku kirim pesan saja”. Jawab Yeonsung.

Mina tersenyum, ia cepat-cepat pergi dari tempat itu. Tatapan Kimi memang membuat kebanyakan orang tak nyaman. Bahkan sampai Mina telah jauh berjalan, ia masih menatap punggung gadis itu.

“ya ~ kau akan menemuinya?”.

“tentu saja. Kenapa?”.

“sebaiknya kau hati-hati”.

“kenapa? Kau tahu sesuatu?”.

Kimi mengangkat bahunya. Tanda ia tidak tahu dan tak akan memberitahu. Mengabaikan rasa penasaran Yeonsung. Kimi melangkah maju mengikuti barisan antrian siswa lainnya untuk memasuki kantin.

Pentingnya sebuah circle didalam sekolah salah satunya adalah untuk menempati meja kantin agar bisa makan bersama. Dari club majalah sekolah, orang yang antri paling depan adalah Kim Hanbin. Jadi ia selalu menempati meja untuk teman-temannya.

Yeonsung sedang mengantri untuk mendapatkan lauk ketika lelaki didepannya ini memberikan uang pada penjaga meja makanan. Lalu ia mendapatkan sepotong ayam.

“whoa… aku baru tahu ada sistem seperti itu untuk mendapatkan ayam di kantin”. Gumamnya. Kimi mendengar ucapan Yeonsung, ia hanya melirik gadis itu sekilas.

Di meja yang sudah di tempati oleh  Hanbin, kini sudah bergabung Younghoon, Jaewon dan Kevin. Sementara dua anggota lagi masih dalam perjalanan menuju meja tersebut.

Pemandangan yang dilihat olehnya tadi benar-benar mengganggu, Yeonsung tidak tahu sejak kapan sistem pembayaran lebih untuk mendapatkan lauk lebih terjadi.

“tidakkah kalian pikir makanan di kantin kita semakin lama, semakin sedikit?”. Celetuk Younghoon.

“tidak, jatah makanmu saja yang banyak”. Sahut Kimi.

Yeonsung menegakkan tubuhnya, melihat makanan yang ada di piring Younghoon. “eo? Younghoon’ah, kau tidak bisa makan sedikit seperti itu. Ambil punya ku”. Yeonsung mengangkat piring makan siangnya. Hendak memberikan setengah nasi miliknya.

“ey, tidak usah”.

“tidak apa-apa, ambil saja”.

“tidak usah, Yeonsung”.

“ya ~ aku ikhlas, ambilah separuh”.

Jaewon menarik piring makan siang milik Yeonsung, mengambil separuh nasi milik Yeonsung. Dan mengembalikan piringnya. “biar kubantu dietmu”. Ujar Jaewon.

Alasan mengapa Jaewon menjadi ketua majalah sekolah adalah karena sifatnya. Biasanya dia akan melakukan sesuatu tanpa harus disuruh atau bertanya. Jaewon tak terlalu suka bicara, tak suka penolakan, dan yang terpenting dari semuanya adalah ia selalu peduli pada anggota lainnya. Semua anggotanya percaya padanya.

“tapi aku tidak sedang diet, Jaewon’ah”. Ujar Yeonsung.

“akui saja kalau kau sedang diet, Yeon’ah”. Sahut Hanbin.

Sekolah telah selesai ketika Jaewon pergi ke ruang club sendirian. Ia kesana sekedar memeriksa apakah ruangan sudah terkunci atau hal lain, tugas rutin ketua club. Dari jendela pintu, terlihat cahaya lampu dari dalam club masih menyala – menandakan jika masih ada orang didalam sana.

Jaewon membuka pintu ruangan sedikit dan mengintip. Sosok Yeonsung tengah tertidur didepan laptopnya yang masih menyala. Jaewon memasuki ruangan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara agar gadis yang tengah menikmati tidurnya ini tidak terbangun.

Lelaki itu menatap wajah Yeonsung yang tak sadar jika seseorang telah masuk ke dalam ruangan dan menonton dirinya tertidur. Jaewon menarik selembar selimut yang terlipat diatas shofa. Ketika ia hendak menyelimutkan kain itu pada Yeonsung, niatnya terhenti.

“tidak, tidak”. Gumamnya.

Jaewon kembali meletakkan selimut tersebut dan malah mengeluarkan ponselnya. Klik. Yang mengambil poto Yeonsung yang masih tertidur. Lalu ia bergerak menuju kursinya.

“eung…”.

5 menit kemudian Yeonsung mengeluarkan suara aneh. Tubuhnya perlahan kembali tegak, matanya terbuka. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, menggeliat karena punggungnya pegal setelah tidur dalam posisi tertelungkup di meja.

“akh… aaakh… punggungku”. Ringisnya. Setelah puas menggeliat, ia berusaha memulihkan kesadarannya.

“pulang saja jika kau lelah”.

“aaa!!”. Yeonsung berteriak menyadari Jaewon telah duduk di kursinya. “ya! mengagetkan saja”.

Jaewon menatapnya sebentar lalu menggelengkan kepala. “kenapa kau masih disini, sudah larut malam, kau tahu?”.

Yeonsung melihat jam di dinding. “30 menit lagi aku pulang. Ah, kau sendiri, mengapa kesini?”.

“aku selalu kesini setiap sebelum pulang kerumah”.

“oh, begitu”. Yeonsung mengangguk. “kebetulan kau disini, bisa beri aku saran seharusnya cerita apa yang kita buat minggu ini?”.

Alih-alih menjawab, Jaewon langsung bangkit dan pindah duduk disebelah Yeonsung. Membuat gadis itu menahan napasnya saking terkejutnya. Mereka sudah saling mengenal sejak tingkat 1, tapi entah mengapa Yeonsung selalu saja terkejut ketika Jaewon mendadak mendekat tanpa aba-aba.

Jaewon focus pada cerita yang sudah dibuat Yeonsung di laptopnya. Dengan jarak sedekat ini, bahkan Yeonsung bisa melihat dengan jelas bagaimana mata Jaewon bersinar ketika membaca cerita yang telah ia buat.

“menurutku ini sudah bagus, hanya kurang sedikit saja agar bisa lebih bagus”. Jaewon menoleh pada Yeonsung. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. “ah, bicarakan dengan Kevin besok, dia pasti bisa memberi saran”. Sambung Jaewon.

Jaewon menjauhnya tubuhnya, membuat kembali jarak diantara mereka. “baiklah, aku tahu yang ini akan diterima”.

“tidak usah menunggu 30 menit, pulang sekarang”. Ujar Jaewon sembari berdiri dan menarik tas nya. “ku antar”.

Yeonsung berjalan di belakang Jaewon. Mengekor dalam perjalanan untuk keluar dari dalam gedung sekolah. Ruangan club berada di lantai 4, berseberangan dengan gedung kelas. Sudah pukul 10 malam, sebentar lagi semua lampu akan dimatikan, jadi mereka harus keluar sebelum koridor menjadi gelap.

“kau tahu soal urban legend di sekolah kita?”. Tiba-tiba Jaewon membuka pembicaraan. Sunyi sekali hingga suaranya menggema di koridor tersebut.

“aku tahu, jangan mengungkitnya”. Jawab Yeonsung mencoba tenang.

“jika kau tahu mengapa kau malah berjalan dibelakangku?”. Jaewon menghentikan langkahnya dan berbalik. Otomatis Yeonsung pun menghentikan langkahnya.

“apa?”.

“elevator?”. Tanya Jaewon sambil menggerakkan matanya ke kanan dimana terdapat elevator.

Yeonsung menoleh perlahan kearah pintu elevator. Layar digital elevator menunjukan angka dimana elevator berada sekarang. Lantai 1.

“ku dengar kemarin ketua OSIS yang pulang terlambat melihat hantu di koridor. Ia ditemukan pingsan saat petugas keamanan malam berpatroli”.

Layar menunjukkan jika elevator tersebut kini berada di lantai 2 dan bergerak ke lantai 3. “apa yang kau pikirkan, Park Yeon?”.

Lantai 4.

Ting.

Pintu elevator terbuka. Sesosok pria paruh baya berdiri di dalam elevator tersebut.

“kyaaaa!!”. Jerit Yeonsung. Ia melompat dan berpegang erat di lengan Jaewon.

“aaaaa!!!”. Tak pelak petugas keamanan malam pun berteriak melihat Yeonsung dan Jaewon. “kalian – aigoo… mengagetkanku saja”. Petugas Lee mengusap dadanya, ia melangkah keluar dari dalam elevator.

a-ahjussi, kenapa kau muncul dari sana?”. Tanya Yeonsung masih berpegangan di lengan Jaewon.

Pak Lee terkekeh pelan. “kaki ku sedang sakit, aku tidak sanggup menaiki tangga, jadi aku menggunakan elevator”. Jawabnya.

“ah, begitukah? Baiklah kalau begitu”.

“bisa kau lepaskan sekarang?”.

“huh?”. Yeonsung mendongak menatap Jaewon yang juga tengah menunduk melihat padanya. Yeonsung tersadar jika ia sedang memegang erat lengan Jaewon. “ah, mian”.

“sudah jam pulang, sebaiknya kalian pulang. Aku harus berkeliling sekarang”. Ujar Pak Lee.

ne, ahjussi. Annyeongigaseyo”. Yeonsung menunduk pada Pak Lee. Ia buru-buru memasuki elevator, diikuti Jaewon kemudian.

Adalah hal wajar bagi mereka pulang di larut malam. Baik belajar mandiri maupun les tambahan, semuanya selesai larut malam. Yeonsung berlari kecil mengikut langkah Jaewon menuju parkiran. Mereka sudah tiba di depan motor Jaewon ketika Yeonsung teringat akan sesuatu. Yeonsung mengeluarkan ponselnya. Mina. Ia berjanji akan menemui Mina sepulang sekolah. Namun sejak kelas selesai ia malah sibuk menulis cerita untuk majalan sekolah.

“Jaewon’ah, kau duluan saja. Aku masih ada urusan”. Ujar Yeonsung.

“memangnya kau mau kemana selarut ini?”.

“aku harus menemui seseorang”.

Jaewon diam sejenak. Yeonsung telah berbalik dan berjalan menjauh. Mereka berteman, kan? Tidak boleh membiarkan seorang gadis berkeliaran sendirian seperti ini. Jaewon bergegas menaiki motornya dan menyusul Yeonsung. Gadis itu sudah berjalan cukup jauh.

“jalanmu cepat juga, biar kuantar. Kemanapun itu”. Ujar Jaewon lalu memberikan helm kepada Yeonsung.

Mau tak mau Yeonsung menuruti niat baik Jaewon. Ia menerima tawaran agar diantar saja dan memberitahu Jaewon mereka harus pergi kemana. Mina menyuruhnya untuk datang ke toko serba dimana ia bekerja paruh waktu.

Yeonsung masuk ke dalam toko serba dimana Mina bekerja. “Mina, annyeong”. Sapanya ketika masuk. Saat itu Mina sedang melayani pembeli.

“ah, Yeon’ah, annyeong”. Mina tersenyum dan membalas sapaan Yeonsung. Namun senyumnya seketika hilang ketika ia melihat Jaewon juga memasuki toko. Jaewon pun berdiri diam ditempatnya saat tatapannya dan Mina bertemu.

“Jaewon’ah, kau ingin makan ramen tidak?”. Tawar Yeonsung sambil mengangkat cup ramen dikedua tangannya.

“oh, boleh”. Jaewon tersadar, ia bergerak menghampiri Yeonsung yang sibuk memeluk dua cup ramen di lengan kirinya. Gadis itu kembali berkerak untuk mengambil sepotong sosis jumbo.

Setelah selesai mengambil belanjaannya, ia pergi ke meja kasir untuk membayar. Sedangkan Jaewon pergi ke meja makan lebih dulu dan menunggu Yeonsung disana.

“kupikir kau akan datang sendirian”. Ujar Mina sambil men-scan belanjaan Yeonsung.

“tadi aku juga ingin pergi sendirian, tetapi Jaewon menawarkan tumpangan”. Jawab Yeonsung. “wae? Kau tidak nyaman? Ku usir saja dia, ya”. Baru saja Yeonsung akan berbalik, hendak menghampiri Jaewon dan mengusir lelaki itu. Namun Mina menghentikannya.

“tidak, tidak usah”. Cegah Mina.

“baiklah kalau begitu”. Yeonsung menyerahkan uang untuk membayar belanjaannya. Selagi Mina menghitung uang kembaliannya, Yeonsung menoleh pada Jaewon yang masih duduk nyaman, melihat keluar jendela.

“kita bisa bicara setelah kalian selesai makan”. Ujar Mina.

Yeonsung mengangguk. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Tentang mengapa Kimi berkata jika ia harus berhati-hati dengan Mina. Dan tingkah canggung Jaewon dan Mina saat ini.

Saat mereka berada ditingkat 1, pernah beredar rumor jika Jaewon dan Mina berpacaran. Beberapa bukti juga terkumpul. Namun hal itu dibantah oleh Jaewon sendiri. Ya, saat itu Jung Jaewon memang sangat populer. Memang lelaki tertampan disekolah disematkan pada Kim Younghoon setelah 5 tahun terakhir gelar tersebut diberikan pada kakak tingkat mereka. Tetapi Jaewon berbeda, saat ditingkat 1 ia sangat suka tebar pesona.

Tetapi semuanya telah berubah ketika ia membantah rumor jika ia berpacaran dengan Park Mina. Imej seorang Jung Jaewon berubah.

Setelah selesai makan ramen, Yeonsung meminta Jaewon untuk menunggu diluar. Tanpa banyak bertanya, Jaewon menuruti permintaan Yeonsung. Bahkan gadis itu menyuruhnya untuk pulang duluan, tetapi Jaewon memilih menunggu.

“jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”.

“aku ingin meminta bantuanmu, kupikir hanya kau yang akan membantuku, Yeon’ah”.

Yeonsung memiringkan kepalanya, bingung. “jika aku mampu pasti akan ku bantu”.

“kau tahu soal siswa kelas 3-2 yang menghilang lalu ditemukan dalam keadaan tewas?”. Tanya Mina. Yeonsung diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Tentu saja ia tahu, Kimi yang menulis artikel soal itu di majalah untuk edisi 2 minggu. “sebenarnya dia pacarku. Kim Samuel”.

n-ne?”.

Mina menarik napas sebelum kembali menceritakannya pada Yeonsung. “aku tahu kematiannya tidaklah wajar, Yeon’ah. Karena itu aku menyelidiki kematiannya, sendiri, karena aku tahu tak ada yang ingin mengungkitnya”.

Bahu Yeonsung menurun, ia lemas mendengar fakta tersebut. “sebentar, Mina’ya, apa yang ka harapkan dariku?”.

“kau dan aku sudah berteman lama, kau selalu membantuku ketika aku kesulitan belajar Cello. Kau ingat kan?”. Mina meraih tangan Yeonsung, kening Yeonsung berkerut.

“tapi ini berbeda dengan sekedar membantumu belajar Mina’ya”.

“aku hanya ingin kalian membahasnya lagi di majalah sekolah”.

“apa?”.

“aku bisa membantu data yang kau perlukan, kumohon, ungkit kembali kasus kematiannya”.

Yeonsung buru-buru menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman lemah Mina. “aku – aku tidak bisa melakukan itu. Artikel semacam itu bukan tugasku, Mina’ya”.

“hanya kau harapan terakhirku, Yeon’ah”.

“kami punya 6 orang anggota, kenapa harus aku? Kau bahkan bisa menghubungi wartawan dengan data yang kau miliki itu, Mina’ya”. Yeonsung berdiri. “aku pulang sekarang. Kau harus menenangkan dirimu dan pikirkan sendiri caranya, aku tidak bisa membantumu”.

Mina diam. Yeonsung berbalik dan melangkah pergi. Jaewon menunggunya diluar sana. Ia harus pulang sekarang. Mina pun berlari menuju meja kasir, mengambil tas sekolahnya dan mengeluarkan sebuah amplob coklat dari sana. Tepat sebelum Yeonsung membuka pintu toko, Mina menarik temannya itu.

“aku percaya padamu, jadi, bantu aku”.

Mina meletakkan amplob coklat tersebut di tangan Yeonsung. Membuat gadis itu menghela napas berat. Akhirnya Yeonsung keluar dengan sebuah amplob dipelukkannya.

Sekarang Yeonsung mengerti mengapa Kimi menyuruhnya untuk berhati-hati. Mina sudah dikenal sebagai gadis yang sering berbohong dan berkata yang tidak-tidak. Membuat berbagai rumor dan isu, mengandalkan bukti yang ia miliki untuk mensabotase atau semacamnya.

Wu Kimi baru saja menyelesaikan bimbingan belajarnya pukul 11.30 malam. Selama bibimgan belajar berlangsung, ia tidak diperbolehkan membuka ponselnya. Jadi ia baru bisa membuka ponselnya ketika sudah pulang.

‘Mina berbicara dengan Yeonsung. Kuharap ini bukan bencana’

Sebuah pesan yang Kimi buka ketika ia sudah berada didalam mobil jemputannya. Kimi berdecak, ia berusaha menenangkan dirinya.

‘bagaimana cara untuk menghentikannya?’

Kimi membalas pesan tersebut. Benar jika mereka berenam sudah sangat dekat, kemana-mana sering bersama. Makan bersama, main bersama, belajar bersama. Hanya saja ada beberapa rahasia yang tidak diketahui satu sama lain, bukan?

‘aku tidak ingin ikut campur, terserah kau saja’

Pesan balasan tersebut membuatnya semakin gelisah. Apa yang akan terjadi jika sampai Mina membocorkan informasi yang tidak seharusnya kepada Yeonsung. Kimi tahu, jelas ia tahu jika Mina memiliki data pendukung itu. Beberapa kali gadis itu menyinggung Kimi dengan berbagai komentar di social media. Karena itulah Kimi bahkan sampai menghapus semua kirimannya di media social.

Kimi tiba dirumahnya tepat tengah malam. Ia terlalu lelah karena memikirkan begitu banyak masalah yang terjadi dalam hidupnya. Tetapi ia tak boleh menyerah sekarang. Bagaimanapun caranya, ia ingin diakui oleh kedua orang tuanya.

“Kimi, kau sudah tidur?”. Suara khas itu membuat Kimi kembali membuka matanya. Ia buru-buru bangkit dan membuka pintu kamarnya.

halmeoni”.

Wanita berusia sekitar 60 tahunan itu tersenyum ketika cucu kesayangannya membuka pintu kamar baginya. Terlihat kerutan di wajah nya namun tetap terlihat cantik dan anggun, rambutnya mulai berubah warna menjadi putih, ia tata sedemikian rupa agar tak mengurangi keanggunannya.

“ku dengar mobil Pak Dam sudah kembali, jadi aku ke kamar mu untuk memastikan gadis kecil ini sudah pulang”.

halmeoni, aku kan sudah besar”.

aigoo ~ kau tetap gadis kecil bagiku. Ah, cham, apa kau sudah makan?”.

Kimi mengusap perutnya, ia menggeleng pelan. Nenek mana yang akan membiarkan cucu tersayangnya kelaparan sebelum tidur. Makan sebelum tidur dan sudah lewat tengah malam bukanlah kebiasaannya, hanya saja ia tak bisa menahan rasa lapar karena telah melewatkan makan malam.

“bagaimana sekolahmu?”.

“begitulah, aku pastikan akan mendapat peringkat pertama lagi saat ujian nanti”.

Nenek nya mengusap rambut gadis itu. “ketika kau berhasil, kau akan meninggalkanku”.

“aku akan membawa halmeoni bersamaku”.

geurae? Baiklah, kalau begitu ayo kita lakukan yang terbaik”.

Setelah selesai makan, Kimi kembali ke kamarnya. Ia duduk dimeja belajarnya. Ia melihat bingkai poto yang berisikan dirinya dan teman-temannya dari club majalah sekolah. Hal buruk seharusnya tak terjadi dimasa SMA nya, tidak boleh terjadi. Ia harus mencegah hal itu.

TBC

 

2 responses to “FanFic “Nimia” #1 by Arni Kyo

  1. Omaigattt….
    Ga nyangka blog ff favoriteku jaman SMP masih beroperasi sampai skg diriku sudah kuliah.
    Gegara dulu sempet mabok ff akhirnya pas SMA aku udah ilang feeling kalo baca ff dan ga pernah ngunjungin blog ini lagi.
    Terharu ih ternyata ini blog masih aktif dan masih ada author yg mau upload disini sedangkan udah ada aplikasi wattpad yg bisa buat upload cerita.
    Uh ttp semangat yah kalian~~ para author di blog ini! Walaupun pembacanya ga sebanyak dulu keep fighting yahhh

    • ada wattpad juga kok, cuma lebih nyaman ngepost disini nggatau kenapa hehehe
      btw author disini cuma 1 org :3

      terima kasih sudah berkunjung kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s