FanFic “Nimia” #2 by Arni Kyo

Nimia - Poster

Nimia #2

Author : Arni Kyo

Main cast : Jung Jaewon a.k.a ONE (Rapper) | Park Yeonsung (OC)

Other cast : Kim Younghoon (The Boyz) | Wu Kimi (OC) | Kim Hanbin (Ikon) | Moon Kevin (The Boyz) | etc

Genre  : School Life, Romance

Length : Chaptered

~oOo~

Hari ini pun sama. Setiap sebelum pergi ke kelas masing-masing, anggota club majalah akan berkumpul di ruang club. Mereka sudah dikejar deadline dan harus segera menyerahkan draft kepada guru pembimbing. Bayangkan saja, Yeonsung baru selesai menulis ceritanya malam tadi, dan Kevin harus membuat komik dari cerita tersebut. Kimi pun baru mulai mengumpulkan dokumentasi untuk artikel yang akan ia tulis. Kim Hanbin bisa bersantai setidaknya hingga semua bahan majalah telah disetujui.

“bisa kau buat rambutnya sedikit panjang, Kevin’ah?”. Yeonsung tengah bekerja sama dengan Kevin untuk menyelesaikan proyek mereka.

“seperti ini?”. Kevin sibuk menggambar di tab nya.

“ya, ya, seperti itu. Sangat mirip dengan imajinasiku”. Ujar Yeonsung dengan semangat.

Hanbin baru saja datang bersamaan dengan Jaewon. Semalam Yeonsung mengirimkan cerita miliknya di grup obrolan milik mereka, dan Jaewon langsung menyetujuinya, jadi Hanbin tak bisa banyak berkomentar tentang itu.

“Yeon’ah, permen mu ku makan, ya?”. Hanbin langsung membuka bungkus permen yang ia temukan di atas meja. Bahkan si pemilik belum mengiyakan.

“ya! Hanbin, kenapa kau memakan permenku?”.

“aku sudah memintanya”.

Setelah meletakkan tas nya, Jaewon langsung berjalan menuju jendela. Ia datang untuk menyemprot tumbuhan yang ia pelihara disana. “benar, jika tidak ada keributan seperti ini, kurasa club ini akan menjadi aneh”. Gumam Jaewon sambil menyemproti tanamannya dengan sepenuh hati. Tak peduli dengan adegan horror dibelakangnya.

“kau mulai gila karena terus berbicara dengan tumbuhan”. Sahut Hanbin yang tiba-tiba sudah berada disebelah Jaewon.

Jaewon menoleh, Hanbin tersenyum kuda. Dengan tanpa beban ia menyodorkan bungkus permen yang baru saja ia curi dari Yeonsung. Tanpa diduga Jaewon merampas bungkus permen tersebut dan langsung menghabiskannya.

“ya!”.

“aku sudah lama tidak makan makanan manis”. Ujar Jaewon lalu tersenyum polos. Jaewon menepuk-nepuk pundak Hanbin lalu berbalik dan pergi.

“eishh…”. Dengus Hanbin. Namun Hanbin menyadari hal lain, ponsel Jaewon tertinggal di dekat pot bunga. Hanbin menyeringai, ia mengambil ponsel Jaewon, berniat membuka ponsel itu. Mungkin ada aib yang bisa ia temukan.

“eo? Jaewon’ah, ponselmu dikunci?”. Hanbin berseru tanpa sadar. “biar ku tebak passwordnya”.

Jaewon menghampiri Hanbin, jangan sampai Hanbin berhasil membuka ponselnya. “ya! Kembalikan”.

“tunggu, biarkan aku mencoba untuk membukanya”. Hanbin menghindar. Jaewon diam dan melihat saja tingkah sahabatnya ini. Jaewon yakin Hanbin tidak sepintar itu hingga ia bisa membuka sandi ponselnya.

“kembalikan jika kau tidak bisa membukanya”. Jaewon merampas ponselnya dari tangan Hanbin.

Hanbin tersenyum penuh arti. “ey, jika kau sudah mengunci ponselmu seperti itu, tandanya kau sudah memiliki pacar, benar kan?”. Goda Hanbin.

“Jaewon punya pacar?”. Sahut Kevin.

“betul sekali, aku sangat tahu Jaewon. Jika ponselnya dikunci dengan sandi berarti ia sedang menjalin hubungan”. Jawab Hanbin.

Yeonsung melirik Jaewon yang saat itu tengah memeriksa ponselnya, memastikan jika Hanbin tak berhasil membuka ponselnya tadi. Setelah itu Jaewon kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku. Jaewon menoleh pada Yeonsung, buru-buru gadis itu mengalihkan pandangannya.

“kalian bisa menyelesaikannya berapa lama?”. Tanya Jaewon kemudian.

“target ku 2 hari”. Jawab Kevin.

“tidak usah terburu-buru, tim Kimi saja belum menyerahkan artikel mereka”.

Kevin mengangguk. “akan ku usahakan cepat, tenang saja”. Kevin percaya diri.

Jaewon percaya pada kerja tim anggotanya, makanya ia pun tak pernah menuntut. Kini mata Jaewon terfokus pada sebuah amplob coklat yang terselip diantara buku yang dibawa Yeonsung. Haruskah ia mengambil amplob tersebut?

Kimi sedang sibuk memilih poto-poto yang akan ia masukan ke dalam artikel bersama Younghoon, dimeja nya. Saat itu seorang gadis bertubuh mungil memasuki kelas dan menghampiri meja Kimi.

“Wu Kimi, bisa ikut denganku?”.

Kimi mengangkat kepalanya, menatap gadis yang berbicara dengannya. Younghoon pun melakukan hal yang sama, merasa kegiatan mereka di interupsi. Kwon Eunbi, dikenal sebagai gadis yang sombong, berasal dari keluarga kaya yang berpendidikan.

“kau tidak lihat aku sedang sibuk?”. Kimi balik bertanya, matanya melirik Younghoon.

“tsk!”. Eunbi berdecak, tanpa permisi ia menarik tangan Kimi agar ikut dengannya. Meskipun dengan penolakan, Kimi tetap mengikuti kemana Eunbi akan membawanya.

Mereka memasuki ruangan yang selalu dipakai oleh kelompok ini untuk belajar bersama. Didalam ruangan itu hanya ada Kim Hyewon. Yang sedang duduk diatas meja, menunggu kedatangan Eunbi dan Kimi.

“lepaskan”. Kimi menarik tangannya dari Eunbi. Kimi menatap kedua gadis ini dengan tatapan tak suka.

“apa kau mendapat pesan ancaman?”. Tanya Eunbi langsung pada intinya.

“apa?”.

Eunbi mengeluarkan ponselnya. Lalu menunjukan ponselnya pada Kimi. “lihat, kami semua mendapat pesan ancaman”.

Hyewon turun dari meja dan menunjukkan ponselnya pada Kimi. “kami mendapat pesan ini di saat yang bersamaan. Apa kau juga mendapatkannya?”.

Kimi membaca pesan tersebut. Karena ia sendiri tak mendapatkan pesan semacam itu.

‘kau pikir bisa selamanya berada diatas, perhatikan langkahmu, aku juga akan bertindak’

Klik.

Pintu terbuka. Dua orang siswa memasuki ruangan tersebut. Kim Sunwoo dan Seo Changbin. Sepertinya memang Eunbi menyuruh semua orang berkumpul untuk membahas ini.

“aku tidak mendapatkan pesan semacam itu”. Ujar Kim Sunwoo.

“aku dapat”. Sahut Changbin.

Eunbi menatap Kimi. “kau?”.

Kimi menggeleng pelan. “aku tidak, Hanbin pun tidak. Jika pun ia dapat, ia tak akan peduli”. Jawab Kimi dengan angkuh.

“baiklah, anggap saja ini pesan iseng. Tapi ujian kita tak boleh dikacaukan karena ini”. Ujar Eunbi sebelum akhirnya pergi dari ruangan itu. Hyewon mengikutinya dari belakang. Meninggalkan Kimi yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

“pesan apa, sih?”. Tanya Sunwoo yang penasaran.

Changbin menunjukkan ponselnya pada Sunwoo. “ini, tapi aneh jika hanya kami bertiga yang menerima pesan ini”.

“itu karena kalian sangat mudah panik”. Celetuk Sunwoo sambil melipat tangannya dibawah dada. “ya sudah kalau begitu aku kembali ke kelas”.

“tapi sepertinya aku pernah mengenal nomor ini”. Changbin berbicara sendiri, ia memutar ingatannya, nomor yang mengirim pesan itu – sepertinya ia pernah mengenal bahkan menyimpan nomor tersebut. Tapi siapa?

Yeonsung memasuki kelasnya setelah selesai berdiskusi dengan Kevin. Jaewon yang telah lebih dulu masuk ke kelas menyadari kedatangan Yeonsung. Dan ia pun sadar jika Yeonsung tidak membawa buku-buku yang diletakkannya diatas meja diruang club tadi. Baru saja Yeonsung duduk di kursinya, Jaewon segera bergegas keluar dari kelas.

“ya! Jung Jaewon, mau kemana?”.

Jaewon menghentikan langkahnya dan menoleh pada Yeonsung. “toilet”. Jawabnya singkat.

Yeonsung tak mengatakan apapun lagi. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, dan anak itu malah pergi keluar kelas. Memang hal seperti ini sudah sering terjadi, Yeonsung pun sudah tidak canggung membuka tas Jaewon untuk mengambil buku tugas milik lelaki itu.

Tapi, Jaewon berbohong.

Nyatanya ia malah pergi ke ruang club. Tanpa berpikir lebih dulu, Jaewon mengambil resiko untuk menyingkirkan data yang di berikan oleh Mina pada Yeonsung. Jaewon memasuki ruang club, ia juga tak menduga jika Younghoon berada disana sendirian.

“Younghoon’ah, kenapa kau disini?”.

“jangan hiraukan aku, aku sedang bicara sendiri”.

Jaewon menutup pintu ruang club. Ia bersikap biasa saja, meskipun ia tampak gugup untuk mengambil amplob coklat dari tumpukan buku. “bagaimana artikel kalian?”. Tanya Jaewon kemudian. Tangannya bergerak menarik amplob dengan cepat dengan mata tertuju pada Younghoon.

“sudah hampir selesai”. Jawab Younghoon. Tiba-tiba saja lelaki tinggi itu berdiri dan menghampiri Jaewon. Membuat si ketua club terkejut. Jelas saja Younghoon sadar jika Jaewon tengah melakukan sesuatu yang mencurigakan.

“dimana Kimi?”.

“dikelas, setelah bertemu dengan Kwon Eunbi sikapnya jadi aneh. Makanya aku pergi kesini dan berpikir”. Jawab Younghoon.

Kini keduanya telah berdiri berhadapan. Younghoon melihat kearah amplob yang sudah berada ditangan Jaewon.

“anggap saja aku tidak melihat apa yang kau lakukan, Jaewon’ah”.

Jaewon tersenyum miring, ia menepuk pundak Younghoon. “kau mengerti, ya?”.

“Yeonsung berkata padaku, hari ini ada yang ingin ia bicarakan pada kita semua terkait isi amplob ini. Kupikir isinya penting, tapi sepertinya ia juga belum melihat isi”.

“benarkah?”.

Younghoon mengangguk. “katanya ia sibuk menulis cerita, jadi ia ingin mendiskusikannya bersama-sama nanti”. Ujar Younghoon.

“baiklah, biar ku periksa dulu isinya”.

Tanpa ragu sedikitpun Jaewon membuka amplob tersebut. Terdapat beberapa lembar kertas dan sebuah flashdisk. Jaewon segera mencari nama Wu Kimi dari lembaran kertas tersebut dan memisahkan kertasnya.

“tunggu, daftar apa ini?”. Younghoon menahan lembaran kertas yang akan Jaewon kembalikan ke dalam amplob.

Mereka membaca isi yang tertuang diatas kertas itu. Mulut Younghoon sampai terbuka sedikit, kening Jaewon mengkerut. Mereka saling bertatapan setelah membaca kertas tersebut.

“aku hanya akan mengambil daftar yang ini, sisanya akan ku kembalikan”. Ujar Jaewon sambil memasukan semua lembaran yang tersisa.

flashdisk, bukankah seharusnya kau memeriksa flashdisk nya juga?”.

“ah, benar”.

Jaewon menarik kursi dan duduk. Saran Younghoon terkadang berguna, setidaknya ia harus memastikan jika tak ada soft file untuk daftar yang kertasnya ia ambil. Namun tanpa di duga, ternyata isi flashdisk tersebut hanyalah berupa rekaman suara dan beberapa video.

Wu Kimi hanya mencoba untuk bersikap biasa saja, seperit biasa saat jam istirahat ia akan menjemput Yeonsung dikelas. Namun baru saja ia akan memanggil Yeonsung, ia mengurungkan niatnya. Mina berdiri di depan meja Yeonsung, dan tengah berbicara dengan gadis itu. Kimi tak mungkin muncul di hadapan Mina begitu saja dan membawa Yeonsung pergi.

“Kimi’ah, mwohae?”. Jaewon muncul, ia baru saja kembali setelah membeli minuman dingin di mesin. Jaewon melihat ke dalam kelas.

Jaewon mengerti apa yang harus ia lakukan, tanpa berkata apapun – dengan langkah panjangnya ia memasuki kelas untuk membawa Yeonsung.

“aku belum membukanya, lagipula minggu ini tidak bisa”.

“Yeon’ah, kumohon”.

“Park Yeon”. Tanpa babibu Jaewon langsung menggenggam pergelangan tangan Yeonsung, menarik dan membawa gadis itu pergi.

“ya! Jung Jaewon”.

“ayo makan siang”.

Yeonsung kebingungan namun tetap mengikuti langkah Jaewon. “ya! Pelan-pelan”. Protesnya. Ia melihat Kimi sedang menunggu di koridor kelas. “oh! Kimi’ah, tolong aku”. Yeonsung mengulurkan tangannya agar Kimi dapat membebaskan dirinya dari genggaman Jaewon.

Kimi menyambut tangan Yeonsung sambil tertawa. Plakk. Kimi menepuk tangan Jaewon agar melepaskan genggamannya dari Yeonsung. “ya, Jaewon’ah, sudah, sudah cukup jauh”.

“baiklah”. Jaewon segera melepaskan genggamannya dan memasukkan tangannya itu ke dalam saku celana.

“ah, jinjja! Dasar aneh”. Umpat Yeonsung sambil mengelus-elus tangannya yang terlihat memerah. “sakit”. Rengeknya pada Kimi.

Mina keluar dari kelas Yeonsung. Ia hanya bisa melihat tanpa bisa menahan Yeonsung agar tidak pergi begitu saja. Matanya memancarkan kebencian, menatap punggung ketiga orang itu yang berjalan semakin menjauh dari kelas.

“Hanbin’ah, kau harus datang ke tempat les malam ini”. Ujar Kimi sambil menyumpit makan siangnya.

“aku ada urusan, tolong katakan pada saem”. Jawab Hanbin dengan entengnya.

“ah, tidak mau. Katakan saja sendiri”. Tolak Kimi tanpa basa-basi.

Hanbin berdecak kesal, ia bukan tidak tahu jika hal yang paling sulit adalah meminta bantuan Wu Kimi. “akan ku beri poto telanjang Younghoon saat bayi jika kau mau membantuku kali ini saja”.

“ya!”. Teriak teman-temannya bersamaan.

Bahkan wajah Younghoon sampai memerah karena ucapan Hanbin. Sungguh ia menyesal pernah mengundang Hanbin kerumahnya, brandal itu melihat-lihat album poto lama dan menemukan aib disana.

“Hanbin’ah, tega sekali kau menjual temanmu untuk kepentingan pribadi”. Kevin menggelengkan kepalanya.

“aku bahkan tak menginginkan hadiah itu”. Sahut Kimi, ia menatap jijik pada Hanbin.

“tapi –“. Yeonsung angkat bicara. “apakah poto itu  benar-benar ada?”.

“Park Yeon!”. Jaewon mulai frustasi dengan kelakukan konyol teman-temannya.

“ya! Park Yeonsung”.

“aku tidak ingin hidup lagi”. Younghoon memeluk Kevin yang duduk disebelahnya.

Hanbin mengeluarkan ponselnya dari saku. “tentu saja ada, aku bisa menunjukkannya padamu”.

Plakk.

Kimi segera memukul tangan Hanbin, cukup keras hingga ponselnya terjatuh dan berenang ke dalam sup. “eish.. Wu Kimi!”. Hanbin menyelamatkan ponselnya sebelum terendam cukup lama.

“ah, mian. Aku tidak memukul begitu keras, kok”. Ujar Kimi dengan wajah polos.

Younghoon mengulurkan tangannya pada Kimi, mengajak gadis itu untuk tos. Dengan senang hati Kimi menepukkan telapak tangannya ke telapak tangan Younghoon. Suasana seperti ini terjadi setiap hari, terlebih lagi jika mereka tengah berkumpul diruang club.

Sepulang sekolah, Kimi menemui Jaewon di ruang perlengkapan olahraga. Kebetulan hari ini Kimi ada kegiatan latihan panah. Kimi memasuki ruang perlengkapan sambil melihat keadaan sekitar. Tak ada orang disana, ia melihat sepasang sepatu milik Jaewon dari balik keranjang . Kimi segera menghampiri lelaki itu. Jaewon duduk dilantai, tubuhnya menyandar di dinding, kakinya selonjoran. Kimi menendang pelan kaki Jaewon sebagai sapaan. “ya!”. Jaewon terkejut tentu saja.

“uh, wae?”.

Jaewon bangkit dari duduknya. “sudah memberitahu yang lain agar tidak datang ke club hari ini?”.

“sudah”. Jawab Kimi. Lalu ia sibuk mencari benda yang ia butuhkan disana.

“mereka setuju”.

Kimi tersenyum lebar. “sangat. Bahkan tak ada yang bertanya ‘kenapa?’. Anggotamu benar-benar luar biasa”.

Oh.

Jaewon tahu itu adalah ejekan dari Wu Kimi. Ia sudah terbiasa dengan kalimat-kalimat sarkasme gadis itu. “yang terpenting, aku berhasil mengambil daftar yang ada namamu”. Ujar Jaewon lalu melipat tangannya dibawah dada. “ternyata benar dugaanku, itu adalah amplob yang sama seperti yang pernah kita terima”.

“kau gila? Kau mengambilnya? Bagaimana jika Yeonsung tahu?”.

“sepertinya dia belum melihat isi amplobnya”.

Kimi menghela napas. Ia menadahkan tangannya. “berikan padaku, biar aku yang menyimpannya”.

Menuruti keinginan Kimi, Jaewon membuka tas nya dan mengambil selembar kertas yang ia curi dari amplob milik Yeonsung. Kimi ingin mengambil kertas itu sebelum Jaewon menjauhkannya kembali. “tapi sebelumnya aku ingin bertanya”.

“apa?”.

“apa aku boleh mendekati gadis lain?”.

Yeonsung menunggu sampai bosan. Teman-temannya tak kunjung datang, padahal ia sudah mengirim pesan di grup obrolan agar teman-temannya datang ke ruang club. Namun ia tak mendapat satu balasanpun.

“ah, lapar”.Rengeknya. “tidak bisa, hasrat keserakahan ini harus dipenuhi”. Ia mengelus perutnya, lantas berdiri dan mengambil dompetnya. Hendak pergi ke toko serba dan membeli beberapa makanan.

Klik.

Jaewon muncul dari pintu ketika Yeonsung baru saja akan membuka pintu juga.

“oh, Jaewon’ah”.

“kau mau kemana?”.

“membeli camilan”.

Jaewon menutup pintu ruangan. Ditangannya membawa kantung plastik. Sesuatu yang Yeonsung inginkan. “sudah kuduga kau masih disini”. Diletakkannya kantung plastik tersebut diatas meja.

Tanpa basa-basi Yeonsung mengambil camilan dari dalam kantung plastik. “whoa… Jaewonie jjang!”. Yeonsung mengacungkan jempolnya.

“itu dari Kimi. Dia tidak bisa kesini hari ini karena ada latihan panah”. Ujar Jaewon lalu duduk dan membuka sekaleng soda.

“ah ~ benar, hari rabu. Lalu Younghoon?”.

“pulang lebih awal, appa nya baru kembali dari Jepang”.

“Kevin?”.

“kursus seni. Dan Hanbin harus mengunjungi kakeknya”.

“Jaewon?”.

“apa?”.

Jaewon menoleh dan mendapati Yeonsung tengah menatapnya dengan tatapan penasaran. “kenapa kau bebas hari ini?”.

Jaewon tampak bingung harus menjawab apa. Jujur saja ia memang tak ada kegiatan ditempat lain selain club ini. Dan beberapa kegiatan temannya tadi hanyalah kebohongan belaka kecuali Younghoon. “aku – ya, kau tahu aku tak ada kegiatan lain”.

“oh, begitu”.

Setelah berhasil membuat Jaewon gugup, sekarang Yeonsung malah hanya menanggapi dengan kalimat singkat itu.

“kenapa kau ingin berdiskusi hari ini?”.

“ah, itu –“. Yeonsung bergerak menarik amplob coklat yang diberikan oleh Mina. “tentang ini”.

Grebb.

Jaewon menahan amplob tersebut dengan telapak tangannya. Bahkan ia sampai berdiri dan tubuh membungkuk kearah Yeonsung. “kau sudah membuka amplob ini?”.

“belum. Aku berencana membukanya ketika kita berkumpul, tetapi karena hanya ada ketua. Sepertinya tidak apa-apa jika hanya kubicarakan denganmu”.

Kali ini Jaewon menatap Yeonsung dengan serius. “andwae”. Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“ya! Wae?”.

“untuk satu minggu ke depan kita sudah menyiapkan materi, tidak mungkin menambah materi tambahan”

Yeonsung menghela napas. Sudah ia duga akan sulit baginya untuk menambahkan artikel karena bukan bidangnya. Ia tak bisa mendapatkan slot walau hanya satu petak. “ah, begitu ya”.

“mungkin bisa kita bahas setelah ujian”. Ujar Jaewon. Ia pun menarik tubuhnya kembali. Duduk dan bersandar pada kursi. Yeonsung itu penurut, mudah untuk mengendalikannya.

Namun tanpa diduga gadis itu malah membuka amplob tersebut dan menarik keluar lembaran kertas yang ada didalam sana. Jaewon tak bisa menghentikannya, dan tak mungkin menghentikannya.

Mata Yeonsung membelalak kala melihat isi lembaran kertas tersebut. Setelah tersadar ia buru-buru memasukannya kembali ke dalam amplob. Gadis itu tak mengatakan sepatah katapun, ia membeku – matanya menatap dengan serius kearah amplob yang ia genggam.

“Park Yeon, gwaenchana?”. Jaewon tampak khawatir. Baru kali ini ia melihat Yeonsung seperti orang kerasukan.

“oh – gwaenchana”. Jawab Yeonsung pelan.

“jika sudah selesai sebaiknya kita pulang saja”.

Sreekk.

Yeonsung berdiri dari duduknya. Membuat suara nyaring dari kursi yang ia duduki. “baiklah, aku akan pulang sekarang”. Dengan terburu-buru Yeonsung membereskan barang-barangnya. Setelah selesai ia ingin pergi begitu saja.

Jaewon menahan Yeonsung, ia menarik tangan gadis itu membuat si pemilik tangan terkejut. “kau ini kenapa?”.

Yeonsung menggeleng. “memangnya aku kenapa?”. Ia balik bertanya.

“aneh. Kau bersikap aneh setelah melihat isi amplob itu”.

“ah, eh, tidak kok”.

Jaewon melepaskan genggamannya dari tangan Yeonsung. Lelaki itupun menyampirkan tas nya ke bahu. “ayo pulang”. Sekarang malah Jaewon yang lebih dulu melangkah keluar dari dalam ruangan.

Jaewon memasuki apartemennya. Tak ada siapapun disana, seperti biasanya. Langkahnya menuju pantry dapur, mengambil gelas dan menuangkan air minum. Setelah melepas dahaga, Jaewon beralih kearah kulkas, ia membuka kulkas namun tak menemukan sesuatu yang bisa ia makan disana.

“sepertinya aku harus keluar lagi untuk belanja”. Gumamnya pada diri sendiri.

Apartemen yang ia tempati adalah apartemen 1.5, dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi dan setengah ruang tamu yang menyatu dengan dapur. Sebenarnya ia memiliki rumah yang nyaman dimana keluarganya tinggal. Tetapi sejak masuk sekolah menengah atas ia memutuskan untuk tinggal sendirian.

eo, eomma”. Jaewon menelpon ibunya sebelum pergi belanja. “belum, aku baru saja pulang dari sekolah”.

Jaewon memasuki kamarnya, membuka lemari untuk mengambil baju ganti. “aku baru akan keluar untuk belanja. Hmm, baiklah”. Telpon berakhir. Jaewon melepar ponselnya ke kasur. Ia pun berganti pakaian.

Jaewon bukan tidak tahu jika akan sulit baginya untuk tinggal sendirian. Tetapi ia tak punya pilihan lain. Tak bisa terus hidup bersama dengan hyung nya.

“Kimi, Kimi, Kimi”. Kali ini Jaewon menelpon Kimi setelah berganti pakaian.

ugh, wae?”. Kimi menyambutnya dengan dingin.

Kening Jaewon sampai berkerut mendengar suara dingin itu seakan sebongkah es tajam menusuk telinganya. “kau sudah selesai latihan belum? Aku ingin pergi belanja”.

ah, shireo. Aku lelah ingin tidur saja”.

“ey, ku traktir makan”.

Sementara Kimi diseberang telepon tengah memijat-mijat bahunya yang keram. “tidak, tidak. Aku tidak mau”. Tolaknya.

“baiklah kalau begitu”.

Bip.

Kimi menutup telepon terlebih dulu. Membuat Jaewon menghela napas berat. Kimi memang selalu seperti itu jika ia tak ingin, sebaliknya jika ia ingin maka dirinya yang akan memaksa.

Jaewon merebahkan tubuhnya ke kasur. Ia membuka ponselnya barangkali ada yang bisa menemaninya pergi belanja sekaligus makan malam. Jarinya bergerak menyentuh layar ponselnya. Hingga berhenti di galeri poto. Jaewon membuka galeri poto di ponselnya.

Sebuah poto berhasil membuatnya menyunggingkan senyuman.

kau dimana? Datanglah kesini, palli!”.

Yeonsung mengernyitkan keningnya. Ia baru selesai mandi ketika telpon masuk ke ponselnya. Ia sampai menjauhkan ponselnya dan melihat apakah benar ia menerima telpon dari orang yang benar?

“apa? Ya! Kau gila, ya?”.

iya, aku benar-benar sudah gila. Aku membutuhkanmu, cepat kemari Park Yeonsung!!”.

“ah, jinjja”. Yeonsung mendesis, mengutuk si penelpon. Ia menggigit bibir nya sendiri, menoleh kearah jam. Sudah pukul 9 malam. “tetap disana, aku akan segera menyusul”. Yeonsung menutup telpon.

Gadis itu segera mencari baju yang akan ia pakai. Merepotkan sekali harus pergi di malam hari seperti ini. Jika bukan karena lelaki sialan itu ia tak akan mau pergi. Tak lama setelah ia keluar dari rumahnya, sebuah pesan masuk. Seseorang mengirimkan lokasi dimana si penelpon tadi berada sekarang.

“awas saja jika kau tidak mengganti uangku”. Desis Yeonsung, ia memanggil sebuah taksi yang akan membawanya ke lokasi orang itu.

Sebuah tempat karaoke.

Baiklah, ia beruntung kali ini karena tak perlu masuk ke dalam kelab atau semacamnya. Akan lebih merepotkan bukan jika harus datang ke kelab, karena ia masih di bawah umur.

Tanpa basa-basi Yeonsung memasuki tempat karaoke itu. Mencari ruangan dimana lelaki gila itu berada. Dari koridor ia bisa mendengar samar-samar suara pelanggan bernyanyi diruangan mereka masing-masing.

Ruang nomor 17.

Yeonsung memasuki ruangan tersebut. Yang ia dapati adalah dua orang lelaki sedang bernyanyi tidak jelas. Satu diantaranya berjongkok diatas meja. Dengan emosi Yeonsung menutup pintu ruangan.

“eo? kau sudah datang”.

“Park Yeonsung!”

TBC

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s