30 vs 20! Chapter 1 (Repost Sehun Fanfiction)

Add a heading

Inspired by impLOVEssible—a story in wattpad. I love that story line so much. You can read that on your wattpad.

Tentang dia yang sudah tua tapi menyebalkan.

Tentang dia yang ceroboh dan kekanak-kanakan.

∇ 20 MEETS 30 ∇

“Iya, aku sudah turun dari bis. Sebentar lagi sampai ke tempat lokasi.”

Sena berjalan dengan penuh rasa bangga sambil memutar-mutar tubuhnya. Handphone bututnya ia masukkan ke dalam saku celananya. Bis yang baru saja ia tumpangi sudah melaju menuju tempat pemberhentian selanjutnya, sedangkan Sena masih terpukau di depan halte seraya menatapi gedung gedung tinggi di depannya dengan mulut terbuka lebar.

“Ya Tuhan benarkah ini Seoul?”

Sena masih saja mengigau dalam rasa kagumnya. Belum pernah sama sekali dalam hidupnya ia memimpikan dirinya memijakkan kaki di ibukota negaranya sendiri. Dari dulu orang-orang di desanya selalu saja mengatakan bahwa pergi ke Seoul merupakan hal yang mustahil, sulit untuk diwujudkan karena katanya mereka tidak pantas berdiri di tempat itu. Istilahnya level mereka berbeda—orang-orang di pelosok dengan orang-orang di kota.

Tapi sepertinya para sesepuh desa harus menelan omongan mereka saat ini juga. Sebab, hey lihatlah! Jung Sena berada di sini sekarang! Orang dari desa itu berani menginjakkan kaki di ibu kota negara tanpa rasa segan sama sekali. Mungkin ini memang bukan sejarah besar bagi negara pelantun Gangnam Style tersebut, tetapi bagaimanapun juga ini merupakan kemajuan yang besar bagi penduduk desa dimana tempat Sena tinggal.

“Eomma, Appa, aku benar-benar berada di Seoul.” Sena berteriak kegirangan. Kaki lincahnya berlari mengitari jalan trotoar di dekatnya. Matanya berbinar bahagia dan semenjak turun dari bis senyum Sena tak kunjung luntur se-senti pun. Dia terlihat cerah sekali siang ini secerah terik matahari yang menyinari lapisan bumi.

“Aku akan membuktikan bahwa orang desa sekalipun memiliki kesempatan untuk bersaing di kota besar.” Ujar Sena ambisius.

Teringat sesuatu, Sena merogoh tasnya dan mencari sebuah koran yang sebelumnya sudah ia tandai dengan spidol merah di beberapa kolom yang tepat di lembar terakhir. Matanya menyusuri tulisan-tulisan berupa alamat yang bisa ia tuju dan contact person dari kolom-kolom yang ia tandai. Senyumnya semakin melebar, tangannya yang terkepal meninju udara kosong di depannya berulang kali.

“Baiklah! Ini saatnya unjuk gigi, Jung Sena. Ayo kita melamar pekerjaan!”

◊◊♦♦◊◊

Sena membaca kolom pertama dimana terdapat lowongan pekerjaan untuk posisi sekretaris. Ini posisi paling tinggi diantara beberapa lowongan pekerjaan lainnya yang sudah dia tandai. Selain gajinya besar dan perusahaannya sudah terkenal, lokasi gedung perusahaannya juga merupakan tempat yang paling terdekat dari halte dimana dia turun. Maka dari itu Oh Corporation merupakan pilihan pertama yang Sena datangi.

Untuk menjangkau lokasinya, dari informasi yang diterimanya dari beberapa penumpang yang diintrogasi Sena di dalam bis, kita hanya perlu berjalan kaki sampai ke persimpangan terdekat lalu menyebrang melalui lampu merah dan berbelok ke arah kiri. Kemudian lurus sampai menemukan gedung tingkat tinggi di sebelah kanan jalan yang bangunannya katanya didominasi warna abu-abu.

Sangat mudah bukan? Sena bahkan tidak perlu menaiki alat transportasi dan pada akhirnya dia dapat menghemat ongkos dan uang saku pemberian kedua orang tuanya. Betapa beruntungnya dia.

Sena berjalan seraya bersenandung ria. Layaknya anak kecil yang diberikan sebuah boneka beruang, Sena tak henti-hentinya tertawa riang.

Hey, ini kota! Dan dia harus bersenang-senang di sini.

Sena tersenyum dan mengangguk menyetujui jalan pikirannya sendiri. Ia menghirup udara dalam-dalam. Meski berbeda, udara di kota tak jauh menyenangkan dengan udara di desa tempat ia tinggal. Sena berputar-putar di tempatnya sambil merentangkan kedua tangan.

Woaaaaah. ‘I feel free~’ ujarnya dalam hati sebelum akhirnya—

Dug….

Seseorang menabraknya dari belakang. Sena terhuyung kemudian mendarat dengan anggunnya di bawah trotoar. Celana jeans nya ternodai pasir dan debu, sedangkan tangan yang menumpu beban tubuhnya terasa nyeri karena batuan batuan kecil menusuk telapak jarinya.

Di sela-sela rasa sakitnya Sena menggeram kesal. Di hari pertamanya menginjakkan kaki di kota kenapa dia harus mengalami bencana kecil seperti ini? Sena menggertakkan giginya. Dalam hati siap mengutuk siapapun yang mengganggu momen pentingnya di kota ini.

“Kau tidak apa-apa?”

Seorang pria bertubuh tinggi tegap menatap Sena tajam. Kemeja pria itu dilipat sampai siku, sedangkan jas hitamnya disampirkan di tangan sebelah kirinya. Meskipun bertanya, niat untuk menolong sama sekali tidak ada. Pria itu hanya bertanya santai, uluran tangan bahkan tidak ia berikan kepada Sena. Apa seperti ini orang-orang di kota? Apa mereka tidak mengenal kata ‘membantu orang jika ada yang membutuhkan’?

“Dasar orang-orang kota.” Sena mencibir pelan. “Tidak adakah rasa peduli di hati mereka?”

Merasa diomongi pria itu melotot dan bersiap menguliti Sena dengan tatapan elangnya. “Apa kau bilang?”

Sena meringis dan menatap pria itu tak kalah tajam. Ia berusaha bangkit meskipun rasa nyeri di telapak tangan dan tubuh bagian bawahnya benar-benar menyiksa. Dilipatnya kedua tangan di depan dada.

“Kau itu—” Sena menunjuk dada pria tinggi di depannya. “Sudah tua, tidak punya rasa peduli, menyebalkan pula.”

“Apa?”

Meskipun Sehun—pria yang baru saja menabrak Sena beberapa menit yang lalu—sangat memahami apa yang dikatakan oleh gadis itu, dia bukan tipe pria yang langsung pasrah begitu saja mendengar seseorang memaki dirinya di depan muka. Melihat gelagatnya, sepertinya gadis ini memiliki keinginan besar untuk menjelek-jelekkan dirinya di depan umum. Terlihat dari tatapan matanya yang berkoar penuh amarah.

“Perlu aku ulangi kembali perkataanku? Kau tidak malu ya, sudah dicela sekali tapi ingin dicela lagi. Belum kurang hinaanku yang tadi?”

“Apa maksudmu nona kecil?”

“Aku bilang bahwa kau itu benar-benar menyedih—APA KAU BILANG?”

Jika berada di dunia fantasi, pasti kepala Sena sudah dikerubungi asap yang berasal dari percikan api kemarahan. Ini penghinaan. Bagaimana bisa pria itu memanggilnya nona kecil? Sena menilik penampilannya dari atas sampai bawah, jika dilihat-lihat dirinya memang tidak terlihat seperti gadis yang siap untuk menjalani wawancara pekerjaan. Tapi bukan berarti Sena terlihat seperti anak muda yang patut dipertanyakan kedewasaannya! Mana sudi ia dipanggil nona kecil.

Dan yang membuat api kemarahan Sena semakin membara adalah ketika mengetahui reaksi ahjussi di depannya. Dia menatap Sena tanpa ekspresi—seakan Sena hanyalah benda tak kasat mata. Sial.

“Dasar orang-orang desa.” Sehun tersenyum, senyum yang mampu membuat gadis-gadis seantero Korea meleleh saking manisnya. Tapi reaksi Sena benar-benar berbeda dari yang lain, gadis itu mendelik geli seakan senyuman Sehun membuatnya ingin muntah di tempat. “Sudah jelek, kekanakan, berisik pula.” Sehun menggelengkan kepalanya prihatin.

Sial. Sena mengumpat dalam hati. Apa-apaan ahjussi itu, berani-beraninya menjelek-jelekkan Sena di pertemuan pertama mereka.

Dan seakan ditiban ribuan batu karang, Sena merasa lututnya melemas dan ingin terjatuh sekali lagi. Dia bilang apa tadi? Aku…. jelek? Sena menganga tidak percaya. Aku jelek??? Kembang desa sepertiku dibilang jelek oleh ahjussi kurang ajar itu?!

Sena langsung menyerbu Sehun dan menjewer telinga pria itu. Konon, di desanya jurus menjewer telinga ala Sena merupakan jurus andalan yang mampu mengusir penjahat tingkat atas sekalipun. Dan itu terbukti ketika seorang maling datang ke rumahnya beberapa minggu silam secara diam-diam. Sena tengah membuat cokelat panas malam itu dan entah bagaimana caranya maling masuk menyusup ke dalam dapur membuat Sena terkejut sekaligus bersemangat untuk mengadili sang maling.

Ketika dijewer dan dinasihati macam-macam akhirnya maling itu pergi setelah sebelumnya disiksa Sena terlebih dahulu.

Hebat bukan?

“Ahjussi itu seharusnya dihukum seperti ini.” Sena menghakimi Sehun begitu saja. Tanpa pertimbangan pihak lain ia menarik telinga Sehun, otomatis jewerannya semakin menguat, membuat telinga Sehun semakin memerah.

“Itu hukuman yang tepat untuk orang yang berani mengolokku di depan umum.” Sena tersenyum puas. Namun belum selesai ia menjewer telinga Sehun, ahjussi itu langsung menarik tangan Sena, membuat tubuh Sena limbung dan terjatuh dalam pelukan ahjussi di depannya.

Ya Tuhan apa apaan?

Tidak….

Matilah….

Aku……

Sena mendongak menatap Sehun yang ekspresinya masih datar. Cepat-cepat dia mendorong tubuh Sehun dan segera memeluk tubuhnya sendiri—membuat perisai di depan dadanya. “A-Ahjussi dilarang menyentuhku!” Seru Sena grogi. Apa-apaan ahjussi ini? Baru pertama kali bertemu sudah berani memeluk dirinya. Tidak bisa dimaafkan.

Apa ahjussi itu tidak mengetahui kamus hidup Sena bahwa yang boleh menyentuh Sena seumur hidupnya hanyalah ibu, ayah, dan suaminya?!

Ya Tuhan Appa bisa langsung menyerbu kesini kalau sampai melihat kelakuan ahjussi tua itu!

Dan omong-omong soal tua, jelas saja Sena hanya berdusta. Muka tampan awet muda seperti itu mana mungkin dikategorikan sebagai muka-muka tua? Well, hampir saja Sena mengira pria itu anak kuliahan tapi sayang pakaian kantoran yang melekat di tubuh pria itu dan jas hitam yang masih disampirkan di lengan kirinya membuktikan bahwa pria itu sudah bekerja.

Biar Sena tebak, mungkin….. umur ahjussi itu hanya terpaut tiga tahun di atasnya.

Sehun mengangkat alisnya tinggi, unik sekali gadis ini. Sehun jadi sedikit tertarik untuk menggodanya. Lagipula lumayan untuk Sehun, diantara sela waktu sibuknya dia bisa mendapatkan hiburan cuma-cuma.

Well, bagi Sehun, Sena itu semacam hewan peliharaan yang hanya sekali ‘menggonggong’ dapat menghibur hati majikannya dengan cuma-cuma.

Sehun berdeham kecil sebelum bertanya dengan sopan. “Omong-omong siapa namamu nona kecil?”

Sena yang masih sibuk melindungi dirinya sendiri sontak melotot terkejut. “Huh? Untuk apa kau menanyakan namaku, ahjussi tua? Kau ini benar-benar ya! Tidak tahu sopan santun. Apa perlu kuajari—”

“Siapa namamu nona kecil?” Tanya Sehun sekali lagi mengabaikan perkataan Sena sebelumnya.

Kurang ajar! Sena merengut kesal dalam hatinya. Jiwa iblis meraung-raung minta dikeluarkan dari tubuhnya. Berhadapan dengan pria semacam ahjussi di depannya ternyata bisa berdampak buruk pada emosi labilnya. Tidak seharusnya ia meladeni pria menyebalkan itu! Tapi tetap saja—

SENA TIDAK SUDI DIPANGGIL NONA KECIL! Mata Sena mulai berkilat-kilat penuh amarah. Auranya mulai mengeluarkan rona rona kejahatan membuat siapapun yang melihatnya bergidik ketakutan—kecuali Sehun tentunya.

Sena melepaskan sepatu converse kesayangannya dan melemparkannya tepat ke kepala Sehun.

“AKU SUDAH BESAR. DASAR AHJUSSI TUA!”

Setelah puas membuat keributan, Sena mengambil sepatunya kembali. Gadis itu tidak menyadari tatapan orang sekitar yang mulai tertarik dengan pertikaian mereka berdua.

Sena memasang converse sebelah kiri yang barusan ia lemparkan itu dengan asal-asalan dan berniat untuk meninggalkan tempat itu secepatnya kalau saja tangannya tidak ditahan oleh ahjussi menyebalkan di depannya.

“Lepaskan!” Seru Sena garang. Tangannya sudah gatal ingin mengambil converse sebelah kanannya dan melemparnya sekali lagi ke wajah ahjussi itu tapi cengkeraman sang ahjussi benar-benar kuat. Sena jadi tidak bisa memberontak.

Sehun tersenyum miring, melihat gadis itu tunduk tanpa berontak di bawah cengkeramannya. Dengan cepat ditariknya tangan gadis pembangkang itu dengan sekali hentakan, membuat Sena nyaris terjatuh.

“Omona!” Sena memekik terkejut. “Apa yang kau lakukan? Dasar orang kota! Lepaskan tanganku! Cepat lepaskan! Aku tidak mengenalmu! Tolong lepaskan aku!” Sena semakin menggila. Tangannya yang bebas memukul-mukul punggung ahjussi itu dengan membabi buta. “Lepaskan aku ahjussi.”

Sehun mengerutkan keningnya. Dengan santai ia melemparkan jas hitam miliknya ke wajah Sena membuat gadis itu berteriak terkejut. Sontak saja ia berhenti memukuli punggung Sehun. Tangannya sibuk mengurusi jas yang dilemparkan begitu saja ke wajahnya.

Ahjussi ini benar-benar……..

“Kuberitahu kepadamu bahwa kau memiliki dua kesalahan. Yang pertama, kau memanggilku ahjussi tua padahal umurku baru saja menginjak kepala tiga—”

Di saat-saat berlari seperti film India ini Sena semakin merasa seperti orang bodoh yang hanya bisa melongo tidak mengerti.

Kepala tiga? Ya ampun, Ahjussi benar-benar sudah tua!

Dan jantung Sena nyaris melompat dari dadanya. Jadi…. perkiraannya mengenai umur ahjussi itu meleset jauh? Ia tidak menyangka, apakah ini sungguhan? Apa benar umur mereka berdua terpaut sepuluh tahun jauhnya? Sena mengerutkan dahinya bingung, bagaimana bisa orang berumur tiga puluh tahun itu memiliki wajah awet muda seperti anak kuliahan?

Lampu bohlam seolah muncul dalam kepala Sena.

Ahjussi ini pasti sering melakukan perawatan kulit dan wajah—

Sena mendelik. Dia yang notabene-nya seorang perempuan saja tidak pernah melakukan perawatan wajah lalu bagaimana bisa sang ahjussi melampauinya? Harga dirinya sebagai  seorang wanita tiba-tiba merasa terluka dan perlu dipertanyakan.

“—hmm dan yang kedua, kau sudah berani menjewer telingaku juga melemparkan sepatu murahan itu ke wajahku. Apa kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?”

Sena yang sibuk dengan dunia khayalannya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Well, dia memang tidak mengenal ahjussi ini. Memangnya ahjussi ini siapa? Orang terkenal kah dia? Kenapa berita tentang ahjussi ini tidak pernah terdengar sampai ke desa Sena?

“Aku tidak tahu. Kau tidak terkenal di desaku.”

“Kalau begitu desamu itu terlalu terpencil sampai tidak mengenali orang semacam diriku.”

“Untuk apa harus mengenalimu? Ahjussi yang miskin moral sepertimu tidak pantas untuk dikenali.”

“Begitu? Baiklah.”

Sena mengerucutkan bibirnya. Dia membenci ahjussi ini entah karena apa. Padahal ia tidak mengenalnya, tapi rasa kesal dan benci muncul begitu saja dalam dirinya begitu melihat dan mendengar suara ahjussi itu.

Terdengar aneh, tapi ini nyata!

Sena juga benci mengakui kenyataan bahwa ahjussi ini terlalu tampan untuk tipe pria yang tingkah lakunya menyebalkan.

“Karena kau sudah berbuat salah kepadaku kau harus meminta maaf.”

“Minta maaf? Itu kan yang seharusnya ahjussi lakukan kepadaku!”

“Kuberitahu kepadamu, aku ini bukan tipikal pria yang mudah memaafkan kesalahan orang lain.” Sehun berkata datar tanpa menggubris ucapan Sena.

“Aku tidak peduli! Tak ada yang menanyakan kepadamu kau ini tipikal pria seperti apa.”

Hm, dia berani melawanku? Boleh juga. Kebetulan Sehun tertarik dengan hal-hal yang menantang. Sama halnya seperti Jung Sena—gadis itu terlihat menantang, dengan tatapan penuh kobaran amarah dan lidah tajamnya.

“Bohong. Aku yakin sekali, kau pasti penasaran dengan karakter diriku.”

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran ahjussi. Bagaimana bisa menyimpulkan ini itu berdasarkan pengamatanmu saja? Kau tidak bisa menebak isi hatiku jadi jangan seenaknya mengatakan bahwa aku tipe orang yang mudah penasaran dengan hal-hal baru apalagi penasaran dengan dirimu. Tsk, maaf saja aku bukan orang yang seperti itu.”

Sehun menghentikan langkahnya dan melirik Sena tidak percaya. Wow, hebat sekali dia. Seperti yang sudah Sehun duga sebelumnya. Meskipun gadis itu berasal dari desa—yang tampaknya desa terpencil—tapi ternyata pikiran gadis itu benar-benar tajam dan seluas samudera. Tidak mudah dikelabui.

Sehun mengangkat sebelah ujung bibirnya, membentuk senyuman miring yang terlihat janggal di mata Sena. Sehun mengambil jas hitam miliknya—yang tidak tahu bagaimana ceritanya tiba-tiba sudah tersemat di punggung Sena—dan memasangnya cekatan.

Tangannya kembali meraih tangan Sena dan menggenggamnya erat ketika mereka akan melewati lampu merah penyebrangan.

Sena tidak boleh dilepaskan.

Karena…

Gadis itu terlalu menarik untuk dilepaskan begitu saja.

◊◊♦♦◊◊

The end or TBC?

Komen kalian yang menentukan semuanya hahahaha /ketawa jahat/ Btw aku ngelanjutin ff ininya di wattpad ya, jadi tolong kunjungi wattpad aku dan jangan lupa vote dan comment 🙂

Wattpad: @hansabae

Nih vitamin untuk kalian yang udah repot-repot baca cerita akuuu

Nih vitamin untuk kalian yang udah repot-repot baca cerita akuuu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s