FanFic “Nimia” #3 by Arni Kyo

Nimia - Poster

Nimia #3

Author : Arni Kyo

Main cast : Jung Jaewon a.k.a ONE (Rapper) | Park Yeonsung (OC)

Other cast : Kim Younghoon (The Boyz) | Wu Kimi (OC) | Kim Hanbin (Ikon) | Moon Kevin (The Boyz) | etc

Genre  : School Life, Romance

Length : Chaptered

#1#2 – #3

~oOo~

“eo? kau sudah datang”. Sambut Sunwoo. Bukan dia yang menelpon Yeonsung barusan. Gadis itu mengangguk menanggapi Sunwoo.

“Park Yeonsung!”. Changbin. Ya, dialah yang menelpon Yeonsung dan menyuruhnya datang kemari dengan segera seperti ia akan mati saat itu juga.

“turun dari meja. Jangan bertingkah seperti bayi kera”. Ujar Yeonsung sambil menatap kesal pada Changbin.

Changbin menuruti perkataan Yeonsung. Ia turun dari meja, namun tetap dalam posisi jongkok diatas kursi – disebelah Yeonsung. “aku senang kau datang. Aku sedang patah hati”.

aigoo… kau selalu mencariku ketika sedih, menyebalkan sekali”. Rutuk Yeonsung.

“Kwon Eunbi. Kau tahu dia kan?”.

“bukankah kau selalu ditolak olehnya?”.

Sunwoo tertawa terbahak. “kali ini berbeda, Yeon’ah”. Ujar Sunwoo masih terus menertawakan Changbin.

“berisik, Kim Sunwoo”. Rengek Changbin. Tanpa permisi ia menarik kedua tangan Yeonsung. “dia bilang aku sebaiknya mencari gadis lain karena dia sudah memiliki kekasih”.

Yeonsung menarik kembali tangannya dari genggaman Changbin. Ia bahkan mengipas-ngipaskan tangannya didepan wajah Changbin. “astaga, berandal ini, kau minum berapa banyak beer?!”. Amuk Yeonsung. Matanya tertumbuk pada beberapa kaleng beer diatas meja. Kemudian ia mendelik pada Sunwoo yang duduk di kursi seberang.

“aku tidak”. Belum sempat Yeonsung menghakimi lelaki itu, ia sudah lebih dulu melakukan pembelaan.

“kita pulang saja”.

“tidak mau, aku mau disini saja”. Changbin meringkuk diatas shofa, memeluk kakinya sendiri.

“Sunwoo’ya, bantu aku”. Yeonsung menarik-narik tangan Changbin agar lalaki itu segera berdiri dan pulang.

Sebelum Yeonsung mengamuk padanya, Sunwoo beringsut membantu untuk membawa Changbin pulang. Sunwoo membopong Changbin dibahunya sementara Yeonsung menggendong tas milik kedua orang ini.

“kau siapa?!”. Seru Changbin pada Sunwoo, dengan segenap tenaganya yang tersisa ia berusaha melepaskan dirinya dari Sunwoo. “lepaskan aku, lepaskan”.

Braakk

Sunwoo benar-benar melepaskan temannya ini disaat Changbin tengah meronta-ronta. Membuat Changbin jatuh tersungkur kesamping. Ia terjatuh tepat dihadapan seorang pelanggan lainnya.

“ah, maaf, maaf”. Yeonsung segera membungkuk pada pelanggan tersebut. Untunglah orang yang ditabrak tidak mempermasalahkan kejadian itu. Memilih berlalu begitu saja tanpa mempedulikan siapa yang menabraknya. “Sunwoo’ya, apa yang kau lakukan? Mengapa melemparnya seperti itu?”.

Sunwoo kembali menarik Changbin agar berdiri. “menyebalkan sekali. Besok aku tak mau pergi dengannya lagi”. Rutuk Sunwoo.

Dengan terpaksa Sunwoo membopong Changbin. Setidaknya sampai lelaki ini masuk ke dalam taksi, pikirnya.

Sebuah pintu ruang karaoke terbuka tepat setelah Yeonsung dan teman-temannya berjalan cukup jauh. Hanbin muncul dari dalam ruangan itu karena mendengar keributan dilorong. Keningnya berkerut, seperti mengenal gadis yang baru saja pergi bersama dua lelaki didepan sana.

Jika Changbin bukan teman baiknya, mungkin Sunwoo akan membiarkan saja Changbin di jalanan sampai polisi datang dan menjemputnya. Malam ini Sunwoo terpaksa harus mengantarkan Changbin sampai ke apartemen lelaki itu karna paksaan Yeonsung juga.

“letakkan saja disana”. Ujar Yeonsung ketika memasuki apartemen pribadi Changbin. Disini tak ada siapapun, sama seperti Jaewon, Changbin pun tinggal diapartemen sendiri. Tetapi keluarganya tak punya konflik jadi ia bisa pulang kapanpun ia mau.

Sunwoo sudah lelah. Sungguh. Ia meletakkan Changbin yang masih setengah sadar di shofa – begitu saja seperti melemparkan sebuah boneka.

“ah, lelah sekali”. Keluh Sunwoo.

Sementara Yeonsung mengambil minuman di dalam kulkas. Gadis itu kembali dengan dua bungkus jus buah ekstrak di tangannya. Kesukaan Sunwoo. “salahmu sendiri tidak melarangnya minum”.

“aku sudah melarangnya”. Sunwoo membela diri, ia langsung mengambil jus dari tangan Yeonsung.

“kau akan bermalam disini, kan?”.

Hampir saja Sunwoo menyemburkan jus didalam mulutnya ketika Yeonsung bertanya seperti itu. “tidak, kau saja”.

“apa? tidak mau”.

Tiba-tiba saja Changbin bangun – duduk – dengan mata terpejam. Lelaki itu membuka jaketnya, lalu membuka kaos dan celana jeans yang ia pakai. Menyisakan celana pendek bergambar flamingo pink saja.

“kau lihat, kan? Tidak berulah lagi jika sedang mabuk”. Gumam Yeonsung sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Yeonsung.

“biar kutebak, ia akan masuk ke kamar mandi dan berendam di dalam bathup”. Tebak Sunwoo.

Benar saja. Changbin bangkit – berjalan kearah kamarnya dengan tubuh membuka seperti seekor udang. Setidaknya sampai Changbin benar-benar sadar, Sunwoo dan Yeonsung akan tetap disini, memastikan lelaki itu tidak tenggelam di dalam bathup.

Setiap 5 menit, Sunwoo akan melihat keadaan Changbin di kamar mandi. Sedangkan Yeonsung sibuk memasak ramen.

“ya! Apa masih lama? Aku harus pulang sebelum jam 12”. Tanya Yeonsung, sejak tadi ia terus melihat jam dinding.

“kau Cinderella?”. Ejek Sunwoo.

“eishh…”. Yeonsung mengangkat tangannya yang mengepal seolah akan memukul Sunwoo. Sedangkan orang yang akan dipukul terkekeh senang.

“jam berapa sekarang?”. Changbin muncul dari dalam kamarnya sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk. Ia akhirnya sadar. “ah, kepalaku pusing sekali”. Keluhnya.

Ketiga orang itu duduk dimeja makan, Changbin memakan ramen yang dimasak oleh Yeonsung barusan bersama dengan Sunwoo. Ia sendiri hanya makan buah. “Changbin’ah, kenapa kau menyukai Eunbi?”. Tanya Yeonsung tiba-tiba.

“hanya suka saja”.

“kau menginginkannya?”.

Changbin mengangguk. Untuk masalah ini, Sunwoo tak akan ikut bicara. Untunglah ia bisa mengerti untuk tidak mengganggu percakapan serius antara Changbin dan Yeonsung.

“berhentilah menginginkannya. Kau tak akan mendapatkannya”.

Brakk.

Changbin memukul meja, ia menatap tajam pada Yeonsung yang duduk dihadapannya. “kau sedang mengutukku?”.

“kau membutuhkanku, karena itulah kau bisa mendapatkanku. Tetapi kau hanya punya keinginan untuk memiliki Eunbi tanpa perasaan butuh padanya”. Ujar Yeonsung.

“beraninya kau berkata seperti itu padaku”. Changbin geram.

Yeonsung mencondongkan tubuhnya. “dengar, aku memiliki orang lain yang kusukai, dengan hubungan seperti, dengan keadaanku yang sekarang, aku tak bisa bebas melakukan apa yang ku inginkan”.

“menjadi seperti ini adalah keputusanmu –“.

“karena itu Changbin’ah”. Yeonsung memotong kalimat Changbin. “Bisa kita akhiri semua ini jika aku berhasil menjalin hubungan dengan orang yang kusuka?”.

Changbin diam sejenak. “tidak, sampai aku berhasil mendapatkan Eunbi”. Changbin menyeringai. “lagipula, kau memutuhkanku. Jadi kita saling menguntungkan, bukan?”.

Setelah perjuangan selama lebih dari seminggu, akhirnya hari ini club majalah sekolah dapat menyusun majalahnya dengan lengkap. Minggu depan ujian dimulai, jadi semua kegiatan club akan diliburkan seperti yang disarankan oleh kepala sekolah. Hanbin dan Jaewon hanya punya waktu 1 hari untuk menyusun semua materi ke dalam majalah mereka.

“ya! Kemarin malam aku melihat Yeonsung ditempat karaoke”. Ujar Hanbin sambil melakukan pekerjaannya.

Jaewon duduk disebelahnya, focus dengan pekerjaannya. “lalu?”.

“kau tahu dia bersama siapa?”.

“siapa?”.

“Changbin”.

Jaewon menghentikan jemarinya yang sejak tadi aktif melakukan pengeditan, berhenti ketika mengdengar nama Changbin. “mungkin kau salah lihat”.

“aku tidak mungkin salah lihat. Sepatu yang dipakai gadis itu sama seperti sepatu Yeonsung”. Ujar Hanbin semakin bersemangat menggosip.

“tidak mungkin, Yeonsung tidak mengenal Changbin, kau kan tahu sendiri –“.

Klik.

Pintu ruangan terbuka. Yeonsung muncul dari balik pintu. “makan siang”. Ujar gadis itu dengan riang.

Hanbin kembali ke posisinya, bertingkah seperti ia benar-benar sibuk. Yeonsung memasuki ruangan dengan sebuah kantung plastic ditangannya. Gadis itu duduk dan membongkar isi plastic.

Tak lama kemudian Kimi dan Younghoon juga masuk ke dalam ruang club. Younghoon pun tampak membawa kantung plastic ditangannya. Oleh-oleh dari ayahnya yang baru pulang dari Jepang.

“kau tahu, karena Hanbin tidak makan siang dikantin, kami pun tidak makan dikantin”. Ujar Kimi – baru saja selangkah ia memasuki ruang club dan ia langsung mengoceh.

“kalian harus belajar mandiri untuk mendapatkan meja dikantin”. Gumam Hanbin.

“oleh-oleh”. Ujar Younghoon sambil memberikan sebuah kotak masing-masing satu pada temannya. “Jaewon… Kimi… Hanbin… Yeon…”. Ia mengabsen temannya yang menerima oleh-oleh.

“Kevin”. Tambah Kimi. “eo? Dimana Kevin?”.

Yeonsung menggeleng tanda ia tidak tahu.

“kuberikan nanti saja jika bertemu dengannya”. Younghoon meletakkan kotak itu diatas meja dimana Kevin biasanya duduk.

“Yeon’ah, bisa pasangkan ini di bahuku”. Kimi menyodorkan sebungkus koyo kepada Yeonsung.

“disini? Sekarang?”. Yeonsung tak percaya Kimi menyuruhnya untuk menempelkan koyo itu ke bahu nya saat ini juga.

Kimi mengangguk. “kemari-kemari”. Ditariknya Yeonsung agar ikut dengannya ke balik lemari loker. “jangan melihat kemari atau ku tusuk mata kalian”. Desis Kimi.

Mau tak mau Yeonsung menempelkan koyo ke bahu Kimi. “kau mendapat memar disini, kenapa tidak minta halmeoni saja untuk memasangkannya?”.

“kau gila? Halmeoni bisa khawatir jika tahu aku cidera otot”.

“selesai”.

Kimi menggerak-gerakkan bahunya. “gomawo Yeonie”. Ucapnya sambil ber-aegyo. Kimi kembali ke tempat duduknya untuk menyantap makan siang yang sudah dibeli oleh Yeonsung tadi.

“kalian sibuk sekali, ya?”. Tanya Kimi sambil menyantap makan siangnya. Jaewon dan Hanbin tak bergeming. “aigoo… padahal dirinya sendiri yang berkata tak usah buru-buru”. Tambah Kimi.

Yeonsung membuka makan siangnya. “chaa ~ kerjakan sambil makan”. Ujarnya seraya menyodorkan makanan kemulut Jaewon.

Tindakan itu membuat Jaewon menghentikan kegiatannya. Ditatapnya potongan Kimbab yang Yeonsung sodorkan. Kemudian ia menatap orang yang menyodorkan kimbab padanya. Jaewon tak kunjung membuka mulutnya untuk makan, maka Hanbin mengalihkan tangan Yeonsung agar ia bisa menyantap Kimbab itu.

“ya~”. Yeonsung hendak protes.

“kau harus adil, Yeon’ah”. Ujar Hanbin.

Yeonsung hanya bisa menghela napas. Ia memang berniat untuk menyuapi dua orang ini bergantian. “Jaewon’ah, aaa”. Sekali lagi Yeonsung menyodorkan kimbab pada Jaewon. Dan sekali lagi Hanbin mencoba mengalihkan arah tangan Yeonsung.

Namun, Jaewon berhasil menahan tangan gadis itu dan memakan sepotong kimbab.

“whoa.. anak-anak eomma pintar sekali”. Yeonsung bertingkah seperti seorang ibu.

“bahagia sekali”. Kimi menggelengkan kepalanya. “eomma nado ~ nado ~”. Kimi melakukan aegyo lagi agar bisa mendapatkan suapan dari Park Yeonsung.

“pergilah!”. Yeonsung mendorong Kimi menjauh.

“ya! Aku sedang cidera, seharusnya aku juga disuapi”. Protes Kimi.

Jaewon mulai kehilangan fokusnya. Hanya karena memikirkan ucapan Hanbin tentang Yeonsung. Tapi bagaimana cara untuk menanyakan apakah benar Yeonsung mengenal Changbin. Menurut pengamatannya selama ini, Yeonsung dan Changbin tak pernah melakukan komunikasi dalam bentuk apapun disekolah.

Mina memasuki ruangan kepala sekolah setelah ketua kelas mengatakan jika kepala sekolah mencarinya. Sebenarnya Mina malas sekali untuk menemui kepala sekolah. Ia sudah tak ingin lagi berbicara dengan pria licik itu.

Sebuah kertas disodorkan ketika Mina menghadap pada kepala sekolah. Gadis itu hanya melirik sekilas kertas tersebut.

“apa?”.

“formulir agar kau bisa masuk ke kelas special”.

Mina mengambil kertas yang disodorkan padanya. Membaca isi kertas tersebut dan… sreeekk.. sreekkk… ia merobek kerta itu menjadi beberapa potongan dan mengembalikannya pada kepala sekolah.

“tidak tertarik”. Ujarnya kemudian.

Kepala sekolah – Park Taesoo hanya tersenyum menyeringai melihat sikap Mina. “wae? Bukankah perjuanganmu selama ini adalah untuk ini? Kau ingin berada ditempat yang tinggi, bukan?”.

“aku sudah tidak tertarik”.

“Mina’ya, kelas special ini hanya akan diisi oleh murid-murid yang masuk peringkat sekolah. Kau tidak akan mendapatkan kesempatan ini 2 kali”.

Mina menatap tajam pada Park Taesoo. “lalu, berapa orang yang akan masuk kesini?”.

“10 orang”.

“apa Park Yeonsung termasuk?”.

Park Taesoo berdiri. Mengelap kacamatanya dengan saputangan. Ia menyandarkan bokongnya ke pinggiran meja. “apa itu mengganggumu jika Yeonsung bergabung”.

“tentu saja”.

Park Taesoo tertawa. “akan ku kecualikan nama Park Yeonsung agar dia tak bisa masuk ke kelas itu. Tapi –“. Park Taesoo mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kartu. “kau tahu harus melakukan apa?”.

Mina mengambil kartu tersebut. Kunci kartu kamar hotel. Mina tersenyum miring. “sialan”. Desisnya.

Tok tok tok

sonsaengnim, Moon Kevin imnida”. Terdengar suara si pengetuk pintu.

“aku masih ada urusan lain, pergilah, pergilah”. Park Taesoo mengibaskan tangannya agar Mina pergi dari ruangannya.

Memang sejak tadi Mina merasa tak nyaman berada diruangan ini, jadi ia buru-buru pergi ketika diminta untuk pergi. Mina membuka pintu ruangan dan mendapati Kevin berdiri disana dengan sebuah map ditangannya. Kevin sempat tersenyum ketika melihat Mina, namun gadis itu malah berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Kevin.

“artikelnya akan dirilis, kan?”. Tanya Mina sekali lagi ketika bertemu dengan Yeonsung dilapangan sekolah setelah sekolah selesai. Keduanya duduk di kursi penonton.

Yeonsung menoleh sekilas pada Mina. Ia jelas tak suka dengan pertanyaan itu. “biarkan aku bertanya, sebenarnya apa yang kau harapkan jika artikel yang kau berikan padaku waktu itu dirilis di majalah sekolah?”.

“club kalian cukup mempengaruhi cara pandang dan pendapat siswa lain, mungkin dengan itu masalah Kim Samuel bisa kembali dibuka”.

“bagaimana jika sebaliknya?”.

Mina diam.

“aku Tanya, bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya? Semua orang akan  berbalik dan menyerang si penulis artikel?”.

“Park Yeonsung, kau setuju untuk membantuku, kenapa tiba-tiba –“.

“Mina’ya, yang bertaruh disini bukan hanya kau, tetapi semua anggota di club majalah sekolah akan dipertaruhkan”. Yeonsung berdiri. “aku tidak bisa membantu, pikirkan sendiri bagaimana caramu untuk membuka kembali kasus Kim Samuel”. Yeonsung hendak melangkah pergi ketika Mina menahan tangannya.

“tunggu”.

Yeonsung berbalik, Mina benar-benar memaksa untuk mengungkap kembali kasus itu. “apa kau sweetlemon?”.

Mata Yeonsung membelalak mendengar nama itu. “ya!”.

“benar, kan? Aku melihatmu bersama Changbin beberapa kali. Kau pikir aku tidak bisa mengenalimu dengan make up seperti itu. Dan –“. Mina mengangkat tangan Yeonsung yang masih didalam genggamannya. “gelang ini. Changbin juga punya, kan? Couple?”.

Yeonsung menarik paksa tangannya. “jadi kenapa jika aku memang benar sweetlemon?”.

“kau berada dibawah garis, sama sepertiku. Kenapa kau bertingkah sombong sekali, Park Yeonsung?”. Desis Mina.

“kita berbeda, jelas berbeda. Kau tidak bisa membuktikan jika aku terlibat denganmu. Data yang kau berikan waktu itu, tak satupun menyebutkan soal aku, Mina’ya”.

Mina menatap tajam pada Yeonsung. Ingin sekali ia mendorong gadis ini hingga terjatuh, tapi ia menahan dirinya.

“Yeon’ah”. Panggil seseorang. Yeonsung menoleh dan mendapati Kevin datang mendekati mereka. “sedang apa?”. Tanya Kevin.

“ah, tidak”. Yeonsung menarik Kevin untuk menjauh dari Mina. “ayo pergi saja”.

“ya ~”. Kevin masih sempat menoleh kembali pada Mina. Ia membungkukan kepalanya sebagai tanda pamit. Meskipun Mina selalu mengabaikannya, Kevin tetap bersikap sopan.

Guru Kim Bora menuliskan beberapa materi yang harus dipelajari sebagai petunjuk ujian nanti. Para murid menandai materi yang tertulis di papan tulis pada buku mereka masing-masing. Kecuali Jaewon. Lelaki itu malah tertidur, ia terlalu lelah untuk belajar setelah mengerjakan proyek majalah mereka.

“beberapa materi ini akan ada dalam ujian. Kalian pelajari dengan benar, dan jangan lupa untuk mempelajari materi lainnya”.

ne, saem”.

“ah, untuk ujian kali ini saem harap kalian bisa mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, kepala sekolah menyiapkan sesuatu untuk murid yang mendapat peringkat sekolah”.

Sontak kelas menjadi gaduh, para murid menerka-nerka hadiah apa yang disiapkan oleh kepala sekolah mereka.

Guru Kim menepuk-nepuk tangannya agar para murid kembali tenang. “siapa yang pada ujian kemarin mendapat peringkat sekolah?”.

Yeonsung mengangkat tangannya.

“Park Yeonsung, kau bisa mempertahankan posisimu?”.

“aku akan berusaha saem”.

“baiklah, sekian untuk hari ini”. Guru Kim membereskan buku-bukunya dan pergi keluar dari kelas tersebut.

Belum jauh ia berjalan, kelas kembali gaduh. Bahkan beberapa murid ikut keluar dari kelas dengan berbagai alasan.

Yeonsung menoleh ke tempat duduk Jaewon dimana lelaki itu tengah tertidur dengan tenang. Ia pun melakukan hal yang sama. Menyandarkan kepalanya ke atas meja, berbantalkan buku pelajaran tebal miliknya.

“tidak apa-apa, kan? Semuanya akan baik-baik saja, dan aku akan bertahan pada posisiku”. Gumam Yeonsung.

Ketika Yeonsung tengah asik menikmati wajah Jaewon yang tengah tertidur, tiba-tiba lelaki itu membuka matanya. Buru-buru Yeonsung mengangkat kepalanya, menegakkan kembali tubuhnya. Suara kaki kursi bergesekan dengan lantai, Jaewon bangkit dari kursinya. Berjalan ke belakang kelas dan keluar dari kelas.

Yeonsung hanya bisa menatap Jaewon dari tempat duduknya, biasanya ia akan berteriak dan bertanya kemana Jaewon akan pergi. Tapi hari ini tidak.

Beberapa hari sebelum ujian.

Karena terus dipaksa oleh orang tuanya, akhirnya Hanbin mau datang ke tempat les nya. Itupun dengan diantar dan ditemani oleh ibunya selama les berlangsung. Hanbin benar-benar tak ingin mendapat nilai bagus bukan karena ia tak bisa. Menurutnya nilai yang bagus tidak akan menjamin masa depannya. Lagipula cita-citanya bukan untuk melanjutnya bisnis ayahnya. Hanbin ingin mengambil jurusan Ilmu Komunikasi atau Desain Grafis nanti. Dan itu bertentangan dengan keinginan orang tuanya.

“hari ini kita akan mulai latihan soal”. Guru les membagikan lembaran soal pada para muridnya.

Les milik keluarga Kwon Eunbi ini sangat khusus dan setiap murid didik harus membayar dengan harga tinggi. Hanya ada 6 orang yang masuk untuk les disini, terdapat sebuah meja kerja dengan 3 kursi yang saling berhadapan.

Kreekk

Pintu terbuka. Hanbin memasuki ruangan, ia membungkuk pada guru les dan pergi ke kursi yang masih kosong. Kimi tersenyum sumringah melihat kedatangan Hanbin. Lega, setidaknya ada wajah lain selain wajah 4 orang menyebalkan.

“karena kau jarang sekali datang, mintalah bantuan temanmu untuk menyelesaikan soal itu”. Ujar guru les pada Hanbin.

ne, saem”. Jawab Hanbin.

Kimi segera menggeser kursinya lebih dekat pada Hanbin. “um, kita harus mulai darimana, ya?”. Kimi membolak-balik kertas nya.

“dari yang paling mudah”. Jawab Hanbin.

“ah, benar”.

Guru les memasang jam weker, mereka harus menyelesaikan 50 soal dalam waktu 1 setengah jam saja. Setelah itu guru les meninggalkan murid nya dan membiarkan mereka berpikir sendiri.

“soal-soal ini benar-benar seperti soal ujian”. Gumam Sunwoo.

“kupikir aku sendiri yang berpikir seperti itu”. Balas Changbin. Lalu keduanya saling bertatapan dan cekikikan.

“kerjakan saja, jangan berisik atau ku usir dari sini”. Ujar Eunbi dengan mata dan tangan yang terus bekerja menyelesaikan soal tersebut.

Sunwoo mengernyitkan hidungnya. Ia tak mengerti mengapa Changbin menyukai Eunbi, yaaaa selain memang gadis itu berparas cantik. Namun sikapnya benar-benar bukan tipe Sunwoo.

Bukan hanya Kimi, Hanbin pun merasa tidak nyaman berada diruangan ini. Rasanya ia ingin berlari keluar dan pergi saja dari sini. Tapi tak mungkin, ibunya menunggunya diluar sana.

“Kimi’ah, aku benar-benar tidak mengerti cara menyelesaikan yang ini”. Ujar Hanbin.

Kimi menoleh. Ia menjelaskan bagaimana cara untuk menyelesaikan soal tersebut. “Hanbin’ah mungkin catatan milik Yeonsung bisa membantumu”. Ujar Kimi.

“aku pinjam punyamu saja, kau kan tahu aku tidak akur dengan Yeonsung”.

“ey, aku juga harus belajar”. Tolak Kimi.

Hanbin menggaruk kepalanya. “baiklah, aku akan mencoba meminjam catatannya besok”.

Krriiiinng

Jam weker berbunyi nyaring. 1 setengah jam sudah berlalu. Guru les kembali memasuki ruangan.

chaa… waktunya mengkoreksi jawaban kalian”. Guru les membawa sebuah map coklat ditangannya. “jika jawaban kalian salah, silahkan tulis jawaban yang benar sebagai koreksi”.

Sementara ia membacakan kunci jawaban dari soal-soal tersebut, muridnya mengkoreksi hasil pekerjaan mereka. Menulis jawaban yang benar dari soal tersebut.

“soal-soal ini sangat penting. Jadi hafalkan saja jawabannya. Mengerti?”.

neee”.

Kelas selesai.

Sebelum pulang, Kimi menyempatkan diri untuk menyapa ibu Hanbin. Sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan ibu Hanbin.

annyeonghaseyo eomoni”. Sapa Kimi dengan ramah.

eomma, temanku”. Ujar Hanbin.

“ah, teman Hanbin. Siapa namamu”.

“Wu Kimi eomoni”.

Mungkin sudah menjadi kebiasaan orang kaya untuk melihat seseorang dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Matanya seolah sedang menghitung harga barang-barang yang dipakai Kimi. “kau berada diperingkat berapa?”. Tanya ibu Hanbin kemudian.

“ujian kemarin aku di peringkat 6 sekolah, eomoni”. Jawab Kimi dengan bangga.

“bagus sekali. Hanbin’ah, kau harus bergaul dengan orang-orang seperti ini dan berhenti bermain-main”. Ibunya mulai mengomel. “ingin tumpangan?”.

“tidak usah”. Selah Hanbin.

Plak plak

Ibu Hanbin mulai memukuli lengan putranya. “yaa ~ eomma”. Rengek Hanbin.

“tidak usah, eomoni. Terima kasih atas tawarannya”. Kimi membungkuk sekali lagi sebelum berpamitan pulang pada ibu Hanbin.”

Kimi baru saja memasuki bus yang akan membawanya pulang ketika ayahnya menelpon. Dengan cepat Kimi mengangkat telepon tersebut. Kemarin ia mengirimkan perkembangan akademiknya pada ayahnya.

baba”. Sambut Kimi.

kau dimana?”.

“aku sedang di bus, baru selesai les”. Jawab Kimi dengan semangat. “apa baba sudah memeriksa e-mail dariku?”.

Terdengar ayahnya menghela napas. “karena itulah aku menelponmu. Ku kira kau bercanda mengirimkan laporan akademikmu padaku. Lain kali jika kau hanya ingin mengirimkan sesuatu yang biasa aku tak akan memeriksanya.

Kimi diam. Ia hanya bisa menggigit bibir dalamnya. Ayahnya selalu merasa tak puas dengan apa yang Kimi capai.

kau benar-benar ingin kembali ke Canada?”.

“tentu saja, baba”.

aku akan mengirim beberapa tugas padamu, kerjakan dalam waktu seminggu. Mungkin itu akan bisa menghiburku”.

Kimi melihat jadwal kegiatannya yang tertempel di atas bindernya. “tapi aku ada ujian, jadi au harus focus pada ujian baba”.

maka dari itu pikirkan cara agar kau bisa menyelesaikannya”. Telepon berakhir begitu saja. Tak lama kemudian, Kimi menerima sebuah email dari ayahnya. Seperti biasa, ayahnya mengirim berbagai soal yang harus Kimi selesaikan.

Selama ujian berlangsung, sangat sulit untuk menemui Yeonsung. Ia selalu menghindari ketika Mina ingin bertemu dengannya. Bahkan Yeonsung dengan sengaja selalu berada disekitar Jaewon agar Mina tak bisa menemuinya.

“kita akan kembali ke club hari ini, kan?”. Tanya Yeonsung pada Jaewon sambil membereskan bukunya.

“kau ingin ke club?”.

Yeonsung mengangguk. “aku akan kesana sekedar tidur siang. Ah, rindu sekali berada disana”. Jawab Yeonsung.

Derap langkah dari arah koridor terdengar lalu berhenti di pintu belakang kelas 2-5. “Jaewon’ah!”. Suara itu berseru panic.

Sontak orang yang dipanggil menoleh ke sumber suara, Yeonsung pun ikut menoleh. Younghoon berdiri diambang pintu, wajahnya tampak panic. “ada apa?”. Tanya Jaewon.

“club –“.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s