FanFic “Nimia” #4 by Arni Kyo

Nimia - Poster

Nimia #4

Author : Arni Kyo

Main cast : Jung Jaewon a.k.a ONE (Rapper) | Park Yeonsung (OC)

Other cast : Kim Younghoon (The Boyz) | Wu Kimi (OC) | Kim Hanbin (Ikon) | Moon Kevin (The Boyz) | etc

Genre  : School Life, Romance

Length : Chaptered

#1#2#3 – #4

~oOo~

Ketiga orang itu berlarian menuju ruang club mereka. Younghoon mengatakan jika ruang club mereka telah dimasuki pencuri. Beberapa barang hilang. Tetapi pintu ruangan sama sekali tidak dirusak, sepertinya si pencuri memiliki kunci lain makanya ia bisa masuk tanpa merusak pintu.

“apa saja yang hilang?”. Tanya Jaewon ketika memasuki ruang club.

Disana sudah berkumpul anggota lainnya beserta guru pembimbing. “hanya laptop Kevin”. Ujar Kimi.

Jaewon merasa lega.

Yeonsung menyelinap masuk, dan memeriksa lokernya. Memastikan tak ada barangnya yang hilang. “amplobnya hilang”. Gumamnya.

“amplob apa?”. Tanya Hanbin.

“amplob coklat milikku”. Jawab Yeonsung. Ia panic, tadinya ia ingin mengembalikan amplob itu pada Mina.

“apa isinya penting?”. Kemudian Kevin bertanya, memang waktu itu Kevin sempat melihat Yeonsung membawa-bawa amplob itu ke club.

Yeonsung diam sejenak. Kemudian menggeleng pelan.

“jadi masalahnya bukan karena banyak barang yang hilang”. Ujar Jaewon. Ia melihat sekeliling ruangan. “pencuri itu hanya mengacak-acak tempat ini”. Tambahnya kemudian.

“kita akan tetap memproses tindakan pencurian ini”. Ujar guru pembimbing mereka.

Kevin menggeleng cepat. “tidak usah saem, lagipula laptop yang hilang bukan yang menyimpan data penting milik club”. Cegahnya.

Masalah pencurian di ruang club majalah sungguh tidak diproses oleh sekolah. Karena si pemilik laptop yang hilang juga tidak mempermasalahkan laptopnya yang dicuri. Selain itu para guru sibuk mengurus nilai ujian murid mereka. Dan juga Yeonsung mengatakan jika isi amplobnya yang hilang tidak penting, jadi ia juga tidak berusaha untuk mencari pencurinya.

Pagi sekali para murid telah berkumpul di lobi sekolah untuk melihat pengumuman nilai ujina mereka.

Tepat setelah Guru Kim menempelkan kertas pengumuman, mereka pun mengerumuni papan pengumuman.

#1 Kwon Eunbi

#2 Seo Changbin

#3 Wu Kimi

#4 Kim Hyewon

#5 Kim Sunwoo

#6 Park Solomon

#7 Choi Sungmin

#8 Min Hyuna

#9 Shin Minho

#10 Bang Jaemin

“apa? Apa yang terjadi? Kenapa peringkatnya berubah secara drastis seperti ini?”.

“wah… Kimi naik dengan cepat, bahkan Yeonsung didepak keluar dari peringkat teratas”.

“itulah yang terjadi jika kau terlalu sombong”.

Siswa lain mengumpat, beberapa terheran dengan perubahan peringkat untuk ujian kali ini. Sedangkan Yeonsung hanya diam ditempatnya. Namanya benar-benar tidak ada dalam deretan 10 besar.

Guru Kim kembali lagi dengan lembaran kertas lain ditangannya.

Special Class untuk 10 peringkat teratas murid tingkat 1, 2 dan 3.

Sontak pengumuman itu membuat semua siswa kembali ricuh. Inikah hadiah yang dijanjikan oleh kepala sekolah? Kelas spesial?

“hm… mari kita lihat, kali ini aku ada di nomor berapa?”. Jaewon mencari namanya. “25, ah, tidak buruk”. Gumamnya. Jaewon menoleh pada Yeonsung yang berdiri disebelahnya.

“bagaimana denganmu?”. Tanyanya kemudian.

Yeonsung diam saja.

Jaewon berinisiatif untuk mencari sendiri nama Yeonsung disana. “15”. Ia sendiri terkejut. Bagaimana bisa si peringkat 3 turun hingga ke peringkat 15?

Wajah Yeonsung memerah, ia marah karena peringkatnya turun dengan drastis. Ia tak merasa melakukan kesalahan fatal saat ujian. Sudah dipastikan ketika ia memeriksa ulang jawabannya.

“kenapa namaku tidak ada dideretan 10 besar?”. Desis Mina ketika menemui kepala sekolah.

“bagaimana aku menjelaskannya padamu, ya? Begini, nilai aslimu tidak lah mencukupi, jika aku membantumu naik maka akan keterlaluan”.

Mina mengepalkan tangannya. “kenapa kau melakukan ini padaku?”.

“kau harus mengerti posisimu, tidak bisa naik begitu saja tanpa kemampuanmu sendiri”.

“Park Yeonsung, gadis itu juga terlibat denganmu, kan?”.

Park Taesoo mengangkat bahunya. “bagaimanapun aku sudah memenuhi keinginan mu untuk tidak memasukan Yeonsung di 10 besar”. Park Taesoo berdiri, merapihkan berbagaia piala penghargaan yang terpajang di lemarinya. “padahal nilainya cukup tinggi untuk tetap berada di peringkat 3”. Tambahnya kemudian.

“Park Taesoo. Akan kupastikan aku bisa membalaskan dendam Samuel”.

Mendengar nama itu membuat Park Taesoo menoleh pada Mina. Ia mendekat pada gadis yang berdiri tak gentar dihadapannya. “kenapa? Kenapa Samuel harus menyimpan dendam padaku? Kau yang membunuhnya”.

Mina mengernyitkan alisnya.

Malam itu ketika ia melihat sendiri bagaimana Samuel terjatuh ke dalam sungai, tak sadarkan diri dan hanyut.

“aku tetap akan mengungkapkan semuanya pada public”.

“sebaiknya jangan jika kau tak ingin mengungkapkan identitasmu yang sebenarnya”.

“apapun resikonya, aku akan menanggungnya”.

“Park Mina!”.

“kau dan semua jajaranmu, termasuk gadis kesayangan kalian – Park Yeonsung. Aku akan memastikan kalian hancur”.

Park Taesoo menjadi emosi ketika Mina mulai lancang dan berani mengancamnya. “memangnya kau punya apa sehingga kau sangat percaya diri bisa menghancurkan kami?”. Desis Park Taesoo. Mina diam. Membuat Taesoo tertawa licik. “kau hanya punya nyawa, kenapa tidak kau coba saja untuk mati, mungkin semuanya akan berubah”.

Mina membelalak. Ia menggertakkan giginya. Daripada menjawab lagi kalimat Taesoo, Mina pun pergi dari ruangan itu.

“kau sungguh tak ingin keluar dari sini?”. Tanya Jaewon pada Yeonsung. Gadis itu menggeleng.

Fungsi lain ruang club adalah untuk tempat persembunyian. Bahkan Yeonsung mengunci pintu club dari dalam agar tak ada yang masuk.

“kau marah hanya karena peringkatmu turun?”.

“hanya karena katamu? Bagiku ini bukan hanya karena, Jaewon’ah”.

Jaewon menghela napas. Ia duduk dilantai sambil bersandar pada shofa yang sedang Yeonsung duduki. Gadis itu memeluk kakinya sendiri, meletakkan dagunya diatas lutut.

“memangnya kenapa jika tidak mendapat peringkat yang tinggi?”. Gumam Jaewon.

“aku takut”.

Kali ini Jaewon menoleh. “wae?”.

“aku takut tidak menjadi sesuatu dimasa depan. Setidaknya aku harus menjadi sukses, kan? Lagipula peringkat cukup untuk menjadi simbol kemampuanku”.

Jaewon tertawa mendengar penjelasan Yeonsung. “bagaimana kalau begini”. Jaewon berpindah posisi duduk, kini ia duduk disebelah Yeonsung. “kita menikah saja”.

Hening.

“apa?!”. Yeonsung menoleh, terkejut hingga matanya melebar menatap Jaewon.

“pffth”. Jaewon menahan tawanya. “ya! Wajahmu itu –“. Belum sempat Jaewon menyelesaikan kalimatnya, ia sudah tertawa terbahak. Tidak menduga jika Yeonsung akan memasang wajah serius seperti itu.

“tidak lucu, sialan”.

“kau mengumpat? Astaga, Park Yeon bisa mengumpat”.

“diam kau”. Yeonsung hendak memuku Jaewon, namun Jaewon berhasil menangkap tangan gadis itu. “lepaskan, aaa, aaa!”. Teriak Yeonsung.

“aku tidak memegangmu sekeras itu”.

Yeonsung memberontak, Jaewon masih menahan tangan gadis itu. Senang sekali melihat Yeonsung meronta sambil merengek. Tiba-tiba… Jaewon menutup mulut Yeonsung dengan telapak tangannya dan menarik selimut untuk menutupi keduanya.

“ya!”.

“psstt”. Jaewon meletakkan jari telunjuknya didepan bibir. “Guru piket sedang berkeliling”. Ujar Jaewon sambil menunjuk kearah pintu.

Benar saja. Wajah guru olahraga mereka muncul di depan jendela. Mengintip ke dalam ruangan, memastikan tak ada siswa yang membolos kelas. Setelah memeriksa dan tak menemukan siswa yang membolos, ia berpindah ke ruangan lain.

“bagaimana kau tahu guru piket sedang berkeliling?”. Tanya Yeonsung dengan suara pelan. Mereka masih berada didalam selimut.

“memangnya kau tidak dengar suara langkahnya?”.

Yeonsung menggeleng.

“ckck… benar-benar tidak waspada”.

Krek

Kreek kreek

Tampaknya guru olahraga berusaha membuka pintu ruangan tersebut. Yeonsung benci harus terjebak dalam keadaan yang serba salah seperti saat ini. “Park sonsaengnim”. Panggil seseorang dari luar sana.

“oh, Kim saem”.

“sedang apa?”. Suara itu adalah suara Guru Kim Bora.

“tidak, tadi sepertinya aku mendengar suara dari dalam sini”. Ujar pria paruh baya yang selalu membawa tongkat ditangannya itu. “tapi ruangannya terkunci, mungkin ada murid yang bersembunyi di dalam”.

“mungkin kau salah dengar, saem. Lagipula ini ruangan yang kemarin dimasuki pencuri, mungkin karena itu ruangan ini selalu terkunci sekarang”.

Setelah meyakinkan Guru Park bahwa tidak ada orang didalam ruangan, akhirnya pria itu percaya dan pergi dari sana. Hampir saja. Jika Jaewon dan Yeonsung ketahuan membolos kelas dan bersembunyi diruangan club, pasti mereka akan dapat hukuman.

Drrt drrrt…

Sebuah telpon masuk ke ponsel Yeonsung. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Mina. Yeonsung membuka selimut yang menutupinya tadi.

“angkat saja”. Suruh Jaewon.

Yeonsung menurut saja. Ia menggeser tombol menjawab telpon. “um, wae? Baiklah”.

“ada apa?”.

Yeonsung hanya mengangkat bahunya. Tak ingin menjawab pertanyaan Jaewon barusan. “kau sudah tahu isi amplob itu?”.

Jaewon diam sejenak, lalu mengangguk. Dipikirnya untuk apa menyembunyikan kenyataan, terlebih lagi amplob itu sudah hilang. “apa kau lega karena amplob itu menghilang?”.

“entahlah”.

“kau ingin melindungi nama-nama yang ada disana, kan?”.

Mina menelpon Yeonsung adalah untuk bertemu dengan gadis itu dibelakang sekolah. Yeonsung setuju, ia juga harus mengatakan pada Mina tentang amplob yang telah hilang itu.

“Park Mina”. Panggil Yeonsung ketika melihat Mina berdiri diujung sana.

Mina menoleh. Ia tampak menangis tersedu. Yeonsung berjalan mendekatinya. “Park Yeonsung, aku tidak tahan lagi”.

“apa?”.

“aku tidak peduli lagi, apa yang akan sekolah lakukan padaku. Aku tidak akan peduli. Aku akan mengungkapkan semuanya”.

“apa yang ku bicarakan”.

Tiba-tiba Mina menarik tangan Yeonsung, menggenggam erat tangan itu. “aku membutuhkan data yang kuberikan padamu waktu itu, eo? Berikan padaku, Yeon’ah”.

“tidak ada!”.

“berikan padaku, Yeon’ah, kembalikan!”.

Terjadi adegan tarik-menarik antara Mina dan Yeonsung. Yeonsung tak suka Mina memaksanya, menarik tangannya dengan keras. “tidak ada! Lepaskan!”.

“apa maksudmu tidak ada?!”.

Yeonsung berhasil melepaskan tangannya dari Mina, ia meringis. “amplobnya hilang saat seorang pencuri masuk ke dalam ruang club”.

“apa?”. Mina menatap Yeonsung nanar. Matanya bergetar. “bagaimana mungkin –“.

“aku kemari untuk memberitahumu itu”.

Mina benar-benar marah kali ini. “kau sengaja melakukannya, kan? Kau menghilangkan data itu untuk melindungi dirimu sendiri”.

“silahkan bicara sesukamu, amplobnya memang benar-benar dicuri. Lagipula, apa maksudmu melindungi diriku sendiri?”.

“jangan berbohong! Kau yang membuatku jadi seperti ini, Yeon’ah! Setidaknya kau harus bertanggung jawab dan jatuhlah bersamaku”.

Yeonsung tersenyum menyeringai. Dengan angkuhnya ia menyilangkan tangannya dibawah dada. “aku tidak tahu bagaimana bisa kau menemukan data penting seperti itu, aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kau ungkapkan tapi kau tak akan bisa mengubah apapun. Tidakkah kau mengerti keadaan ini?”.

Mina diam saja. Perkataan Yeonsung benar-benar menusuknya.

“apa yang kau harapkan sebenarnya?”. Yeonsung memutar matanya. “mungkin memang bisa mengubah segalanya jika salah satu dari kita mati”.

Deg!

Mina membelalak. Perkataan Yeonsung barusan – “ternyata kau benar-benar gadis kesayangan petinggi sekolah ini, ya?”.

mwo?”

“Park Yeonsung, kau benar-benar menginginkan kematian?”.

“mati saja jika kau ingin mati! Setelah kau memberikan amplob itu padaku, bukankah kau sudah menggali lubang kematianmu sendiri?”. Yeonsung benar-benar tak sungkan untuk menunjukkan rasa tak sukanya pada Mina. “lagipula siapa yang akan peduli jika kau mati? Kau akan berakhir seperti kekasihmu Samuel”.

Mina tiba-tiba menyerang Yeonsung. Ia mendorongnya hingga terjatuh ke tanah. Memukul dan menjambak Yeonsung.

“ya!! Hentikan!!”. Jaewon dan teman-temannya menyusul Yeonsung. Mereka berlari menghampiri Yeonsung yang tengah dipukuli tanpa perlawanan.

Younghoon dan Hanbin menahan Mina agar menghentikan tindakannya. Beberapa siswa lain juga datang ke tempat itu untuk melihat apa yang sedang terjadi. “lepaskan aku, biarkan aku menghabisinya”. Mina meronta-ronta.

Jaewon membantu Yeonsung berdiri. Mina dapat melihat bagaimana gadis itu menyunggingkan seringaiannya ketika semua orang menganggap Mina melakukan kekerasan pada Yeonsung.

“Yeonsung sialan! Ku pastikan kau akan menerima balasan atas semua ini”. Mina menjerit histeris sambil mengutuk Yeonsung.

“Mina’ya, kenapa kau jadi seperti ini? Aku hanya ingin membantumu”. Gumam Yeonsung.

Napas Mina naik turun dengan berat. Yeonsung bersandiwara ketika teman-temannya telah datang untuk membela. “Park Yeonsung pelacur sialan! Sebaiknya kau mati saja!”. Mina berhasil melepaskan diri dari Younghoon dan Hanbin. Ia langsung menyerang Yeonsung lagi – membuat Yeonsung lagi-lagi tersungkur ke tanah.

Dengan sigap Jaewon melerai perkelahian itu. Apalagi Yeonsung yang sejak tadi tak melakukan perlawanan.

“ya! Tahan dia!”.

Younghoon menarik Mina, bersama Hanbin menahan lengan kurus Mina agar tidak melakukan penyerangan lagi.

“Jaewon’ah cepat bawa Yeonsung pergi dari sini”. Suruh Hanbin.

Dengan tertarih Yeonsung berjalan menjauh dibantu oleh Jaewon. Yeonsung masih menyempatkan diri untuk menoleh pada Mina. Gadis itu jatuh ke lantai, kakinya terasa lemas tak sanggup lagi untuk berdiri. Setelah Yeonsung pergi cukup jauh, Younghoon dan Hanbin pun meninggalkan Mina ditempat itu sendirian.

Dalam sekejab video ketika Mina memukuli Yeonsung tersebar diantara para murid. Mereka mulai mengutuk perlakuan Mina yang tidak pantas itu. Dan yang memperburuk keadaan adalah Yeonsung yang tidak melakukan gerakan untuk membalas perlakukan Mina padanya.

Untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk terjadi, guru memaksa Mina untuk pulang kerumah dan tidak diperbolehkan untuk datang kesekolah beberapa hari kedepan.

“apa sakit?”. Tanya Jaewon sambil mengusapkan saleb ke luka di ujung bibir Yeonsung.

“aku bisa menahannya”.

“kenapa kau tidak melakukan perlawanan?”.

Yeonsung memegang tangan Jaewon, menahan gerakan Jaewon untuk terus mengobati lukanya. “haruskah aku melakukan perlawanan?”.

“apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan, Park Yeon?”.

Yeonsung tersenyum tipis. “tidak ada. Aku hanya sedang mencari simpati public”.

Jaewon menarik tangannya dari Yeonsung. Tak menduga ia akan mendapat jawaban seperti itu dari Yeonsung. “wae?”.

mwo?”.

“Park Yeonsung!”. Kimi memasuki ruang kesehatan seperti seorang yang benar-benar mendapat berita buruk. “omo! Park Yeonsung”. Kimi menghampiri Yeonsung yang tengah duduk diatas ranjang rawat. Menangkup wajah gadis itu untuk memeriksa lukanya.

“aaakh! Kimi’ah, sa-sakit!”.

“astaga kau mendapat banyak memar”. Kimi memeriksa bagian tubuh Yeonsung yang lain. Selain luka diwajah Yeonsung juga mendapat luka di lutut dan sikut. Ia benar-benar pasrah ketika Mina memukulinya dengan brutal.

“haruskah kita melaporkan ini ke polisi?”. Saran Younghoon. Entah sejak kapan ia berdiri dibelakang Kimi.

Yeonsung menggeleng. “tidak usah, nanti akan semakin rumit”.

Ketika Kimi heboh melihat luka yang Yeonsung dapatkan, Jaewon meletakkan toples saleb yang ia pegang dan pergi begitu saja dari ruangan itu. Entah apa yang membuat perasaannya menjadi bercampur aduk seperti ini.

“ya ~ mau kemana?”. Tanya Younghoon.

“toilet”. Jawab Jaewon.

Kimi menggantikan Jaewon untuk merawat Yeonsung. Dengan telaten ia membersihkan luka dan mengoleskan saleb. “tidak apa, hari ini aku perawatmu”. Ujar Kimi.

Kelas spesial akan dimulai hari ini juga. Ke-10 siswa yang berhasil masuk ke kelas itu memakai tag nama khusus yang mereka kalungkan di leher. Ruang kelas nyaman untuk masing-masing siswa. Ruang kelas yang sungguh membuat Hanbin tidak nyaman karena ia tidak terbiasa belajar mandiri.

Sejak tadi Hanbin sibuk menoleh ke kiri dan kanan, temannya yang lain sudah sibuk dengan buku mereka untuk proses belajar mandiri hari ini. Hanbin menunggu Wu Kimi.

Sreek

Kimi memasuki ruangan. Hanbin segera berdiri dari kursinya. “ya, ya! Wu Kimi, kemari”. Hanbin melambaikan tangannya pada Kimi.

Gadis itu mendekat. “disini kosong, kan?”. Kimi menarik kursi yang berada didepan meja Hanbin.

“duduk saja, jikapun ada orangnya akan ku usir demi kau”.

“cih…”. Kimi segera duduk disana. Ia sadar tak akan tenang jika duduk didekat Hanbin, tapi setidaknya ini lebih baik daripada ia harus duduk didekat Eunbi.

Hanbin mencolek-colek punggung Kimi, gadis itu menoleh ke belakang. “ada apa?”.

“ya ~ ini sudah lama sekali mengganggu pikiranku, tentang saol ujian kita. Apa kau tidak sadar jika semua soal itu sama seperti yang kita kerjakan di tempat les?”. Bisik Hanbin.

“aku tak bisa jelaskan, tetapi jangan sampai kau membicarakan ini pada orang lain. Mengerti?”.

Hanbin mengernyitkan keningnya, ia menggaruk kasar kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Merasa tidak enak pada siswa yang belajar dengan sungguh-sungguh. Sedangkan ia hanya mengingat jawaban yang ia dapatkan di tempat les. Lalu – booom! Jawaban yang ia dapatkan di tempat les muncul di ujian sekolah.

“baiklah, aku tidak akan membicarakannya pada siapapun”. Ujar Hanbin.

“bagus”.

“tapi Kimi”. Hanbin memanggil Kimi sekali lagi, membuat gadis itu urung menghadap ke depan. “apa benar motif Yeonsung dipukuli karena ia frustasi terlempar jauh ke peringkat 15?”.

Kimi melotot, memukul kening Hanbin dengan pena. “jangan bicara seperti itu meskipun kau sangat bermusuhan dengan Yeonsung. Dia tidak segila itu. Lagipula luka yang ia dapatkan cukup parah”.

Hanbin terkekeh konyol. “mungkin saja ia tipe-tipe macoshism”.

“ya! Kim Hanbin”.

“aku hanya bercanda”.

Kimi berdesis. Ia berbalik dan menghadap ke depan. Hanbin tak lagi memanggilnya. Perhatian Hanbin teralihkan ketika Changbin dan Sunwoo memasuki ruangan. Dua orang itu memasuki ruangan sambil bergurau entah tentang apa hingga mereka tampak sangat bahagia. Changbin memilih tempat duduk tepat disebelah Hanbin dan Sunwoo di depannya.

Changbin merasa jika Hanbin tengah menatapnya saat ini, jadi ia menoleh pada Hanbin. “wae?”.

Hanbin hanya menggeleng lalu beralih menatap bukunya, berpura-pura sedang membaca. Yang ada dipikiran Hanbin adalah ia yakin orang yang ia lihat dikaraoke waktu itu memang benar Changbin, Sunwoo dan Yeonsung. Tapi kenapa di sekolah Yeonsung dan dua orang ini bersikap seolah mereka tidak saling mengenal?

Jaewon duduk dikursi taman sendirian. Ia sedang menunggu seseorang. Ketika semua orang tak ingin tahu penyebab Mina memukuli Yeonsung, Jaewon justru ingin tahu agar ia tak salah paham. Jadi malam ini ia menyuruh Mina untuk datang menemuinya.

“sudah lama sekali, ya”. Suara itu menyadarkan Jaewon.

Jaewon berdiri ketika Mina datang. “Mina’ya”.

“kenapa kau sangat ingin bertemu denganku setelah membuangku, Jaewon’ah”.

Mina berjalan mendekat, dengan angkuhnya ia menatap Jaewon. “kau membahas itu lagi, sudah cukup kau membuat kesalahpahaman dan kacau semuanya”.

“aku sudah memperingatkanmu”.

“jujur saja, aku tak ingin berlama-lama bicara denganmu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu”.

“tentang kejadian tadi siang?”. Terka Mina. Jaewon hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Mina. “kau tak akan memihak padaku jikapun aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi, tidak apa, setelah ini semuanya akan terungkap. Aku pastikan Yeonsung akan merasakan apa yang aku rasakan”.

“bukankah kau berteman baik dengannya?”.

Mina mendesis, ia tertawa pelan. “aku tidak ingin berteman dengan seorang pengkhianat”.

“lalu apa yang akan kau lakukan padanya? Aku hanya ingin memberitahumu jika aku tak akan diam saja jika sekali lagi kau berani menyentuhnya”. Jaewon mulai bicara serius bertanda ia tak akan main-main dengan ucapannya.

“kau meninggalkanku karena kau tahu yang sebenarnya, kau juga akan meninggalkan Yeonsung jika kau tahu siapa dia sebenarnya”. Ujar Mina. Gadis itu tersenyum. “kau menyukainya, ya? Sayang sekali, Yeonsung menyukai orang lain”.

Kalimat itu membuat Jaewon sedikit goyah. Mina berbalik dan melangkah pergi dari hadapan Jaewon. Pada langkah ketiga, ia berhenti – berbalik. “aku sudah menyiapkan semuanya, tunggu saja ketika aku mengungkapkan semuanya. Aku tak akan mengampuni siapapun, Jaewon’ah”.

Setelah menemui Mina, Jaewon pergi kerumah Yeonsung untuk melihat keadaan gadis itu. Tadi siang ia pergi begitu saja, dan sekarang ia malah merasa tidak enak. Kedua orang tua Yeonsung telah lama berpisah. Sekarang ia tinggal bersama ayahnya,dirumah ayahnya. Karena ayahnya terlalu sibuk bekerja, jadi Yeonsung lebih sering sendirian dirumah.

Ketika belum sampai kesini, niat Jaewon sudah matang akan menemui Yeonsung. Tetapi ketika sampai didepan rumah Yeonsung, ia malah ragu untuk bertemu.

“pulang sajalah”. Gumamnya.

Klik

Pintu rumah terbuka. Yeonsung muncul dari dalam rumahnya. Hendak pergi ke toko serba. Mendengar suara pintu rumah terbuka, Jaewon berbalik dan melihat kearah pintu rumah Yeonsung.

“eo, Jaewon’ah?”.

Dengan canggung Jaewon mengangkat tangannya, tersenyum dan… “annyeong”.

Berjalan berdampingan melewati jalanan malam yang mulai sepi. Yeonsung sengaja memperlambat langkah kakinya agar bisa berlama-lama diluar rumah.

“bagaimana lukamu?”.

“aku ingin menjawab tidak apa-apa, tapi sakit juga”. Jawab Yeonsung sambil terkekeh.

Jaewon mengangguk. Ia menoleh untuk melihat wajah Yeonsung. Luka memarnya semakin terlihat jelas. “jangan melakukan itu lagi, siapa yang tahu apa yang akan Mina lakukan jika sekali lagi kau memintanya untuk memukulimu”.

“Jaewon’ah, aku tidak memintanya memukul ku, kami tidak bertengkar. Aku diserang, oke?”.

“apapun itu – sebaiknya jangan berurusan lagi dengan Mina”.

Yeonsung berdehem – menoleh dan melihat wajah Jaewon yang berdiri disebelahnya. “kau tidak ingin menceritakan padaku tentang mengapa kau tak suka pada Mina?”.

“kenapa juga kau harus tahu?”.

“hanya ingin tahu saja”.

“aku juga sudah lupa dengan alasan mengapa aku tak suka padanya”. Jaewon menghentikan langkahnya. “seporsi tteokbokki sebagai uang tutup mulut?”.

Tepat beberapa meter didepannya terdapat kios mobil yang menjual makanan. “oke, call”. Gadis itu langsung berlari kecil menuju penjual kue beras pedas. Uang tutup mulut yang Jaewon maksud adalah agar Yeonsung berhenti bertanya sesuatu yang tidak ingin ia jawab.

Entah karena alasan apa sehingga dua orang gadis itu club majalah sekolah dapat disuruh diam jika disuap dengan makanan. Kimi pun sama. Setiap kali ia ingin mengetahui sesuatu, biasanya ia akan memaksa. Lalu Younghoon atau Hanbin akan membelikan makanan dan Kimi akan lupa dengan keingintahuannya.

Setelah 3 hari Mina tidak masuk sekolah. Hari ini gadis itu kembali ke sekolah seolah tak pernah terjadi apapun. Teman-temannya mengumpat padanya, namun ia bersikap biasa saja. Tak melakukan pembelaan apapun.

“jadi kita sudah harus melakukan perekrutan anggota baru?”.

Saat itu sedang dilakukan rapat diruang club majalah sekolah. Ketika menginjak tingkat 2 memang sudah seharusnya mereka mencari anggota baru untuk meneruskan club ini.

“kapan kita akan melakukan seleksi?”. Tanya Hanbin dengan semangat.

“kau buat dulu poster pengumumannya”. Ujar Kimi.

Hanbin mengangguk. Lelaki ini terlalu bersemangat untuk melihat calon anggota baru. Sampai melupakan tugasnya untuk membuat poster perekrutan anggota.

“aku sudah membuatnya”. Sahut Jaewon. “kita tinggal mencetak dan menempelkannya saja”.

“biar aku yang mencetaknya”. Pinta Younghoon.

“aku akan menempelnya dipapan pengumuman dan menyebarkan di halaman kita”. Timbal Kevin.

“bagus, karena semua tugas sudah terbagi. Jadi aku bisa pergi sekarang, kan? Baiklah, terima kasih”. Kimi beringsut dari tempat duduknya, ia buru-buru pergi dari ruangan club untuk kegiatan lain yaitu club panahan.

Younghoon segera melakukan tugasnya untuk mencetak poster pengumuman. Dan langsung ia serahkan pada Kevin untuk ditempelkan di papan pengumuman. Sedangkan Hanbin memilih untuk bermain game diponselnya. Jaewon tak melakukan apapun, ia hanya melihat kesibukan teman-temannya didalam ruangan.

Draagg

Tiba-tiba Yeonsung berdiri dari tempat duduknya.

“Park Yeon, wae?”.

Dari wajahnya saja Jaewon tahu ada sesuatu yang tidak beres. Yeonsung hanya menatap Jaewon sesaat lalu melihat layar ponselnya. Jaewon mengikuti arah pandang Yeonsung.

‘datanglah kemari, ada hal yang ingin kukatakan’ Park Mina

Yeonsung bergegas pergi dari ruang club. Jaewon memanggilnya, mencegah Yeonsung untuk pergi. Lelaki itu tak tahu apa yang Yeonsung dan Mina bicarakan sebelumnya, tapi entah mengapa Yeonsung terlihat sangat emosi ketika akan pergi menemui Mina. Jadi Jaewon mengekor di belakang Yeonsung.

“bukankah sudah kukatakan untuk tidak berurusan dengannya lagi?”. Untunglah Jaewon berhasil menyusul Yeonsung dan memasuki elevator bersama.

“aku harus mencegahnya bertindak sebelum terlambat, Jaewon’ah”.

“apa? Apa yang akan Mina lakukan?”.

“itu –“. Yeonsung tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia hanya berdesis kesal, emosinya seakan tak tertahan. Tetapi ia juga tak bisa mengatakannya pada Jaewon.

Ketika pintu elevator terbuka. Yeonsung langsung berlari keluar. Jaewon mengikutinya dari belakang. Kimi yang kebetulan lewatpun bertanya-tanya mengapa dua temannya berlarian? Apakah Jaewon sedang mengejar Yeonsung atau semacamnya.

“ada apa, sih?”. Gumamnya.

Yeonsung tiba ditempat yang Mina katakan, di depan gedung kelas. Disana tak ada siapa-siapa. Hanya ada beberapa anak dari club olahraga yang berkeliaran disekitar lapangan. Yeonsung melihat sekelilingnya mencari sosok Mina. Begitupun dengan Jaewon. Yeonsung mencoba menelpon Mina karena ia tak melihat Mina dimana pun.

Dan ketika itu pula… tiba-tiba sesuatu terjatuh dari atas gedung. Jaraknya hanya sekitar 2 meter dari tempat Yeonsung berdiri.

Yeonsung belum menyadari apa yang terjatuh dari atas sana, ketika Jaewon menariknya – memeluknya dan berbalik. Ia melakukan ini agar Yeonsung tak perlu melihat pemandangan mengerikan dihadapannya.

“jangan lihat. jangan mencoba untuk melihat”.

Oh – otak cerdas Yeonsung baru mencerna apa yang ia lihat. Mina menjatuhkan diri dari atas gedung sekolah tepat dihadapan Yeonsung. Beberapa siswa yang berada disekitar sana berteriak histeris. Bahkan ada yang pingsan karena tak sanggup melihat genangan darah.

Park Mina benar-benar melakukan apa yang Yeonsung katakan.

Mati saja jika ingin mati.

TBC

#OMAKE

YS : Annyeonghaseyo!

WK : Annyeong ~ annyeong ~

YS : Kimi’ssi, setelah setahun kita tidak ada kegiatan, akhirnya kita comeback tahun ini.

WK : ne~ benar sekali, ah ~ satu tahun cukup lama untuk menganggur, benar, kan?

YS : benar, aku sampai berpikir untuk beralih profesi, aku lelah menjadi Cast di FanFic Kyo Authornim. /memasang wajah sedih/

WK : aku juga, sih. Tapi! Akhirnya kita kembali dengan pemain yang baru! Yeeayyy!! /tabur bunga/

YS : Jung Jaewon’ssi dan Kim Younghoon’ssi

ONE : annyeong ~

YH : annyeong readeo yeoreobun

YS : whoa ~ tapi, benar-benar visual Younghoon ini sangat tidak real, ya~ apa kau keluar dari manga atau semacamnya?

YH : aniya ~ aku memang tampan sejak lahir

WK : kau percaya diri sekali

YH : tentu saja aku percaya diri, karena banyak orang yang mengatakan aku tampan dan tinggi dan memiliki suara yang merdu dan cool dan kulit yang indah

ONE : aku ingin pulang saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s