PERFECTIONIS (CHAPTER 13)

IMG_20190221_105815

 

I said I was okay

But I don’t know if I can make it 

Yesung – Paper umberella

Chapter

1 || 2 ||3 || 4|| 5 || 6 || 7 || 8|| 9 || 10 || 11 || 12

Malam itu Rei menyetujui untuk beristirahat dirumah. Menenangkan hati dan fikiran yang mulai berantakan.

Sepanjang jalan sekertaris Sehun-Joon hanya mampu melihat ekspresi lelah dan hembusan nafas panjang dari Rei. Matanya mulai memerah dan kantung matanya menghitam, bibirnya pucat tanpa warna lipstik yang merekat. Rei sakit, begitu juga Sehun. Mereka sedang tidak baik-baik saja, tapi Sekertaris Park malah memisahkan mereka.

Percayalah, mereka butuh ruang dan waktu untuk memikirkan ini semua.

Tentang semua yang sudah salah dari awal, mereka harus meluruskannya atau mulai kembali dari awal. Mungkin pilihan kedua sedikit sulit, tapi hanya itu pilihan yang mereka punya.

“Nyonya, kita sudah sampai.” Rei tersadar dari tatapan kosongnya keluar jendela. Gadis itu sedikit tersentak, namun dapat mengendalikan kesadarannya dengan cepat.

Shin ahjumma dan kepala pelayan Park mengekori Rei memasuki rumah yang susah payah Sehun bangun dengan keringat dan pengorbanannya.

Joon hanya berpamitan pada Shin ahjumma dan Park ahjussi sebelum kembali pulang menggunakan taksi.

***

Jam menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Rei sudah membuka matanya sejak setengah jam yang lalu, hanya saja ia malas beranjak. Rasanya sangat lelah hanya untuk pergi ke kamar mandi.

Sempat berfikir untuk tidur kembali namun niat itu ia urungkan. “Nyonya, anda sudah bangun? Sarapan sudah siap.” Teriakan itu membuat Rei tersadar bahwa tindakannya selama ini kekanak-kanakan. Banyak orang diluar sana yang mengkhawatirkannya.

Termasuk Sehun. Meskipun ia tidak tahu Sehun tulus atau tidak ketika mempedulikannya. “Aku akan turun.” Jawab Rei dengan suara serak. Well, menangis selama dua hari berturut-turut membuat pita suaranya lelah.

Shin ahjumma pergi dengan langkah cepat menuruni tangga.

“Semua butuh waktu Rei, begitu juga kau…”

Ucapan Joon kemarin semakin terngiang di kepala Rei, membuatnya sedikit limbung karena pusing.

“Benarkah kita hanya butuh waktu? Dan apa yang akan berubah jika salah satu dari kita mengalah?” ujarnya pilu.

***

Sedangkan di waktu yang bersamaan, Sehun sedang mendapat perawatan intensif dari dokter ahli dirumah sakit tersebut. Jangan ditanya mengapa, karena rumah sakit itu satu dari ratusan Yayasan yang di kelola oleh Seunghwa groub.

“Bagaimana keadaan putraku?” ujarnya penuh harap.

“Sejauh ini kami masih memantau perkembangan pasca operasi, hasil akan keluar tiga hari lagi tuan. Mohon sedikit bersabar.” pria dengan rambut putih yang mendominasi itu meninggalkan ruangan bersama rombongan dokter ahli dan perawat disana.

Tuan dan Nyonya Oh sedang mendapat giliran menjaga Sehun. Setelah beberapa hari sibuk mengurus kecelakaan putra tunggalnya. Posisi Sehun sebagai pewaris tunggal Seunghwa groub harus di pertahankan dengan baik, apalagi berita yang sedang hangat di perbincangkan adalah mengenai kecelakaan yang di alami puteranya.

Nyonya Oh memandang putranya lekat dan mengelus kepala Sehun lembut.

Sehun menatap ibunya dengan perasaan sendu, melihat mata ibunya yang memerah Sehun jadi merasa bersalah karena membuat semua orang khawatir. “Eomma tidak perlu menangis, ini hal biasa dalam bisnis.”

“Seharusnya aku membiarkanmu menjadi dokter saja” Nyonya Oh setia membelai putranya yang masih terbaring di tempat tidur. Sedangkan Tuan Oh sibuk menerima telfon penting dan meninggalkan Ibu dan anak itu berdua.

“Bagaiman Lusia, apa dia sudah pulang?” tanya Sehun penasaran.

“Kemarin sekertarismu sudah mengantarnya pulang. Kau beruntung sekali mendapatkan istri yang sangat menyayangimu Sehun. Kau harus lebih memperhatikan Lusia, kau tidak boleh terlalu gila kerja seperti ayahmu, itu tidak baik.” Ujar nyonya Oh menjelaskan.

“Apakah aku seperti itu, eomma?” Sehun memandang wanita yang telah melahirkanya itu dengan tatapan cemas. Berusaha menilisik kembali apa yang salah pada dirinya.

“Eomma berharap kau tidak seperti itu.” Sehun hanya menatap lekat mata ibunya yang mengisyaratkan ‘jangan seperti ayahmu’.

“Apakah kau masih mencintai Hyun Ji?” pertanyaan itu membuat Sehun meneggang.

“Eomma.” Suara Sehun sedikit mengintrupsi.

“Eomma berharap kau mampu menjaga Lusia, tidak hanya karena perjodohan ini. Tapi karena kau menghargai perasaan orang yang mencintaimu setulus hati Hun. Kau juga pernah mencintai seseorang seperti Lusia mencintaimu, seharusnya kau paham betul perasaan Lusia padamu.” Sehun bungkam. Ucapan ibunya benar.

“Eomma tahu, Lusia dan Hyun Ji sangat berbeda. Hyun Ji gadis periang yang ramah dan mempunyai banyak teman, sedangkan Lusia pendiam dan pemikir. Satu hal yang sama dari mereka…”

Sehun masih memperhatikan lekat-lekat apa yang coba disampaikan ibunya.

“Mereka sama-sama mencintaimu dengan tulus, perbedaan mereka juga hanya satu. Hyun Ji mendapatkan hatimu, sedangkan Lusia tidak.”

“Tapi aku sungguh tidak memiliki perasaan pada Lusia Eomma, aku hanya menganggapnya sebagai adikku, tak lebih.” Sehun mencoba meyakinkan diri

“Kenapa kau tak mencoba membuka hatimu pada Lusia, Sehun? Apa kau takut?” Sehun tak mampu menjawab.

“Sehun, Eomma sangat tahu apa yang kau fikirkan saat ini tapi, apapun itu kau harus bertanya pada dirimu sendiri. Kau hanya sedang membohongi dirimu dengan alasan Lusia adalah adikmu.”

Sehun tertegun. Kepalanya berdenyut sakit. Sehun merasa tenggelam dalam perasaannya sendiri tanpa pernah menyadari bahwa dia belum benar-benar berusaha meraih permukaan.

“Sekarang istirahatlah, Eomma akan membelikan makanan kesukaanmu.”

Nyonya Oh meninggalkan Sehun, dengan jutaan pertanyaan di kepalanya. Semua yang di ucapkan ibunya memang benar. Mengapa tak pernah terlintas ujaran itu dikepalannya.

“Apakah aku takut?”

“Untuk jatuh sekali lagi…”

***

“Senang sekali melihat nyonya makan seperti ini.”

Rei hanya tersenyum mendengar ucapan Shin Ahjumma.

“Ahjumma tidak makan?” Rei menatap Shin Ahjumma disampingnya.

“Aiggo, terimakasih nyonya. Melihat nyonya makan saja saya sudah sangat senang. Saya takut nyonya jatuh sakit lagi.” Rei merasa sedikit tersentuh. Dan memikirkan kembali dampak dari perbuatannya selama ini.

Ahjumma, maaf membuat semua orang khawatir. Aku tidak berfikir panjang saat itu.” Rei menatap Park ahjussi dan Shin ahjumma, juga semua pelayan diruang itu.

“Aigoo nyonya, jangan seperti itu. Kami yang berterima kasih karena telah perhatian pada kami.”

“Sama-sama ahjuma, terimakasih karena masakan ini enak sekali.”

Sarapan pagi itu diiringi dengan canda tawa seisi rumah. Membuat perasaan Rei sedikit nyaman.

***

Wajah indah gadis itu sudah berubah merah, bukan karena malu ataupun sedih. Melainkan amarahnya sudah berada di ubun-ubun, dan tak butuh waktu lama untuk meledak hebat.

Pria bersetelan jas hitam didepannya kini sudah tak mampu berbuat apa-apa, mereka tertunduk kaku karena kesalahan mereka, hampir merenggut target dari sang empunya

“Maafkan kami nyonya, kami sudah memastikan bahwa Rei ikut Sehun menuju China, kami juga sudah meliat ke rumahnya bahwa tidak ada orang dirumah selain pembantu mereka dan-“

“-bagaimana bisa kau melakukan kesalahan fatal ini, kenapa kau tak memastikannya sendiri!”

“KAU!! KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA INI. KAU MENGERTI ITU!” Lelaki berjas hitam itu sudah tertunduk

“Maafkan kami nyonya” kemudian berlutuh tepat di kaki seorang yang mereka panggil dengan nyonya.

***

Kecelakaan yang dialami Sehun begitu menarik perhatian publik, sekaligus membuat Seunghwa Groub sangat sibuk karenanya.

Banyak Headline News yang mengaitkan kecelakaan ini dengan perebutan kekuasaan di Seunghwa Groub, juga kisah cinta Sehun yang terungkap ke publik.

Namun di dalam kepalanya Sehun sudah memiliki satu nama tersangka, namun tak mudah baginya mencari bukti. Oleh karena itu Sehun sedang memikirkan bagaimana caranya membalas kerugian yang di alami juga melindungi Rei.

Rei tidak luput dari pengamatannya, namun untuk kesekian kalinya Rei tidak datang kembali menemui Sehun. Ada rasa dilema di hati Sehun.

Ada rasa dimana ia ingin Rei tetap dirumah, namun dia juga merindukan sosok mungil itu berdiri menjaganya.

Sehun tahu sasaran kecelakaan itu bukan ia melainkan Rei. Motifnya sangat jelas. Beruntung itu hanya Sehun. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Rei yang menggantikannya tertidur di ruangan ini dan mengalami luka parah.

Sehun mendengar suara pintu di geser, dan di balik pintu itu ada Joon dan juga beberapa bodyguard yang ia sewa untuk melindungi orang terdekatnya. Termasuk Joon yang sering membawa kabar tentang istrinya, atau informasi penting yang harus di laporkannya.

“Bagaimana keadaanmu hari ini Sajangnim?” Joon menyapa sambil membungkuk hormat.

“Hyung, kau tak perlu seperti itu, bagaimana keadaan Rei? Kau harus memastikan keamanan rumah, amati Rei tanpa sepengetahuannya. Ia mungkin akan merasa risih jika mengetahuinya.”

“Aku sudah melaksanakannya Hun, Aku juga sudah memberikan arahan pada orang rumahmu. Aku harap Rei akan tetap aman meskipun ia sedang ingin keluar.”

“Kuharap juga begitu, dan apakah Rei meminum obatnya dan makan dengan teratur.”

“Aku rasa dia sudah mulai ceria kembali, namun porsi makannya tetap sedikit.”

“Itu berarti dia sedang tidak baik-baik saja.”

“Aku takut hyung, takut hal mengerikan ini terulang kembali pada Rei. Aku tidak bisa membayangkan jika Reilah yang berada dalam mobil itu. Aku tak akan memaafkan siapapun yang berusaha merusak hidupku.”

“Aku tahu Hun, tapi kali ini lawan kita cukup tangguh. Kita harus sangat hati-hati.”

***

Seperti malam-malam sebelumnya, Rei tak kunjung memejamkan matanya meskipun jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas. Beberapa hal mengganggu fikirannya.

Apakah Sehun makan dengan baik?

 

Apakah Sehun mulai membaik?

 

Apakah Sehun merindukanku?

Beberapa hal picisan itu membuat sulit tidur dimalam hari. Berharap agar pertanyaanya terjawab oleh salah satu bintang yang dipandanginya. Berharap jawabannya muncul begitu saja.

Ia tak memiliki keberanian menanyakan kabar Sehun dengan tangannya sendiri. Ia tak pandai mengekspresikan emosinya. Yang ia tahu hanya diam kemudian menangis.

Kisah cintanya sudah lama seperti ini, tapi sakitnya masih saja terasa hingga kini. Berharap ia kebal dengan perasaan seperti ini, nyatanya tidak.

Ia bertanya-tanya pada dirinya, apakah ia seorang gadis yang aneh? Atau mungkin ia gadis yang lemah, yang sering sakit dan menangis.

Jika dibandingkan dengan mantan kekasihnya-Hyun Ji, ia memang jauh berbeda.

Hyun Ji orang yang selalu ceria, berfikir positif, senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya itu membuat siapa saja akan mengaguminya. Apalagi kepribadiannya yang mudah bergaul, membuatnya memiliki banyak teman, sekaligus musuh. Tak jarang ada yang membencinya tanpa alasan.

Sedangkan Rei, ia adalah seorang yang pintar dan juga berbakat di akademis. Meskipun sikapnya dingin namun wajahnya tetap rupawan, hanya saja kepribadiannya kurang ramah. Bukan berarti dia jahat pada setiap orang, ia hanya tidak tahu bagaimana mengeskpresikan emosinya dengan baik. Meskipun begitu dia tetap berusaha membaur dan mencari teman.

Namun, karena kepribadiannya yang dingin itu jarang ada yang mau berbicara denganya lebih dulu. Karena mereka takut, gadis kaya raya yang dingin itu menolak diajak berteman.

Well, itulah Kim Rei Na. Dia bukan tipe antagonis, hanya saja wajah dan kepribadiannya yang membuat semua orang berfikir seperti itu.

“Haruskah aku menanyakan kabarnya pada sekertaris Park?” Rei kemudian mengambil handphonenya yang tergeletak di meja sebelah kanannya dan mencari kontak Joon.

Namun niatnya ia urungkan mengingat ini sudah mulai tengah malam. Mungkin Sehun sudah tidur. Batinnya.

“Seharusnya aku tidak usah ingat apapun lagi, lima tahun dengan rasa hambar itu lebih menenangkan daripada seperti ini.” Ucapnya lirih sambil menatap bintang. Berusha menceritakan keluh kesahnya.

Drrtt drtttt…

Tiba-tiba ponselnya bergetaar dan memunculkan nama Luhan.

“Kau belum tidur?” Suara di sebrang mengintrupsi.

“Seharusnya kau tahu bahwa aku belum tidur Lu. Karena kau menelfonku.” Jawab Rei.

Namun Luhan hanya diam.

“Kau pasti sedang memikirkanku?” Tanya Rei.

“Eoh, sepertinya aku keterlaluan padamu. Maafkan aku Rei.”

Rei menghela nafasnya kemudian menatap halaman rumah dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa minta maaf, kau membuatku menjadi orang yang jahat.”

“Jika Sehun mencampakkanmu, kau bisa datang padaku. Kapanpun.”

“Haha… kau bicara apa Lu.” Rei meneteskan air matanya. Inikah jawaban yang dia inginkan?

“Aku serius Rei, jika aku memaksamu hidup denganku kau pasti tak akan mau. Jadi datanglah padaku ketika kau siap.”

Suara Luhan.

“Kau terdengar putus asa Lu.” Suara Rei mulai bergetar.

“Sepertinya memang begitu.”

“Dan kau membuatku berada di posisi sulit.” Ujar Rei kemudian.

“Maafkan aku…”

 

Tuuut… tuuuut…

 

Perbincangan itupun terputus sepihak. “Dia pasti sangat mabuk. Semoga ada yang mengantarnya pulang.”  Sungai kecil itu tak dapat dibendung lagi. Begitu leluasa menguasai perasaannya saat ini.

***

Seperti hari-hari biasa, dokter dan perawat yang menangani Sehun sudah berkumpul di ruangan itu untuk memeriksa perkembangan kesehatan Sehun.

Nyonya Oh juga selalu setia menemani anaknya di rumah sakit. Ia juga tahu bahwa menantunya sedang dalam masa pengobatan juga, jadi nyonya Oh yang senantiasa berada di sisi Sehun saat ini.

“Tanganya sudah mulai membaik, minggu depan kita akan lepas penyangga di tangannya. Luka gores ringan juga sudah mulai sembuh tanpa infeksi. Mungkin minggu depan Sehun sudah bisa mulai menggunakan tongkat.” Jelas dokter itu pada Nyonya Oh.

“Terimakasih dokter, maaf membuat anda kewalahan di pagi hari karena putraku.”

“Bukan masalah besar nyonya, saya permisi dulu.”

Keduanya hanya saling membungkuk sebagai salam perpisahan.

“Ibu pulang saja, aku tidak apa-apa. Lagipula tanganku sudah bisa digerakkan. Sudah tidak sakit.” Ujar Sehun.

“Kenapa aku harus pulang, putraku saja disini. Lagipula tidak ada orang dirumah, ibu bosan.” Ny. Oh mengupas buah jeruk dan duduk di sebelah ranjang putranya.

“Bagaimana jika ibu lelah, kemudian jatuh sakit?”

“Kenapa kau bicara seperti itu? Kau tak mau ibu yang menemanimu? Lagi pula kasian istrimu jika ia harus menemanimu disini. Ia butuh banyak istirahat.” Nyonya Oh memberikan raut cemas.

“Benarkah? Apa dia sedang tidak baik-baik saja?” Sehun bertanya gugup.

“Kenapa kau tidak tanya sendiri saja, kau kan sudah bisa memegang ponselmu.” Skak mat untuk Sehun.

Kemudian Sehun terdiam tak berani membantah ibunya.

“Seminggu yang lalu aku mengunjunginya, mungkin ia bisa tersenyum padaku tapi tidak dengan ekspresi wajahnya yang sedih dan pucat. Ia juga semakin kurus. Ibu khawatir padanya.”

Ucapan Nyonya Oh membuat Sehun merasa bersalah karena tak memperhatikan Rei akhir-akhir ini. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga mencari cara untuk menangkap sang pelaku. Hingga ia lupa siapa yang sebenarnya ia coba lindungi.

“Coba sedikit saja kau perhatikan istrimu. Lusia memang sulit mengekspresikan diri. Bukan berarti dia seorang pemurung. Kau mengerti ucapanku kan Sehun?”

“Aku hanya bingung bagaimana menghadapinya, setelah semua hal ini terjadi. Sepertinya kita memulai dengan cara yang salah.”

“Lalu kau harus memperbaikinya.”

Sehun kembali bertanya-tanya. Kenapa hubungan mereka tak kunjung membaik. Mungkin itu karena dirinya yang tak bisa menerima Rei dalam kehidupannya. Ia terlalu terbelenggu oleh Hyun Ji.

Seperti yang sudah Nyonya Oh katakan. Sehun masih takut untuk terluka kembali. Sedangkan ketika kau jatuh cinta kau harus siap menerima keduanya, siap merasa senang sekaligus terluka.

Sehun berfikir sejenak, apakah ini langkah yang tepat untuk memperbaiki hubungannya dengan Rei. Jika ingin jujur, sebenarnya Sehun juga ingin bertemu dengan istrinya, entahlah perasaan apa ini namanya yang pasti Sehun ingin menemui Rei. “Sepertinya aku merindukan Rei, bisakah Ibu mengajaknya kesini?”

Nyonya Oh terkejut dengan ucapan anaknya, di iringi dengan senyum lebar dari bibirnya. “Benarkah?” Ny. Oh memastikan. Sehun hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.

“Tentu saja Ibu akan mengajaknya besok” Jawab nyonya Oh bersemangat “tapi jangan terlalu lama. Ibu akan mengantarnya pulang ketika petang.” Sambungnya.

“Ibu bisa melakukan itu.” Kembali senyuman Sehun mengembang.

***

Sekitar pukul tujuh lebih lima belas menit, nyonya Oh dengan riang memasuki bangunan megah milik putra semata wayangnya. Kedatangaan nyonya besar itupun disambut oleh semua pekerja rumah tangga di rumah tersebut. Begitu juga sang menantu.

“Kenapa eommonim tidak memberitahu jika akan berkunjung. Aku akan menyiapkan makan pagi bersama untuk eommonim.” Rei hanya menatap ibu mertuanya itu tanpa ide. Bertanya-tanya apa yang sedang nyonya Oh lakukan disini.

“Apa Sehun tidak memberitahumu kemarin? lagi pula aku ini hanya ibumu kenapa harus menyiapkan penyambutan.”

“Sehun oppa?” Rei bingung dengan apa yang dikatakan nyonya Oh.

“Jadi bocah itu tidak menelfonmu kemarin, dasar anak nakal. Padahal dia bilang jika merindukanmu, tapi tidak mau mengatakannya sendiri?” Rei bertanya-tanya apakah Ibu mertuanya ini seorang pembual padahal anaknya tak pernah sekalipun bercanda dengan orang lain.

“Aku sedikit bingung, Sehun oppa merindukanku?” Rei tampak tidak percaya.

“Tentu saja, ayo lekas berkemas dan ganti baju ya. Kita kerumaha sakit sekarang.”

Tanpa banyak bertanya akhirnya Rei mengikuti keinginan Ibu Sehun. Sepertinya Rei masih bingung dengan apa yang terjadi dan dia belum siap bertemu dengan Sehun.

***

International Seoul Hospital.

11.30 KST

Jantung Rei berdebar-debar melihat Sehun terbaring lemah sembari menatapnya. Hatinya begitu ngilu melihat luka-luka Sehun yang hampir memenuhi tubuhnya.

“Bagaimana hari ini sayang, Dokter sudah memeriksamu?” tanya Nyonya Oh pada Sehun.

“Belum eomma, mungkin sebentar lagi.” Rei hanya diam saja menunduk tak berani membalas tatapan Sehun.

‘apa yang harus ku ucapkan padanya?’ ujar Rei dalam hati.

“Lusia, apa kabar? Maafkan aku harus menemuimu dengan kondisi seperti ini. Seharusnya waktu itu aku segera pulang.” Ujar Sehun sambil menatap lurus pada Rei.

“Ne?” Yang dipandangipun sedikit bingung merespon kalimat hangat itu. Rasanya bukan seperti Sehun yang ia kenal.

“Eoh, harusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa menemanimu.” Ujar Rei, mencoba membalas tatapan Sehun, meskipun tidak berlangsung lama karena Rei akhirnya kembali menunduk.

Terdengar suara pintu di geser dan menampilakan dua orang dokter dan dua perawat memasuki ruangan Sehun untuk check up harian. Hal yang sudah biasa Sehun lakukan akhir-akhir ini.

“Dokter, tolong periksa istri saya juga. Minggu lalu dia sempat pingsan.” Tiba-tiba Sehun berujar demikian dan membuat orang-orang menatap Rei.

“Sehun benar sayang, kau harus di periksa juga.” Nyonya Oh menimpali.

Wanita paruh baya ber jas putih itu mengantar Rei ke sofa di bagian kiri ruangan itu untuk diperiksa. Sehun memang sengaja mengundang dokter wanita itu untuk memeriksa keadaan Rei.

“Detak jantungnya lemah, dan ada indikasi gejala anemia. Sepertinya istri anda juga harus mengikuti rawat jalan untuk tambahan vitamin.”

Mendengar itu, baik Sehun maupun Nyonya Oh juga sedikit kaget. Meskipun begitu, mereka mencoba memaklumi karena mungkin Rei sedang tidak tenang memikirkan keadaan Sehun.

Setelah dokter itu pergi, keadaan kembali sunyi ditambah lagi ibu Sehun pergi untuk membeli makanan. Tersisa dua insan yang sedang berperang batin satu sama lain.

“Rei.” Ujar Sehun pelan. Yang di panggilpun menanggapi dengan hanya berdeham.

“Mendekatlah, aku ingin minum.” Ujar Sehun kemudian.

Rei pun mendekat dan mengambilkan minum juga sedotan yang ada di nakas dekat tempat tidur Sehun. Menyuapi Sehun dengan sangat perlahan karena ia takut pergerakannya akan menimbulkan rasa tidak nyaman pada Sehun.

“Wajahmu pucat.” Ujar Sehun setelah selesai minum.

“Eoh, ini. A-akku hanya sedang tidak memakai make-up.”

“Maafkan aku Rei.” Ujar Sehun meminta maaf.

“Kenapa kau selalu meminta maaf?”

“Waktu itu, kita berpisah dengan keadaan tidak baik-baik. Jika hari itu waktu terakhirku di dunia, pasti aku akan sangat menyesal. Karena aku melakukan kesalahan yang sama.”

Rei menatap pria dihadapannya dengan perasaan sendu penuh tanya. Akankah Rei sanggup menerima kenyataan bahwa Sehun masih belum sepenuhnya melupakan gadis itu.

“Aku juga menyesal menjadi egois seperti itu.” Rei kembali menundukan pandanganya. Matanya mulai memanas.

Perasaan Sehun kali ini benar-benar campur aduk. Dia merasakan kesakitan hati Rei saat ini, entah mengapa rasanya hati Sehun remuk melihat Rei satu-satunya yang berjuang untuknya selama ini.

 

“Aku memang pria brengsek yang hanya bisa membuatmu menangis. Maafkan aku.” Ujar Sehun kemudian. Mendapati matanya telah berair.

Perasaan kalut ini mengatarkan air mata Rei jatuh membasahi pipinya. Berharap bahwa semua perasaanya bisa berhenti menyakitinya.

“Kau sebenarnya sudah tahu jika ingatanku sudah kembali?” Rei masih tidak ingin membalas tatapan Sehun.

“Kau pasti sudah tahu jawabannya.”

“Kau boleh membenciku Rei, kau harus sehat agar bisa membalas perbuatanku. Dan aku akan segera sembuh agar aku bisa menebus kesalahanku. Kita bisa memulainya dari awal lagi Rei. Kau dan aku, sebelum semuanya terlambat untuk sekedar di sesali.”

To be continue…

Haii haiiii, I’m back. Mungkin sudah sekitar setahun aku tidak kembali. Hahahaa maafkan aku, dan blok inipun mulai usang tergantikan wattpad. Mungkin aku juga akan memulai debutku disana. Kau bisa menemuiku di wattpad id : jjhyn 17

See you soon Hyonieesss

Pai – pai ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s